• Info Terkini

    Sunday, January 20, 2013

    Ulasan Cerpen “Aku Masih Remaja” Karya Nenny Muno (FAM Pangkep)

    Cerpen “Aku Masih Remaja” adalah cerpen yang bercerita tentang seorang janda muda. Bahkan begitu mudanya karena ia telah menikah sesaat setelah lulus SD. Di usianya yang menginjak 17 tahun, ia telah memiliki dua orang anak. Di usianya yang masih belia itu, ia harus menanggung beban berat karena telah dicerai oleh suaminya.

    Dari segi penulisan, cerpen ini tidak ada masalah yang serius. Cara penulisannya juga bagus. Yang perlu diperhatikan justru dari segi isi cerita. Tidak ada kejelasan konflik yang coba digali oleh penulis sehingga cerpen ini terkesan data-datar saja. Akhir cerita juga menggantung tidak jelas. Memang ada beberapa tipe cerpen yang justru lebih bagus jika akhirnya dibuat menggantung sehingga pembaca yang menyimpulkan sendiri bagaimana kelanjutannya. Namun itu jika sebelumnya telah dibangun konflik yang bagus yang nantinya mengarahkan pembaca membuat kesimpulan sendiri.

    FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas karya semakin membaik. Semangat berkarya.


    Salam santun,
    TIM FAM INDONESIA
    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    AKU MASIH REMAJA


    Oleh: Nenny Muno
    IDFAM935M, Pangkep

    17 tahun. Usia yang dinanti-nantikan setiap remaja. Usia yang sakral sebagai fase pembentuk kedewasaan. Usia yang memberi arti penting terhadap pentingnya pendidikan. Usia yang mengajarkan tentang bagaimana mencintai dan dicintai? Lalu apa arti usia 17 tahun bagi seorang janda dengan dua anak? Di mana kepolosan dan kedewasaan itu berada?

    Ia memandangku penuh rasa kasihan. Matanya yang tajam berganti begitu lembut saat menatap wajahku, seolah aku ini adalah anak yatim yang menggantungkan hidup dengan menengadahkan tangan di jalanan.

    Tiba-tiba ia mengulurkan sapu tangannya yang berwarna putih. Sapu tangan yang harum dan terlihat baru. Aku meraih sapu tangan itu.

    Kuusap beberapa butiran keringat yang membanjiri wajahku. Ia tersenyum sebelum pergi.

    Remaja mana yang mau menghabiskan waktu dan tenaganya membanting tulang untuk menafkahi anak-anaknya seorang diri? Namun, aku hanya bisa tersenyum pasrah kepada dunia dan berharap dapat membesarkan anak-anak yang shalih dan shalihah.

    Setelah bercerai dengan suamiku dua tahun yang lalu, aku mulai mencari penghasilan sendiri. Aku dan kedua anakku tidak mungkin bertahan dengan uang yang diberikan bekas suamiku. Nominalnya hanya cukup untuk membeli susu kedua anakku. Selebihnya, aku harus berusaha sendiri.

    Awalnya, aku berpendapat bahwa hidupku tidak akan berakhir tanpa seorang suami. Aku mampu membiayai anak-anakku dengan tanganku sendiri. Namun ironisnya, tak ada yang mau mempekerjakan seorang remaja yang hanya memiliki ijasah SD.

    Aku mulai putus asa. Namun wajah kedua anakku selalu terbayang dalam kepalaku. Aku tak mungkin tega membiarkan mereka kelaparan. Aku akan melakukan apapun untuk mereka. Hingga seorang saudagar beras mau mempekerjakanku sebagai kuli angkatnya. Memang berat bagi seorang ibu remaja sepertiku untuk mengangkat karung-karung beras yang beratnya mampu mematahkan tulang. Tapi, tak ada pilihan lain. Aku harus melakukannya demi anak-anakku.

    Mengiyakan keinginan orangtua untuk menikah di usia 12 tahun adalah suatu kesalahan besar. Kekayaan serta status sosial yang merupakan pandangan awal mereka merupakan bumerang yang mampu berbalik melukaiku.

    Aku adalah korban dari pernikahan dini yang diatur orang tuaku bersama orang tua bekas suamiku. Namun pada akhirnya, malah aku yang dijadikan pelaku utama atas perceraianku. Aku dianggap tak mampu menjadi isteri yang baik hingga suamiku berselingkuh dan menceraikanku. Tapi, apalah dayaku membela diri? Status keluarga bekas suamiku terlalu tinggi di atasku. Hingga membuatku diam dalam kebisuan.

    ***

    “Bagaimana kabar anak-anakmu?” tanya Ewin saat kami bertemu di tempatku bekerja. Ia merupakan teman SD-ku dulu. Bahkan sampai saat ini, ia tetap bersedia menjadi temanku. Setiap pulang sekolah, ia selalu menemuiku hanya untuk memberikan sapu tangan kepadaku. Aku tidak tahu, berapa banyak sapu tangan yang ia miliki? Ia tak pernah mau mengambil kembali sapu tangan yang diberikannya kepadaku dan malah menyuruhku untuk menyimpannya.

    Aku tersenyum. “Mereka tumbuh dengan baik. Aku senang dapat melihat kedua anakku tumbuh dan memanggilku mama.”

    “Bagaimana dengan dirimu?” tanyanya lagi.

    Aku memandangnya bingung. “Aku akan baik-baik saja selama kedua anakku berada di dekatku.”

    “Tidak merasa kesepian?”

    Aku terdiam sejenak. “Bagaimana mungkin aku merasa kesepian? Sedangkan di rumah, selalu digetarkan dengan tawa kedua anakku.”

    “Bagaimana dengan seorang pacar?”

    Aku kembali mengerutkan kening. Tapi kemudian tertawa keras di sampingnya. “Pantaskah aku mendapatkan seorang pacar? Hanya orang bodoh yang mau memacari seorang janda dengan dua anak.”

    “Jadi, bodohkah aku?”

    Aku menatapnya dalam, menyaksikan senyuman tulusnya. Lalu mengalihkan pandangan ke langit biru dengan sebuah senyuman.

    Aku memang masih remaja. Walau telah menyandang predikat janda dengan dua orang anak.

    [www.famindonesia.com]


    Gambar sekadar ilustrasi, sumber google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. aku pengem baca yang lain. boleh minta kiriman?

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Aku Masih Remaja” Karya Nenny Muno (FAM Pangkep) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top