Skip to main content

Di Jerman, Aku Ingin Memahat Lambangmu dan Memasangnya di Pusat Kota Berlin

Dengan datangnya surat ini yang terbang tanpa sayap dan berjalan tanpa kaki, namun akhirnya tetap sampai di pangkuan tanganmu jua, sahabatku FAM Indonesia.
Sumedang, 11 Januari 2013
Kepada Ydh. Sahabat Pena Inspirasiku
di-
Meja Redaksi

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kaifa halukum, sahabat inspirasiku? Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan, kesuksesan dan kejayaan kepadamu, amin.

Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini aku masih diizinkan oleh Yang Maha Kuasa untuk bercerita melalui rangkaian huruf-huruf ini denganmu lagi. Tak terasa sekali waktu dan kesempatan telah memisahkan kita beberapa hari ini.

FAM, sahabatku yang Allah Muliakan, hari ini aku ingin berbagi cerita tentang harapan dan cita-citaku kepadamu, ini tentang pena-penaku yang terus memaksa hasratku untuk terus berkarya di tengah kesibukkanku untuk menghadapi Ujian Nasional (UN) nanti.

Setiap kali kutatap penaku ini, rasanya sudah tidak mungkin untukku berhenti menggenggamnya. Sahabatku, terkadang hati ini sakit bila harus terus melawan hasratku untuk menggoreskan tinta-tinta ini di atas kertas putih itu. Bagaimana tidak, tantangan dan rintangan selalu datang kepadaku di saat aku ingin menyalinnya ke dalam sebuah file berbentuk naskah yang tersusun rapi. Ditambah, pernah aku membaca surat pengunduran diri dari salah seorang temanku di sini yang ingin mengundurkan diri karena ingin terfokus kepada ujian sekarang yang katanya sulit sekali. Tapi aku bingung sahabatku, perasaan takut itu ternyata tidak hinggap di benakku yang padahal hampir saja aku ingin memutuskan untuk berbuat demikian. Ternyata yang ada, aku malah semakin tertarik untuk bermain-main dengan sahabat penaku ini, tentunya tanpa takut aku tidak lulus ujian nanti. Sehingga, timbulah mimpi besarku untuk membanggakanmu, sahabatku FAM.
Aku tidak tahu harus memulai cerita ini dari mana lagi. Kegemaranku dalam dunia kepenulisan akhirnya mengukir sedikit demi sedikit pahatan mimpi yang abadi dalam hatiku.

Sahabatku, salah satu mimpi besar itu adalah bisa mengangkat dan menempatkanmu di seluruh dunia. Terutama di sana, di negeri yang selama ini menjadi dambaan penaku untuk mengunjunginya. Negeri itu dikenal banyak orang dengan sebutan negeri Hitler, yang aku sendiri kurang tahu sejarah panggilan itu dari mana asalnya. Negeri itu tepatnya negara Jerman. Saat pertama kali aku mengenal bahasanya, aku tertarik sekali dengan abjad-abjad dan vokal yang guruku perkenalkan. Tanpa aku sadari penaku sering kali menuliskan noktah-noktah kecil yang tersusun menjadi sebait puisi ke dalam bahasa itu, walaupun masih belum mahir aku menyusun kalimat demi kalimatnya.

Di negeri itulah aku harap mimpi yang ingin kuraih terlaksana. Menjadi penulis fenomenal dan terkenal dari Negara Zamrud Khatulistiwa yang menjulang prestasinya di seluruh dunia, amin.

Sahabatku FAM, di sana aku ingin berusaha memahat lambangmu dan memasangkannya di pusat Kota Berlin. Memahat dengan ukiran yang begitu luar biasa indahya. Engkau tahu alasannya? Itu karena aku ingin sekali semua orang tahu, keberhasilanku dituntun oleh kesabaranmu dalam mendidiku sebelum menjadi orang besar.

Tak kenal yojana yang memisahkan kita awalnya, bagiku engkau harus tetap didekatku apapun keadaanya, FAM. Di negeri itu, mimpiku akan berlabuh, di negeri itu pula, namamu akan kuperkenalkan kepada dunia.

Negeri Hitler adalah negara ke-2 yang aku dambakan dan banggakan setelah Indonesia. Selain pemandangan dan suasana negeri yang indah, Jerman juga adalah pusat pendidikan terbaik di dunia. Di sana itu biaya pendidikan begitu murah, ditambah peluang untuk bekerja sangat luas. Aku tahu semua itu dari beberapa sumber. Oleh karena itu, indah bukan jika aku berhasil menjadi penulis terkenal di sana dan bisa menempatkanmu untuk menampung para penulis pemula di negeri sana? Sekalian menunjukkan kepada dunia tentang prestasi negara kita.

Semoga saat membaca cerita harapanku di surat ini engkau tersenyum lebar sahabatku, amin. Selain yang disebutkan tadi, negeri yang dijuluki Negeri Hitler itu memiliki banyak warga negara yang begitu ramah tamah dan menghargai bangsa lain, bagus bukan?

Sahabatku, oleh karenanya, tuntun aku selalu untuk mengukir dan menapaki jalan kehidupan ini. Topanglah aku di saat aku mulai terjatuh dan hampir rapuh. Semua usaha ini akan selalu aku jalani untuk membanggakanmu dan semuanya.

Di negeri itu, kita akan bersama sahabatku, dan kita akan tersenyum bahagia, bernalam atas keberhasilan ini, dan menyongsong kesuksesan yang mengguncang seluruh penjuru negeri. Di sanalah, di negeri itu, harapan dan mimpiku akan berlabuh.

Sekian dahulu catatan kecil yang kurangkum dalam sebuah surat sederhana ini. Semoga engkau selalu dalam lindungan Allah SWT, amin.

Mimpiku dan mimpimu semoga Allah catat dalam Qadar-Nya selalu.

Salam Karya, Salam Santun.
Viel Grüße

Wassalamu'alkaikum Wr. Wb.

ADINDA IIK ZAKIAH
FAMS946
Sumedang, Jawa Barat
email : Iikzakiahdarajatizada@ymail.com

Gambar: Sesudut Kota Berlin, Jerman

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…