Skip to main content

Buku “Kadang Hidup Tak Mengenal Tuhan”

Telah terbit, Buku “Kadang Hidup Tak Mengenal Tuhan”. Penulis: M. Luthfi Munzir. Penerbit FAM Publishing, Divisi Penerbitan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. ISBN 978-602-17143-7-9. Harga: Rp 41.000,- (diluar ongkos kirim). Pemesanan ke: 0812 5982 1511 (Aliya Nurlela).

Ringkasan Buku:

Hidup ini seperti suatu pelayaran panjang di laut luas yang tidak seorang pun bisa memastikan, kapan pelayaran itu mampu mencapai titik akhir perjalanan. Hidup laksana musafir yang berjalan waktu demi waktu hingga akhirnya usia dan kematian yang menyudahi langkah. Pada dasarnya kita memiliki modal awal yang sama, beranjak dari titik yang sama. Lalu Allah SWT melindungi kita dengan kasih sayang melalui orang-orang di sekeliling kita yang kemudian merawat, mendidik dan membekali diri kita untuk mampu berjalan dan hidup mandiri. Luasnya lautan atau terjalnya medan yang ditempuh sama “ganas”nya, sama sulitnya.

Hanya terkadang cara pandang, perspektif dalam memahami segala macam rintangan itu yang menjadikan di tengah-tengah perjalanan menjadi tidak sama. Ada yang melangkah ke kanan, ada yang memilih ke kiri. Di persimpangan hidup, kita sendirilah yang memutuskan dengan bekal yang didapatkan kemana arah tujuan hidup. Allah SWT telah menganugerahkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW sebagai panduan.

“Kadang, Hidup Tak Mengenal Tuhan!” berkisah tentang hitam dan putih realita hidup yang ada dalam keseharian, tentang upaya menyikapi makna hidup, tentang bagaimana menerjemahkan ujian yang diberikanNya. Kadangkala, di tengah limpahan nikmat yang menaungi, kita menjadi lalai bahkan lupa untuk bersyukur kepadaNya dengan segala dimensi rasa syukur. Nikmat itu baru terasa teramat berharga ketika ujian menghampiri, untuk sekadar mengingatkan kepada apa yang terlupa kita syukuri. Ketika badai kehidupan kian mengganas, baru kita tersentak bahwa ternyata beberapa episode waktu yang telah berlalu, dilalui dengan salah arah. Sebelum terlambat, mari revisi arah dan tujuan hidup ini. Selayaknya segalanya berada di jalan yang semestinya, jalan cahaya, jalan kebenaran yang telah Allah SWT tetapkan untuk kita.

Info Penerbitan Buku di FAM Publishing, hubungi kami di email: forumaktifmenulis@yahoo.com, atau kunjungi www.famindonesia.com.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…