• Info Terkini

    Saturday, January 19, 2013

    Seribu Kisah di Bumi Rusia

    Pasuruan, 14 Januari 2013

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Untuk sahabatku FAM
    Penebar benih cinta menulis
    Di hati, pikiran, dan alam imajinasiku

    Aku bingung akan menulis apa di suratku kali ini. Tapi tak apalah, aku hanya ingin berkirim surat padamu. Biar angin dan hujan yang mengantar satu-persatu kalimat sederhana yang kuukir ini. Biar penjuru utara melesatkan lembaran ini ke rumahmu yang jauh dari tempatku berpijak sekarang. Mengenalmu adalah sebuah kebanggaan di hatiku. Setengah tahun lebih kau menemani jemari ini demi meraih apa itu yang disebut mimpi.

    Bicara soal mimpi, aku pun teringat akan apa yang sempat kudengar beberapa waktu yang lalu darimu. Tempo hari kau ingin tahu soal negara tempat mimpiku berlabuh. Benar begitu? Ah, kau ini, seperti mampu membaca seluruh isi hatiku saja. Jika itu yang ingin kau tahu dariku, maka harus kuputar kembali memori tentang pertemuanku dengan seorang sahabat beberapa tahun yang lalu.

    Jakarta menjadi saksi bisu betapa mimpi-mimpi mesti kuperjuangkan. Kala itu, aku belum benar-benar menemukan pena dalam darahku. Hingga suatu waktu, perjalanan hidup mengenalkanku pada seorang sahabat yang seumuran denganku, sebut saja Alvin. Kami sama-sama penggemar berat Harry Potter. Dari situlah kami akrab hingga aku pun menyadari soal hobi membaca dan menulis yang juga dia miliki. Hobi menulis yang sebenarnya sudah ada padaku sejak SMA (akhir tahun 2007), hilang sudah. Aku tak pernah menulis lagi. Sejak saat itu kami bertekad untuk 'kembali' menulis. Kami ingin menulis setidaknya satu buku seumur hidup.

    Mengukir mimpi dalam hati, sungguh tak semudah menggapainya. Kami banting tulang demi membeli sebuah notebook. Satu pekerjaan belum cukup, karena biaya hidup di kota besar tak seperti di kampung. Untuk menabung kami harus berputar-putar mencari pekerjaan kedua.

    Tahukah kau FAM, saat itu juga terlintas satu ide aneh di benakku? Suatu malam, mimpi tentang menerbitkan buku dan sebuah petualangan, bertemu dalam imajinasiku. Dua hal itu melebur dalam satu wadah, menari-nari riang seolah dunia sudi mendengar. Karena mungkin sudah terlanjur menyatu, mereka tak dapat kupisahkan. Kusampaikan ini pada Alvin. Tak kusangka dia tampak tertarik. Kau pasti bertanya-tanya, 'sesuatu' apa yang tengah mengusik hari-hariku ini? Sebelumnya, perlu kau tahu, tak pernah kuceritakan ini pada siapa pun. Karena kau sahabatku yang baik, bolehlah ini kubagi padamu.

    Sesungguhnya aku sangat ingin berkelana, mencari jati diri di tempat yang jauh dari tanah air. Entah dari mana aku mendapat uang untuk membiayai petualanganku nanti. Semua ini tersusun dalam catatan rencana masa depan setelah uang tabungan terkumpul. Maka, demi mendengar ideku, Alvin yang juga bertubuh jangkung ini menyampaikan apa yang tengah kami pikirkan pada salah seorang sahabatnya semasa SMA. Kami pun mendapat dukungan. Satu orang memilih untuk ikut. Pasti menyenangkan nanti. Padahal, ketika kucoba menyampaikan niat backpakcing ini pada teman-teman yang lain, mereka menertawakanku.

    Aku tahu betul bahwa ini bukan main-main. Tak salah mereka yang tertawa. Saat itu, aku ingin berjalan kaki melintasi Rusia. Yang ada di benak kami saat mengucap mimpi itu bukan tentang 'kekejaman' Rusia yang termasuk dalam tiga negara paling berbahaya untuk dikunjungi, melainkan soal kepuasan hati. Kami tak peduli walau tak sedikit pun mengerti bahasa Rusia. Akan tetapi, ketidaktahuan akan cara berkomunikasi secara lisan, kalah oleh keinginan untuk menyisir tiap sudut kehidupan para penduduk di sana. Ini tantangan tersendiri bagiku. Jika Allah benar-benar mewujudkan mimpi ini, aku ingin kami menyentuh tanah Vladivostok terlebih dulu. Bendera keberangkatan akan kami kibarkan di sana. Lalu perlahan namun pasti kami merambat ke arah utara dan berkelok ke timur laut melalui Ochstok, Mangadan, Kamerskoya, hingga sampai di Uelen. Di sanalah kami akan menemukan jawaban tentang pertanyaan: "Bagaimana rasa udara yang menyelimuti Selat Bering? Dinginkah? Atau mungkin hangat lantaran menyambut wajah-wajah asing kami yang tak pernah ia kenal?"

    Setelah itu, kami merangkak ke barat, menuju tujuan akhir penjelajahan di pusat Kota Moskow. Tentu saja sebelum pergi ke arah terbenamnya matahari, kami melaju ke selatan dulu. Ada sebuah tempat berupa hutan belantara yang ingin kusambangi di timur jauh Rusia. Orang menyebutnya sebagai tempat terburuk di dunia. Aku sendiri tak tahu kebenaran kabar burung ini. Yang jelas rasa penasaran tak menyurutkan niatku untuk ke Yakutsk. Aku ingin membuktikan apa rumor tersebut benar adanya. Konon pernah ada sekelompok wisatawan yang hilang di sana. Sebagian dari mereka diberitakan meninggal karena tak dapat bertahan. Entah apa yang membuat mereka mesti 'bertahan'. Ini malah memancing perhatianku untuk menginjakkan kaki di tempat itu.

    Di ujung selatan, kami akan berhenti lagi di satu titik. Mandi air yang bening dan dingin di Danau Baikal adalah salah satu mimpiku yang tertancap di bumi Rusia. Puas dengan panorama indah danau ini, kami kembali menatap barat. Aku yakin tempat-tempat seperti Krasnoyarsk, Omsk, Swerdlovsk, dan Iziwisk akan menyambut kami dengan warna perjuangan yang berbeda-beda. Tanah Rusia yang sebesar itu tak mungkin jika tak mempunyai seribu kisah di dalamnya. Bahkan aku sangat yakin ada sesuatu yang belum diketahui sama sekali oleh dunia luar, yang dapat kami temukan sepanjang perjalanan nanti untuk ditulis. Entah apa pun itu. Yang jelas aku ingin membagi segala yang kami lihat ke dalam sebuah buku.

    Oleh karena jalur yang kami lalui sebagian bukan tempat tujuan wisata dan beberapa wilayah Rusia mengalami musim dingin sepanjang tahun, tentu kami mesti belajar mengakrabkan diri tidur di bawah sinar rembulan dan hawa dingin dengan sleeping bag. Seringkali aku membayangkan tentang hal ini. Nanti kami akan tidur secara bergantian, demi berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tak diinginkan menghampiri. Sedangkan untuk makan sehari-hari, kami akan mengamen atau menyumbang tenaga pada penduduk sekitar di tempat yang kami lalui nanti. Meski sadar, aku sendiri bukanlah musisi handal dan tubuhku pun kurus.

    Tahukah kau, FAM, sesuatu yang amat kunantikan dari semua ini adalah ketika langkah kaki memasuki batas terluar Kota Moskow. Ya, inilah yang selama ini kuimpikan. Menjelajah Rusia dari ujung timur sampai barat. Siapa pun pasti setuju kalau kukatakan bahwa ini lebih dari sekadar mendaki puncak gunung tertinggi. Tak ada daratan luas di penjuru bumi mana pun yang melampaui keganasan negeri beruang merah. Karena jika ada sebuah gunung, kita pun tahu, puncak sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Dan jika ada samudera yang luas, rasi bintang adalah musuh yang harus dikalahkan. Sedang Rusia? Tanda tanya lain akan selalu menghadang tiap kali satu rintangan berhasil dilewati. Itulah yang mendasari petualanganku. Aku ingin keringatku menjamahi dinginnya lembah raksasa yang penuh misteri ini.

    Menutup petualangan panjang di negeri tempat mimpi-mimpi berlabuh, kami akan berfoto bersama di depan Katedral Santo Basil. Akan kami kibarkan bendera di sana seperti seorang pendaki yang telah menemukan jati diri. Tak dapat kubayangkan bagaimana jadinya orang-orang kampung seperti kami mampu melakukannya. Pasti akan sangat indah dan menjadi bingkisan terbaik untuk diceritakan sebelum tidur kepada anak cucu kami kelak di masa yang akan datang.

    Semua ini berawal dari mimpiku untuk menulis sesuatu yang berbeda. Memang masih sangat jauh. Tapi sedapat mungkin aku akan terus berusaha dan berdoa, sepanjang nyawa masih terjaga dalam tubuh ini. Aku berharap semoga Allah mengabulkannya.

    FAM, kurasa hanya itu yang dapat kutulis di suratku kali ini. Semoga mimpi-mimpi membawa kita berada nyata di ujung Everest.

    Salam Persahabatan dariku, untukmu selalu.

    Ken Hanggara
    FAM801M-Surabaya
    Email: kenzohang@yahoo.co.id

    Gambar: Moscova, Rusia. Sumber google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Seribu Kisah di Bumi Rusia Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top