• Info Terkini

    Tuesday, January 22, 2013

    Ulasan Artikel “Menyikapi Islam Liberal” Karya Ikhsan Fadhly (FAM Pekanbaru)

    Fadhly Ikhsan dalam artikelnya ini mencoba memaparkan pandangannya terkait Islam Liberal yang merusak umat Islam dengan pemikirannya yang “nyeleneh”. Jika kita mau membuka mata dan telinga, pemikiran yang bertentangan dengan Alquran dan Sunnah telah menyebar di masyarakat. Misalnya saja tentang bolehnya para wanita tidak berjilbab. Mereka beranggapan yang penting hatinya baik, maka tidak masalah tidak berjilbab. Lalu ada lagi yang menghalalkan untuk menyukai sesama jenis, mensejajarkan antara laki-laki dan wanita dalam semua hal, dan pemikiran yang “nyeleneh” lainnya. Jika hal ini tidak disikapi dengan serius, bisa merusak aqidah dan pemahaman umat Islam akan kebenaran.

    Ada beberapa catatan yang harus diperhatikan penulis untuk perbaikan karya ke depannya. Pertama, diharapkan setelah selesai menulis, membaca ulang lagi tulisan dan melakukan proses editing untuk meminimalisir kesalahan. Dalam artikel ini, terdapat beberapa kesalahan ketik dan penggunaan spasi yang berlebihan. Kedua, mengenai awalan “di”. Awalan “di” penulisannya dipisah ketika diikuti kata tempat. Dari segi teknik penulisan cukup bagus. Konten artikel juga cukup bagus, tinggal belajar lebih dalam lagi agar kualitas karya ke depan lebih berbobot dan baik lagi. FAM berharap penulis tidak berhenti untuk menghasilkan karya dan terus berlatih. Semangat berkarya.

    Salam santun,
    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT ARTIKEL PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Menyikapi Islam Liberal


    Oleh Ikhsan Fadhly
    FAM930M
    Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP Universitas Riau


    Baru-baru ini kita sering mendengar istilah Jaringan Islam Liberal (JIL). Istilah ini tentunya tidak lahir begitu saja. Banyak pihak berpendapat bahwa Islam liberal ini sudah mulai merebak dikalangan masyarakat. Apa yang dimaksud dengan islam liberal itu sendiri? Islam liberal itu adalah islam yang dimana ajaran islam itu sendiri oleh sebagian orang dipahami secara salah dan bebas sesuai keinginan pemahaman orang-orang tersebut sehingga menyalahi dan menyimpangi aturan islam yang sebenarnya. Ajaran islam yang sebagian orang tersebut pahami dan paparkan terkesan “nyeleneh” dan sangat jelas melanggar aturan islam. Pelanggaran itu justru terlihat sangat kontras, namun dengan pemahaman orang-orang tersebut membalikkan hitam menjadi putih dan putih menjadi hitam sangat begitu mudah bagi mereka. Contohnya saja di dalam sebuah akun twitter seseorang mengatakan bahwa “ciuman itu sedekah”, orang-orang seperti inilah yang kemudian dianggap sebagai islam liberal, atau orang islam yang melaksanakan ajaran islam secara bebas menurut paham dan hukum pikirnya sendiri.

    Kita perlu melihat kembali mengapa paham-paham seperti itu hadir di tengah-tengah masyarakat kita . Apakah ada pihak yang sengaja membuat “kegalauan” dalam ajaran islam? Apakah ada pihak tertentu yang ingin merusak ajaran islam? Mungkin hal ini bisa saja ada, namun alangkah baiknya jika kita mengkoreksi dulu dari dalam, tanpa “bersu’uzhon” secara tidak jelas. Pertama adalah kita tidak bisa memungkiri era  globalisasi yang sangat mempengaruhi peradaban di setiap negara di seluruh dunia, termasuk peradaban islam di negeri ini. Globalisasi membuat tapal batas yang ada di setiap lingkar masyarakat memudar dan memudahkan nilai – nilai dan paham – paham asing masuk. Globalisasi yang satu arah ini memungkinkan seluruh paham-paham “western” masuk ke daerah timur, karena segala bentuk kegiatan ekonomi, politik, budaya, dan kemajuan teknologi berpusat dan berasal dari barat. Jadi globalisasi memang tak bisa dihindarkan lagi, setiap kegiatan berkiblat ke arah barat. Namun permasalahannya adalah  nilai-nilai yang masuk tersebut sudah mencemari islam, dan melahirkan paham-paham baru yang justru di dukung oleh orang-orang yang menyatakan mereka islam juga. Bagaimana hal ini bisa terjadi, tentunya ini juga tidak lepas dari dakwah dan penanaman ajaran islam. Mengapa? Karena para ulama, ustad, dan para aktivis dakwah masih belum cukup berhasil membentuk umat yang bisa membentengi diri, terutama dari globalisasi.

    Banyak generasi muda yang jauh dari nilai agama pada saat sekarang ini. Memang para ulama, ustad dan para aktivis dakwah tidak sepenuhnya bisa dipersalahkan, memang kondisi umat pada saat sekarang ini yang semakin hari menurun kualitasnya. Orang tua kurang mementingkan pendidikan agama untuk anaknya, dan lebih mementingkan matematika , fisika, kimia dan sebagainya, lebih ingin anaknya cerdas secara akedemik meski tipis religiusitasnya. Belum lagi para ulama, ustad dan aktivis dakwah yang menyiarkan nilai-nilai islam justru di dalam kegiatan dan acara-acaranya hanya dihadiri oleh ibu-ibu dan bapak-bapak saja, mesjid yang sepi dari kaum pemuda, hal seperti ini sudah umum saat ini. Jadi dari kondisi-kondisi tersebutlah orang-orang yang yang tidak mempunyai konsep agama yang jelas akan berpendapat dan beramal secara nyeleneh yang kemudian melahirkan warna baru yaitu islam liberal.

    Sekarang yang perlu kita lihat adalah bagaimana menyikapi islam liberal tersebut? Apakah kita membiarkannya begitu saja, dan menunggu paham-paham tersebut hilang ditelan bumi? Atau kita melakukan tindakan yang lebih ekstrim dengan menggunakan kekuatan fisik seperti para ekstrimis yang kemudian melahirkan image islam itu teroris? Memang bacaan ini tidak bisa menghambat tindakan  apa yang akan umat islam sendiri akan ambil terhadap islam liberal, tetapi sekali lagi apakah kita akan bersikap seperti itu? Tindakan-tindakan seperti itu tidaklah benar dan lebih banyak mudarat dari pada manfaatnya, dan belum tentu membuahkan hasil tetapi malah memperparah keadaan, karena yang kita perangi itu adalah pahamnya bukan orangnya. Bagaimana seharusnya kita bersikap? Orang-orang yang berpakaian islam liberal ini harusnya bukan dikucilkan, bukan di tentang dengan membentuk front penentang yang menyudutkan secara berlebihan tanpa melakukan tindakan nyata. Seharusnya yang dilakukan adalah “merangkul” orang-orang tersebut, dalam artian adalah untuk mengajarkan dan menanamkan ajaran islam yang sebenarnya, memperbaiki paham-paham mereka yang salah, dengan metode dakwah seperti biasapun hal ini bisa dilakukan, tinggal bagaimana kita bisa mengajak mereka dan mengubah warna yang salah di dalam diri mereka. Mereka juga muslim, mereka juga saudara, perangilah pemikirannya yang salah denga menanamkan pemikiran-pemikiran yang benar. Islam mempunyai Al-Quran dan Al Hadis, kedua instrument ini sagat- sangat sudah cukup untuk memperbaiki paham-paham yang salah tersebut, ditambah dengan pemahaman dari para alim ulama. Lakukan pembinaan dan pensosialisasian dengan persuasif dan bijaksana, tanamkan nilai-nilai islam yang sebenarnya tanpa melakukan kekerasan atau pertentangan secara berlebihan. Cara – cara seperti berdiskusi, jejak pendapat,ceramah dan sebagainya lebih efektif dari pada cara-cara tersebut dengan catatan harus bisa “merangkul” mereka. Para ulama, ustad dan para aktivis dakwah harus bisa melaksanakan hal ini dan kita semua optimis bisa untuk kembali meluruskan ajaran-ajaran islam yang telah “disimpangkan” oleh sebagian orang tersebut.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel “Menyikapi Islam Liberal” Karya Ikhsan Fadhly (FAM Pekanbaru) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top