• Info Terkini

    Tuesday, January 15, 2013

    Bukan Sekadar Pakaian

    Oleh Muhammad Subhan*)

    Saya punya seorang kawan, alumni sebuah lembaga training spiritual keagamaan yang tersohor namanya di mana-mana. Kawan saya itu, ke mana pun ia pergi, selalu memakai jaket hitam bertulis logo lembaga training itu di dadanya. Begitupun, peci (kopiah) ‘pak haji’ tak pernah lepas dari kepalanya. Gagah dan terkesan alim benar. Tapi sayang, selama begaul dengannya, jarang saya melihatnya salat.

    Teman saya yang lain, perempuan, anggota halaqah sebuah pengajian. Berjilbab, tepatnya berbusana muslimah yang baik. Ayu penampilannya. Dan, ke mana-mana selalu pergi berkelompok dengan teman-temannya yang “sepakaian” dengannya. Namun, maaf, lagi-lagi sayang, ketika saya berjumpa teman itu “ngumpul”, setiap itu pula saya dengar dia ‘menggosipin’ orang. Bergunjing. Saya intip beranda sosial medianya, status-statusnya begitu pula, berkeluh kesah dan selalu berburuk sangka kepada Tuhan dan orang lain.

    Nah, satu lagi, teman saya juga, penampilannya biasa-biasa saja. Agak kalem, atau bisa dibilang pendiam, begitulah. Bukan alumni sebuah lembaga spiritual keagamaan dan tidak juga anak pengajian, tapi dia belajar dari banyak guru dan buku—tidak taklid buta kepada satu guru. Setiap azan berkumandang di masjid, saya lihat dia yang paling pertama duduk di shaf paling depan. Sungguh, saya sangat salut kepadanya.

    Dari pengalaman melihat perbedaan ketiga teman saya itu, saya berkesimpulan, ternyata, “pakaian” tidak menjadi jaminan kedekatan seorang manusia di hadapan Sang Khalik. Begitu pun, “pakaian” tidak selalu mencerminkan sikap dan perilaku keseharian si pemakai pakaian. Bahkan, pakaian sering kali menciptakan “kebohongan” yang cenderung mengarah pada kesombongan dan kepura-puraan. Padahal, dalam ayat-ayatNya, Allah SWT menegaskan bahwa Allah tidak melihat pangkat, jabatan, kedudukan, dan pakaiannya seorang hamba kecuali takwanya.

    Memang, banyak orang yang tertipu memandang kadar takwa seseorang, walaupun sebenarnya kita tidak pantas menilai kadar ketakwaan manusia. Sebab, ketakwaan itu hanya Allah SWT saja yang tahu dan berhak memberikan penilaian.

    Banyak orang memandang kadar ketakwaan seseorang dari pakaiannya, dan atribut-atribut ibadah lain yang melekat di tubuhnya. Padahal, belum tentu orang yang memakai atribut tersebut bisa konsisten dengan apa yang mereka pakai. Banyak kaum pria memakai setelan baju koko lengkap, tapi hanya di saat momen-momen tertentu saja. Ada juga kaum perempuan yang memakai jilbab, namun hanya untuk kebutuhan trend mode semata. Kondisi itu, sekarang telah umum terlihat di mana-mana. Dan, telah menjadi bagian dari budaya yang sedang tumbuh di tengah masyarakat kita. Namun demikian, tentu saja, orang yang “berpakaian” sopan masih lebih baik dari manusia yang memakai “pakaian” apa adanya (pas-pasan; ketat).

    Nah, dari ketiga pengalaman tentang “pakaian” itu pula, ada anekdote Abu Nawas yang cukup menarik dan menjadi renungan untuk kita bersama. Suatu hari, Abu Nawas berpenampilan ala orang biasa menghadiri sebuah pesta seorang bangsawan di kotanya. Karena Abu Nawas tidak memakai pakaian layaknya tamu yang sedang mengikuti pesta, tak seorang pun tuan rumah yang peduli apalagi melayaninya. Bahkan, karena dianggap kumuh, Abu Nawas diusir karena dianggap merusak acara di pesta itu. Tentu, bukan Abu Nawas namanya bila tidak panjang akal. Ia pun pulang ke rumah mengganti pakaian, lalu kembali ke pesta. Bajunya indah layaknya seorang bangsawan. Sesampainya di pintu masuk, dua pelayan menyambutnya dengan senyuman hangat dan menghidangkannya makanan serta minuman lezat. Abu Nawas senangnya bukan main. Namun, tak lama Abu Nawas larut dalam kesenangan itu. Tiba-tiba ia melepaskan pakaian kebangsawanannya, lalu berteriaklah dia: “Hai pakaian, makanlah makanan yang disediakan tuan rumah. Karena yang dihargai di sini hanyalah dirimu, bukan aku!” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Abu Nawas pergi meninggalkan pesta.

    Pakaian, memang, mencerminkan identitas seseorang. Tetapi sayangnya, identitas kadangkala sering dikaburkan hanya karena salah memakai pakaian. Alangkah indahnya jika si pemakai pakaian membungkus dirinya dengan jiwa ketakwaan, santun dan rendah hati. Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu berpakaian takwa. Amin ya Rabbana.

    *) Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Bukan Sekadar Pakaian Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top