• Info Terkini

    Friday, January 25, 2013

    Ulasan Cerpen “Goresan Sederhana untuk Si Kecil” Karya Siti Zaleha Rakhmatudiah (FAMili Palangkaraya)

    Makhluk itu satu-satunya lelaki di Pondok Pasantren Putri Luwes, namanya David. Ia bebas berkeliaran sesukanya, menikmati tempat tidur penghuni pasantren yang notabene adalah perempuan. Mendapatkan makanan gratis, mendapatkan perlakuan istimewa dari semua perempuan penghuni pondok. Dan, David bebas keluar masuk kamar perempuan! Padahal ia bukan mahram bagi penghuni pondok.

    Siapakah David? Ternyata David adalah seekor kucing jantan yang menjadi penghuni ‘pengembira’ pondok pasantren Luwes. David yang berbulu halus belang putih dan oranye, kucing rumahan yang ‘jinak’ dan takut pada dunia luar. Juga takut pada binatang dari jenisnya sendiri, yaitu kucing jantan jalanan yang garang. Tapi sayang, David hilang entah ke mana ketika ia sakit parah dan akan menemui ajalnya. Penghuni pondok merasa kehilangan David, kucing jantang yang telah banyak menggoreskan kenangan.

    Cerpen di atas adalah sekelumit cerita yang ditulis sebagai “In Memorian: David” oleh penulisnya. Tulisan menarik dengan runtut cerita yang menarik pula. Penulis mampu menceritakan hal kecil yang ada di sekitarnya menjadi sesuatu yang bermakna. Penulis mampu membuka cerita dengan baik dan membuat pembaca bertanya-tanya dan ingin menyelesaikan bacaan. Penulis juga kreatif memberi nama-nama pada benda mati (laptop Syifa 1 dan printer Syifa 2). Cerpen ditutup dengan satu goresan manis “Kadang ada hal-hal  kecil dalam hidup kita yang nampak tak berarti. Namun ketika hal-hal kecil itu pergi, barulah kita menyadari rindu itu ada.”

    Kelemahan tulisan ditemukan pada penggunaan paragraf, penulis tidak menggunakan paragraf dalam cerpennya. Penulis juga menuliskan ‘penyanyang’ yang seharusnya ‘penyayang’. Untuk kata-kata asing menggunakan cetak miring, seperti ‘insting’, ‘statement’.

    Untuk penulis, teruslah menggali ide-ide kreatif yang ada di sekitar kita. Teruslah asah pena agar semakin  tajam.

    Salam santun, salam karya, salam semangat!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Goresan Sederhana untuk Hal Kecil (In Memorian: DAVID)

    Oleh Zaleha (FAM1096U)

    Satu-satunya makhluk berjenis kelamin laki-laki yang turut menghuni Pondok Luwes adalah David. Begitu bebasnya makhluk itu melenggang di pondokan kami dengan fasilitas tempat tidur hangat dan makan gratis. Ia bahkan hanya perlu mengetuk pintu kamar atau bersuara memelas untuk tidur di kasurku ditambah izin mengobrak-abrik makanan gratisnya. Tak hanya di kamarku, di kamar Patmi, Maeda atau yang lain David berbuat sama. Ia sering mengistirahatkan seluruh anggota tubuhnya atau turut bergabung menikmati kebersamaa bersama para penghuni Pondok Luwes yang lain.

    Siapa sih David??? (naikan alis kerutkan dahimu ketika menanyakan ini padaku). Mengapa ia begitu leluasa keluar-masuk di pondokan yang notabene dihuni oleh para muslimah? Padahal dengan tegas tertulis di pintu depan bangunan Pondok Luwes bahwa LAKI-LAKI DILARANG MASUK, KECUALI MAHRAM (KELUARGA KANDUNG). Sedang sudah bisa dipastikan tak ada seorang pun dari penghuni Pondok Luwes memiliki pertalian darah dengan David.

    David, tak lain dan tak bukan, sosok makhluk sejenis Tom (dalam film kartun Tom and Jerry, jangan bilang kau tak pernah menontonnya) dengan perpaduan warna bulu yang cukup unik. Belang-belang oranye dan putih. It’s sweet. Apalagi bulu-bulu David begitu halus dan bersih. Mungkin David terkategori kucing pesolek, meskipun dengan jelas dan nyata jenis kelaminnya jantan.

    Nama David sendiri sebenarnya dihadiahkan oleh Lian yang memang penyanyang kucing. Aku gak menuliskan dia penyanyang binatang, karena aku sudah sangat yakin bahwa tak semua binatang disayanginya. Bayangkan, apa yang akan Lian lakukan apabila ditemui makhluk sejenis Jerry di kamarnya? Apakah ia akan menggendong makhluk itu seperti ia menggendong David? Sepertinya tidak.

    Kembali pada kisah tokoh utama kita, yaitu David (Lian hanya figuran di sini). Sebagai seekor kucing jantan, harusnya David tumbuh menjadi sosok yang garang. Sayang, David tidak demikian. Berbulan-bulan bersama kaum hawa mungkin mempengaruhi kepribadian David. Kucing berpostur sedang itu benar-benar menjelma menjadi kucing rumahan. Ia senang dimanjakan dan tak berani (baca: ketakutan) ketika bersua dengan kucing jalanan yang garang. Pernah ia bersembunyi di kamar Patmi karena kemunculan kucing jantan lain di Pondok Luwes. Mungkin kucing jantan itu menantang David duel.

    Sering David berlagak bak kucing terlatih. Coba saja kau panggil namanya, ia akan menoleh seolah tau bahwa kau sedang memanggilnya. Aulia bilang, David mengerti apa yang kita katakan padanya. Entahlah, mungkin insting. Ucapan itu terbukti, suatu siang, saat David nampak berniat mengobrak-abrik piring-piring kotor. Dia mengendus bau ikan yang khas rupanya.

    “David, jangan mengobrak-abrik piring!” ucap Aulia. Mendengar itu, David berhenti melakukannya dan berikutnya ia mengikuti instruksiku untuk rebahan di sampingku saja. Beberapa menit kemudian, Aulia keluar kamar. David tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Bergegas ia bangkit dan melanjutkan aktivitas mengobrak-abrik piring-piring kotor. Buatku peristiwa ini benar-benar unik.

    Aku pun menyediakan satu ruang kecil di hatiku untuk David. Nampaknya ia menyadari itu. Hingga ia tak sungkan untuk mengeong di depan pintu kamarku saat sedang lapar atau hanya sekedar ingin tiduran di kasur. Pernah pula aku memintanya menemaniku untuk menyelesaikan proposal. Kupikir David hanya duduk manis atau rebahan di sampingku. Tapi entah mengapa saat itu ia begitu menyebalkan. Sifat manjanya keluar. Ia selalu memintaku untuk mengelus-ngelus kepalanya padahal kedua tanganku harus bercengkerama dengan Syifa 1 (ada dua Syifa di kamarku, Syifa 1 adalah benda mati berbentuk laptop sedang Syifa 2 berbentuk printer).

    David benar-benar menjadi hiburan tersendiri buat para penghuni Pondok Luwes yang dibebani aktivitas padat (baca: kuliah, ada pula yang ditambah kerja sambilan maupun organisasi). Banyak hal terjadi antara kami dan David. Diantaranya ucapan Susi tentang ‘David sedang kena masalah’ yang membuatku tak dapat mengerem keinginan untuk tertawa saat mendengarnya. Kena masalah? Kayak manusia aja. Sebenarnya saat itu David baru saja usai mengeong-ngeong tak karuan pada seekor kucing kecil yang baru muncul di Pondok Luwes.

    Ah, David. Aku bersyukur sempat menggores kenangan bersamanya. Karena pada suatu pagi, kami menemukan David terkulai lemah di salah satu kamar mandi. Ia nampak tak sehat dan tak bersemangat seperti biasanya. Telah terjadi sesuatu pada David. Bagian anusnya mengalami luka. Berbagai spekulasi bermunculan. Statment Susi mungkin David terserang typus. Sedang Patmi berpendapat David sepertinya keracunan. Itu mungkin yang mendorong Patmi memasukkan David ke dalam kardus dan menyediakan sepiring susu untuknya. Sementara aku menyediakan tulang ikan kesukaan David. Tapi David tak menyentuh apapun dari kami. Benar-benar tak menyentuhnya. Ratih bilang, kalau kucing sudah sakit dan gak mau makan, kemungkinan besar akan segera mati. Aku benar-benar tak ingin berpikiran begitu.

    Permasalahan David sementara terlupakan dengan berbagai aktivitas di kampus. Namun ternyata pagi itu adalah pagi terakhir aku mengelus-ngelus kepala David. Apakah David mati??? Entahlah. Siangnya, kami hanya menemukan kardus telah kosong dan David menghilang entah ke mana. Benar-benar menghilang. Ia tak pernah kembali lagi ke Pondok Luwes. Mungkin ia sudah mati di suatu tempat. Pastinya kami tak pernah menemukan bangkainya hingga hari ini.

    Apa yang tersisa setelah David menghilang? Deretan pertanyaan di mana David meluncur tak hanya dari mulutku, tapi dari hampir seluruh penghuni Pondok Luwes. “Saat David ada disia-siakan, tapi saat gak ada malah dicari-cari,” celutuk Mba Fita yang terdengar hingga kamarku (maklum agak berseberangan). Ya, begitulah.

    Kadang ada hal-hal kecil dalam hidup kita yang nampak tak berarti. Namun ketika hal-hal kecil itu pergi, barulah kita menyadari rindu itu ada.

    [www.famindonesia.com]

    Gambar sekadar ilustrasi, sumber google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Goresan Sederhana untuk Si Kecil” Karya Siti Zaleha Rakhmatudiah (FAMili Palangkaraya) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top