• Info Terkini

    Wednesday, January 23, 2013

    Ulasan Cerpen “Gara-Gara Tersesat” Karya Sufi Azizatul Hasanah (FAMili Pasuruan)

    Dina tinggal di rumah Om Burhan, seorang anggota Dewan terhormat yang jujur. Istrinya, tante Farah adalah seorang guru SMP yang tetap memerhatikan segala kebutuhan keluarga. Keluarga mereka juga sangat harmonis dan Sinta senang tinggal bersama pamannya ini. Di sekolah, Sinta bertemu dengan temannya yang pernah membantunya kala tersesat, Irfan.Tanpa diduga pula, Irfan yang kutu buku menyatakan cintanya pada Sinta.

    Cerpen yang berjudul “Gara-gara Tersesat” ini tidak memiliki runtut cerita yang jelas dan penulisnya terkesan ‘gamang’. Penulis tidak menceritakan bagaimana kisah ia tersesat sehingga bertemu dengan Irfan. Untuk sebuah cerpen, jalan cerita harus jelas dan fokus, sehingga pembaca tidak bingung. Penulis tidak memberikan jawaban di mana Sinta tersesat, bagaimana Sinta bisa tersesat? Bagaimana pula jalan cerita ia ditolong Irfan yang kemudian mencintainya?

    Selain itu, penulis masih banyak menggunakan kata yang tidak baku sesuai kaidah EYD. Penulis banyak menggunakan kata ‘deh’, ‘sih’, ‘aja’ diluar dialog. Untuk dialog, itu dapat ditulis dengan cetak miring, seperti: “Ihh kamu apa-apaan sih, siapa juga yang suka. Aku kan Cuma Tanya aja Din,” seharusnya ditulis “Ihh kamu apa-apaan sih, siapa juga yang suka. Aku kan cuma tanya aja, Din.”

    Untuk penulis, cobalah fokus kepada satu tema atau cerita yang diangkat. Tak perlu ‘bersayap lebar’ sehingga cerita tidak jelas. Cerita di atas akan indah jika penulis mampu mengisahkan cerita tentang Sinta yang tersesat. Tersesat yang menyebabkan ia bertemu dengan Irfan. Kemudian, penulis dapat juga memasukkan nilai-nilai positif di dalamnya, nilai-nilai kehidupan yang mampu menjadi pembelajaran sehingga yang kita tulis itu mengandung hikmah. Latar belakang keluarga dan sekolah secukupnya saja, karena itu bukan fokus utama. Teruslah menulis, latihan yang rutin akan menyempurnakan isi tulisan dan penggunaan EYD. Tetaplah semangat dan teruslah berkarya.

    Salam santun, salam karya, salam semangat!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Gara-Gara Tersesat


    Oleh Sufi Azizatul Hasanah

    “Bruaaakkk!!”

    Suara itu menyadarkanku dari lamunanku. Ku ingat saat – saat itu saat pertama aku menginjakkan kaki di tempat ini. Tempat yang amat berbeda dengan desa tempat tinggalku dulu. Yeah tepatnya sudah satu bulan yang lalu aku datang kemari membawa berjuta angan yang ingin ku gapai di sini.

    “Sinta,,,suara apa itu ?,” Tanya Tante Farah.

    “Buu buu bukan apa apa tante,” Jawabku bingung. Tak kusadari buku – bukuku terjatuh dari meja belajarku.

    “Ohh ya sudah cepat turun kita makan malam dulu,” Pintanya dan kini mungkin sedang menyiapkan hidangan makan malam untuk kami semua.

    “ Iya tante sebentar lagi Sinta turun,” Balasku dan segera kurapikan meja belajarku yang begitu berantakan dan aku juga  terjatuh dari kursi biru bermotif bunga – bunga yang aku duduki tadi . Segera kulangkahkan kaki ini menuju ruang makan, yang kutahu keluarga Burhan telah menantiku di sana.

    Di atas meja telah tersaji berbagai menu andalan keluarga ini dan aku akui masakan Tante Farah memang membuat kami semua ketagihan. Buktinya tanpa ada cela sedikitpun kami langsung menghabiskan semua menu yang ada.

    Dimeja bundar itu aku duduk bersebelahan dengan Andi anak kedua Om Burhan yang baru naik kelas 6 di salah satu sekolah dasar yang tak jauh dari tempat tinggal kami. Walaupun masih cukup dibilang anak kecil, namun berbagai perlombaan telah ia ikuti dan puluhan tropy berjajar rapi di almari kaca berwarna coklat yang sengaja di gunakan untuk meletakkan tropy yang kebanyakan dari hasil kelihaiannya dalam bermain piano. Dan salah satunya ia dapatkan saat mewakili Indonesia dalam ajang perlombaan di Jepang sebulan yang lalu.

    Tidak hanya itu, Arman anak pertamanya yang kini sedang berjuang demi menggapai impiannya di luar negeri tepatnya di Al – Azhar salah satu universitas terkenal di dunia dan juga salah satu tujuan para pelajar menggali ilmu disana. Dengan beasiswa penuh yang ia dapatkan itu sejak satu tahun yang lalu ia meluncur ke tempat peraduannya sekarang. Dengan bekal restu dari keluarganya sekarang dia telah menjejakkan kakinya disana. Dan kabar terakhir yang kku dengar, dua bulan lagi saat musim libur, Kak Arman akan berlibur ke Indonesia.

    Ku akui memang kalau keluarga Om Burhan itu bisa di bilang keluarga bahagia dengan kedua anaknya yang sungguh luar biasa itu. Om burhan memang salah satu anggota dewan di negara ini, namun ketaatannya kepada Allah tak membuatnya melakukan hal bodoh yang sering dilakukan oleh rekannya di gedung DPR. Dengan berbagai alasan, beliau selalu menolak ajakan rekan – rekannya yang sudah salah jalan. Tak jarang berbagai kata seperti sok alim, sok kaya, sok takut dan sok sok lainnya terdengar di telinga. Namun yang aku bangga mempunyai Om seperti beliau, soalnya beliau selalu ingat dan takut kepada ancaman Allah jika beliau menerima bujukan rekan-rekannya.

    Beruntunglah Om Burhan yang selalu di temani istrinya yang selalu mendukung dan menyayangi kedua buah hati mereka. Tante Farah yang berprofesi sebagai guru SMP amatlah pengertian dan meskipun wanita karir, beliau tak lupa dengan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga.

    “Aku jadi rindu keluargaku di desa..??!!,” Gumamku dalam hati.

    “Sinta,kamu kenapa kok melamun..??,” Tanya Tante Farah mengagetkanku.

    “Hmm nggak kenapa – kenapa kok tante,” Jawabku malu dan acara makan malam itu pun berlanjut.

    * * *

    “ Din,kamu kenal sama cowok itu nggak..??” Kutunjukkan kepadanya cowok yang sejak tadi asyk membaca buku di dekat pintu perpustakaan dan entahlah buku apa yang sedang ada di genggamannya.

    “Ohh cowok itu, Irfan namanya. Hayoo kenapa, suka yaaa...??,” Jawab Dina sambil meledekku.

    “Ihh kamu ini apa-apaan sih, siapa juga yang suka. Aku kan cuma tanya aja Din,” Sedikit kesal mendengar jawaban Dina yang seperti itu walaupun aku tahu sih dia bercanda.

    “Iya maaf deh,aku kan bercanda Sin. Irfan memang begitu orangnya, dia nggak pernah menghamburkan waktunya untuk hal yang negatif. Aku kenal dia sudah lama, sejak kami satu kelas saat SMP dulu,” Dengan penuh ekspresi Dina menceritakan tentang Irfan yang terkenal dengan kebiasaannya membawa buku kemanapun dia berada. Dan tak jarang banyak cewek yang ingin menjadi kekasihnya. Namun dia selalu cuek dengan kenyataan itu.

    “Ehh udah mau bel nih, ayo masuk kelas,” Ajakku dan langsung mengajaknya duduk di deretan bangku nomor dua tepat di depan meja guru.

    Suasana berbeda singgah difikiranku. Aku masih tak terfikirkan bahwa orang yang pernah menolongku saat aku hampir tersesat ingin pulang satu minggu yang lalu adalah Irfan dan anehnya dia satu sekolah denganku. Hmm aku tak pernah melihatnya sebelumnya.

    Aku juga lupa tak menanyakan namanya, karena memang waktu itu aku terburu – buru untuk pulang dan untung aja ada dia yang mengantarku. Kami diam beribu bahasa. Hanya senyum yang mengembang dari wajahnya yang ku terima saat kejadian yang memalukan waktu itu.Entahlah kenapa aku merasa dia berbeda dengan cowok yang lainnya.

    “Sinta, coba kamu jawab pertanyaan itu ke depan !!,” Woww suara lantang Pak Bayu membuyarkan lamunanku.

    “Iii... iya pak,” Tanpa pikir panjang aku langsung ke depan dan mengerjakan soal itu di depan. “Untung aja aku bisa, coba kalau aku nggak bisa wahh bisa gawat ini. Aduhh Irfan kenapa sih aku mikirin kamu jadi begini kan akibatnya,” Gumamku penuh penyesalan.

    “Teet teet teet....!!!”

    Suara itu menandakan berakhirnya tugasku menimba ilmu hari ini. Dan akan berlanjut besok pagi. Dengan segera aku meluncur pulang dengan sepeda motor berwarna biru muda yang aku dapatkan dari Om Burhan. Bisa dibilang inilah satu – satunya transportasiku yang akan ku gunakan selama aku tinggal bersama mereka.

    Kulihat seseorang mendekatiku. Entahlah siapa cowok yang sedang mengendarai sepeda motor hitam dengan memakai helm teropong. Hingga tak kukenali wajahnya.

    “ Hai, mau pulang ya. Hati – hati nanti tersesat lagi,” Sapanyamengagetkanku dan benar firasatku, cowok yang kini berada di depanku itu Irfan.

    “ Ehh iya,hehehe..” Balasku tersenyum.

    “ Udah hafal belum jalannya, nanti tersesat lagi lho?? apa mau bareng aku saja”.

    “ Nggak usah deh terima kasih lagian aku bareng Dina kok. Itu dia nungguin aku,” Dengan sedikit malu kujadikan Dina sebagai alasanku menolaknya. Padahal entahlah Dina bareng aku apa gak hehehe. Tak kusangka dia mengajakku pulang bareng. Oh iya, kuingat sekarang kalau aku memang benar – benar mau bareng Dina. Dia pasti menungguku. “ Ya sudah duluan yaaa,,” Dengan cepat ku kendarai sepedaku menuju tempat Dina menunggu dan terlihat dia kepanasan menungguku.

    “ Heyy lama amat sih,,kayak patung pancoran aku nunggu kamu dari tadi,” Dina sedikit marah padaku.

    “ Hee hee... ya maaf. Ayo kita pergi..!!!” Dina langsung duduk di belakangku.

    Terik mentari tak membatalkan niat kami untuk pergi berbelanja. Karena ini hari terakhir ada diskon buku yang di adakan oleh salah satu toko buku terkenal. Semoga saja buku – buku yang kami inginkan masih setia menanti kehadiran kami untuk membeli dan menggali ilmunya.

    ***

    Sejak pertemuan tadi siang, aku jadi teringat dia. Uhh kenapa yaa ? apa ini yang namanya cinta. Tapi nggak ahh, aku gak boleh jatuh cinta sama dia. Mungkin itu hanya sekedar perasaan biasa. Kan dia pernah bantuin aku waktu itu. Sekarang sudah larut malam dan aku harus mengistirahatkan tubuhku setelah seharian beraktivitas.

    Saat istirahat, kusempatkan untuk pergi ke perpus. Ada tugas yanng harus ku cari dari beberapa buku yang ada di perpus. Seperti biasa, Irfan teh ada di sana sejak tadi. Entahlah buku apalagi yang kini dia baca.

    “ Hayy, ketemu lagi nih. Lagi nyari buku apa ?” Sapanya mengagetkanku.

    “ Ohh iya, lagi nyari buku tentang perkembangan bangsa Indonesia setelah masa orde baru. Hehehe..” Jawabku enteng.

    “ Boleh aku bantu Sin ?” Woww aku kaget saat dia menyebut namaku. Pasti dia tahu dari Dina.

    “ Hmm nggak usah deh makasih. Kok kamu tahu nama aku ? pasti dari Dina yaa ?” Tanyaku seraya terus mencari buku yang aku inginkan.

    “ Hehehe iya, tadi Dina yang kasih tahu aku. Kamu juga udah tahu namaku kan ?”

    “ Iya aku tahu kok.”

    “ Sin udah mau bel nih, gimana kalau nanti sepulang sekolah aku ajak kamu ke perpustakaan kota. Di sana buku – bukunya lebih lengkap lho ?”

    “ Boleh juga,” Jawabku singkat. Dan tak lama bel berbunyi. Aku pu segera meninggalkan perpus dan bergegas kembali ke kelas. Nanti sepulang sekolah kan ku kerjakan tugas ini.

    Benar saja kata Irfan. Di perpustakaan kota bukunya lebih lengkap. Dari depan saja tepampang papan – papan yang berisi informasi kota yang terkini dan beberapa berita dari koran. Saat memasukinya, ribuan buku terpajang rapi di rak buku. Semua buku ada di sana. Mulai dari majalah – majalah terkenal di Indonesia, koran lokal, buku mata pelajaran sekolah, buku sosial, buku agama dan masih banyak lagi deh. Buku – buku itu di kelompokkan tersendiri dalam beberapa rak buku yang bisa menampung ratusan buku.

    Irfan langsung mengajakku ke suatu sudut yang di sana terlihat banyak buku – buku pelajaran. Ku lihat – lihat berbagai buku seraya mencari buku yang aku inginkan. Tak lama kemudian, Irfan datang membawakan sebuah buku yang isinya menyangkut dengan tugasku. Yeah, akhirnya tugas itu kutemukan juga.

    “ Alhamdulillah ketemu juga buku ini, makasih yaa ?” Tak lupa ucapan terima kasih ku haturkan padanya.

    “ Iya sama – sama.” Balasnya sambil tersenyum. Langsung deh aku di ajaknya mengurus pendaftaran sebagai anggota di perpustakaan dan bisa ku bawa pulang buku tersebut.

    Aku diantarnya sampai ke rumah. Walaupun aku naik motor sendiri, tapi dia masih aja nganterin aku. Katanya sih takut aku tersesat lagi. Wahh jadi malu aku. Sebelum dia meninggalkan halaman rumah Om Burhan, dia berkata sesuatu. Aku kaget banget kalau kata – kata itu terdengar di telingaku. Kata cinta yang terucap dari lidahnya membuatku terdiam kaget. Dan tanpa ku sadari, dia langsung melajukan motor merahnya dengan kecepatan tinggi.

    Lama aku terdiam di halaman rumah memikirkan kata – kata yang baru kali ini terdengar. Aneh sih tapi apa itu salah jika dia mengatakan telah jatuh cinta kepadaku semenjak kejadian tak sengaja waktu itu. Irfan, aku juga merasakan hal yang sama sepertimu.

    [www.famindonesia.com]

    Gambar sekadar ilustrasi, sumber google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Gara-Gara Tersesat” Karya Sufi Azizatul Hasanah (FAMili Pasuruan) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top