• Info Terkini

    Wednesday, January 30, 2013

    Ulasan Cerpen “Senja Ungu” Karya Arum Tri H (FAMili Semarang)

    Cerpen ini diawali dengan kekaguman penulis pada lukisan alam berwarna ungu yang disuguhkan Tuhan. Lukisan indah di senja itu mampu meruntuhkan tokoh utama dari sifat egois dan keras hati. Sebuah gambaran di awal cerita bahwa tokoh utama sangat menyukai warna ungu dan pesonanya.

    Cerpen ini berkisah tentang seorang gadis berambut panjang yang hatinya terluka karena ulah seorang lelaki. Gadis tersebut ingin menghapus bayangan lelaki itu dari benaknya dan melupakan rasa sakitnya, dengan mendatangi salon dan membiarkan gunting salon memangkas rambut panjangnya. Ia pasrah pada kerja pegawai salon yang seakan mengubahnya menjadi orang baru dengan penampilan baru.

    Setelah proses menggunting rambut di salon selesai, tokoh dalam cerpen ini merasa tampil menjadi orang baru meski hanya sebatas penampilan fisik semata. Si tokoh mengakui, ia tetaplah dirinya meskipun telah mengubah penampilan. Ia mulai belajar menyukai warna lain, seperti merah dan kuning.

    Cerpen ini cukup singkat dan memikat. Namun ada beberapa hal yang perlu dikoreksi. Pertama, dari segi penulisan. Ditemukan beberapa kesalahan dalam penulisan “di” yang diikuti oleh kata tempat yang seharusnya ditulis terpisah, namun Arum menulisnya tanpa spasi/jarak. Contoh, “diangkasa, dimana, diluar”, seharusnya ditulis “di angkasa, di mana, di luar.” Demikian pula pada kata “mempesona” seharusnya ditulis “memesona.”

    Kedua, dari segi penyajian cerita. Cerpen ini tanpa dialog sama sekali. Meskipun dialog itu bukan hal yang wajib dalam sebuah cerpen, namun dialog juga berguna untuk menghidupkan cerita. Cerita yang hanya berisi narasi atau pemaparan deskripsi semata akan sedikit membosankan ketika dibaca. Pada cerpen Arum yang hanya terdapat satu tokoh, bukan berarti dialog tidak bisa diciptakan. Bisa saja penulis menceritakan tokoh utama saat rambutnya dipangkas pegawai salon, ingatannya melesat pada kejadian masa lampau yang membuat ia sangat tersakiti oleh seorang lelaki. Ingatan tokoh utama itulah yang bisa dibangun sebuah dialog antara tokoh utama dan lelaki yang menyakitinya. Sehingga pembaca bisa sedikit menangkap maksud yang disampaikan penulis dalam cerita. Mengapa ia harus sakit hati? Apa yang dilakukan lelaki tersebut pada tokoh utama?

    Ketiga, dari  segi isi cerita, terkesan kurang masuk akal. Seorang gadis yang masuk salon dalam kondisi sakit hati, tiba-tiba setelah rambutnya dipangkas, ia bisa melupakan sakit hatinya. Jika memang sakit hatinya tokoh utama ini ada kaitannya dengan rambut, sebaiknya penulis mengupas hal tersebut dalam cerita singkatnya. Akan tetapi justru dalam cerita pendek Arum ini masih menyisakan beberapa pertanyaan. Seperti, mengapa tokoh utama harus memangkas rambutnya? Apa yang dilakukan lelaki tersebut pada tokoh utama? Mengapa ia bisa secara tiba-tiba melupakan rasa sakit hatinya setelah rambutnya dipotong? Ini beberapa pertanyaan tak terjawab dalam cerita di atas. Jika sebuah cerita masih menyisakan pertanyaan dan ‘memaksa’ pembaca ‘meraba-raba’ maksudnya, sesungguhnya cerita tersebut belum selesai.

    Namun demikian, Arum telah berhasil menyajikan sebuah cerita yang menarik. Meskipun tanpa dialog, namun karena cerita yang disajikan cukup singkat, tidak mendorong pembaca masuk pada rasa bosan. Arum memiliki potensi baik dalam gaya bercerita, tinggal perlu diasah lagi potensi tersebut, agar semakin baik. Teruslah berkarya.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    UNGU SENJA


    Oleh Arum Tri H

    Suatu hari di bulan Agustus, saat langit senja berwarna ungu. Langit yang membentang diatas kepalaku berwarna ungu, dan belum pernah kutemui lukisan aurora langit yang seperti ini. Senja ungu abu-abu yang menawan hatiku. Aku berpikir dan bertanya-tanya dalam hati,

    “Apa lagi yang ingin Tuhan tunjukkan padaku?”

    Sampai dengan saat ini yang aku tahu, Dia-lah satu-satunya yang benar-benar tulus mencintaiku.

    Kupikir ini adalah pengaruh sore hari yang tiba-tiba berubah ungu. Meruntuhkan keangkuhanku, dan melembutkan hatiku. Meredam sejenak keegoisanku, pendirianku yang teguh dan sekeras batu. 

    Sore ini aku datang ke salon untuk memotong rambutku lagi.
    Tak ada lagi rasa penyesalan, atau khawatir. Tak ada lagi yang bisa menghalangi apa yang ingin kulakukan saat ini. Aku bebas untuk sementara. Bagai burung yang melayang terbang diangkasa yang biru dan tiada batas, lalu tiba-tiba menukik turun menyentuhkan paruhnya di atas permukaan air laut yang dingin. Aku ingin makan es krim. Aku ingin berlari, aku ingin menari, melompat, tertawa terbahak-bahak dan berteriak. Aku ingin melukis di atas kanvas, tentang segala hal yang sedang terjadi padaku saat ini. Tapi aku tak ingin melukis semua rasa sedih, yang membuatku menjadi seperti ini. Aku hanya ingin melukis segala hal yang bisa dan telah membuatku bahagia.

    Kuamati wajahku dikaca. Seraut wajah bulat, dengan sepasang mata kecil dan juga bulat. Juga rambut, yang sejak kemarin beberapa senti panjangnya ingin ku enyahkan. Tak ada lagi wanita yang sedih, muram, putus asa dan berambut panjang. Aku ingin memiliki rambut yang baru, dan bergaya. Aku adalah wanita yang segar, menarik, dan penuh pesona. Wanita berpikiran modern, dan penuh pecaya diri. Kuberi petunjuk pada pelayan salon, model seperti apa yang ku inginkan. Sesaat bahkan untuk selamanya, aku ingin berubah dan kembali menjadi diriku sendiri. Hingga saat aku berjalan dan dimana pun berada, gadis-gadis akan iri dan terpana melihat sinar ku yang memancar.

    Aku tak perlu lagi memikirkan seseorang yang sudah tak ingat padaku lagi. Aku tak memikirkan semua yang membuatku sakit, saat ujung gunting pelayan salon mulai menyentuh lalu memangkas ujung demi ujung rambutku. Ujung gunting itu memangkas semua kenangan sedih ku tentang lelaki itu. Untuk beberapa lama aku tenggelam, dalam setiap gerakan lincah dan cekatan tangan si pelayan salon. Aku pasrah. Seperti seorang model yang di make over menjadi cantik. Kupejamkan kedua mata, dan menunggu detik-detik akhir yang mendebarkan. Hasil mahakarya si pelayan salon.

    Hatiku tenang. Ada deburan ombak kecil yang kurasakan didalam hati, namun segera bisa ku atasi. Dalam beberapa detik, aku merasa mengantuk. Mungkin, pengaruh obat flu yang ku minum. Fisikku sakit, tapi aku tahu hatiku lebih menderita dan sakit. Aku tak ingin cepat-cepat pulang. Aku ingin sabar, menunggu hingga selesai. Meski kepalaku pusing dan hidung ku mulai berair.

    Keajaiban.
    Aku melihat kedua pipiku yang merona merah.
    Bibirku yang basah ketika tersenyum.
    Tiba-tiba aku merasa bahagia.
    Saat aku, tak ingat lagi tentang dirinya.

    Bunyi hairdryer yang membangunkanku dari kekaguman. Hangat. Uapnya yang panas sekaligus hangat menyentuh telinga. Seperti sesuatu yang menyenangkan, menungguku diluar sana. Apa itu? Yang pasti kebahagiaan, atau semacamnya.

    Inilah aku. Tampil dengan penampilan baru. Meski ini hanya fisikku, tapi aku tetaplah aku, meski bukan aku yang dulu. Aku akan mulai membiasakan diri dengan semua ini mulai sekarang. Seperti aku mulai membiasakan diri menyukai warna merah, warna hidup yang ceria dan berani yang selama ini kuhindari. Kuning yang penuh kepercayaan diri dan kebahagiaan, juga ungu, seperti warna sore ini yang mempesona dan eksotik. Semua warna-warna yang harus ku coba dan kukenakan dalam setiap kesempatan. Seperti warna-warna kebahagiaan, yang selama ini kunanti-nantikan dengan sabar. 

    [www.famindonesia.com]

    Gambar sekadar ilustrasi, sumber gambar dari google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Senja Ungu” Karya Arum Tri H (FAMili Semarang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top