Skip to main content

Kupilih Spanyol untuk Mewujudkan Mimpi-Mimpiku

Jakarta, Januari 2013

Kepada FAM Indonesia

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam kenal dan penuh senang kutulis tiap kata-kata dalam surat pertama ini. Dan kupilih Spain sebagai gambaran dari keinginan terbesarku yang belum terwujud. Spain adalah sebuah Negara yang penuh dengan peninggalan sejarah dan keindahan alam yang begitu elok, karena di sanalah impian terbesarku berada. Spain atau Spanyol yang dahulunya bernama Andalusia adalah sebuah Negara yang menjadi saksi bisu perkembangan peradaban Islam terbesar di Eropa, di sanalah Islam menjajakan kakinya pertama kali di bawah kekuasaan Bani Umayyah.

Kini, Spain tumbuh menjadi sebuah negara yang memiliki banyak peninggalan-paninggalan sejarah yang berharga. Selain itu, umat kristiani dan muslim hidup saling berdampingan. Andalusia, Aragon, Navarra, Cordova, Valencia, menjadi bagian dari daftar nama-nama tempat yang akan kukunjungi untuk pertama kalinya saat kaki ini melangkah. Pantai, danau, taman bunga, perpustakaan, dan juga masjid akan menjadi tempat pelepas lelahku menjelajahi keindahan-keindahan kota yang tiada habisnya.

Entah kapan saat itu tiba, sedangkan kini aku begitu sibuknya menjalani aktivitas rutin yang tiada hentinya dan menjadikan semua itu alasan pertama yang menunda keinginanku mengunjunginya. Tapi jika Tuhan berkehendak lain dan akhirnya aku bisa mengunjungimu, akan kutulis dalam sebuah buku tentang kisah perjalananku di tempatmu. Dan akan kutunjukkan pada dunia, bahwa Islam agama yang penuh keindahan dan cinta damai. Menghentikan semua kekerasan yang membuat mata ini lelah memandangnya. Karena aku bangga menjadi seorang muslim, dan dengan apapun yang pernah terjadi di masa lalu seperti saat Islam mengalami masa kejayaannya di luar wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara, yaitu ada padamu, Spain.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam karya,

FIA FAUZIAH RAHMAN

Cinere, Depok
Email: fiafauziah14@yahoo.co.id


Gambar: Kota Madrid, Ibukota Spanyol. Sumber Google.com
 

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…