Skip to main content

Buku Cerpen “Flamboyan Senja”

Telah terbit, Buku Cerpen “Flamboyan Senja”. Penulis: Aliya Nurlela. Penerbit FAM Publishing, Divisi Penerbitan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. ISBN 978-602-17143-5-5. Harga: Rp 38.000,- (diluar ongkos kirim).

S I N O P S I S:
Aku berdiri menatap ukiran alam yang elok di senja itu. Ada sejumput impian dan harapan kutitipkan pada angin yang bertiup lembut memainkan ujung jilbabku. Jilbab yang baru saja kukenakan, sebagai bukti hijrah. Tak semua orang dapat menerima keputusanku saat harus hengkang dari panggung gegap gempita dan suara musik hingar bingar. Aku bagai terseret, terhempas di lautan kontra yang tak berujung. Ada pihak-pihak penuai keuntungan yang masih menginginkan rambut panjangku sebagai ladang emas. Bahan komersil. Ada pula pihak-pihak yang memintaku segera ‘pensiun’ dari dunia yang bertolak belakang dengan prinsip keluarga.

Aku berdiri di antara kebimbangan. Jalan manakah yang harus kupilih? Tak seorang pun yang membimbing, mengajakku dengan lembut menuju jalan yang terang benderang. Aku hanya berkata pada senja. Kutitipkan ceritaku padanya. Kutitipkan pula pada burung-burung sore yang hendak pulang ke sarangnya. Sebarkan ceritaku, bahwa ada sebongkah hati yang bimbang merindukan siraman segar menyejukkan.

Bersama Flamboyan ungu jelita, kubulatkan satu tekad. Tak seorang pun berhak mengubah dan menggoyahkan. Ini hidupku dan ini jalanku! “Flamboyan, katakan pada dunia, kebimbangan itu akan segera terhempas. Kaulah saksinya. Catatlah! Sebarkan ceritaku dengan aroma wangi dari bunga-bunga cantikmu.” Flamboyan yang berdiri kokoh di sampingku seolah tersenyum dan menatapku mesra.

ENDORSEMENT:

Flamboyan dan senja, dua simbol keindahan. Bila keduanya disatukan, maka siapapun yang memandangnya akan berdecak kagum. Keindahan-keindahan itulah yang dilukiskan Aliya Nurlela, penulis buku cerpen ini. Ia memungut potongan-potongan keindahan yang dilihatnya sehingga menjadi cerpen-cerpen yang begitu sangat memikat.

~Muhammad Subhan, Ketum FAM Indonesia, Jurnalis & Penulis

[Info pemesan dan penerbitan buku di FAM Publishing hubungi No Hp. 0812 5982 1511, atau kirim pesan ke forumaktifmenulis@yahoo.com, atau kunjungi blog resmi FAM www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…