• Info Terkini

    Sunday, January 6, 2013

    Ulasan Cerpen “Al, Inikah Namanya Cinta?” Karya Hamdi Alfansuri (FAM Pekanbaru)

    Hai, sahabatku semua, apa kabar? Mari kita mengulas karya sahabat tercinta FAM, yaitu: “Al, Inikah Namanya Cinta?” Cerpen ini buah karya Hamdi Alfansuri.

    Cerpen ini mirip elegi yang berakhir dengan kepedihan akibat cinta. Untaian kata-katanya ditulis dengan memikat hati, mengalir, dan disertai diksi yang sederhana namun kaya makna. 

    Cerpen ini menceritakan tentang cinta antara Al dan Ana yang harus berakhir demi cita-cita luhur, yaitu melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia. Al merasa dilema antara memilih cita dan cinta. Sebenarnya, alur, plot, setting, tokoh, konflik dapat sedikit lebih diberi bumbu dan rempah agar menjadi lebih renyah, lebih hidup, lebih berasa, serta menawarkan sejuta sensasi yang berbeda.

    Ada sedikit kesan bahwa cerpen ini menganut aliran sastra campuran antara romantisme pasif, semi realisme, dan semi ekspresionisme.

    Adapun beberapa koreksi EYD, gramatika, hermeneutika, semiotika, diksi, majas, dsb sebagai berikut ini:

    1. Untuk paragraf berikut ini:
    Al, remaja pecinta kemeja biru, berjalan menuju sekerumunan orang di dekat sebuah papan pengumuman. Terlihat suasana di sana hiruk pikuk penuh kebisingan. Ada yang tertawa dan ada yang menangis. Sesampainya di kerumunan tersebut, Al melihat sehelai kertas putih tertempel pada papan pengumuman yang ternyata adalah hasil SMNPTN yang dilaksanakan beberapa hari yang lalu. Hatinya sontak kegirangan, setelah melihat namanya dinyatakan diterima di Universitas Indonesia. Al segera bergegas pulang ke rumah ingin mengabarkan perihal kelulusannya di Universitas Indonesia.

    Lebih baik ditulis sbb:
    Seorang remaja pecinta kemeja biru bernama Al, berjalan menuju sekerumunan orang di dekat papan pengumuman. Suasana hiruk-pikuk. Penuh kebisingan. Sebagian tertawa. Sebagian menangis. Sesampainya di kerumunan tersebut, Al mengamati kertas putih yang tertempel di papan pengumuman. Matanya menyelusuri huruf demi huruf hasil SNMPTN yang dilaksanakan beberapa hari lalu. Hatinya bahagia. Ia melihat namanya dinyatakan diterima di Universitas Indonesia. Al segera bergegas pulang ke rumah ingin mengabarkan berita bahagia ini.

    2. Untuk alinea berikut ini:
    Setibanya di rumah, Al langsung menemui kedua orang tuanya yang sedang bercengkrama di ruang keluarga. Mendengar kabar tersebut, abah dan emak Al sangat bahagia, bahkan hingga meneteskan air mata haru. Dimana, kemarin abah Al mendapat surat pemindahan tugas ke Jakarta. Rencananya dua hari yang akan datang Al dan keluarganya akan berangkat ke Jakarta.

    Sebaiknya dikemukakan sbb:
    Tiba di rumah, Al bergegas menemui kedua orangtuanya. Mereka berada di ruang keluarga, sedang bercengkerama. Mendengar kabar bahagia itu, orangtua Al sangat bahagia. Bahkan emak meneteskan air mata bahagia. Ia terharu. Berita ini bersamaan dengan surat tugas abah ke Jakarta. Sungguh indah skenario Allah. Dua hari mendatang Al sekeluarga akan berangkat ke Jakarta.

    3. Untuk bagian berikut ini:
    Setelah mengabarkan kepada kedua orang tuanya, Al segera mengirim pesan SMS kepada Ana, remaja cantik teman Al sejak kecil. Ia meminta Ana menemuinya di taman kota sore hari sekitar pukul empat. Al dan Ana adalah dua sahabat yang sudah sangat akrab. Sejak kecil mereka selalu bermain bermain bersama, berbagi canda, tawa dan air mata. Sejak mereka beranjak dewasa, mereka mulai jarang bertemu. Ya, karena sama-sama sibuk dengan kepentingan masing-masing. Walau mereka selalu menyempatkan diri bertemu di taman kota setiap minggunya. Bahkan Al dan Ana sudah seperti layaknya dua saudara.

    Lebih tepat dilukiskan dengan diksi sbb:
    Usai mengabari kedua orangtuanya, Al berkirim SMS kepada Ana, teman Al sejak kecil. Al meminta Ana menemuinya di taman kota pukul empat sore hari. Al dan Ana telah lama bersahabat hingga layaknya saudara kandung. Sejak kecil mereka berdua bermain bersama, berbagi canda, tawa, dan air mata. Setelah beranjak dewasa, keduanya jarang bertemu. Kesibukanlah alasannya.

    4. Untuk percakapan berikut ini:
    Pada ranum senja yang telah mereka janjikan. Al menemui Ana yang telah menunggu di bangku taman kota, dengan mengenakan pakaian kemeja biru kesenangannya.
    “Assalamu’alaikum. .” seru Al.
    “Wa’alaikumussalam,” balas Ana tersenyum.
    “Sudah menunggu sedari tadi ‘kah? Boleh Al duduk?”
    “Ah, Ana juga baru sampai disini kok. Duduklah! Oh iya ngomong-ngomong, ada keperluan apa ya mengundangku sore ini?” Ana berbalik bertanya.
    “Sebenarnya, tak ada hal penting yang ingin kusampaikan. Tapi, aku hanya ingin izin pamit pada mu,” jawab Al.
    Terlihat wajah Ana seketika ragu lalu setengah bertanya, “Maksudmu. .”
    “Begini An, aku diterima di Universitas Indonesia, dan itu berarti aku harus harus meninggalkan kota ini untuk semantara,” jelas Al pada Ana.
    “Meninggalkan Pekanbaru?”
    “Ya, tapi ini hanya untuk sementara waktu. Setelah itu aku akan kembali.”
    Sejurus kemudian, Ana hanya diam menundukkan kepala. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibir merahnya.
    “Ana. . . Ana. . . Apa yang terjadi?” tanya Al dengan nada ragu. Ana tetap saja terpaku diam, “Apakah engkau tak senang melihatku bahagia? Tenang An, aku tak ‘kan lama disana. Aku akan kembali,” lanjut Al.
    Sepertinya diam benar-benar merasuki jiwa Ana. Setelah beberapa waktu, ia masih saja diam tanpa kata. Keraguan pun semakin bersarang di hati Al, tak biasa Ana  diam begitu saja. Hingga Al akhirnya berniat meninggalkan Ana bersama diamnya.
    “Jawablah An! Jika engkau terus diam, lebih baik aku pergi saja. Ada banyak hal lain yang dapat kulakukan,” ucap Al seraya berdiri dari duduknya. Ana segera mengangkat kepalanya lalu memecahkah diam yang mengurungnya, dengan maksud menghentikan langkah Al yang akan meninggalkannya.
    “Tunggu Al. . ! Sebenarnya, bukannya aku tak senang melihatmu bahagia.  Tapi. . .”
    “Tapi apa, An?”  Al memotong perkataan Ana.
    Air mata Ana jatuh membasahi wajah manisnya, “Aku suka padamu, Al! Aku telah lama memendam rasa itu. Tapi, engkau tak pernah mengerti perasaanku,” Beberapa kalimat yang ia sampaikan, membuat Al menghentikan gerakan tubuhnya. Berbalik arah menghadap Ana yang telah meneteskan air mata.
    “Apa. . .? Ketika kita harus berpisah, engkau baru mengungkapkannya. Bukankah kita telah lama bersama?” jawab Al serba salah.
    “Sejak awal kita bertemu, aku menganggapmu sebagai seorang sahabat yang selalu ada dalam tawa dan air mataku.  Engkau istimewa!” lanjutnya, “Lama-kelamaan rasa itu berkembang menjadi cinta yang tak ku sengaja. Kini, setelah kelulusan lalu. Aku mesara nyaman berada di sampingmu. Mungkin karena cinta yang telah lama mengendap di hatiku,” jelas Ana.
    sebaiknya diungkapkan sbb:
    Pipi senja merah merona begitu ranum. Semburat pelangi menghiasi dada angkasa. Sore itu begitu romantis. Dengan kemeja biru, Al menemui Ana yang telah menunggu di bangku taman kota.
    “Assalamu’alaikum,” sapa Al.
    “Wa’alaikumussalam,” balas Ana tersenyum.
    “Sudah menunggu lama? Boleh Al duduk?”
    “Ana baru saja sampai disini. Duduklah, Al! Oh iya ngomong-ngomong, ada keperluan apa ya mengundangku sore ini?” Ana bertanya.
    “Sebenarnya, tak ada hal penting yang ingin kusampaikan. Aku hanya ingin pamit kepadamu,” jawab Al.
    Wajah Ana penuh tanda tanya. “Maksudmu…”
    “Begini Ana, aku diterima di Universitas Indonesia. Itu berarti aku harus meninggalkan kota ini untuk sementara,” jelas Al pada Ana.
    “Meninggalkan Pekanbaru?”
    “Ya, hanya sementara. Setelah selesai, aku akan kembali.”
    Ana terdiam seribu bahasa. Kepalanya tertunduk.
     “Ana… Ana… Apa yang terjadi?” tanya Al dengan nada ragu. Ana tetap saja terpaku diam. “Apakah engkau tak senang melihatku bahagia? Tenang An, aku takkan lama disana. Aku akan kembali,” lanjut Al.
    Ana masih terdiam. Al mulai bosan. Hingga akhirnya…
    “Jawablah, An! Jika engkau terus diam, lebih baik aku pergi saja. Ada banyak hal lain yang dapat kulakukan,” ucap Al seraya berdiri dari duduknya. Bibir Ana spontan berkata,
    “Tunggu, Al! Sebenarnya, bukannya aku tak senang melihatmu bahagia, tetapi….”
    “Tetapi apa, An?”  Al memotong perkataan Ana.
    Air mata Ana berlinang, membasahi wajah manisnya, “Aku suka padamu, Al! Aku telah lama memendam rasa itu. Tetapi, engkau tak pernah memahami perasaanku ini!” Kalimat ini membuat Al diam terpaku Beberapa saat kemudian….
    “Ana, mengapa saat kita harus berpisah, kau baru mengungkapkannya. Bukankah lama kita bersama?” tanya Al.
    “Sejak awal bertemu, aku menganggapmu sahabat sejatiku. Engkau begitu istimewa!” lanjutnya, “Tetapi… Lama-kelamaan rasa itu berkembang menjadi cinta. Aku merasa nyaman berada di sampingmu. Mungkin cintakulah penyebabnya,” jelas Ana.

    5. Untuk bagian berikut ini:
    Al terduduk kembali di bangku yang akan ia tinggalkan tadi. Ia hanya diam, seperti halnya Ana sebelum ia akan pergi. Ana juga hanya dapat duduk diam di samping Al. Waktu terus berlalu, suasana berubah menjadi keheningan berkepanjangan. Al dan Ana hanya diam begitu saja. Saling diam, saling tak memandang, dan menundukkan kepala.
    Berlama-lama larut dalam keheningan, Al akhirnya memecahnya dengan beberapa kata yang sebenarnya sulit untuk ia rangkai.
    “An, sebenarnya aku juga merasakan apa yang engkau rasakan, getaran itu sungguh besar di jiwaku. Tapi apa boleh buat, waktu telah memisahkan kita,” ucap Al terbata.
    “Lalu. . . mengapa baru engkau ungkapkan?” tanya Ana mendesak.
    “Aku ingin ungkapkan rasa itu, tapi aku takut hanya akan melukai hatimu. Cita ku ingin kuliah di Universitas Indonesia. Dahulu aku telah berfikir, andai aku diterima berarti aku akan meninggalkan Pekanbaru dan dirimu untuk sementara. Aku tak ingin hatimu terluka,” jawab Al dengan nada tulus.
    “Engkau tak ingin hatiku terluka?”
    “Benar, engkau adalah cinta nyata hidupku. Kini aku benar-benar serba-salah. Aku harus memilih antara cita dan cinta?”
    “Maaf, aku telah membuat hidupmu penuh kebimbangan. Lupakan saja diriku, aku tak ingin melihatmu seperti ini. Aku ingin engkau bahagia. Pergilah. . .” ucap Ana yang tak kuasa menahan air mata.
    “Bukan ‘kah ini hanya membuat hatimu terluka?”
    “Demi cinta dan dirimu, aku ikhlas.”
    “Benarkah?”
    “Tentu saja. Al maaf, sepertinya aku harus pulang, matahari telah mulai menenggelamkan dirinya,” lirih Ana menghapus air mata.
    “Baiklah, silahkan. Aku akan tetap merindukanmu. .” salam terakhir Al pada Ana yang mulai beranjak pergi dari bangku taman.
    sebaiknya dikemukakan dengan pilihan kata sbb:
    Al terduduk kembali. Al dan Ana terduduk dalam diam. Diam dan hening menyelimuti mereka beberapa jenak. Kedua insan saling diam, saling tak memandang, dan sama-sama menundukkan kepala.
    Tak ingin berlama-lama terlarut bersama keheningan, bibir Al akhirnya merangkai kata, “An, sebenarnya aku juga merasakan apa yang engkau rasakan. Rasa itu sungguh menggetarkan jiwaku. Tetapi apalah dayaku, waktulah yang mengharuskanku untuk meninggalkanmu,” ucap Al terbata.
    “Al, mengapa itu juga baru kau ungkapkan?” tanya Ana mendesak.
    “Aku ingin ungkapkan rasa itu, tetapi aku takut melukai hatimu. Cita-citaku ingin melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia. Dulu aku berpikir, bila aku diterima berarti aku akan meninggalkan Pekanbaru dan dirimu untuk sementara. Aku tak ingin hatimu terluka,” jawab Al dengan nada tulus.
    “Engkau tak ingin hatiku terluka?”
    “Benar. Ana, engkaulah cintaku, engkaulah hidupku. Kini aku benar-benar bagai makan simalakama.”
    “Maafkan aku Al, bila membuatmu bimbang. Lupakan saja diriku. Aku tak ingin melihatmu seperti ini. Aku ingin engkau bahagia. Pergilah….” Air mata mengiringi kata-kata Ana.
    “Bukankah ini hanya membuat hatimu terluka?”
    “Demi cinta dan dirimu, aku ikhlas.”
    “Benarkah?”
    “Tentu saja, Al. Maaf, sepertinya aku harus pulang. Senja telah berlalu.” pamit Ana.
    “Iya, silakan. Aku selamanya merindukanmu!” ucap Al pada Ana.
    --o0o—

    6. Untuk bagian berikut ini:
    Dua hari setelah pertemuannya dengan Ana, Al dan keluarganya berangkat ke Jakarta. Sejak saat itu, Al dan Ana tak lagi bertemu. Mereka berhubungan dan berkomunikasi hanya lewat telepon seluler saja. Namun sayang, baru beberapa bulan Al jarang mengangkat telepon dan membalas sms Ana. Tak lama setelah itu, nomor telepon Al tak dapat dihubungi. Tak ada lagi kabar tentang Al. Ia telah berusaha mencari tahu nomor telepon Al namun tak ada hasil. Ana sedikit panik. Timbul dalam fikiran Ana bahwa Al telah melupakaan dirinya.

    Sebaiknya ditulis sbb:
    Dua hari setelah bertemu Ana, Al sekeluarga berangkat menuju Jakarta. Otomatis Al dan Ana tak lagi bertemu. Hanya dunia maya dan HP yang menghubungkan mereka berdua. Beberapa bulan kemudian, Al mulai jarang menerima telepon dan membalas SMS Ana. Bahkan, beberapa saat kemudian, nomor telepon Al tak dapat dihubungi. Al mulai susah dihubungi, bahkan via jejaring sosial. Ana mulai panik. Semua upaya untuk menemukan Al seolah sia-sia. “Al, apakah kau telah melupakan diriku?”

    7. Bagian berikut ini:
    Beberapa pertanyaan hadir dalam dirinya, “Inikah bukti engkau tak ingin melukai hatiku? Benarkah engkau masih merinduiku, Al?”

    Sejak tak ada kabar dari Al, kepribadian Ana sedikit demi sedikit mulai berubah. Sepertinya kegalauan juga telah mulai menguasai dirinya. Ia kini benar-benar kacau. Ia sering salah tingkah. Fikirannya pun sering melayang entah kemana. Hatinya tersakiti. Dirinya lambat laun semakin berantakan. Hingga keluarganya mengurung Ana di kamar. Karena Ana kini telah berubah, ia bukan dirinya lagi.

    “Al, kembalilah. . .”

    Lebih baik bila dikemukakan dengan diksi sbb:
    Beribu Tanya hadir di hati Ana. “Inikah bukti engkau tak ingin melukai hatiku? Masihkah engkau merindukanku, Al? Sedang apa kau sekarang, Al?”

    Ketiadaan cinta adalah ketiadaan rasa. Dunia seolah hampa. Tanpa makna. Tanpa warna. Hanya duka. Nestapa melanda.

    Sejak tak ada kabar dari Al, kepribadian Ana sedikit demi sedikit mulai berubah. Kegalauan mulai menguasai dirinya. Ia kini benar-benar kacau. Ia sering salah tingkah. Pikirannya pun sering melayang entah kemana. Hatinya tersakiti. Dirinya bukan dirinya lagi.
    “Al, kembalilah padaku….”

    Terus semangat, dan dinantikan karya-karya berikutnya.

    Salam santun.
    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Al, Inikah Namanya Cinta?
    Karya Hamdi Alfansuri (FAM Pekanbaru)

    Al, remaja pecinta kemeja biru, berjalan menuju sekerumunan orang di dekat sebuah papan pengumuman. Terlihat suasana di sana hiruk pikuk penuh kebisingan. Ada yang tertawa dan ada yang menangis. Sesampainya di kerumunan tersebut, Al melihat sehelai kertas putih tertempel pada papan pengumuman yang ternyata adalah hasil SMNPTN yang dilaksanakan beberapa hari yang lalu. Hatinya sontak kegirangan, setelah melihat namanya dinyatakan diterima di Universitas Indonesia. Al segera bergegas pulang ke rumah ingin mengabarkan perihal kelulusannya di Universitas Indonesia.

    Setibanya di rumah, Al langsung menemui kedua orang tuanya yang sedang bercengkrama di ruang keluarga. Mendengar kabar tersebut, abah dan emak Al sangat bahagia, bahkan hingga meneteskan air mata haru. Dimana, kemarin abah Al mendapat surat pemindahan tugas ke Jakarta. Rencananya dua hari yang akan datang Al dan keluarganya akan berangkat ke Jakarta.

    Setelah mengabarkan kepada kedua orang tuanya, Al segera mengirim pesan SMS kepada Ana, remaja cantik teman Al sejak kecil. Ia meminta Ana menemuinya di taman kota sore hari sekitar pukul empat. Al dan Ana adalah dua sahabat yang sudah sangat akrab. Sejak kecil mereka selalu bermain bermain bersama, berbagi canda, tawa dan air mata. Sejak mereka beranjak dewasa, mereka mulai jarang bertemu. Ya, karena sama-sama sibuk dengan kepentingan masing-masing. Walau mereka selalu menyempatkan diri bertemu di taman kota setiap minggunya. Bahkan Al dan Ana sudah seperti layaknya dua saudara.

    --o0o--

    Pada ranum senja yang telah mereka janjikan. Al menemui Ana yang telah menunggu di bangku taman kota, dengan mengenakan pakaian kemeja biru kesenangannya.

    “Assalamu’alaikum. .” seru Al.

    “Wa’alaikumussalam,” balas Ana tersenyum.

    “Sudah menunggu sedari tadi ‘kah? Boleh Al duduk?”

    “Ah, Ana juga baru sampai disini kok. Duduklah! Oh iya ngomong-ngomong, ada keperluan apa ya mengundangku sore ini?” Ana berbalik bertanya.

    “Sebenarnya, tak ada hal penting yang ingin kusampaikan. Tapi, aku hanya ingin izin pamit pada mu,” jawab Al.

    Terlihat wajah Ana seketika ragu lalu setengah bertanya, “Maksudmu. .”

    “Begini An, aku diterima di Universitas Indonesia, dan itu berarti aku harus harus meninggalkan kota ini untuk semantara,” jelas Al pada Ana.

    “Meninggalkan Pekanbaru?”

    “Ya, tapi ini hanya untuk sementara waktu. Setelah itu aku akan kembali.”

    Sejurus kemudian, Ana hanya diam menundukkan kepala. Tak ada kata-kata yang terucap dari bibir merahnya.

    “Ana. . . Ana. . . Apa yang terjadi?” tanya Al dengan nada ragu. Ana tetap saja terpaku diam, “Apakah engkau tak senang melihatku bahagia? Tenang An, aku tak ‘kan lama disana. Aku akan kembali,” lanjut Al.

    Sepertinya diam benar-benar merasuki jiwa Ana. Setelah beberapa waktu, ia masih saja diam tanpa kata. Keraguan pun semakin bersarang di hati Al, tak biasa Ana  diam begitu saja. Hingga Al akhirnya berniat meninggalkan Ana bersama diamnya.

    “Jawablah An! Jika engkau terus diam, lebih baik aku pergi saja. Ada banyak hal lain yang dapat kulakukan,” ucap Al seraya berdiri dari duduknya. Ana segera mengangkat kepalanya lalu memecahkah diam yang mengurungnya, dengan maksud menghentikan langkah Al yang akan meninggalkannya.

    “Tunggu Al. . ! Sebenarnya, bukannya aku tak senang melihatmu bahagia.  Tapi. . .”

    “Tapi apa, An?”  Al memotong perkataan Ana.

    Air mata Ana jatuh membasahi wajah manisnya, “Aku suka padamu, Al! Aku telah lama memendam rasa itu. Tapi, engkau tak pernah mengerti perasaanku,” Beberapa kalimat yang ia sampaikan, membuat Al menghentikan gerakan tubuhnya. Berbalik arah menghadap Ana yang telah meneteskan air mata.

    “Apa. . .? Ketika kita harus berpisah, engkau baru mengungkapkannya. Bukankah kita telah lama bersama?” jawab Al serba salah.

    “Sejak awal kita bertemu, aku menganggapmu sebagai seorang sahabat yang selalu ada dalam tawa dan air mataku.  Engkau istimewa!” lanjutnya, “Lama-kelamaan rasa itu berkembang menjadi cinta yang tak ku sengaja. Kini, setelah kelulusan lalu. Aku mesara nyaman berada di sampingmu. Mungkin karena cinta yang telah lama mengendap di hatiku,” jelas Ana.

    Al terduduk kembali di bangku yang akan ia tinggalkan tadi. Ia hanya diam, seperti halnya Ana sebelum ia akan pergi. Ana juga hanya dapat duduk diam di samping Al. Waktu terus berlalu, suasana berubah menjadi keheningan berkepanjangan. Al dan Ana hanya diam begitu saja. Saling diam, saling tak memandang, dan menundukkan kepala.

    Berlama-lama larut dalam keheningan, Al akhirnya memecahnya dengan beberapa kata yang sebenarnya sulit untuk ia rangkai.

    “An, sebenarnya aku juga merasakan apa yang engkau rasakan, getaran itu sungguh besar di jiwaku. Tapi apa boleh buat, waktu telah memisahkan kita,” ucap Al terbata.

    “Lalu. . . mengapa baru engkau ungkapkan?” tanya Ana mendesak.

    “Aku ingin ungkapkan rasa itu, tapi aku takut hanya akan melukai hatimu. Cita ku ingin kuliah di Universitas Indonesia. Dahulu aku telah berfikir, andai aku diterima berarti aku akan meninggalkan Pekanbaru dan dirimu untuk sementara. Aku tak ingin hatimu terluka,” jawab Al dengan nada tulus.

    “Engkau tak ingin hatiku terluka?”

    “Benar, engkau adalah cinta nyata hidupku. Kini aku benar-benar serba-salah. Aku harus memilih antara cita dan cinta?”

    “Maaf, aku telah membuat hidupmu penuh kebimbangan. Lupakan saja diriku, aku tak ingin melihatmu seperti ini. Aku ingin engkau bahagia. Pergilah. . .” ucap Ana yang tak kuasa menahan air mata.

    “Bukan ‘kah ini hanya membuat hatimu terluka?”

    “Demi cinta dan dirimu, aku ikhlas.”

    “Benarkah?”

    “Tentu saja. Al maaf, sepertinya aku harus pulang, matahari telah mulai menenggelamkan dirinya,” lirih Ana menghapus air mata.

    “Baiklah, silahkan. Aku akan tetap merindukanmu. .” salam terakhir Al pada Ana yang mulai beranjak pergi dari bangku taman.

    --o0o--

    Dua hari setelah pertemuannya dengan Ana, Al dan keluarganya berangkat ke Jakarta. Sejak saat itu, Al dan Ana tak lagi bertemu. Mereka berhubungan dan berkomunikasi hanya lewat telepon seluler saja. Namun sayang, baru beberapa bulan Al jarang mengangkat telepon dan membalas sms Ana. Tak lama setelah itu, nomor telepon Al tak dapat dihubungi. Tak ada lagi kabar tentang Al. Ia telah berusaha mencari tahu nomor telepon Al namun tak ada hasil. Ana sedikit panik. Timbul dalam fikiran Ana bahwa Al telah melupakaan dirinya.

    Beberapa pertanyaan hadir dalam dirinya, “Inikah bukti engkau tak ingin melukai hatiku? Benarkah engkau masih merinduiku, Al?”

    Sejak tak ada kabar dari Al, kepribadian Ana sedikit demi sedikit mulai berubah. Sepertinya kegalauan juga telah mulai menguasai dirinya. Ia kini benar-benar kacau. Ia sering salah tingkah. Fikirannya pun sering melayang entah kemana. Hatinya tersakiti. Dirinya lambat laun semakin berantakan. Hingga keluarganya mengurung Ana di kamar. Karena Ana kini telah berubah, ia bukan dirinya lagi.

    “Al, kembalilah. . .”

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Al, Inikah Namanya Cinta?” Karya Hamdi Alfansuri (FAM Pekanbaru) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top