Skip to main content

Saya Akan ke Jerman Membawa Budaya Indonesia

Medan, 10 Januari 2012
Teruntuk Sahabat Karib FAM Indonesia
Di Tempat

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sahabat sarib saya, FAM Indonesia, apa kabar kalian saat ini? Semoga Allah masih memberikan rahmat dan hidayahNya pada kita semua. Saya rindu dengan kalian, Sahabat. Saya rindu di saat kalian memberikan semangat kepada saya. Saya rindu di saat salah seorang menghubungi saya dan menanyakan perkembangan tulisan saya.

Sahabat Karib Saya, hari ini saya ingin membagikan sebuah mimpi yang ingin saya genggam sejak masa SMA hingga sekarang. Sebuah mimpi tentang Negara Impian, tempat saya akan berlabuh. Negara ini juga membuat saya mencintai bahasanya. Tidak hanya itu, bahkan saya mengambil jurusan yang sama sesuai Negara impian saya. Ketika mendengar namanya, hati ini berdesir hebat, ingin rasanya saya segera berlabuh ke sana. Namun untuk saat ini belum. Saya harus merampungkan kuliah saya yang sudah menginjak semester akhir.
Sahabat Karib Saya, boleh saya mengatakan Negara impian itu kepada kalian? Negara Jerman! Ya, Negara Jerman yang telah membuat hidup saya berubah. Awal ketertarikan saya dengan Negara Jerman ini adalah ketika saya mempelajari bahasa Jerman di SMA dulu. Saya dapat berkomunikasi dengan orang asing, terutama orang berkebangsaan Jerman dengan menggunakan bahasa Jerman selain bahasa Inggris. Dari situ saya mencari tahu seluk-beluk Negara Jerman di internet. Saya belajar bagaimana budaya Jerman itu sendiri. Luar biasa! Saya begitu mencintai Negara Jerman. Bukan hanya dari bahasanya saja, namun terlebih dari sesuatu hal kebiasaan yang dimiliki Negara itu sendiri, sangat berbanding terbalik dengan Negara kita saat ini.

Sahabat Karib Saya, Negara Jerman menyediakan pendidikan gratis bagi Pelajar dan Mahasiswa Jerman. Negara Jerman juga menawarkan banyak beasiswa bagi pelajar, mahasiswa, guru dan juga dosen asing. Biasa disebut dengan beasiswa DAAD. Sedangkan di Negara kita? Seorang anak yang mau sekolah saja harus mengeluarkan biaya sekolah yang cukup mahal. Bahkan, berita yang baru saya dengar akhir-akhir ini bahwa RSBI akan ditiadakan lagi. Tidak hanya itu, kurikulum pendidikan juga akan dipangkas. Bayangkan, ketika banyak anak-anak Indonesia yang masih haus akan ilmu pendidikan kini harus terlantar.

Sahabat Karib Saya, Negara Jerman juga negara yang sangat akrab dengan kebersihan. Setiap perumahan di Jerman, Toko, Kantor, Restoran atau Supermarket setidaknya harus memiliki dua tempat sampah yang dipersiapkan dengan layanan kebersihan. Mereka selalu membuang sampah di tempat sampah, bahkan terpisah antara sampah organik dan anorganik. Tempat sampah yang bersampul hijau digunakan untuk limbah sampah organik hijau. Tetapi tempat sampah yang bersampul abu-abu digunakan untuk limbah anorganik. Ini adalah contoh yang baik untuk Negara kita. Di Negara kita juga sudah diterapkan seperti itu, namun banyak sekali masyarakat yang masih awam akan hal itu. Saya tidak tahu, apakah masyarakat kurang mengerti atau tak acuh akan hal itu.

Sahabat Karib Saya, orang Jerman juga selalu tepat waktu. Mereka mengevaluasi waktu yang lebih baik daripada kita di Indonesia. Mereka mengatakan, “Jika kita menggunakan istilah yang tidak berarti, sehingga kita tidak lebih baik di masa depan.” Jika mereka memiliki waktu luang, mereka lebih suka membaca buku dari pada jalan-jalan atau tidur. Hampir semua orang Jerman suka membaca buku. Mereka membaca buku di kantor, di bus, atau di taman. Sedangkan di Negara kita? Kita selalu menghabiskan waktu dengan hal-hal yang kurang berguna, seperti bermain atau jalan-jalan bersama teman-teman ke Mall.

Sahabat Karib Saya, itulah alasan mengapa saya tertarik dengan Negara Jerman. Harapan saya, kelak saya akan ke sana dan membawa budaya baik itu ke Negara kita. Saya akan terapkan dalam kehidupan masyarakat, terlebih Saya pribadi dan keluarga. Juga, jika saya menjadi seorang penulis sukses, saya akan belajar mendalami karya sastra Jerman. Dan, kelak saya akan menerbitkan sebuah novel ataupun kumpulan cerpen dengan menggunakan bahasa Jerman. Terima kasih atas apresiasi kalian kepada saya, Sahabat. Semoga Allah mewujudkan impian kita semua!!!

Wassalam,
Arif Hifzul
FAM 865M
Anggota FAM Medan.
Email : hizurif_24@yahoo.com


Gambar: Negara Jerman, sumber Google.com
 

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…