• Info Terkini

    Tuesday, January 15, 2013

    Suatu Hari Nanti Aku Ingin Berlabuh di Cina

    Jakarta, 15 Januari 2013

    Sebuah harapan kulantunkan untukmu sahabatku, FAM. Aku harap, lantunan ini indah seperti harmoni langit dan bumi tempat kita memijakkan hidup kita saat ini.

    FAM yang baik,
    Aku sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan sekali lagi di bulan ini untuk menuliskan rasa dalam hatiku untukmu. Aku tidak sedang berbagi ilmu atau pengetahuan tentang dunia dan segala tetek-bengek masalahnya. Aku hanya ingin berbagi perasaan akan hal-hal yang indah, yang aku alami dan aku mimpikan dalam hidupku. Hampir setiap hari aku bermimpi, membangun angan-angan, dan menggantungkan cita-citaku, layaknya pepatah klasik “gantungkan cita-cintamu setinggi langit”. Mungkin aku benar-benar menerapkannya dalam hidupku, sehingga terkadang aku lelah untuk mengejarnya, sedikit bosan untuk mengaplikasikannya dalam rutinitas harianku.

    Tapi FAM, aku tak pernah merasa putus asa. Setiap hari aku merasa lelah, untaian puisi dan sulaman kalimat yang kau hadirkan setiap saat di berandamu, membangkitkan hasratku untuk berjuang lagi. Saat fajar menjamah bumi dan malam menyelimuti tanah ini, aku selalu menemuimu dalam kata dan ucap yang hadir di berandamu itu. Meski yang kupelototi hanya layar bisu ini, toh kumerasa retinaku tak pernah mengeluh untuk berpaling dari hadapannya. Itu sangat menggembirakan hati dan melambungkan hasrat untuk berjuang menata hari-hariku bersamamu. Kehadiramu sungguh sebuah kegembiraan tak bertepi untukku.

    FAM yang sungguh kukasihi, beberapa minggu yang lalu kau menanyaiku soal negara mana yang akan menjadi tempat pelabuhan mimpiku. Jujur, aku tak segera merespon pancinganmu itu karena aku kebingungan memilih negara mana yang hendak kupilih menjadi pelabuhan mimpi dan citaku. Aku berpikir keras, memutar bayang mengelilingi dunia seturut ingatan akan kata-kata pak guru tua yang mengajariku membaca peta Indonesia dan Bola Dunia. Saat kau menanyaiku, aku hanya berusaha membangkitkan ingatan yang telah lama lelap.

    Sahabatku FAM, ingatanku berhasil mencolek sebuah negara. Negara ini tumbuh dari dan dalam sebuah peradaban yang sangat sederhana di masa lalu, dan terus meningkatkan statusnya hingga menjadi satu negara yang bersaing ketat menguasai dunia. Di masa lalu, negara ini memiliki kesenian yang sangat dekat dengan alam. Aku rasa, masa laluku terlewati dlam relasi erat dengan alam. Maka, untuk menjawab pancinganmu itu, aku rasa ia menjadi pilihan utama. Meski terasa sulit, tapi aku sedang menangkap sari indahnya untuk kulakoni dalam hidupku. FAM, negara itu adalah Cina.

    Beberapa hari yang lalu, aku membaca sebuah buku yang menjelaskan bahwa salah satu tokoh Cina yang sangat berpengaruh dalam peradaban negara itu adalah Confusius. Paham dan ajarannya disebut Confusianisme. Menurut buku itu, para penganut Confusianisme mengambil kesenian sebagai sebuah instrumen bagi pendidikan moral. Para penganut Taoisme ini tidak mempunyai naskah-naskah formal tentang kesenian, tetapi kekaguman mereka terhadap gerakan jiwa yang bebas dan idealisasi mereka terhadap alam memberikan inspirasi yang dalam terhadap para seniman besar Cina. Karena itu, tidak mengherankan bila para seniman Cina mengambil alam sebagai bahan ekspresi kesenian mereka. Kebanyakan dari karya besar lukisan Cina adalah lukisan-lukisan tentang pemandangan alam, hewan, bunga, pepohonan, dan bambu. Dalam sebuah lukisan pemandangan, di kaki sebuah gunung atau pada sebuah aliran sungai, kita akan menemukan adanya seseorang yang sedang duduk mengapresiasi keindahan alam dan mengagumi Tao atau Jalan yang melampaui baik alam maupun manusia.

    Gaya beraktivitas seni seperti ini sungguh menggugah nuraniku, FAM. Aku membayangkan hidup di sebuah belantara, beralaskan alam, beratapkan alam, bernapaskan alam, hingga berkontemplasi bersama alam. Betapa indahnya saat bisa menanggalkan kesibukan pikiran dan hati, melecuti kesibukan jiwa dan berpasrah pada hisapan angin dingin di tepi sungai dengan wajah berkaca pada riak halus air sungai. Aku berharap, suatu waktu nanti aku bisa berlabuh di Cina untuk melahap buku-buku tentang Confusius yang mengembangkan ajarannya dengan titik pijak pada kehidupan petani.

    Oh ya FAM, sebelum aku lupa! Akhir-akhir ini aku mulai bertanya-tanya mengapa Bahasa Mandarin kini hampir setara dengan Bahasa Inggris? Mengapa Bahasa Mandarin masuk ke dalam jajaran bahasa internasional? Jawabannya, selain karena Cina bisa menguasai perekonomian dunia, mereka sungguh menjaga kesahihan bahasa mereka. Anak dan cucu terus belajar Bahasa Mandarin yang di dalamnya sudah tentu memuat dinamika peradaban mereka di masa lalu. Bagaimana dengan kita di Indonesia?

    FAM tanpa mau menyudutkan siapa pun, aku menilai bahwa kita lebih bangga kalau bisa berbahasa Inggris atau Mandarin di depan orang banyak, karena kita akan dipuji dan dipuja. Para orangtua lebih bangga bila anaknya yang baru berumur empat tahun fasih berbahasa Mandarin atau Inggris, atau dua-duanya sekaligus, tapi gagap bahasa Indonesia. Atau, anak-anak ABG kita merasa lebih berharga bila berbahasa “campur sari” Indonesia-Inggris atau Indonesia-Mandarin. Bahkan dalam pidato presiden kita pun, ia lebih suka mengutip istilah Inggris daripada bahasa daerah seperti Jawa, Dayak, Timor, atau Papua. Bagaimana peradaban kita, bahasa kita, pola pikir kita bisa terwariskan bila sejak dini anak kita lebih menguasai bahasa orang?

    FAM, kaulah sahabatku. Aku tidak sedang membenci anak-anak, para ABG, atau presiden kita. Tapi aku sungguh menyayangkan kebiasaan ini. Kita menjadi penjajah untuk peradaban kita sediri. Ini sungguh menyedihkan FAM. Karena itu, jika suatu saat nanti, setelah aku berlabu di Cina, aku ingin mempelajari bagaimana caranya mereka mempertahankan tradisi, bahasa, dan peradaban mereka. Aku ingin membawa ilmu itu masuk ke Indonesia. Aku ingin melestarikan bahasa, budaya, dan peradaban yang ada di negeri kita sendiri. Aku ingin anak-anak, ABG, dan presiden kita nyaman ketika berbicara bahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah, doyan mengenakan kain sarung dalam acara kenegaraan, daripada memakai jas.

    FAM, mungkin kau menertawaiku dengan ide yang tak pantas ini. Tapi inilah mimpiku. Inilah imajinasi tentang negeri kita. Meski aku bermimpi berlabuh di negeri orang, aku akan tetapi rindu untuk pulang ke negeri sendiri dan membuat negeri ini kembali dikunjungi dan dimimpikan orang. Hal itu akan menjadi hal yang paling membanggakan dalam hidupku.

    STEVE AGUSTA
    Kupang-NTT
    Email: steve.hyasantrix@gmail.com

    Gambar: Tembok China, sumber Google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Suatu Hari Nanti Aku Ingin Berlabuh di Cina Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top