• Info Terkini

    Saturday, January 12, 2013

    Di Jerman, Aku Ingin Memahat Lambangmu dan Memasangnya di Pusat Kota Berlin

    Dengan datangnya surat ini yang terbang tanpa sayap dan berjalan tanpa kaki, namun akhirnya tetap sampai di pangkuan tanganmu jua, sahabatku FAM Indonesia.
    Sumedang, 11 Januari 2013
    Kepada Ydh. Sahabat Pena Inspirasiku
    di-
    Meja Redaksi

    Bismillahirrahmanirrahim
    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Kaifa halukum, sahabat inspirasiku? Semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan, kesuksesan dan kejayaan kepadamu, amin.

    Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini aku masih diizinkan oleh Yang Maha Kuasa untuk bercerita melalui rangkaian huruf-huruf ini denganmu lagi. Tak terasa sekali waktu dan kesempatan telah memisahkan kita beberapa hari ini.

    FAM, sahabatku yang Allah Muliakan, hari ini aku ingin berbagi cerita tentang harapan dan cita-citaku kepadamu, ini tentang pena-penaku yang terus memaksa hasratku untuk terus berkarya di tengah kesibukkanku untuk menghadapi Ujian Nasional (UN) nanti.

    Setiap kali kutatap penaku ini, rasanya sudah tidak mungkin untukku berhenti menggenggamnya. Sahabatku, terkadang hati ini sakit bila harus terus melawan hasratku untuk menggoreskan tinta-tinta ini di atas kertas putih itu. Bagaimana tidak, tantangan dan rintangan selalu datang kepadaku di saat aku ingin menyalinnya ke dalam sebuah file berbentuk naskah yang tersusun rapi. Ditambah, pernah aku membaca surat pengunduran diri dari salah seorang temanku di sini yang ingin mengundurkan diri karena ingin terfokus kepada ujian sekarang yang katanya sulit sekali. Tapi aku bingung sahabatku, perasaan takut itu ternyata tidak hinggap di benakku yang padahal hampir saja aku ingin memutuskan untuk berbuat demikian. Ternyata yang ada, aku malah semakin tertarik untuk bermain-main dengan sahabat penaku ini, tentunya tanpa takut aku tidak lulus ujian nanti. Sehingga, timbulah mimpi besarku untuk membanggakanmu, sahabatku FAM.
    Aku tidak tahu harus memulai cerita ini dari mana lagi. Kegemaranku dalam dunia kepenulisan akhirnya mengukir sedikit demi sedikit pahatan mimpi yang abadi dalam hatiku.

    Sahabatku, salah satu mimpi besar itu adalah bisa mengangkat dan menempatkanmu di seluruh dunia. Terutama di sana, di negeri yang selama ini menjadi dambaan penaku untuk mengunjunginya. Negeri itu dikenal banyak orang dengan sebutan negeri Hitler, yang aku sendiri kurang tahu sejarah panggilan itu dari mana asalnya. Negeri itu tepatnya negara Jerman. Saat pertama kali aku mengenal bahasanya, aku tertarik sekali dengan abjad-abjad dan vokal yang guruku perkenalkan. Tanpa aku sadari penaku sering kali menuliskan noktah-noktah kecil yang tersusun menjadi sebait puisi ke dalam bahasa itu, walaupun masih belum mahir aku menyusun kalimat demi kalimatnya.

    Di negeri itulah aku harap mimpi yang ingin kuraih terlaksana. Menjadi penulis fenomenal dan terkenal dari Negara Zamrud Khatulistiwa yang menjulang prestasinya di seluruh dunia, amin.

    Sahabatku FAM, di sana aku ingin berusaha memahat lambangmu dan memasangkannya di pusat Kota Berlin. Memahat dengan ukiran yang begitu luar biasa indahya. Engkau tahu alasannya? Itu karena aku ingin sekali semua orang tahu, keberhasilanku dituntun oleh kesabaranmu dalam mendidiku sebelum menjadi orang besar.

    Tak kenal yojana yang memisahkan kita awalnya, bagiku engkau harus tetap didekatku apapun keadaanya, FAM. Di negeri itu, mimpiku akan berlabuh, di negeri itu pula, namamu akan kuperkenalkan kepada dunia.

    Negeri Hitler adalah negara ke-2 yang aku dambakan dan banggakan setelah Indonesia. Selain pemandangan dan suasana negeri yang indah, Jerman juga adalah pusat pendidikan terbaik di dunia. Di sana itu biaya pendidikan begitu murah, ditambah peluang untuk bekerja sangat luas. Aku tahu semua itu dari beberapa sumber. Oleh karena itu, indah bukan jika aku berhasil menjadi penulis terkenal di sana dan bisa menempatkanmu untuk menampung para penulis pemula di negeri sana? Sekalian menunjukkan kepada dunia tentang prestasi negara kita.

    Semoga saat membaca cerita harapanku di surat ini engkau tersenyum lebar sahabatku, amin. Selain yang disebutkan tadi, negeri yang dijuluki Negeri Hitler itu memiliki banyak warga negara yang begitu ramah tamah dan menghargai bangsa lain, bagus bukan?

    Sahabatku, oleh karenanya, tuntun aku selalu untuk mengukir dan menapaki jalan kehidupan ini. Topanglah aku di saat aku mulai terjatuh dan hampir rapuh. Semua usaha ini akan selalu aku jalani untuk membanggakanmu dan semuanya.

    Di negeri itu, kita akan bersama sahabatku, dan kita akan tersenyum bahagia, bernalam atas keberhasilan ini, dan menyongsong kesuksesan yang mengguncang seluruh penjuru negeri. Di sanalah, di negeri itu, harapan dan mimpiku akan berlabuh.

    Sekian dahulu catatan kecil yang kurangkum dalam sebuah surat sederhana ini. Semoga engkau selalu dalam lindungan Allah SWT, amin.

    Mimpiku dan mimpimu semoga Allah catat dalam Qadar-Nya selalu.

    Salam Karya, Salam Santun.
    Viel Grüße

    Wassalamu'alkaikum Wr. Wb.

    ADINDA IIK ZAKIAH
    FAMS946
    Sumedang, Jawa Barat
    email : Iikzakiahdarajatizada@ymail.com

    Gambar: Sesudut Kota Berlin, Jerman
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Di Jerman, Aku Ingin Memahat Lambangmu dan Memasangnya di Pusat Kota Berlin Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top