Skip to main content

Testimoni Pembaca Buku ‘Kidung Pengelana Hujan’ Karya Denni Meilizon

Judul: Kidung Pengelana Hujan
Penulis: Denni Meilizon
Penerbit: FAM Publishing
ISBN: 978-602-18971-7-1
Tebal: xviii + 120 halaman
Harga: Rp. 38.500,- (diluar ongkos kirim)
Kontak Pemesanan: 0812 5982 1511, email: forumaktifmenulis@yahoo.com, atau kunjungi website www.famindonesia.com

ENDORSEMENT/TESTIMONI PEMBACA:

Saya terperangah membaca ayat-ayat yang ditulisnya, terbentur dan terantuk, tapi saya terus membaca. Ada diri kami di sana, gamang menggelepar, diam mengapurancang, tetapi tetap gagah menantang takdir. Denni mengajari saya bahwa ketika orang-orang sekitar saling bicara kosong satu sama lain, kita justru telah mengerti makna dan sudah memperbaiki hidup saat kita bercakap-cakap dengan diri sendiri. ~IzHarry Agusjaya Moenzir, Penulis, Wartawan dan Dewan Kehormatan PWI Pusat

Puisi-puisi Denni cukup beragam, Denni menulis semua hal tentang hidup dan apa yang ada di hadapannya. Tidak mau terbelenggu pada satu keharusan topik tertentu. Maka kita bisa menikmati arti sebuah kerinduan akan kampung halaman, arti sebuah cinta dan juga dibawa ke ranah religius. Sebuah perpaduan yang sangat romantis. Secara pribadi, puisi-puisi Denni membawa saya bernostalgia akan segala hal. ~Denny S. Batubara, Jurnalis, bekerja sebagai news produser di Beritasatu TV (First Media News)

Ranah Minang melahirkan satu lagi penyair: Denni Meilizon. Lewat “Kidung Pengelana Hujan” dia bercerita tentang apa saja, termasuk melukiskan keindahan alam negerinya yang molek itu. ~Muhammad Subhan, Ketum FAM Indonesia

Denni Meilizon penyair muda dari Ranah Minang, menghadirkan puisi-puisi yang penuh makna dalam kumpulan puisi "Kidung Pengelana Hujan." Seolah bercerita. Ada pesan yang diselipkan dalam rangkaian kalimat setiap puisinya. Karya yang puitis dan bermakna. ~Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia

Buku “Kidung Pengelana Hujan” karya Denni Meilizon sangat bagus dan layak untuk masuk dan menjadi koleksi perpustakaan-perpustakaan sekolah di Sumatera Barat. ~Muhammad Ratmil, Kabag Program Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat
Puisi-puisinya bagus. Uni paling suka yang “Aku dan Surga Itu', tetap terus berkarya ya, Dek. Ditunggu karya-karya berikutnya. ~Yessi Gustriani

21-12-12, telah kumiliki Buku “Kidung Pengelana Hujan” karya adinda Denni Meilizon. Setelah membaca buku ini saya merasa buku ini sangat bagus, bermakna dan memotivasi. Mudah-mudahan juga bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Semoga selanjutnya lebih bagus lagi. Amiin. ~Mesra Wati

Buku “Kidung Pengelana Hujan” itu keren dan puitis banget. ~Sepriza Winata, Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling, STKIP PGRI Padang

Buku “Kidung Pengelana Hujan” membahana, menyentuh dan membumi. Tiap kata dalam puisinya ada hentakan yang terasa sampai ke dalam dada. ~Muhammad Muhsin Lahajji, Penulis Novel Perjalanan Menuju Langit

Puisi dalam buku ini sangat apik untuk dinikmati sembari mereguk secangkir kopi. Buat teman-teman yang berasal dari daerah Pasaman, baik itu barat maupun timur, yang di kampung dan di rantau, lahir lagi seorang penyair muda melanjutkan langkah Selasih Seleguri dan Havids Tg, kini putra kampung kita Silaping yang terletak di bawah kaki Gunung Malintang, membuat buku kumpulan puisi “Kidung Pengelana Hujan”. Membuat gebu rindu untuk kampung halaman dan menyisipkan resep obat daripadanya. ~Bambang Irianto, Penyair dan Penikmat Sastra.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…