• Info Terkini

    Monday, January 14, 2013

    Akibat Dongeng

    Oleh Aliya Nurlela
    Seakan kembali ke masa kanak-kanak ketika kita menulis cerita anak. Rasanya bernostalgia. Masih lekat dalam ingatan ketika masa kecil, saya menyukai buku-buku dongeng dan fabel. Masa itu akan banyak sekali buku-buku anak ditemukan di perpustakaan sekolah. Saat yang menyenangkan ketika setiap pulang sekolah membawa buku pinjaman dari perpustakaan, lalu dibaca ramai-ramai bersama teman-teman. Dongeng tentang puteri yang bersanding dengan pangeran tampan menjadi favorit kebanyakan anak, termasuk saya. Hingga, daya khayal melesat melabrak rasionalitas. Maklum masih anak-anak. Belum bisa berpikir lebih mendalam.

    Dongeng itu seakan nyata dan bisa terjadi di dunia nyata. Itulah sebabnya, saya dan beberapa teman pernah ter’hipnotis’ dongeng. Saat itu yang saya baca adalah kisah tentang seorang gadis kecil yang memiliki tongkat bambu ajaib. Ternyata dalam tongkat itu ada jin yang bisa mengabulkan permintaan si gadis. Setiap gadis kecil itu menggerakkan tongkatnya dan menyebutkan permintaannya, maka apa yang ia minta akan menjelma di depannya. Nah, dongeng itu sangat memukau. Saya bersama dua orang teman, mulailah melakukan pencarian pohon bambu kecil. Ketika sudah ditemukan, tanpa ba-bi-bu pohon itu langsung ditebang, lalu diambil bagian tengahnya kira-kira 50cm. Dengan sangat yakin, bambu itu dibawa ke sebuah ladang. Lalu masing-masing dengan serius menyebutkan permintaannya satu per satu. Kugerakkan bambu itu, berharap jin yang berada dalam bambu akan mewujudkan permintaan. Tapi, meski berulang-ulang kali kugerakkan tak ada apapun yang keluar, apalagi berwujud nyata.

    Demikianlah anak-anak. Di mata anak-anak, jin itu tidak menyeramkan tetapi lucu dan baik hati. Semua itu karena pengaruh dongeng.

    Kejadian lainnya saat saya membaca kisah anak pungut yang sakti. Kisah ini kudengar dari adik kelas. Bahkan dengan bangganya ia bercerita, orangtuanya pernah memungut anak sakti, yang bisa memberikan berbagai macam permintaan. Katanya, ia bisa menghidangkan beraneka masakan tanpa memasak terlebih dahulu. Hanya dengan berkata, “hadirlah!” Maka makanan itu pun langsung tersedia di meja makan. Lagi-lagi saya ter’hipnotis’ dongeng ini. Tanpa berpikir panjang, keesokan harinya saya langsung duduk-duduk di samping parit dekat pesawahan. Harapannya, akan lewat seorang anak yang tidak memiliki bapak-ibu untuk dijadikan adik pungut. Wah, saya benar-benar melakukannya. Ketika ada seorang anak dari kampung tetangga yang lewat sendirian, langsung saya cegat dan ditanyai. “Apakah punya ayah-ibu?” “Apakah membutuhkan tempat tinggal?” Aku serius sekali menanyai anak itu. Kontan saja anak tersebut lari terbirit-birit karena ketakutan he-he-he. Mungkin takut aku menculiknya. Jika ingat kejadian itu, aku pun tertawa geli.

    Satu hal lagi, ter’hipnotis’ oleh dongeng putri kahyangan yang selalu mandi di sungai jika muncul pelangi di permukaan bumi. Bukan hanya saya yang terhipnotis, tetapi kakak saya juga. Akhirnya, saya dan kakak senang sekali ketika melihat pelangi. Diam-diam kita berlarian ke sungai besar yang ada di dekat rumah. Di atas batu-batu besar kita duduk sambil menunggu turunnya putri-putri kahyangan yang akan mandi. Sayang sekali, tak ada satu pun putri kahyangan yang turun ke sungai itu. Demikianlah, daya khayal di masa kanak-kanak memang cukup tinggi.

    Itulah sebabnya, ketika telah dewasa dan memiliki anak, saya merasa, sangat perlu diperbanyak dongeng-dongeng anak yang bersifat tuntunan. Tak bisa dipungkiri, anak-anak memang menyukai cerita-cerita tentang putri, kerajaan, binatang dan yang sejenisnya, tetapi alangkah lebih baiknya jika diselipkan pesan positif agar anak-anak tidak latah meniru.

    Salam santun, salam karya.
    Sekjen FAM Indonesia.

    [Fabel karya Aliya Nurlela yang dimuat di majalah anak]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Akibat Dongeng Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top