• Info Terkini

    Thursday, January 10, 2013

    Ulasan Artikel berjudul "Membuat Power Point" Karya Zul Hasibuan (FAM Padang)

    Artikel ini bercerita tentang pengalaman penulis sendiri dengan seorang bapak berusia 53 tahun. Di usianya yang sudah senja, bapak itu tetap semangat untuk belajar hal-hal yang tidak ia kuasai. Memang begitu seharusnya. Belajar mestinya tidak hanya dilakukan dalam institusi formal yang selama ini banyak dilakukan orang-orang. Ketika sudah tidak sekolah, banyak yang tidak mau belajar lagi. Padahal hidup adalah sebuah pembelajaran, yang baru bisa berhenti saat jasad sudah tertimbun tanah. Maka benarlah jika menuntut ilmu itu dimulai dari lahir hingga masuk ke liang lahat.

    Di sini, penulis mencoba membagikan inspirasi yang ia dapatkan agar pembaca juga bisa mengambil hikmah yang sama. Sayangnya, cara penyampaiannya masih kurang sehingga apa yang penulis maksudkan belum membuat pembaca merasakan hal yang sama dengan yang penulis rasakan. FAM yakin penulis terinspirasi dengan bapak berusia 53 tahun tadi. Tapi FAM tidak yakin pembaca kisah ini juga terinspirasi seperti yang penulis alami, setidaknya dalam kadar yang sama seperti yang penulis rasakan. Sebab bagaimanapun, pengalaman yang dialami sendiri akan jauh lebih berkesan daripada mereka yang hanya mengetahui dari mendengar atau membaca.

    Kisah yang menarik umumnya adalah kisah yang ditulis berdasarkan kisah nyata. Orang akan lebih mudah terinspirasi dari kisah-kisah seperti itu. Apa yang diceritakan penulis sudah bagus, tinggal ke depan belajar lagi cara penyampaian yang bisa menggugah hati pembacanya dan membuat mereka terinspirasi.

    Ada beberapa kesalahan dalam penulisan, seperti tidak ada spasi dalam beberapa tempat. Diharapkan penulis membaca ulang setelah selesai menulis dan melakukan proses editing untuk meminimalisir terjadinya kesalahan seperti ini. Kesalahan penggunaan tanda baca seperti tanda petik (“), titik (.), dan koma (,) dijumpai dalam beberapa kalimat. Ada yang lupa tidak diberi titik, ada yang diberi spasi setelah tanda petik. Ada juga kesalahan penulisan huruf kecil yang seharusnya ditulis huruf besar. Misalnya pada kalimat: “Hei Zul apa kabar, udah siap-siap mau pulang ya?” tanya beliau diiringi senyumannya yang khas.

    Dalam kalimat tersebut, seharusnya tidak usah menggunakan spasi setelah tanda petik. Huruf “t” dalam kata “tanya” seharusnya ditulis menggunakan huruf besar karena dialog diakhiri dengan tanda tanya. Sama halnya ketika diakhiri titik dan tanda seru. Apabila diakhiri dengan tanda koma, maka huruf selanjutnya adalah huruf kecil. Kesalahan lain adalah tidak adanya titik di akhir kalimat.

    FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin meningkat. Semangat berkarya.

    Salam santun, salam karya.

    [BERIKUT ARTIKEL PENULIS TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Belajar membuat Power Point

    Oleh Zul Hasibuan (FAMili Padang)

    Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

    Sahabat FAM Indonesiayang saya banggakan, izinkan saya untuk menceritakan kisah berharga yang saya dapatkan hari ini dari seorang bapak yang menurut saya sangat pantas untuk diteladani.

    Hari ini, Senin, 03 September 2012, seperti biasa rutinitas pekerjaan didahului apel pagi. Dalam pelaksanaan apel pagi hari ini, pesan yang disampaikan oleh Pembina Apel tidak ada yang baru, masih berkisar itu ke itu juga, mari tingkatkan pelayanan, pekerjaan dan seterusnya. Meski terlambat sekitar 5 menit saya masih bisa mengikuti apel pagi dan rutinitas lainnyaterlaksana dengan baik. Alhamdulillah tidak ada pekerjaan yang tertunda, semua bisa diselesaikan dengan baik. Namun sebetulnya bukan itu yang akan saya ceritakan di sini, itu hanya sebagai pengantar saja.

    Selesai sudah rutinitas pekerjaan untuk hari ini, saya lihat jam tangan saya waktu menunjukkan pukul 16.00, tandanya jam kantor telah usai. Biasanya saya akan menyempatkan waktu sejenakuntuk sekedar bersalam sapa dengan teman-teman di fesbuk, ngomenstatus, like status dan mengintip Grup berlabel FORUM AISHITERU MENULIS (FAM) INDONESIA itu sejak 27 Agustus 2012 lalu. Namun kali ini saya berencana untuk pulang lebih awal karena hari ini lumayan melelahkan dari hari-hari biasanya.

    Usai shalat Ashar, semua peralatan kerja kurapikan, termasuk komputer juga sudah kumatikan. Saat bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba saja seorang bapak (namanya sengaja saya privasikan) yang tentunya sudah tidak asing meski sudah cukup lama tidak bertemu datang danmenyapakudengan ramahnya :

    “ Hei Zul apa kabar, udah siap-siap mau pulang ya?” tanya beliau diiringi senyumannya yang  khas

    “Eh Bapak, gimana kabarnya pak, iya nih mau siap-siap pulang. Kok baru datang pak?” tanyaku

    “Bapak baru pulang ngajar zul, ada undangan sebagai narasumber”jawab beliau

    “Eh, ngomong-ngomong bapak mau belajar nih sama zul, bisa nggak? Bapak mau belajar bikin power point (maksudnya membuat slide persentasi untuk bahan ajar), susah kalau minta tolong terus sama orang zul” imbuhnya dengan penuh harap

    Rasa salut dan kagum saya buat bapak itu, karena diusia beliau yang akan menginjak 53 Tahun itu, masih terlihat semangat yang seakan tidak pernah pudar untuk belajar, belajar dan belajar.

    Mendengar semangat yang begitu tinggi, saya langsung jawab “Oh tentu, dengan senang hati pak” diiringi dengan senyum yang kuusahakan sesimetris mungkin, meski tidak bisa simetris

    Dengan raut wajah yang tidak ada kerutan di keningnya, beliau langsung membuka semua peralatan yang diperlukan. Sebelum memulai cara membuat slide presentasi, dia minta saya untuk menyalin semua data-data pentingnya dari flash disk yang berukuran 8 GB itu ke notebook yang baru saja dibelinya siang tadi. Dan setelah semua datadipindahkan, barulah pembelajaran untuk bikin slide presentasi bahan ajar pun dimulai (bikin power point kalau istilah beliau), hehehe.

    Pembelajaranpun dimulai, mulai dari cara membuka Windows Explorer, mengenalkan drive, membuka file, menyalin data, sampai cara membuat slide bahan ajar. Namun sedikitpun tidak pernah terlintasdi benakkumenganggap remeh semua itu, menurut saya wajar saja karena di masa usia beliau dulu Cuma ada mesin tik dan kalau dia mengajar dulu masih menggunakan sejenis lampuu belajar (namanya lupa) yang dipancarkan ke papan tulis sebelum infocus belum begitu populer digunakan saat itu.Beliau terlihat sangat serius, setiap cara-cara yang dipelajari selalu dicatat dalam bukunya dengan pena seharga Rp. 150.000,- itu.

    Dulunya beliau pernah memegang beberapa jabatan penting di beberapa instansi pemerintahan di daerah ini, namun karena beberapa hal seperti perampingan SOTK, inpassing dan segala macam tetek bengeknyamembuat posisijabatan bapak kelahiran 10 Oktober 1959 itu jatuh.

    Waktu menunjukkan pukul 18.30, kamipun shalat maghrib terlebih dahulu dan melanjutkan pelajaran sambil cerita-cerita. Banyak hal yang beliau ceritakan, mulai dari kisah masa lalunya saat menjadi orang penting di kala itu sampai kondisi beliau saat ini yang sering mengajar sebagai narasumber pada acara Diklat, Bimtek, Sosialisasi dan sebagainya.

    Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 20.00, tiba tiba belia terhenyak kaget

    “Astaghfirullah zul, udah jam 8ternyata, waduh bapak minta maaf ya zul, harusnya sekarang zul sudah istirahat di rumah” sesalnya sambil melihatku menampakkan rasa penyesalan

    “Sebaliknya saya berterima kasih sekali sama bapak karena hari ini bapaksudahmemberikan pelajaran yang amat berharga bagi saya, saya salut dengan semangat bapak meski udah usia lanjut” sahutku dengan nada logat yang berbeda dari biasanya.

    “Zul, kenapa kita harus pasrah menerima keadaan, bukankah semua itu tidak akan memperbaik keadaan? Pungkasnya mantap

    “Yang telah terjadi biarlah terjadi, kita lakukan yang terbaik untuk diri kita hari ini, jangan tunggu esok karena waktu terus berputar.Kebahagiaanitu tidak akan pernah datang sendiri zul, kitalah yang menciptakan kebahagiaan itu dalam diri kita” tambahnya lagi sambil merapikan dan menyimpan kembali semua peralatan.

    Setelah merapikan semua peralatan, kamipun bersiap-siap untuk pulang. Menjelang berpisah di depan kantor yang rubuh akibat gempa bumi 30 September 2009 silam itu, saya terus melihat gontaian langkahnya hingga memacu kendaraannya perlahan menuju perbatasan kota itu.

    Sesampai di rumah, setelah mandi dan shalat isya saya langsung buka notebook untuk mengabadikan kisah berharga yang saya dapatkan hari ini dengan harapan semoga bisa menjadi pelajaran dan inspirasi bagi semua yang membaca tulisan ini, terutama untuk saya pribadi. Amin allahumma amin.

    Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Padang, 03 September 2012.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel berjudul "Membuat Power Point" Karya Zul Hasibuan (FAM Padang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top