• Info Terkini

    Monday, January 7, 2013

    Ulasan Artikel berjudul “Anemia Berat = Kurang Gizi?” Karya Retna Kusumawati, SP (FAM Bogor)

    Artikel yang berjudul “Anemia Berat = Kurang gizi?” merupakan artikel yang menarik sebab memberikan informasi yang selama ini tidak kita ketahui. Penulis menceritakan pengalaman yang dialaminya sendiri saat suaminya sakit dan harus diopname. Selain pengalaman, penulis juga menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan pengalamannya tersebut. Salah satu teknik penulisan artikel yang menarik adalah dengan menampilkan kisah terlebih dahulu baru memberikan penjelasan.

    Banyak pengetahuan baru yang bisa kita ambil dari artikel ini. Selama ini, gejala kurang gizi yang kita tahu adalah badannya kurus dan rambutnya berwarna kemerahan. Ternyata, kurang gizi bisa juga dialami oleh orang yang badannya terlihat subur. Bedanya, adalah pada efek yang ditimbulkan. Orang yang badannya subur bisa kekurangan gizi disebabkan pola makan yang tidak seimbang. Akibatnya, ada efek samping atau penyakit yang akan muncul, misalnya dalam contoh kasus artikel ini adalah kurangnya HB dan trombosit seseorang.

    Dari segi penulisan tidak ada malasah yang berarti. Kesalahan lagi-lagi terdapat pada penulisan kata “di” yang sering ditemukan dalam berbagai tulisan. Kata “di” jika diikuti kata tempat seharusnya penulisannya dipisah.

    Secara keseluruhan artikel ini bagus. Sebab tidak sekedar menyajikan cerita, namun juga informasi yang bermanfaat bagi pembacanya.

    Terus berkarya. Salam santun,

    FAM INDONESIA

    www.famindonesia.com

    [BERIKUT ARTIKEL PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    ANEMIA BERAT = KURANG GIZI?
    Karya: Retna Kusumawati (FAMili Bogor)

    Beberapa bulan lalu, suami saya sakit dan harus opname di rumah sakit. Haemoglobim (HB) dan trombositnya jauh dibawah batas normal. Hb dalam keadaan normal berkisar antara 12-14 g/dl, saat di tes darahnya hb suami hanya sekitar 5 g/dl. Kadar trombosit  dalam keadaan normal 150.000-450.000/mm³, hanya sekitar 45.000/mm³. Kondisinya lemah, pusing berputar, dan pucat.

    Karena tidak demam, juga tidak ada kejadian demam berdarah di tempat tinggal maupun lingkungan kerja. Dokter mendiagnosa suami terkena anemia berat. Tindakan pertama yang diambil pihak medis adalah transfusi darah agar Hb dan trombosit tidak semakin menurun.

    Saat menandatangani persetujuan transfusi, diluar kamar perawatan, saya penasaran dengan diagnosa dokter tentang anemia berat.

    “  Maksudnya anemia berat apa Dok?”

    “ Ibu jangan tersinggung ya, kalau saya bilang anemia berat sebetulnya masuk katagori kurang gizi.”

    Secara fisik, jelas suami saya jauh dari kekurangan gizi. Bahkan dilihat dari berat badan masuk klasifikasi over weight. Dan harus menjalankan diet sesuai anjuran dokter. Tapi saya tahu persis kenapa dokter mengatakan kemungkinan suami saya kurang gizi.

    Ini berkaitan dengan pola makannya selama ini. Makanan yang digemari hanya daging, bakso dan mi. Setiap hari mi hampir tak lepas dari santapan wajibnya. Suami saya juga menolak sayur-sayuran. Selain tak suka rasanya, terdogma dari beberapa sumber bahwa sayuran mengandung kadar Fe tinggi. Hal ini bisa menyebabkan asam urat. Karena tak mengkonsumsi sayuran secara baik, kadar asam urat suami jauh dibawah normal dengan kata lain suami saya bebas dari asam urat.

    Saking bebasnya dari asam urat, kadar Fe nya rendah sekali. Itu yang menyebabkan Hb turun drastis dan kadar trombositnya terjun bebas. Hal itu yang menjadikan penyerapan oksigen menjadi berkurang. Dan bisa dipastikan efek-efek yang muncul dari kekurangan oksigen tersebut. Pusing, pucat lemas lemah.

    Masak iya orang segemuk suami (tinggi 168, berat badan 74 kg) dibilang kurang gizi. Secara kasat mata jelas tak mungkin, tetapi kenyataannya seperti itu. Kesimpulannya orang gemuk belum tentu tak kekurangan gizi. Asupan gizi yang tak seimbang bisa mengakibatkan hal-hal seperti diatas.

    Selama ini mungkin saya kurang memperhatikan asupan gizi untuk keluarga. Saya ikuti semua keinginan suami dan anak-anak soal menu makanan, asal mereka mau makan. Apa saja asal mau makan silahkan. Karena tak berhenti di suami, ternyata anak sulung saya (12 th) sama persisi sakitnya dengan ayahnya. Selain mungkin faktor persamaan golongan darah.

    Si sulung (gadis) juga pucat, lemas dan pusing tak henti-hentinya. Ketika diuji lab darahnya diketahui Hbnya ada di level 6. Kadar Hb untuk wanita berkisar 12=16 g/dl. Kadar gulanya menukik hingga hanya 50 mg/dl, normalnya <180 mg/dl. Tinggi dan berat badan anak saya seimbang. Tidak kurus dan tidak gemuk juga.

    Tak beda jauh dengan pola makan ayahnya yang asal makan yang diinginkan. Anak saya tak suka makan sayuran, tidak mau minum susu, lebih parah lagi dia tak suka makan daging dan telur juga jarang menyantap buah-buahan.

    Karena itu saya kembali memasukkan sayuran hijau ke dalam menu masakan. Entah mereka suka atau tidak tapi mereka harus memakannya. Buah-buahan dan susu juga saya sediakan, meskipun mereka awalnya menolak. Dan makanan kegemaran mereka saya hapus dari daftar menu. Setidaknya dalam waktu-waktu ini.

    Berikut ini daftar bahan pangan yang bisa digunakan untuk menaikkan kadar Hb dan trombosit. Atau dengan kata lain, makanan anti defisiensi gizi alias makanan anti kurang gizi.

    1. Bayam, baik bayam hajau maupun bayam merah
    2. Buah bit, dibuat jus bit
    3. Angkak
    4. Jambu biji: disarankan dalam bentuk jus
    5. Kurma dan turunannya: jus kurma, sirup kurma, dodol kurma

    Jadi anda tak perlu tersinggung jika dokter atau ahli medis mendiagnosa penyakit anda atau keluarga anda kurang gizi. Lihat dulu di belakang, siapa tahu memang kita terlalu abai dengan masalah ini. Semoga bermanfaat dan tetap sehat ya.

    [Gabung menjadi anggota FAM Indonesia, klik DI SINI]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel berjudul “Anemia Berat = Kurang Gizi?” Karya Retna Kusumawati, SP (FAM Bogor) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top