• Info Terkini

    Wednesday, January 30, 2013

    Ulasan Cerpen “Sepotong Kue yang Membawa Kesadaran” Karya Nora Yuliani (FAMili Payakumbuh)

    Gimas seorang mahasiswa yang malas, semua karena pengaruh temannya satu geng, Frenky dan Bagas. Radit, sahabatnya yang selalu mengajak kepada kebaikan diabaikannya. Padahal orangtuanya menggantungkan harapan kepadanya agar kuliah dan menjadi ‘orang’ karena Gimas adalah anak sulung.

    Sifat Gimas sangat bertolak belakang dengan adiknya, Leony. Leony adalah sosok perempuan yang rajin dan gigih. Untuk membantu keuangan keluarga, Leony rela bersusah payah membuat kue untuk dititip ke warung-warung. Namun, suatu hari Leony menemukan Gimas dan pasukannya bolos kuliah dan Leony sangat kecewa. Gimas menyesal, terlebih ketika Leony menjelaskan bahwa persahabatan ibarat kue, yang berasal dari tepung. Tepung bila dicampur dengan bahan lain secara tepat, maka akan menjadi kue yang lezat. Tapi sebaliknya, bila tepung dicampur tidak tepat maka tidak menghasilkan apa-apa, bahkan bisa menjadi sampah. Gimas menyadari dan berubah, memilih Radit sebagai temannya rajin mengikuti kuliah dan aktif dalam kegiatan sosial kampus. Awalnya, Frenky dan Bagas mengejek Gimas, namun kemudian mereka juga ikut ‘bertobat’.

    Cerpen “Sepotong Kue yang Membawa Kesadaran” ini memberikan pelajaran bahwa persahabatan sangat berpengaruh kepada kepribadian seseorang. Penulis menyampaikan ini dengan perumpamaan tepung yang menjadi kue lezat bila dicampur dengan bahan lain secara tepat. Ide cerita cukup kreatif, namun dari sisi penulisan masih didapati beberapa kelemahan. Cerpen ini ditulis tidak memenuhi standart EYD, penggunaan huruf kapital masih rancu tidak pada tempatnya (Frenky, nama orang tidak menggunakan huruf kapital), begitu juga dengan tanda baca. Kemudian, cerita yang ditulis berjumlah 19 halaman ini terkesan bertele-tele, dan terlalu panjang, bisa membuat pembaca jenuh. Lebih indah jika ditulis 6-7 halaman saja, berupa cerpen yang padat dan tepat sasaran.

    Namun demikian, penulis telah mampu menulis, dan itu sudah luar biasa. Teruslah menulis dan banyak membaca. Semakin sering kita menulis maka semakin baik kualitas tulisan kita. Semakin banyak membaca, maka semakin kaya kosa kata, gaya bahasa dan semakin banyak pula ide untuk sebuah tulisan (termasuk ‘membaca’ alam dan lingkungan).

    Tetap menulis, tetap semangat. Salam santun, salam karya, salam semangat.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Sepotong Kue yang Membawa Kesadaran

    Oleh: Nora Yuliani

    Jam dinding telah berdentang lima  kali, pertanda waktu telah menunjukkan pukul 05.00, namun Gimas tetap enggan untuk bangun. Rintik hujan yang turun semenjak tadi malam menambah dingin suasana di pagi itu, membuat  gimas semakin betah berada di balik selimutnya. Teriakan ibu dan adiknya yang sedari tadi terdengar dari pintu kamar pun tak di hiraukannnya, suhu dingin yang ia rasakan membuatnya tidak menghiraukan apa pun yang ada disekitanya.

    “ Kak Gimas, banguuuun, dah  setengah enam kak, nanti telat ke kampusnya,” teriak Leony, adiknya yang sangat ceriwis itu.

    “iyaaaa, sudah dari tadi kok”, jawab Gimas dari dalam kamar, tanpa membukakan pintu.

    Gimas melirik weker yang ada di atas meja di sudut kamarnya,  baru pukul lima lewat sepuluh menit, kuliah hari ini jam sembilan berarti ia masih memiliki banyak waktu untuk beristirahat. OSPEK yang ia ikuti seminggu belakangan ini membuatnya tersiksa. Gimas harus bangun jam 4 dan berjalan kaki menuju kampus. Terlalu pagi sehingga angkot pun belum ada. Sekarang OSPEK telah berlalu, dan waktunya untuk membayar waktu istirahatnya yang sempat tersita seminggu lamanya. Jadi hari ini Gimas merencanakan untuk datang jam sembilan saja.Soal apel pagi, itu bukan masalah baginya. Hanya sekedar mendengarkan pengumuman, dan itu bisa ia tanyakan pada teman-temannya.

    “Kak Gimas, banguuuuuun, sudah jam enam,,,”, Teriakan Leony tersebut diiringi dengan Seember air yang siap mendarat di tubuh Gimas.

    Gimas kaget, dan spontan ia berlari menjauh dari tempat tidurnya. Seluruh tubuhnya basah seakan baru saja selesai berenang. Seember air yang dituangkan oleh Leony, cukup untuk membuat Gimas semakin kedinginan.

    “ Kamu mikir dong dek, masak bangunin kakak aja mesti pakai di siram segala, lagian baru jam enam, masak di paksa bangun sampai seperti anak kecil seperti itu?” tutur Gimas dengan nada kesal.

    Leony pun semakin kesal dengan sikap kakak semata wayangnya tersebut.

    “Kakak tu yang ga mikir, ibu dari tadi sudah berangkar ke sawah, ibu bekerja keras untuk biaya kuliah kakak, untuk sekolah kita, demi keberhasilan kita, pernah kak kakak memikirkan itu, pantaskah kakak bermalas-malasan seperti ini?”, ujar Leony sambil berlalu pergi.

    Sementara itu, Gimas masih berdiri mematung di sisi kamar tidurnya, sejenak ia termenung mendengar kata-kata adiknya, namun ia tetap berusaha untuk menafikkan hal itu.Dengan malas dan terpaksa, ia mengambil handuk dan segera bersiap-siap menuju ke kampus.

    ***

    Mentari seakan enggan untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Meskipun jam telah menunjukkan pukul delapan pagi, namun tidak terlihat tanda-tanda matahari akan bertahta di singgasananya, yang ada hanyalah mendung yang mengiringi langkah Gimas yang masih terlihat malas untuk ke kampus.

    “ Pagi Bro, kata Gimas menyapa teman-temannya yang baru saja bubar setelah apel pagi.

    “ Kenapa baru datang, hari pertama saja sudah seperti ini, apalagi nanti”, kata Radit.

    “Kesiangan Bro,”jawab Gimas Singkat.

    “Telat dikit nggak apa kok Bro, kan kita kuliahnya jam sembilan, lagian nggak penting kok, tadi itu hanya Ultimaltum dari Rektor kampus”, frenky mencoba membela Gimas.

    “Bukan ultimaltum, tapi pengarahan untuk mahasiswa baru, sebenarnya itu sangat penting untuk kita ketahui, selama kita berada di kampus ini,” Radit mencoba menjelaskan.

    “Alahhh, aturan sebanyak itu di bilang pengarahan, ha ha ha,,,”,teriak frenky seraya menertawakan Radit.

    “Sudah... Sudah....., dari pada berdebat di sini, mendingan cabut yuuuk, kita ke Warnet depan, cari lagu yang lagi hits saat ini,” ajak Bagas sambil menarik lengan Gimas.

    “Nanti saja setelah selesai kuliah, setengah jam lagi kita ada kelas, “ujar Radit Mengingatkan.

    “Masih lama Bro,” frenky masih tetap kekeh dengan niatnya yang enggan untuk kuliah.

    “Radit benar, bentar ge kita ada kuliah, “ ucap Gimas  yang mulai bimbang.

    “Ini kan baru hari pertama, yang ada belum tentu Dosen itu hadir, Bagas seakan bisa membaca keraguan yang tersirat di hati Gimas.

    “Terserah kalian saja, tapi aku tetap mau ke kelas,”ujar Radit.

    “Ya... Inilah calon mahasiswa teladan dengan IPK 4,5,” ejek Frenky seraya mengajak teman-temanya berlalu pergi meninggalkan Radit sendiri.

    Radit mengamati dari jauh kepergian teman-temannya itu. Kalau semua mahasiswa seperti ini, mau jadi apa negeri ini. Mahasiswa kekampus hanya cari nama, agar terkenal sebagai mahasiswa, orang yang berpendidikan dan berharap akan disegani oleh orang-orang, namun tujuan kekampus bukan menimba ilmu untuk masa depan, tetapi mencari nilai yang bagus, dan menunggu dapatnya gelar. Jika mahasiswa tidak kompeten dan sangat minim skill dan kreatifitas, maka akan semakin menjamur sarjana yang pengangguran.

    ***

    Mendung berganti hujan, dan gerimis mulai turun. Meski tidak begitu deras, tapi tetap membuat orang-orang menghentikan perjalanannya dan beristirahat sejenak menunggu gerimis itu mulai mereda.  Gimas, frenky, dan Bagas masih sibuk mengutak-atik komputer di warnet yang tidak jauh dari kampus itu. Putaran jarum jam telah sampai di angka sembilan lewat dua puluh menit. Ini berarti tmereka telah terlambat dua puluh menit lamanya. Gimas mulai gelisah. Sebenarnya ia ingin masuk kelas, tapi karena teman-temannya masih di sibukkan dengan kegiatan mendownloadnya ini membuat Gimas tetap mematung di sana. Ia tidak masuk kelas dan tidak juga mengikuti teman-temannya yang sibuk main internet, tetapi ia hanya diam, terpaku menyaksikan ulah teman-temannya itu.

    “Sudah pukul 09.20 Bro, kita sudah terlambat dua puluh menit,” Gimas memulai pembicaraannya.

    “Iya ya,” jawab Frenky datar. Tidak ada perasaan takut atau rasa bersalah di wajah Frenky tersebut.

    “ Kita nggak masuk?”, tanya Gimas lagi.

    “di luar masih hujan Bro, nanti saja jika hujannya berhenti.

    “ Tapi kan hanya gerimis?”.

    “ Wow, sepertinya di sini bakal ada Radit yang kedua nih.” Bagas mulai angkat bicara.

    Frenky dan Bagas tertawa terbahak-bahak, memberikan ejekan pada Gimas yang kesal dengan ulah teman-temannya tersebut. Gimas akhirnya menuruti kemauan teman-temannya itu. Gimas, frenky, dan Bagas tidak masuk kelas hari itu. Mereka menghabiskan waktunya untuk berhura-hura. Sementara Radit tetap masuk kelas. Meskipun teman-temannya tidak mau turut serta dengannya, tapi ia tidak mau ikut teseret ke jalan yang salah, jalan yang di pilih oleh teman-temannya itu.

    Gimas melihat jam tangannya. Jarum jam bertengger di angka dua belas. Tiga jam lebih waktu yang mereka habiskan di warnet. Hanya sekedar facebookan dan mendownload lagu-lagu. Sangat jauh dari hal-hal yang berbau manfaat. Setelah mereka menutup semua aplikasi yang sempat di buka, mereka membayar dan berlalu pergi. Tidak satu  pun mata kuliah yang  mereka ikuti hari itu, berdalih hari hujan dan terjebak di warnet, mereka menghabiskan waktu di sana.

    Sesampai di rumah, Gimas mendapati adiknya, Leony sedang membuat kue. Gimas mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamar. Sejenak ia memperhatikan apa yang tengah di lakukan oleh adiknya itu.

    “Buat apa bikin kue sebanyak itu?” tanya Gimas heran. Karena tidak seperti biasanya. Tiba-tiba saja Leony membuat kue yang begitu banyak.

    “Kue-kue ini untuk di jual kak, lumayan hasilnya bisa untuk bantu-bantu uang jajan. Saat ini leony sangat banyak membutuhkan buku. Tidak mungkin kalau semuanya minta sama ibu. Kasihan ibu.”, tutur Leony menjelaskan.

    Gimas terpaku mendengarkan penuturan Leony. Selain pintar, Leony juga sangat rajin, baik itu dalam hal belajar, maupun membantu orang tua melakukan pekerjaan rumah. Sangat jauh berbeda dengan dirinya saat ini.

    “Kenapa bengong , kakak sudah pulang ?’ tanya Leony.

    “Ng..ngak, kakak cuma....Cuma.. lihat cara bikin kue itu”, jawab Gimas dengan terbata-bata.

    “Gimana kuliahnya hari ini, gimana rasanya menjadi mahasiswa itu, menyenangkan ya kak, leony nanti juga pengen melanjutkan sekolah sepeti kakak”, sambung Leony.

    “ Kuliah tadi ... kuliah tadi..., ah. Sudahlah, kakak kekamar dulu,” Gimas buru-buru pergi meninggalkan Leony yang masih sibuk mengaduk-aduk bahan kuenya.

    Gimas merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang beralaskan sprey biru itu. Ia teringat kata-kata adiknya tadi. Sebenaranya ia memang keterlaluan. Tapi mau gimana lagi. Sudah terlanjur kok. Lagian ini kan baru pertama kuliah. Biasa lah. Ia ingin untuk berubah, tapi tidak sekarang. Prinsipnya hidup itu untuk dinikmati, tidak harus dengan tergesa-gesa menjalani hidup.

    ***

    Waktu bergulir dengan sangat cepat. Tidak terasa semester ini pun telah berlalu tiga bulan lamanya. Itu berati ujian tengah semester pun siap menanti.Radit sibuk mempersiapkan diri untuk mengahadapi ujian tengah semester ini. Radit mengumpulkan materi ujian yang ia dapatkan dari berbagai sumber. Tiap hari ia mengunjungi perpustakaan untuk mendapatkan tambahan materi yang berkaitan dengan apa yang telah ia pelajari.  Radit menyadari, bahwa apa yang telah ia dapatkan dari dosen baru 25%  saja, sedangkan 75% lagi harus ia cari sendiri. Karena itu, Radit menyempatkan diri untuk ke perpustakaan.

    `Jika ia dan teman-temannya kebetulan berada di warnet, ia sempatkan untuk membuka situs yang di dalammya mengandung khasanah ilmu, disamping ia facebookan seperti teman-temannya yang lain.  Ilmu itu  sangat penting baginya. Ilmu itu tidak hanya di dapatkan di bangku sekolah atau ketika sedang kuliah saja,  tetapi tekhnologi dan informasi yang berkembang, juga sebuah ilmu yang penting untuk di ketahui. Asalkan tidak betentangan dengan nilai dan norma di masyarakat, baginya itu pun penting juga untuk diikuti.

    Berbeda dengan Radit, Gimas masih saja sibuk berhura-hura dengan pasukannya, frenky dan Bagas. Mereka terkenal dengan mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang,kuliah-pulang). Ke kampus hanya bermodalkan 4D (datang,duduk, diam, dengar). Mereka menjadikan papan tulis sebagai televisi yang wajib untuk di tonton. Absen adalah benda keramat yang wajib di isi, kerena jika kehadiran tidak cukup 75%, tentu saja mereka tidak bisa ikut ujian. Dalam mengikuti perkuliahan pun tak luput dari ketidakseriusan, sebentar-sebentar keluar. Kebiasaan buruk ketika masih di bangku SMA masih berlanjut sampai mereka menginjak bangku kuliah.

    Dosen mata kuliah kewarganegaraan hari itu berhalangan hadir. Dosen tersebut menitipkan tugas kepada Radit. Sebuah tema yang harus di bahas dalam bentuk diskusi. Hasil diskusi di laporkan kepada dosen tersebut minggu depannya. Radit maju ke depan kelas untuk memimpin diskusi.

    “Teman-teman, hari ini Bapak Sumardi berhalangan hadir, dan kita ditugaskan untuk membahas topik ini dalam bentuk diskusi. Silahkan bentuk lima kelompok kecil,” kata Radit memberi instruksi kepada teman-temannya.

    Teman-teman Radit pun  mulai membentuk kelompok kecil. Begitupun dengan Gimas dan teman-temannya. Mereka mengikuti apa yang di perintahakan oleh Radit selaku ketua kelas mereka, yang biasa di sebut Kosma, Koordinator Mahasiswa.

    “Masing-masing kelompok diberi waktu lima belas menit untuk mendiskusikan tema ini, setelah itu masing-masing kelompok mengutus salah seorang di antara anggota kelompok untuk mendiskusikannya”, jelas radit selanjutnya.

    Sementara mahasiswa lain sibuk berdiskusi, frenky mendorong bangku Bagas yang tepat berada di depannya.

    “ada apa”, tanya Bagas sambil melirik ke belakang.

    “kita keluar yuuk,”ajak Frenky.

    “Cuma berdua?”, tanya Bagas lagi.

    “Ajak saja Gimas”, bisik Frenky.

    “oke, ide bagus itu, capek juga lama-lama di dlam sini, bosan,” Bagas menyetujui ajakan Frenky.

    Frenky keluar duluan, kemudian disusul oleh Bagas sambil memberi isyarat kepada Gimas agar segera menyusul keluar. Tak lama kemudian mereka bertiga telah berada di luar. Mereka segera mengendap-endap lewat pintu belakang. Jika lewat pintu depan sama saja mencari masalah besar. Didepan kampus ada dua orang satpam yang selalu berjaga-jaga.

    “kita mau kemana?” tanya Gimas.

    “Sudah, ikut saja”, sebentar lagi juga tau kita akan kemana.

    “Sebentar lagi kita ujian, tapi masih saja seperti ini, ujar Gimas.

    “ Ujian mah gampang, Cuma tinggal mengatur Strategi saja. “ jawan frenky seenaknya.    

    “kasih tahu strateginya ya”, pinta bagas.

    “seeep, kata frenky dengan nada sombong.

    “bentar ya, mau beli minum dulu,”bagas  segera berlari kecil menuju ke toko kue.

    Sementara itu Frenky dan Gimas menunggu di depan toko kue tersebut sambil terus bercakap-cakap.

    “sudah berapa kali kita nggak masuk”, tanya Gimas.

    “tenang aja Bro, baru tiga kali kok”, jawab Frenky.

    “tiga kali?, itu berarti tinggal sekali lagi, kita nggak bisa ikut ujian”, Gimas mulai cemas.

    “tenang aja Bro, hari ini kan dosennya mggak hadir, berarti kita bisa palsuin satu tanda tangan,” kata Frenky dengan penuh semangat.

    “benar juga tuh”, kata Gimas.

    “ehem....,, kakak pintar ya sekarang”,

    Bagas segera berpaling ke belakang, melihat kearah orang yang bicara tadi.Ia sangat terkejut ketika melihat siapa yang berada tepat di depannya. Leony baru saja mengambil dagangan kue nya yang kemaren dan mengganti dengan kue yang baru. Alangkah kecewanya Leony saat mengetahui ternyata kakak yang sangat di banggakannya itu diam-diam adalah orang yang sangat pemalas.

    “Leony sangat kecewa dengan sikap kakak”, ujar Leony sambil berlalu pergi.

    Gimas sempat melihat butiran bening mengalir di pipi adiknya yang putih bersih itu. Hatinya terasa sakit. Ia sadar telah mengecewakan adiknya itu. Padahal adiknya berharap banyak darinya. Gimas mengurungkan niatnya  untuk pergi bersama teman-temannya itu, dan segera pulang ke rumah.

    ***

    Gimas membuka pintu dan mendapati rumah dalam keadaan sunyi. Gimas heran, biasanya ketika ia pulang ibu dan adiknya sudah ada di rumah. Gimas pergi ke dapur dan tidak mendapati seorang pun di sana, yang ada hanya bahan-bahan kue, yang biasa di buat oleh Leony. Mungkin belum pulang, pikirnya. Gimas pun segera pergi ke kamarnya. Alangkah terkejutnya ia ketika tak sengaja ia melihat ibunya terbaring lemah di tepat tidurnya.

    “ibu kenapa dek?”, tanya Gimas ketika mendapati adiknya sedang merawat ibunya yang sakit.

    Leony diam membisu. Ia masih kecewa ketika menyaksikan sikap kakaknya tadi siang. Gimas menyadari akan kekecewaan yang dirasakan Leony. Dahulu ia adalah anak yang pintar dan pendiam. Tetapi semenjak bergaul dengan teman-temannya yang sekarang ia berubah sikap. Ia menjadi orang yang pemalas. Hari-harinya di warnai dengan berhura-hura. Pergi ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas. Sering tidak masuk kuliah. Gimas tahu alangkah keccewanya keluarganya apabila mengetahui sikapnya selama ini.

    Malam mulai berangsur gelap. Leony mulai bersiap-siap untuk membuat kue. Semua bahan telah terdedia di atas meja. Tinggal mengaduknya menjadi adonan kue. Gimas yang masih berusaha mendapatkan maaf dari Leony, menyesali pebuatannya selama ini. Gimas pun masuk ke dapur dan berniat membantu Leony. Leony bingung dengan sikap Gimas yang nggak seperti biasanya.

    “kakak mau ngapain?”, tanya Leony bingung   

    “ya mau bantuin kamu lah,”ujar Gimas cuek.

    “Leony nggak butuh bantuan, sudah biasa kok mengerjakannya sendiri. 

    “ya sudah kalau nggak mau.

    Gimas duduk di samping meja tempat Leony membuat kue. Gimas memperhatikan apa yang dilakukan adiknya itu. Benar-benar terampil. Selain pintar, Leony juga memiliki keterampilan memasak. Selang beberapa waktu, kue tersebut telah jadi. Gimas iseng mencoba kue buatan adiknya tersebut.

    “wow, enaknya, kakak suka banget, di buat dari apa ini dek,?”tanya Gimas terkagum.

    “itu”, kata leony sambil menunjuk kearah tepung.

    “dari tepung tu, kok rasanya seenak ini?”

    “ tepung tidak akan ada rasanya kalau hanya sendirian, tetapi akan terasa enak jika di campurkan dengan bahan-bahan lainnya. Tepung murah jika hanya dalam bentuk tepung. Tetapi bisa menjadi mahal apabila tepung itu menyatu menjadi kue yang di campur dengan bahan-bahan lainnya.”

    “benar banget tuh”.

    Begitu pun sebaliknya. Jika tepung itu terlalu banyak di masukin bahan-bahan lain, atau bahan tersebut tidak sesuai atau bukan yang seharusnya, maka rasanya tidak akan enak sama sekali,”lanjut Leony lagi.

    “kok dari tadi topik utamanya tepung dek, kayak nggak ada topik lain saja?” Gimas mencoba bercanda dengan adiknya. Berharap kata maaf akan segera ia dapatkan.

    “Diri kita seperti Tepung itu kak”, ujar Leony.

    “maksudnya?” tanya Gimas tidak mengerti.

    “Kita akan terasa hampa jika hanya hidup sendirian. Hidup akan sepi, tiada berwarna, kemana-mana sendirian, Tanpa adanya sahabat yang menemani. Tetapi kita juga kan terjerumus apabila salah memilih teman. Kita bisa berubah menjadi orang lain apabila salah memilih teman. Jangan iarkan orang lain menguasai diri kita kak?”Leony mencoba menasehati kakaknya.

    Sejenak Gimas terdiam dengan kata-kata Leony barusan. Ia sadar akan sikapnya yang selama ini mulai berpaling ke jalan yang salah. Sepotong kue masih berada ditangannya. Gimas memandangi kue itu dengan tersenyum. Secara tidak langsung sepotong kue ini telah merubah pola pikirnya,gumam Gimas dalam hati.

    “kenapa kak, kok senyum-senyum sendiri?”tanya Leony bingung.

    “sepotong kue ini membantu kakak menyadari kesalahan kakak selama ini.”jelas Gimas diiringi senyuman dari Bibirnya.

    Leony pun ikut tersenyum bangga. Akhirnya kakaknya tersebut dapat berubah kearah yang lebih baek lagi. Gimas buru-buru untuk menghabiskan kue yang ada ditangannya tersebut. Malam itu, Gimas menemani adiknya membuat kue. Gimas tidak langsung tidur seperti biasanya, tetapi meluangkan sedikit waktunya untuk menemani adiknya di dapur. Meskipun tak bisa berbuat banyak, tetapi kehadiran Gimas di sana membuat Leony lebih semangat bekerja.Suara jengkrik ikut menemani Leony menyelesaikan pekerjaanya. 

    ***

    Hari berganti hari. Seminggu sudah kisah sepotong kue itu mewarnai hari-hari Gimas. Semula Gimas orang yang acuh tak acuh dengan warga sekitar, sedikit demi sedikit mulai berobah. Gimas mengikuti langkah Radit. Semula Gimas khawatir Radit tidak mau lagi berteman dengannya. Tetapi ternyata dugaan Gimas salah. Radit tetap berteman dengannya dan merangkul sahabatnya tu ke jalan yang benar.

    Pagi itu sangat spesial bagi Gimas. Berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya, hari ini Gimas bangun lebih awal. Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.00. Gimas mulai bersiap-siap untuk kekampus. Hari ini ia ada kuliah pagi, karena itu bersiap-siap lebih awal. Malu dong kalau tiap hari telat pikirnya.

    “kakak mau kemana”?,tanya Leony yang melihat kakaknya sudah rapi.

    “ke kampus dong, ?

    “o ya, ibu gimana dek, sudah baikan”, sambung Gimas lagi.

    “ibu sudah baikan kok, kakak tumben berangkatnya pagi-pagi sekali, nggak seperti biasanya,”Leony seakan tak percaya dengan sikap kakaknya yang tiba-tiba saja berubah.

    Gimas tidak menjawab pertanyaan adiknya itu. Seutas senyuman ia lemparkan kepada Leony. Leony membalas dengan senyuman. Leony membereskan dagangan yang akan ia bawa sekarang, dan pamit kepada ibunya.

    “bu, Leony berangkat dulu ya,” kata Leony sambil mncium tangan ibunya.

    “ya nak, hati-hati di jalan,”jawab ibunya.

    Gimas yang biasanya pergi kemana-mana pamitan hanya sambil berlari keluar, hari ini juga pamitan kepada ibunya. Ibunya senang bercampur haru ketika menyaksikan perubahan sikap Gimas itu.

    “bu, saya pamit,”Gimas seraya mengulurkan tangan kepada ibunya.

    “hati-hati ya nak, belajarlah yang rajin, pikirkan masa depanmu,” kata ibu Gimas sambil mengusap kepala anak sulungnya itu.

    Gimas tersenyum puas. Alangkah indahnya hidup ini ketika kita bisa membuat orang lain tersenyum. Kedamaian yang kita berikan kepada orang lain, justru itu membuat ketentraman tersendiri buat diri kita. Gimas mengendarai motornya dengan perlahan, tidak kebut-kebutan seperti biasanya. Gimas melihat Radit sedang menunggu angkot di depan rumahnya. Gimas pun menawarkan Radit untuk berangjat ke kampus bersama.

    “bareng yuuk?” ajak Gimas kepada Radit yang bengong melihat Gimas yang nggak seperti biasanya.

    “hah,,, bareng”?

    “iya, buruan naik, ntar telat lhoo,’

    Radit segera naik ke motor Gimas. Meskipun masih setengah percaya, namun Radit tetap mengikuti kemauan Gimas. Sepanjang perjalanan, mereka bercakap-cakap, layaknya sahabat lama yang telah bertahun-tahun tidak pernah bertemu.

    “dit, maafin salah gue selama ini ya?” ujar Gimas memulai pembicaraan.

    “nggak ada yang perlu di maafin Bro, nggak apa-apa kok, jawab Radit.

    “gue sadar sekarang selama ini sangat lalai dalam kuliah,”

    “semua orang pernah melakukan kesalahan bro, dan sebaik-baik manusia itu adalah orang yang mau mengakui kesalahan dan mau merobahnya.

    “thank’s ya bro,”

    “sama-sama sobat,”jawab Radit sambil menepuk pundak sahabatnya itu.

    Motor melaju dengan tidak terlalu cepat. Setengah jam kemudian Gimas dan Radit telah sampai di kampus. Setelah menempatkan motor tersebut di tempat parkiran, Gimas dan Radit berjalam beriringan menuju ke keleas mereka.

    Sesampai di kelas Gimas dan Radit mendapati teman-teman mereka sedang berkumpul membentuk formasi setengah lingkaran. Terlihat mereka bercakap-cakap dengan  sangat serius.Gimas dan Radit saling berpandangan pertanda mereka tidak mengerti apa yang terjadi.

    “ada apa tuh?”tanya Gimas pada Radit.

    “mana ku tahu lah Gim, kita kan berangkatnya barengan?” tutur Radit.

    Gimas tersenyum kecil.Gimas dan Radit kemudian mendekati teman-teman mereka yang sedang berkumpul tidak jauh dari tempat nya berdiri. Kedatangan Gimas menarik perhatian mahasiswa yang ada dalam kelas tersebut. Serentak mereka terdiam, memperhatikan Gimas yang mulai mendekatinya.

    “ada apa sob, kelihatannya serius sekali ngobrolnya,”tanya Radit memulai pembicaraan.

    “ kita lagi membicarakan soal tanah longsor yang terjadi kemaren sore. Transportasi ke desa sebelah lumpuh total. Parahnya lagi, longsor tersebut juga disertai dengan putusnya jembatan yang menghubungkan kampung kita dengan kampung sebelah..” Tirta, teman sekelas Radit itu pun mulai menjelaskan.

    “tanah longsor?” kata Radit dan Gimas bersamaan.

    “iya, masak nggak tahu seh,” kata Reno.

    “kita sama sekali nggak tahu”, kata Radit.

    “ kakak kandung Farhan, dan ponakannnya menjadi salah satu korban dalam peristiwa itu”, Anggia menambahkan.

    “Radit dan Gimas terdiam sejenak. Mereka turut terharu dengan  peristiwa itu. Apalagi keluarga Farhan, teman sekelas mereka juga menjadi korban.

    Bagaimana kalau kita menggalang dana?, ajak Gimas stelah terdiam beberapa saat lamanya.

    Tawaran Gimas mengejutkan teman-temannya. Biasanya Gimas cuek dengan  orang sekitarnya sekarang mengusulkan untuk menggalang dana. Semula mereka meragukan keseriusan Gimas, namun setelah mendapat dukunagna dari Radit, mereka pun setuju.

    “baiklah, sehabis kuliah kita galang dana untuk membantu korban tanah longgor ini, kata Radit kemudian.

    Dari daun pintu terlihat dosen memasuki ruangan belajar. Radit dan teman-temannya menghentikan percakapan mereka dan kembali duduk di bangku masing-masing. Namun, sebelum dosen mengawali perkuliahan hari itu, tiba-tiba ada orang yang membuka pintu dengan tergesa-gesa. Frenky dan Bagas terlambat seperti biasa. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak biasa, mereka yang dahulunya terlambat bertiga sekarang hanya berdua. Gimas tidak lagi menjadi bagian dari mereka. Frenky dan Bagas terheran melihat Gimas yang sudah hadir duluan.

    ***

    Gimas serius dengan kata-katanya. Setelah perkuliahan usai, Gimas dan Teman-temannya mulai menggalang dana. Hal ini membuat frenky dan Bagas tambah bingung dengan sikap Gimas.

    “Bro, kesambetdi mana loe, ga Salah tuh?”, tanya Frenky sambil menhhampiri Gimas yang memegang kardus tempat meletakkan uang sumbangan.

    “gue sadar bro, selama ini gue dah banyak merugikan orang lain, bahkan diri sendiri. Nggak ada salahnya kan kalau kita merubah semua itu”,jelas Gimas.

    “cabut yuuuk bro, biarin dia sini,”ajak bagas kepada frenky.
    Mereka tidak lagi memaksa Gimas untuk ikut dengan mereka, dan tidak juga menyalahkan atas perubahan sikap Gimas.. Gimas memandangi kepergian sahabatnya itu dengan tatapan penuh harap. Ia berharap suatu saat mereka dapat bekerjasama lagi. Bukan bekerjasama untuk keluar kelas dengan mengendap-endap, atau membuat keributan di sana sini sekedar mencati sensasi, tetapi bekerjasama untuk membangun masyarakat ini. Tri Darma perguruan tinggi tidak lagi menjadi goresan kata yangsejedar untuk di baca, tapi lebih dari itu. Realisasi dari kata-kata itulah yang ia ingan lakukan.

    “ada apa Gim, kok ngelamun?”tanya Radit.

    “hm,,nggak apa-apa kok,”kata Gimas seraya menyodorkan kardus kepada Radit.

    “ kita bagi tiga tim saja,”

    “kenapa harus tiga tim?”, Gimas memotong pembicaraan Radit

    “Karena kita menggalang dananya terdiri dari tiga tempat, di kampus, di pasar, dan ke rumah-rumah warga,” jelas Radit kemudian.

    “bagaimana kalau kita bekerja sama dengan organisasi-organisasi lain yang ada di kampus ini?” usul Gimas

    Maksud kamu BEM?”tanya Radit

    “tidak hanya BEM, Pramuka,dan Mapala, kita pun bisa bekerjasama dengan mereka.?”jelas radit kemudian.

    “ide bagus, kata Radit.

    Mereka pun berdiskusi sejenak. Selang beberapa saat mereka memulai aksi menggalang dana. Aksi ini pun mendapat perhatian dari pihak kampus. Tidak hanya mendapat dukungan moril, bantuan dalam bentuk materil pun di berikan oleh pihak kampus. Setelah mengumpulkan seluruh dana yang mereka dapatkan dari berbagai sumber, mereka pun sepakat untuk mengantarkan bantuan tersebut keesokan harinya.

    Hari itu, setelah mengumpulkan semua bantuan, Gimas, Radit, dan teman-teman meteka liannya pergi mengantarkan bantuan ke lokasi tempat terjadinya musibah tanah longsor tersebut. Gimas dan Bagas pun kaget ketika menyaksikan siapa yang sedabg membersihakan lumpur sisa dari tanah longsor tersebut.

    “Gimas, lihat itu, bukannya dia frenky,”tanya Radit seakan tak percaya dengan siapa orang yang tengah sibuk bekerja tepat di hadapannya tersebut.

    “Iya tuh, tapi kok bisa ya dia ada di sini?”,Gimas juga bingung.

    “lihat, disana juga ada Bagas,”kata Gimas kagi tatkala melihat bagas yang sibuk membersihkan jalan dengan cangkul yang berada di tangannya.

    “Bro, kok bengong, bantuin sini,” kata frenky yang melihat kedatangan Bagas dan teman-temannya.

    “Frenky,Bagas,”??

    “kenapa Bro,? Semua orang pasti bisa saja berubah bukan, kamu bisa, kenapa aku nggak?, ucap Frenky.

    “iya Bro, kita sadar kok, selama ini kita dah salah. Kita juga pengen lebih baik,”tambah Bagas dengan penuh kesungguhan.

    Tanpa berkata-kata lagi, Gimas dan teman-teman mereka pun langsung memberikan bantuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Setelah bantuan tersebut habis di bagikan,  Gimas dan Radit pun turut serta membantu Radit memperbaiki jalanan yang rusak akibat longsor. Tindakan Mereka pun diikuti oleh mahasiswa yang lain. Warga sekitar pun turut membantu. Mereka melakukan pekerjaan tersebut dengan penuh semangat, sehingga meskipun berat, pekerjaan itu terasa ringan. Benar kata pepatah, dengan senyuman hidup menjadi indah, apapun bisa di jalani dengan mudah.

    Semenjak peristiwa tanah longsor tersebut Gimas dan Radit pun semakin akrab. Bahkan Frenky dan Bagas pun mulai berubah. Mereka menjalin hubungan persahabatan yang harmonis satu sama lainnya. Tidak ada lagi ketidakseriusan mewarnai hari-hari mereka.

    Semula, frenky dan Bagas yang sangat cuek dengan masyarakat sekitar, berubah menjadi orang yang memiliki kepedulian yang tinggi. Seperti yang mereka lakukan di sore itu.

    “bro tau nggak, desa kita ini sekarang lagi krisis.”

    “krisis gimana?”tanya Bagas pada frenky.

    “masak nggak tahu seh, krisis moral dan krisi kepercayaan. Ujung-ujunhnya tawuran antar desa pun bakalan menunggu,” frenky mulai menjelaskan.

    “jangan biarkan tauran itu terjadi. Kita harus cari tahu akar permasalahannya dan segera di selesaikan..

    “setuju banget tuh,” ucap Gimas, Radit, dan Bagas serentak.

    Waktu terus bergulir, meninggalkan kenangan demi kenangan yang telah terukir di hari-hari empat sekawan tersebut. Masa lalu yang suram, yang pernah mereka alami merupakan pelajaran berharga sebagai pegangan agar tidak jatuh dalam kesalahan yang sama.

    Akhir semester ini pun telah di depan mata. Radit, Gimas, serta sahabat mereka yang lain pun sering berdiskusi kecil. Selain membahas mata kuliah, mereka juga membahas persoalan yang sedang terjadi di dalam masyarakat. Ketika ada suatu persoalan, mereka segera memikirkan bagaimana cara mengatasinya. Jika persoalan tersebut rumit, mereka tidak segan-segan meminta bantuan pada pihak-pihak yang memang memiliki wewenang persoalan tersebut.

    Mereka memang benar-benar mahasiswa yang patut untuk dibanggakan. Generasi penerus yang memiliki kepedulian terhadap masyarakatnya.Gimas kembali tersenyum. Di awali dengan sepotong kue Gimas membuat sebuah perubahan di dalam dirinya. Perubahan tersebut menjadi teladan bagi Bagas dan Frenky. Purnama di malam itu turut tersenyum menenami Gimas dalam kebahagiaannya. Gimas pun  tidur dengan diselimuti senyuman kebahagiaan.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Sepotong Kue yang Membawa Kesadaran” Karya Nora Yuliani (FAMili Payakumbuh) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top