Skip to main content

Buku Pemberdayaan Masyarakat: Konsep dan Aplikasi

Telah terbit, Buku “Pemberdayaan Masyarakat: Konsep dan Aplikasi”. Penulis: Efri S. Bahri. Penerbit FAM Publishing, Divisi Penerbitan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. ISBN 978-602-17143-2-4. Harga: Rp 38.000,- (diluar onkos kirim). Pemesanan ke: 0812 5982 1511 (Aliya Nurlela).

ENDORSEMENT:

Pengalaman penulis sebagai pegiat pemberdayaan sosial menambah bobot buku ini, bukan sekadar sebagai buku teks bagi kalangan akademik, tapi sekaligus sangat bermanfaat sebagai panduan praktis bagi aktivitas pemberdayaan sosial yang lebih akseleratif bagi kalangan aktivis dan pekerja sosial.

~H. Danang Azis Akbarona, MAP, Tenaga Ahli DPR RI

Panduan antara teori dan aplikasi pada pemberdayaan masyarakat bukanlah hal yang mudah karena kondisi sasaran yang berbeda-beda, buku ini membeberkan kesuksesan program-program pemberdayaan yang sesuai dengan teorinya. Buku ini dapat menjadi rujukan bagi akademisi, petugas lapangan/community supervisor dan cocok dibaca oleh para da'i pemberdaya yang tengah bertugas di tengah masyarakat.

~H. Ade Salamun, M.Si, Direktur Eksekutif Lazis Dewan Dakwah


Subhanallah. Sebuah karya yang dinantikan bangsa Indonesia. Tidak kurang 70.000 desa yang memiliki keunikan dan potensi yang belum tersentuh tangan-tangan terampil, sehingga potensi itu menjadi raksasa tidur. Insya Allah buku ini akan menjadikan jawaban yang tepat terhadap kurangnya referensi yang aplikatif dan berbasis data.

~M. Nasir Tajang, Manajer Penghimpunan BAZNAS

Info Penerbitan Buku di FAM Publishing, hubungi kami di email: forumaktifmenulis@yahoo.com, atau kunjungi www.famindonesia.com.

Comments

  1. sebagai tenaga pemberdayaan saya terterik dengan buku-buku tersebut, bagaimana cara memperolehnya?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…