• Info Terkini

    Tuesday, January 1, 2013

    Konsultasi Kepenulisan Bersama FAM Indonesia



    PERTANYAAN:

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Salam santun.

    Mengenai postingan "Tips Menulis Cerpen yang Baik", ada beberapa pertanyaan yang masih menghantui alam imajinasi saya. Berikut hal-hal yang ingin saya tanyakan:

    1. Untuk menentukan tema, apakah tema dibuat terlebih dahulu atau menunggu ceritanya sudah selesai baru bisa menentukan sebuah tema?

    2. Adakah perbedaan antara cerpen dan flash fiction? Berapa ratus atau ribu karakter yang biasa digunakan oleh masing-masing bagian (cerpen dan FF)?

    3. Untuk penulisan tanda petik, tanda tanya ataupun tanda seru. Apakah menggunakan spasi atau tidak?

    4. Adakah batasan waktu bagi anggota yang ingin berkonsultasi mengenai dunia tulis menulis?

    Demikian pertanyaan yang ingin saya tanyakan. Terima kasih atas perhatiannya.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Najwa Al Farra (Nova Fatna Ningsih)
    FAM 1257M - Tangerang-Banten

    JAWABAN FAM INDONESIA:

    1.  Apa itu tema? Tema adalah pokok pemikiran, ide atau gagasan serta yang akan disampaikan oleh penulis dalam tulisannya. Tema dapat diartikan sebagai pengungkapan maksud dan tujuan. Tema berada di dalam pikiran penulis. Jadi, sebelum menulis, seorang penulis sudah harus tahu dulu apa tema yang hendak dia tuliskan dalam tulisannya.

    2.  Cerpen yang kepanjangannya ‘cerita pendek’ adalah sebuah karangan yang menceritakan tentang suatu alur cerita yang memiliki tokoh cerita dan situasi cerita terbatas. Sebuah cerpen biasanya akan langsung mengarah ke topik utama cerita karena memang alur ceritanya cuma sekali dan langsung tamat. Menurut Edgar Allan Poe, Jassin (1961:72) cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk. Sebuah cerpen merupakan prosa fiksi dengan jumlah kata berkisar antara 750-10.000 kata. Cerpen dapat terbentuk karena adanya unsur-unsur intrinsik cerpen, unsur intrinsik tersebut antara lain adalah (1) tema, (2) tokoh, (3) alur, (4) latar, (5) teknik penceritaan, dan (6) diksi.

    Sedangkan Flash Fiction (FF) sesuai namanya adalah ‘fiksi kilat’ yang bisa dibaca sekejap hanya dalam hitungan detik. Beberapa penulis menyebutnya dengan istilah sudden fiction, microfiction, micro story, postcard fiction, atau short short story. Belum ada kesepakatan resmi tentang jumlah kata sebuah cerita yang dapat digolongkan kedalam flash fiction. Sebagian beranggapan, jumlah kata 300-1.000 kata masih bisa disebut flash fiction, berada di antara microfiction (10-300 kata) dan cerpen tradisional (3000-5.000 kata). Baik contoh cerpen dan contoh FF bisa dicari di mesin pencari google.

    3. Adakah batasan waktu bagi anggota yang ingin berkonsultasi mengenai dunia tulis menulis? Jawabannya tidak ada batasan waktu. Hanya saja setiap pertanyaan yang diajukan mengikuti daftar antrian mengingat banyaknya jumlah anggota FAM Indonesia.

    4. Untuk penulisan tanda petik, tanda tanya, ataupun tanda seru dapat mengikuti pedoman sebagai berikut:

    Tanda Petik ("...")

    a. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

    Contoh:
    "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!"
    Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."

    b. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

    Contoh:
    Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat.
    Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA" diterbitkan dalam Tempo.
    Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu.

    c. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

    Contoh:
    Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja.
    Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai".

    d. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

    Contoh: Kata Tono, "Saya juga minta satu."

    e. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

    Contoh:
    Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam".
    Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya.

    Tanda Petik Tunggal ('...')

    Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.

    Contoh:
    Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
    "Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan.

    Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.

    Tanda Tanya (?)

    a. Tanda tanya dipakai pada akhir tanya.

    Contoh:
    Kapan ia berangkat?
    Saudara tahu, bukan?

    Penggunaan kalimat tanya tidak lazim dalam tulisan ilmiah.

    b. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

    Contoh:
    Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).
    Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

    Tanda Seru (!)

    Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.

    Contoh:
    Alangkah mengerikannya peristiwa itu!
    Bersihkan meja itu sekarang juga!
    Sampai hati ia membuang anaknya!
    Merdeka!

    Oleh karena itu, penggunaan tanda seru umumnya tidak digunakan di dalam tulisan ilmiah atau ensiklopedia. Hindari penggunaannya kecuali dalam kutipan atau transkripsi drama.

    Demikian jawaban FAM Indonesia. Semoga bermanfaat.

    Salam santun, salam karya.

    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Konsultasi Kepenulisan Bersama FAM Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top