• Info Terkini

    Wednesday, January 9, 2013

    Sakit Bell’s Palsy ‘Merenggut’ Senyumku

    Oleh Aliya Nurlela*)

    Tak ada yang mengharapkan datangnya musibah, termasuk saya. Semua orang pasti ingin keadaannya baik-baik saja, sehat, aman dan lancar. Namun hidup menjadi indah dan berwarna, justru ketika datang anugerah dan musibah yang silih berganti. Memang hidup diatur demikian oleh Sang Maha Pencipta agar manusia tidak larut dalam satu kondisi saja. Di saat datang anugerah, ia merasakan bahagia dan mengucap syukur atas pemberian-Nya. Di saat datang musibah, akan merasakan kesedihan hingga bersikap sabar atas musibah yang menimpanya. Dua keadaan itu sama baiknya. Tak ada takdir yang buruk. Anugerah dan musibah dicipta demi kebaikan manusia itu sendiri agar menghantarkannya pada posisi mulia di hadapan-Nya.

    Namun sayang sungguh sayang, tidak semua manusia menyikapi setiap kejadian dengan perasaan lapang dan penuh syukur. Ada kalanya justru menaruh prasangka buruk pada Sang Penentu takdir. Mengapa begini dan mengapa begitu? Mengapa tidak begini saja, seperti yang aku mau? Para ahli hikmah berkata, alangkah baiknya setiap kejadian yang menimpamu, lakukan muhasabah diri. Bukan sibuk menyalahkan orang lain apalagi Tuhan, tetapi koreksi dirilah terlebih dahulu. Benar, saya sepakat. Itu adalah sikap terbaik dan teraman. Kita akan cenderung memperbaiki diri dari setiap ‘teguran’ yang diberikan-Nya, bukan terfokus menyalahkan sana-sini, uring-uringan dan menabung keluhan.

    Namun, teori memang mudah untuk dibaca dan diucapkan. Tapi ketika musibah itu benar-benar dihadirkan dalam kehidupan kita, apalagi dalam kondisi diri belum siap secara mental, pasti terasa berat dan lupa dengan teori (pesan) yang telah dipahami tersebut. Datangnya musibah selalu mendadak dan tanpa minta persetujuan kita terlebih dahulu. Tiba-tiba musibah itu hadir, mengagetkan dan menuntut kita menyikapinya. Sikap itulah yang akan dinilai. Apakah orang yang ditimpa musibah itu menyikapi dengan benar sesuai tuntunan yang diajarkan Sang Pencipta ataukah menyikapi dengan sebaliknya?

    Saya ingin berbagi tentang musibah yang menimpa diri saya beberapa tahun terakhir ini. Tak pernah ada bayangan dalam benak akan terjadi musibah seperti ini dalam hidup. Mimpi pun tidak, apalagi berharap. Tapi saya yakin dihadirkannya musibah ini adalah demi kebaikan. Meskipun saya tak mampu menyelami hakikat di balik munculnya takdir ini. Namun yakin seyakin-yakinnya, musibah ini demi kebaikan saya untuk sekarang dan ke depannya. Ibarat berlian terbungkus kain usang. Dari luar yang terlihat adalah kain usang, tetapi sesungguhnya di dalamnya terdapat sebuah berlian yang mahal harganya. Demikianlah Allah membungkus hikmah di balik musibah.

    Sakit bellspalsy, itulah yang menimpaku. Sebelumnya saya pernah diuji dengan berbagai penyakit berat, hingga yang masa anak-anak dan remaja saya sangat takut dengan jarum suntik, obat dan semacamnya, membuat saya akrab dengan benda-benda tersebut termasuk pisau operasi, alat rontgen dan alat medis lainnya.

    Sebelumnya, saya tidak pernah mengenal, apa itu sakit bellspalsy? Kaget sudah pasti. Bagaimana tidak kaget, tiba-tiba muka saya separuh harus berubah dalam sekejap. Tak ada tanda-tanda apapun sebelumnya. Saya juga sehat-sehat saja secara fisik. Bahkan ketika musibah itu menimpa, saya sedang menjadi panitia sebuah seminar di kota Nganjuk. Di tengah acara saya dikagetkan dengan perubahan muka yang tiba-tiba disertai kepala sakit sebelah. Bagian muka kanan menjadi kaku dan sulit digerakkan. Ada rasa sakit di sekitar leher kanan seperti kram. Ketika saya melihat muka di cermin, saya lebih kaget lagi. Mata yang awalnya bulat, sebelah mata kanan tidak bulat lagi. Bibir pun sulit untuk menciptakan senyum merata hingga ke sudut bibir. Separuh muka seakan lepas dari posisinya semula, hingga mengubah total tekstur wajahku. Seakan tak percaya, saya hanya bisa terdiam. Waktu itu saya juga masih minim pengetahuan tentang penyakit bellspalsy. Biasanya jika ada orang yang wajahnya tiba-tiba berubah atau mulutnya sulit bicara, akan langsung dikaitkan dengan penyakit strooke.

    Keesokan harinya datanglah saya ke dokter spesialis syaraf, menurut penjelasan dokter, sakit bellspalsy hingga kini belum diketahui secara jelas. Hanya sekadar perkiraan saja, bahwa sakit tersebut dipicu oleh udara dingin malam hari, kontak langsung dengan angin saat berkendara tanpa mengenakan helm tertutup, selalu menggunakan kipas angin saat tidur dan kebiasaan mandi pada malam hari. Bahkan, dokter tersebut bilang tak ada obatnya. Hanya disarankan untuk melakukan fisiotherapi di rumah sakit secara rutin. yaitu kompres wajah dengan sinar dan kejutan listrik di wajah.Saya ikuti saja saran dokter melakukan fisiotherapi rutin di rumah sakit. Sebulan, dua bulan belum ada perkembangan yang berarti. Selebihnya saya rutin mengonsumsi obat herbal meskipun terapi juga tetap masih dilakukan. Sudah 80 persen wajah saya kembali, tapi belum bisa dikatakan normal dan masih jauh dengan wajah sebelum terkena sakit.

    Karena sakit bellspalsy itulah saya jadi tergerak mencari informasi tentang sakit tersebut. Beberapa dokter yang saya kenal, saya berondong pertanyaan. Jawabannya hampir seragam. Informasi dari internet juga cukup membantu. Hingga saya mendapat informasi dari internet pula bahwa sakit bellspalsy ini pernah menimpa beberapa pesohor dunia, seperti: Sylvester Stallone, John Travolta, Jean Chretien (Perdana Menteri Canada ), John McCain (senator Arizona ), Jim Ross (komentator World Wrestling Entertainment), Rick Savage (bassis grup metal Def Leppard), Ayrton Senna (pembalap), Tom Holland (sutradara),  Andrew Llyod Webber (komposer), Pete Maravich (pebasket). Sebagian dari mereka ada yang sembuh dan ada juga yang tidak pernah sembuh (mengalami kecacatan) seperti yang terjadi pada Jean Chretien, Perdana Menteri Canada.

    Seorang dokter ahli menawarkan pada saya untuk melakukan bedah plastik seperti yang ditempuh beberapa selebritis dalam upaya mempercantik mukanya. Saya dijelaskan tahap demi tahap dari operasi tersebut. Salah satunya harus mengambil urat lidah. Wah, saya meriding dibuatnya. Haruskah menempuh jalan ‘seekstrim’ itu untuk mengembalikan ‘kecantikan?’ Tampaknya saya memilih tidak dan melupakan menempuh jalan ini. Meskipun tak dapat dipungkiri, di awal terkena sakit bellspalsy ini saya sempat tak ingin bertemu dengan banyak orang. Menghindari kamera juga cermin. Padahal kedua benda itu sebelumnya adalah benda yang sangat saya sukai. Saya paling suka mematut di cermin sejak kecil. Juga suka bergaya depan kamera. Saya pun selalu memakai penutup muka ketika berhadapan dengan orang lain. Rasanya saya telah kehilangan rasa percaya diri.

    Tak dapat dipungkiri, sakit bellspalsy ini membuat saya sedih dan sempat terpuruk. Bagaimanapun, wajah adalah ‘aset’ seseorang. Pandangan pertama selalu diawali dari wajah dan gambaran mimik wajah bisa menunjukkan suasana hati seseorang. Sementara saya, tak mampu lagi menunjukkan mimik sedih atau senang secara ‘sempurna’ melalui wajah baru yang saya miliki. Saya merasa telah kehilangan semua yang pernah di anugerahkan Allah atas wajah ini. Di manakah wajahku yang dulu? Pertanyaan itu berulang kali muncul ketika saya lewat depan cermin dengan sesegera mungkin mempercepat langkah agar tak melihat bayangan itu lagi di cermin.

    Dikala menyendiri dan merenung, saya sempat mengikuti petunjuk ahli hikmah. “Setiap kejadian yang menimpa, dahulukan mengoreksi diri atas kesalahan yang pernah diperbuat.” Ingatanku melayang ke masa yang telah lewat kala masih belum mengenakan busana muslimah. Masa SMA terutama, secara tidak langsung  telah menggunakan wajah sebagai ‘modal’ dalam melakukan kegiatan seni. Tak bisa dipungkiri, wajah mulus dan  kulit putih akan menempati kasta tertinggi dalam perhelatan pemilihan para pelaku seni. Saya pernah menyaksikan beberapa teman yang dianggap oleh sutradara tidak cantik dan berkulit gelap, terjungkal dalam beberapa audisi dan harus memupus impiannya menjadi pelaku seni.

    Saya anggap musibah ini adalah teguran dari Allah agar saya membuka mata, tidak terlena dan menjauhkan dari berbagai bencana yang mungkin saja akan menimpaku. Saya juga seakan diajak menyaksikan orang-orang yang ditimpa musibah lebih berat. Ada yang karena tertabrak sepeda motor, seorang gadis yang dirawat bersamaku di rumah sakit harus mengalami kerusakan muka dan matanya. Ada juga seorang teman muslimah yang mengalami kecelakaan parah hingga mukanya rusak total. Ia harus mengalami beberapa kali operasi. Beberapa bagian mukanya disangga oleh besi kecil. Sangat mengenaskan. Bukan hanya mengubah bentuk muka tetapi juga munculnya keluhan sakit yang tiada henti. Saya berulang kali mengusap muka dan menasehati diri sendiri.

    “Lihat, mereka lebih parah dari kamu. Tak pantas kamu mengeluh berlebihan. Kamu harus malu pada mereka. Ketika mereka melihat musibah yang menimpamu, mungkin mereka merasa kamu lebih beruntung. Bukankah kenikmatanmu memiliki wajah yang selalu mendapat perhatian banyak orang sudah kau rasakan bertahun-tahun? “ Bisikku pada diri sendiri. Hal ini saya lakukan untuk menyadarkan diri sendiri agar tidak terlarut dalam kesedihan. Namun, sungguh tak mudah. Perasaan sedih dan tidak percaya diri terkadang masih terselip di hati.

    Dukungan dari orang-orang terdekat juga memengaruhi munculnya keberanian dan tidak berkubang lagi dalam kesedihan. Suami saya tidak menginginkan saya tampil mengenakan penutup muka. Baginya, tak ada yang berubah. Masih saya yang dulu dan tetap seperti itu. Tak mengubah apapun dan tidak ada hal yang harus dipikirkan berat. Ia memandang tak pernah terjadi musibah itu.

    Demikian juga ketika saya sudah aktif mengelola wadah kepenulisan FAM Indonesia, sahabat saya Muhammad Subhan juga memberikan dukungan yang sama. Menurutnya, Tak ada yang perlu dipandang aneh dan dipermasalahkan. Hingga dalam setahun ini, saya seakan lupa dengan pengobatan rutin fisiotherapi. Saya merasa lebih sehat, percaya diri dan semangat berkarya. Saya juga belajar ikhlas mencintai wajah baru ini. Saya mulai berani menepis pandangan kurang nyaman orang tentang wajah baru ini dan menyerahkan penilaian pada mereka. Saya harus ikhlas dengan musibah yang diberikan Allah dan kini saya mendapat banyak hikmah di balik musibah ini. Tak patut lagi saya berkeluh kesah, berkubang dalam kesedihan dan mengurung diri dari khalayak. Saya ikhlas dengan takdir ini. Jika suatu hari nanti, Allah memberikan kesembuhan, saya akan bersyukur pada-Nya atas anugerah tersebut. Dan jika tidak diberi kesembuhan, saya juga tetap bersyukur, telah diberi pelajaran berharga dalam hidup. (*)

    *) Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Sakit Bell’s Palsy ‘Merenggut’ Senyumku Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top