• Info Terkini

    Thursday, January 17, 2013

    Ulasan Artikel “Menumbuhkan Mental Pejuang” Karya Setiyono (FAM Pekanbaru)

    FAMili. Hari ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah artikel yang ditulis oleh sahabat kita, Setiyono, FAMili dari Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Artikel yang dikirim sahabat kita ini berjudul “Menumbuhkan Mental Pejuang”. Berikut sedikit ulasannya:

    “Menumbuhkan Mental Pejuang” mengajarkan agar setiap orang berusaha keras dan pantang menyerah dalam menjalani hidup, apapun hambatannya. Meskipun setiap orang memiliki masalah yang berbeda, tapi satu yang sama bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya.

    Artikel ini bagus. Meski begitu, ada hal-hal yang harus diperbaiki agar ke depan kualitasnya semakin baik lagi. Ada beberapa kalimat yang terlalu panjang. Misalnya saja pada kalimat: “Penting bagi pemuda untuk bijak dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan keberlangsungan hidupnya, harus penuh dengan kehati-hatian dan melalui pertimbangan yang benar-benar matang, agar kegagalan dalam menjalani kehidupan tidak menyesaki masa depan, yakni masa depan ketika berada di akhirat tanpa ada negosiasi untuk menentukan pilihan surga atau neraka, karena semuanya sudah mutlak ditentukan olehnya ketika menjalani hidup didunia.” Akan lebih baik jika kalimat tersebut dipecah menjadi beberapa kalimat, bukan disatukan dengan diberi banyak koma.

    Kesalahan lain adalah penulisan awalan “di” dan “ke”. Kedua awalan tersebut penulisannya harus dipisah ketika diikuti kata tempat. Ini adalah kesalahan yang hampir selalu ada di setiap tulisan yang masuk ke meja redaksi FAM Indonesia.

    Dalam artikel ini, penulis mencoba membagi dalam beberapa sub bab. Akan lebih baik jika semua itu disatukan dalam satu tulisan utuh. Kemudian kisah tentang ‘Blue Bird’ lebih baik disajikan di awal tulisan. Barulah setelah itu diberikan ulasan dan penjelasan serta hikmah yang bisa dipetik dari cerita itu.

    FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas karya semakin meningkat. Semangat terus berkarya.

    Salam santun,

    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT KARYA PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    MENUMBUHKAN MENTAL PEJUANG


    Oleh: Setiyono 

    FAM1021M

    Seseorang akan menjadi gagal lalu tertinggal atau berkembang lalu menjadi pemenang tergantung dari keputusan yang diambilnya ketika masih menjadi pemuda. Pemuda selalu rentan dengan kebimbangan, pemuda selalu rentan dengan kemudahan untuk terdoktrinasi dengan berbagai paham, bila tidak diseimbangi dengan kekokohan keyakinan terhadap Islam, maka akan banyak ditemukan pemuda yang terjebak kedalam tindakan-tindakan yang cenderung menguntungkan satu orang namun menyengsarakan banyak orang.

    Penting bagi pemuda untuk bijak dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan keberlangsungan hidupnya, harus penuh dengan kehati-hatian dan melalui pertimbangan yang benar-benar matang, agar kegagalan dalam menjalani kehidupan tidak menyesaki masa depan, yakni masa depan ketika berada di akhirat tanpa ada negosiasi untuk menentukan pilihan surga atau neraka, karena semuanya sudah mutlak ditentukan olehnya ketika menjalani hidup didunia. Sebagaimana Allah swt telah mengajarkan pentingnya untuk bijak dalam mengambil keputusan ketika hendak mengharamkan khamar “Mereka menanyakan kepada mu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar dari pada manfaatnya. Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakan. Katakanlah, kelebihan (dari apa yang diperlukan). Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada mu agar kamu memikirkan”(Al baqarah : 219). Terkait dengan hal pengharaman khamar ini, Allah swt tidak langsung mengharamkan, melainkan melalui sebuah pesan bijak yang berangsur-angsur diturunkan melalui ayat-ayatNya. Dan didalam ayat tersebut khamar awalnya dihalalkan namun selanjutnya dijelaskan bahwa itu haram karena banyak kemudhorotannya bagi manusia. Alasannya kenapa tidak secara langsung ialah dikarenakan saat itu khamar merupakan minuman yang paling digemari oleh penduduk arab.

    Begitulah Allah mengajari kita untuk bijak dalam mengambil setiap keputusan dalam hidup ini, tidak perlu harus tergesa-gesa apa lagi hanya mengedepankan kesenangan semu atas doktrinasi orang lain yang memiliki kepentingan terhadap diri kita, tapi berusahalah untuk menjadikan Islam sebagai landasan dalam setiap keputusan yang akan kita ambil.

    Selanjutnya, ketika kita sudah memiliki keputusan maka milikilah tekad baja untuk konsistensi terhadap keputusan itu. Kenapa harus bertekad baja? Karena dengan adanya tekad baja membuat Gajah Mada mampu menyatukan nusantara, karena adanya tekad baja membuat Soekarno bisa menjadi pemimpin revolusioner negeri ini, karena adanya tekad baja membuat Hasan Al Banna menjadi pencetus sekaligus pemimpin Ikhwanul Muslimin pertama, dan karena adanya tekad baja dari Rasulullah dan para sahabat-sahabatnya membuat Islam bisa berkembang keseantero dunia.

    #Kisah Inspiratif

    Diantara kita pasti banyak yang tahu armada Taksi “Blue Bird” yang berseliweran dibeberapa kota besar yang ada di Indonesia. Dan kita juga pasti mengatakan bahwa pemilik taksi blue bird orangnya sukses luar biasa. Tapi saya yakin hanya sedikit yang tahu bagaimana kisah perjuangan dari pemiliknya untuk mendirikan perusahaan taksi blue bird tersebut hingga menjadi sangat sukses seperti yang kita lihat saat ini. Demikian kisah singkatnya,

    “Pendiri taksi blue bird itu bernama Mutiara Siti Fatimah Djoekoseotono atau yang dikenal dengan sebutan Bu Djoko, ia merupakan seorang janda dengan tiga orang anak (Chandra, Mintarsih, dan Purnomo). Almarhum suaminya bernama Prof. Djokosoetono, SH. Di usia yang ke 44 tahun, Bu Djoko ditinggal untuk selamanya oleh sang suami, sehingga ia harus mengurusi ketiga anaknya seorang diri. Walaupun Bu Djoko ditinggal oleh sang suami dan usianya sudah mencapai 44 tahun, tapi ia tetap yakin bahwa ia sanggup mengurusi anaknya dan memberikan kehidupan yang baik bagi ketiga anaknya tersebut. Karena bagi Bu Djoko, tidak ada kata tua untuk merentang harapan.

    Keluarga Bu Djoko tinggal dijalan HOS. Cokroaminoto, No 107 Jakarta. Rumah yang merupakan pemberian dari pemerintah untuk Pak Djoko karena pekerjaanya sebagai Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian. Ketika suaminya masih hidup, kondisi perekonomian keluarganya biasa-biasa saja, namun pernah suatu ketika mereka ditimpa kesulitan ekonomi yakni bersamaan dengan ambruknya ekonomi Indonesia diakhir-akhir tahun 50-an. Serta banyaknya kebutuhan untuk pembiayaan ketiga anaknya yang sudah bersekolah. Dengan kondisi demikian, gaji suaminya juga sudah mulai tidak cukup untuk menunjang kebutuhan hidup mereka, maka Bu Djoko berinisiatif untuk membantu perekonomian keluarga dengan berjualan batik, jualan batiknya dilakukan dengan door to door, awalnya hasil dari usaha ini cukup membantu perekonomian keluarganya, namun seiring dengan semakin parahnya kondisi ekonomi Indonesia membuat banyak orang yang enggan untuk membeli batik dikarenakan pendapatan mereka semakin menurun sementara kebutuhan hidup bertambah. Akhirnya Bu Djoko beralih ke usaha berjualan telur, karena menurutnya usaha telur cukup prospek dan merupakan kebutuhan orang banyak. Usaha telurnya cukup baik dan berkembang, sehingga kebutuhan keluarga sangat terbantukan. Namun ketika Bu Djoko sedang asyik-asyiknya berusaha dan menikmati hasil usahanya, sang suami pun ditarik oleh yang Maha Kuasa. Sehingga ini membuatnya dirundung kesedihan tapi tidak lama, karena Bu Djoko sadar bahwa ia tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, melihat anak-anak masih mengharabkan perjuangannya untuk kelanjutan hidup mereka. Bu Djoko tetap semangat berusaha, dan selanjutnya keluarga Bu Djoko mendapat hadiah dua mobil sedan bekas dari pemerintah untuk penghargaan atas jasa-jasa almarhum Pak Djoko dalam bekerja dipemerintah.

    Dengan naluri bisnis Bu Djoko yang sangat kuat, akhirnya kedua mobil tersebut dibisniskan olehnya. Awalnya kedua mobil itu dijadikan sebagai taksi gelap dan peminatnya banyak, jumlah mobilnya juga semakin bertambah, tapi masih tetap menjadi taksi gelap. Namun pada akhirnya seiring dengan kebutuhan masyarakat Jakarta yang terus meningkat akan taksi, dan adanya kesempatan yang diberikan pemerintah Jakarta pada masa Gubernur Ali Sadikin untuk memberikan izin resmi bagi operasional taksi, maka Bu Djoko pun berjuang untuk mendapatkan izin itu sehingga nanti taksinya memiliki nama dan lisensi. Pertama kali Bu Djoko datang ke DLLAJR (Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya) untuk mengurus izin, Bu Djoko di tolak oleh orang dinas dengan alasan usahanya belum layak untuk diberi izin. Namun Bu Djoko tetap tidak menyerah, ia terus penasaran untuk mendapatkan izin itu dan akhirnya ia memiliki izin resmi operasional dengan nama taksinya yaitu BLUE BIRD. Dan sampai saat inilah kita bisa melihat betapa Blue Bird telah meraih kesuksesan yang begitu gemilang.

    #Renungan

    Tekad baja yang lahir dari ketulusan seorang ibu untuk bisa memberikan kehidupan yang baik bagi ketiga anaknya, telah membuat Bu Djoko meraih kesuksesan yang sangat luar biasa. Oleh sebab itulah, sebagai seorang pemuda mulailah dari sekarang untuk memiliki sifat pejuang itu, agar kelak semua keputusan yang telah kita ambil bisa benar-benar kita wujudkan dalam kehidupan kita, serta bisa membahagiakan baik ketika kita hidup didunia ataupun diakhirat kelak.

    #Tahapan menumbuhkan tekad baja

    Untuk membuat kita memiliki semangat berjuang sekeras baja dan terus menyala-nyala, hal yang perlu dilakukan adalah dengan SELALU mengumpulkan motivasi dari berbagai sumber dan juga memotivasi diri kita.

    #Pengingat : “....Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.... ” (Ar -Ra’d : 11).

    Salam Indonesia.

    Sumber:
    1. Taushiyah untuk Aktivis Islam. Dr. Najih Ibrahim, 2003
    2. Sang Burung Biru (Inspiratif Blue Bird Group). Alberthiene Endah, 2012
    3. Anda Pun Bisa Menjadi Bintang. Larry A. Thompson, 2006
    #Sang Pembelajar Muda#

    Gambar sekadar ilustrasi, sumber Google.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel “Menumbuhkan Mental Pejuang” Karya Setiyono (FAM Pekanbaru) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top