Skip to main content

Aku Ingin Membuat Negara Ini Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Assalamualaikum Wr. Wb.
Menjumpai FAM dengan khasanah rindu yang menggebu.
Terbingkai doa dan semangat untuk semua penggores cinta melalui aksara.

FAM, mungkin engkau belum mengenal siapa diriku, tapi sosokmu telah lama membingkai di benakku. Tak terlalu penting mengetahui siapa diriku, namun yang terpenting adalah kau mau membaca jeritan hatiku ini. Itu sudah cukup dari sekadar meminum wedang jahe di kala dingin, menikmati soto Makassar di saat santai atau mengembara ilmu di Pustaka Soeman HS Pekanbaru serta duduk terpukau di tepian sungai Indragiri. FAM, Akulah anak Indonesia yang dilahirkan di perut bumi pertiwi. Buminya Raja Ali Haji, Yusmar Yusuf, Dewi Putri Anggi dan penulis-penulis hebat lainnya. Surat ini kuberi tema “aku ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri”.

FAM, seandainya saja saat ini kau duduk di hatiku, tentunya kau akan tahu betapa sesaknya semangat yang menggebu ini. Betapa tidak, jemari-jemari ini akan membawamu ke sebuah negeri yang indah, negeri penuh dengan keberagaman, hamparan alam surga dunia. Negeri ini tidaklah asing bagimu, tapi bisa jadi memuakkan bagi para insan yang rela menjual nasionalisme demi mengejar kepentingan pribadinya. Tapi “TIDAK” dengan aku. Bagiku negeri ini adalah miniatur dunia, keanekaragaman hayati dan tanaman endemik yang luar biasa.

FAM, hari ini orang ramai menendangkan sajak untuk ke negeri seberang, entah itu regional ataupun lintas benua. Tapi tidak dengan aku FAM, di negeri ini masih banyak yang belum aku ketahui. Sejuta rahasia terbungkus di balik kata Bhineka Tunggal Ika, seribu misteri masih berselimut bersama Pancasila. Segudang pertanyaan yang mungkin jawabannya ada pada anak cucu kita nantinya.

FAM, kamu sudah tahu tidak? Negeri kita ini sudah terkenal sejak dahulu, lihatlah kapal Pinisi dari Sulawesi Selatan dan lancang kuning dari Riau merupakan bukti bahwa dulu kita adalah raja laut. Negeri ini adalah negara ketiga yang berhasil menggunakan Satelit sendiri setelah Amerika Serikat dan Unisoviet. Negeri heroik yang mampu mengusir penjajah dengan bambu runcing namun semangat yang membara. Negeri yang melahirkan putra bangsa, satu-satunya orang di dunia yang berani membubarkan Partai Komunis. Siapa dia? Dialah bapak pembangunan kita, Soeharto. O iya, dulu kita dapat gelar anak macan dari Asia. Dengan jumlah pulau sebanyak 17.504, yang baru bernama sebanyak 7.870 dan selebihnya yaitu 9.634 belum bernama. Luar biasa kan?

FAM, mungkin engkau akan segera menghela ceritaku, “Mas Yudi, itu dulu sekarang lihatlah negeri yang kau banggakan ini. Korupsi sudah berjamaah dari pejabat negara sampai rukun tetangga. Anarkis, tawuran antar pelajar dan supporter bola. Pelecehan seksual, dan tindakan kriminal.

FAM, izinkan aku sejenak untuk menghela napas panjang.

Baiklah akan kulanjutkan ceritaku, jika begitu adanya apakah kau hanya berdiam diri? Tidakkah kau bangga dengan saudara kita yang juara umum oliampade robot di Amerika kemarin, juara olimpiade Sains, Film kita sudah mendunia, penyanyi kita juga ada yang go internasional berprestasi dengan membawa nama negeri, karya seni kita juga sudah merajalela ke seantero dunia. Hemmm…. Baiklah sepertinya indikator di atas belum mampu meyakinkanmu secara saksama. FAM, aku tidak sedang beretorika. Aku hanya menyampaikan pesan dari para Founding Father bangsa ini. Bahwa kita Indonesia adalah surganya dunia, kekayaan alam yang luar biasa. Apakah kita terus menerus saling mengutuk? Saling menghujat? Membiarkan negeri ini tenggelam dalam air mata tanpa makna. Jadikanlah keberagaman sebagai amunisi nasionalisme untuk menuju arah yang diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945.

FAM, bila teman-teman kita pada heboh mau ke luar negeri untuk berekreasi. Tolong kasih tahu ke mereka bahwa di negeri yang aku cintai ini menyediakan segala apa yang mereka cari. Mereka mau menyelam ke dunia bawah laut, negeriku punya. Mari berkunjung ke Wakatobi dan Raja Ampat. Mereka mau melihat arsitektur candi yang indah? Negeri aku mempunyai banyak candi mulai dari candi Muara Takus di Riau, candi Borobudur, Prambanan, dan masih banyak candi yang lainnya. O iya, bangunan kebanggaan Malaysia saat ini yaitu Petronas adalah hasil tiruan dari sketsa bangunan candi Prambanan dan Borobudur. Aduh, aku hampir lupa jembatan yang ada di Inggris juga hasil duplikat dari sketsa jembatan Ampera di Palembang. Apa masih belum bangga? Apalagi ya, yang mau aku kasih tahu ke FAM, biar nantinya FAM menyebarluaskan ke teman-teman untuk datang berkunjung ke negeriku ini.

FAM, negeriku ini orang-orangnya pintar loh. Mau bukti? Baiklah aku kasih tahu sebab FAM sudah berbaik hati mau membaca suratku ini. Aku teringat dengan pesan dosenku kemarin. Dosenku ini adalah dosen politik, beliau mengatakan kalau kalian mau mengambil S2 Ilmu Politik janganlah di Malaysia, sebab di sana bapak tidak mendapat ilmu dari dosennya, bapak hanya banyak belajar sendiri. Terus dia juga mengatakan bahwa dosen-dosen kita yang dari Universitas Indonesia dan Institut Tehknologi Bandung banyak yang ngajar di sana. Kalau kita pikir, menuntut ilmu ke luar negeri tapi yang mengajar orang kita juga, mengapa harus jauh-jauh? O iya FAM, orang-orang dari negeriku juga banyak yang mengajar di Universitas dunia, seperti Universitas Keiyo di Jepang, Universitas Yale Amerika Serikat.

FAM, berangkat dari Prestasi di atas, ada hal yang mengganjal di hatiku, aku ingin membuat negeri ini menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Mengelola dan merawat aset bangsa ini sendiri, jauh dari eksploitasi asing. Tapi mustahil bila hanya aku sendiri, tanpa kamu FAM, tanpa mereka. Sebab kita semua adalah saudara dari rahim yang sama yaitu Indonesia.

FAM, karena masih banyak yang aku belum tahu dari negeri ini, maka aku punya impian untuk keliling seluruh Indonesia seraya bersua dengan anggota FAM dari seluruh Nusantara. Mohon doanya ya?

Sekian dulu surat dari saya, bukan bermaksud untuk menyudutkan pihak manapun, tetapi saya sangat berharap kepada kita semua untuk mengubah paradigma dan mindset kita bahwa kita bukanlah generasi galau, tapi kita generasi optimis.

Merdeka!!!

Burung irian
Burung cendrawasih
Cukup sekian
Terimakasih


Wassalamualikum.wr.wb
Dariku:
Yudi Muchtar

Pekanbaru
Eudhiz_rahardi@yahoo.co.id
“Menulislah jika ingin dikenang sejarah”

Gambar: Kapal Pinisi dari Sulawesi Selatan. Sumber: google.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…