• Info Terkini

    Thursday, January 31, 2013

    Ulasan Cerpen “Sunyi yang Manis Sekali” Karya Ridha Sriwahyuni (FAMili Padang)

    Cerpen “Sunyi yang Manis Sekali” bercerita tentang tokoh ‘aku’ yang memerhatikan sahabatnya Lorena, gadis yang ‘dingin’ dan sangat kesepian. Dia hidup dengan fasilitas lengkap dan mewah, tapi jauh dari kasih sayang orangtua yang super sibuk. Mereka tidak pernah memerhatikan perkembangan anak gadisnya yang berumur tujuh belas tahun. Hingga, ‘aku’ melihatnya pulang pada suatu malam dalam keadaan mabuk. Selesai liburan semester, semua berubah. Lorena berubah menjadi gadis yang hangat, menyapa ‘aku’ bahkan mengunjungi rumahnya untuk sekadar menanyakan PR Fisika. Lorena telah menemukan sunyi yang manis sekali, bangun di sepertiga malam untuk mengadu kepada Sang Pencipta. Menumpahkan segala keluh kesahnya dan merasa bahwa Allah sangat mencintainya dan ia tidak sendiri.

    Penulis menggambarkan sunyi yang manis sekali seperti cokelat yang di dalamnya terdapat kacang mete, atau es krim yang dihiasi irisan strawberry. Cokelat atau es krim yang dibiarkan lumer di mulut dan masih meninggalkan manis di lidah. Gambaran yang indah dan ‘lezat’, penyampaian pesan yang manis sekali untuk ritual tahajud. Cerpen yang mengandung pelajaran positif bahwa sejatinya kita tidak sendiri, akan tetapi ada Allah yang selalu dekat dan mendekap.

    Kelemahan cerpen ini ada pada penulisan yang tidak menggunakan paragraf. Penggunaan huruf kapital pada kata sapaan digunakan pada kalimat langsung. Penulis juga sebaiknya menceritakan bagaimana Lorena bisa menemukan ‘sunyi yang manis sekali’. Karena tidak diceritakan, kesannya menjadi tanda tanya mengapa Lorena tiba-tiba berubah drastis? Padahal belum lama ‘aku’ melihatnya pulang malam dalam keadaan mabuk. Lorena memang sejenak menghilang, namun ini waktu yang tepat penulis menceritakan sedikit penemuan Lorena terhadap’hidayah’ itu.

    Untuk penulis teruslah menulis dan mengasah pena agar semakin tajam. Ide yang bagus dapat diambil dari berbagai kejadian kehidupan yang ada di sekitar kita. Teruslah menggunakan bahasa yang indah dalam menggambarkan sesuatu disetiap tulisan. Tulislah cerpen dengan tuntas dan tidak menimbulkan tanda tanya, walau sebenarnya cerpen ini menarik. Perhatikan juga kaedah bahasa dan menulis sesuai EYD. Tetap semangat, tetap berkarya dan teruslah menulis.

    Salam santun, salam karya, salam semangat.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Sunyi yang Manis Sekali

    Oleh: Ridha Sriwahyuni (FAMili Padang)

    Di bilik kesunyian. Semua nada menguap pada gelap yang berbaring di langit. Dan kini yang tinggal hanyalah sepotong sunyi. Sunyi yang rasanya manis sekali. Bayangkan engkau sedang memakan sepotong kue basah yang pecah di lidah. Seperti itulah rasa manisnya. Atau semangkuk eskrim bercampur coklat dan irisan strawberry. Engkau memasukkannya ke mulutmu sesendok demi sesendok. Saat es krim itu kau telan, manisnya tinggal di lidah. Lantas tanganmu refleks hendak menyuapnya sekali lagi, lagi dan lagi.

    Namun, sunyi ini lebih manis daripada dua hal tersebut.

    Rasa manis itu berawal sejak ia merasa jenuh dengan keadaan rumahnya. Rumahnya cukup besar, berlantai dua. Kamarnya ada lima, dua di bawah dan tiga di atas. Semuanya memiliki  kamar mandi. Perabotan dan perkakas dapur pun lengkap. Rumahnya juga dilengkapi dengan taman dan kolam renang. Semua yang ia inginkan dari sebuah rumah telah terpenuhi di sana.

    Tapi, ternyata semua itu tidak menjamin hadirnya kebahagiaan. Maksudku, ketentraman yang lahir dari jiwa. Engkau mungkin tampak senang saat memiliki banyak uang, gadget yang canggih, mobil yang bagus dan pakaian yang mahal. Namun engkau tidak dapat membeli kedamaian dan ketentraman dalam hatimu. Ketentraman itulah yang melahirkan rasa bahagia dan rasa syukur. Kebahagiaan itu tidak ada hubungannya dengan seberapa banyak harta yang engkau miliki.

    Buktinya, ia tidak merasa bahagia dengan semua kemewahan yang dimilikinya. Berbeda dengan pak Joko, tetangga sebelah rumahku. Meskipun sehari-hari ia hanya bergelut dengan ayam-ayamnya yang berjumlah empat puluh ekor, ia sangat bahagia. Lantaran itu pula aku membenarkan ucapan orang bijak “Kebahagiaan itu mahal harganya”

    ***

    Dia adalah Lorena.

    Seorang gadis cantik tinggi semampai. Dia selalu up to date soal fashion. Sepertinya ia tidak akan berpikir panjang untuk merogoh kocek sampai sejuta demi mendapatkan sepasang sepatu. Gadgetnya, tablet paling canggih saat ini. Aku pernah mengintipnya sedang berinternet ria dengan tabletnya itu pada sore hari, di teras rumahnya.

    Aku sering melihatnya sendirian menatap langit dekat jendela kamarnya, pada malam hari. Dia gadis yang amat tertutup. Lantaran itu aku takut untuk mendekatinya. Bahkan ia jarang sekali kulihat tersenyum. Pernah suatu pagi aku berpapasan dengannya ketika hendak pergi sekolah. Dingin! Itulah kesan yang dapat kutangkap darinya. Akupun mengubur dalam-dalam harapan ia akan menawarkanku naik Honda CR-Z nya, sebuah mobil sport yang ramah lingkungan, dan pergi ke sekolah bersama sambil bercerita tentang tugas-tugas sekolah yang semakin hari semakin membebani.

    Sepertinya Lorena tidak menyukaiku, pikirku saat itu.

    ***

    Nah, kini juga kukatakan bahwa kekayaan dan kemewahan belum tentu memiliki korelasi positif dengan kehangatan dalam sebuah keluarga. Lorena adalah anak tunggal dari orang tua yang kedua-duanya super sibuk. Pagi-pagi sekali, Mamanya sudah berangkat kerja dengan sedan mewahnya. Beberapa menit kemudian Papanya menyusul dengan sedan yang berbeda. Kadang Papanya yang berangkat lebih dahulu. Lalu sekitar jam tujuh barulah Lorena keluar dengan mengenakan seragam putih abu-abu. Berjalan cepat memasuki mobilnya. Lalu meluncur ke sekolah.

    Papa dan Mama Lorena sering pulang larut malam. Bahkan pernah tak pulang. Alasannya, banyak kerjaan di kantor. Atau ada tugas kerja di luar kota. Kejadian itu telah menjadi makanan sehari-hari bagi Lorena. Karena itu, ia tidak peduli lagi apakah Papa dan Mamanya pulang cepat, pulang larut atau tak pulang-pulang.

    Ia telah terbiasa hidup sendiri.

    Meskipun Papa dan Mamanya telah tiba di rumah, Lorena merasakan kehadiran mereka tidak ada artinya. Jangan berharap mereka akan menanyakan, siapa lelaki yang sekarang sedang mengincarnya, lalu dengan senang hati Lorena bercerita kepada Mama bahwa kemarin sang ketua OSIS titip salam padanya. Tapi Lorena cepat-cepat melupakan keinginan tersebut. Mama sibuk, Papa apalagi. Bahkan untuk menanyakan dia sudah makan atau belum pun mereka tidak sempat.

    Mama dan Papa Lorena terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Atau, mereka menganggap Lorena telah cukup dewasa untuk mengurusi dirinya sendiri, termasuk untuk memanajemen seluruh perkembangan psikologis dan gejolak emosinya.

    Namun, mereka salah.

    Lorena kesepian. Ia masih gadis tujuh belas tahun yang merindukan kehangatan cinta dari orang tuanya. Ia sangat membutuhkan sosok orang tua yang peduli dan perhatian padanya. Ia butuh sosok ibu yang mau mendengarkan curahan hati dan keluhannya, terutama tentang perkembangannya sebagai wanita. Ia juga butuh sosok ayah yang dapat menguatkan hatinya, mengajarkannya ketegaran dan impian-impian yang tinggi.

    Lorena tidak mendapatkan semua itu. Ia merasa hidup sebatang kara. Bahkan lebih menyedihkan daripada anak yatim piatu yang tinggal di panti. Meskipun mereka tidak memiliki kemewahan, mereka memiliki banyak teman yang menyayanginya dengan tulus.

    ***

    Malam itu, sekitar jam satu, aku mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah Lorena. Dari bunyinya aku bisa menebak kalau itu adalah mobil Lorena. Aku bertanya-tanya, dari mana gadis itu hingga pulang selarut ini. Sungguh, aku ingin menanyakannya. Namun kurasa saat itu bukanlah waktu yang tepat.

    Aku mengintipnya dari jendela kamarku.

    Ia berjalan sedikit terhuyung. Aku tidak berburuk sangka, namun aku yakin sekali malam itu Lorena sedang mabuk. Aku membathin sedih. Betapa aku ingin mendekatinya dan meyakinkannya bahwa ia tidak sendiri, bahwa aku bersedia menjadi sahabatnya dalam suka maupun duka. Aku berharap semoga itu adalah kekhilafannya yang pertama dan terakhir.

    ***

    Saat liburan semester kenaikan kelas, aku tidak melihat Lorena di rumahnya. Mungkin ia sedang liburan ke Bali atau ke Singapura. Bukan merupakan hal yang aneh bagi orang kaya sepertinya pergi liburan kemana saja ia suka.

    Itu menurutku, mungkin Lorena sedang liburan ke Bali atau ke luar negeri. Tentang kemana sebenarnya ia pergi, aku tidak tahu. Dia tidak pernah memberi tahuku.

    Dan sepertinya dugaanku itu salah. Ketika tahun ajaran baru, saat kami sama-sama telah duduk di kelas tiga, aku melihat sebuah perubahan pada Lorena. Ia tersenyum padaku untuk pertama kali. Garis bibirnya terlihat indah dengan lesung pipi yang muncul di kedua sudutnya. Aku melihatnya seperti peri yang baik hati. Kenapa tidak dari dulu ia tersenyum padaku?

    Esoknya ia datang ke rumahku. Ini juga untuk pertama kalinya. Aku menyambutnya dengan hangat dan mempersilahkannya masuk ke dalam rumahku yang jauh lebih sederhana dari pada rumahnya. Kutanyakan padanya, ada apa, tumben engkau kesini. Dan ia menjawab, aku ingin menanyakan tentang PR Fisika yang kemarin diberikan Pak Sukri, apakah engkau mengerti?

    Aku pun tertawa, dan berkata padanya, aku sangat membenci Fisika. Itulah pelajaran yang paling membuatku stress. Lorena tertawa lepas mendengar ucapanku. Matanya sampai berair karena tertawa. Sungguh, itupun adalah pertama kalinya aku melihatnya tertawa seperti itu.

    Sejak itu, Lorena tak lagi dingin. Ia telah mencair, bahkan sangat hangat. Ternyata ia gadis yang sangat menyenangkan.

    ***

    Pernahkah engkau merasakan sunyi yang sangat manis? Rasanya lebih manis dibandingkan saat engkau memakan coklat yang di dalamnya terdapat kacang mete. Coklat itu mencair di lidah dan manisnya lengket di sana.

    Itulah pertama kalinya Lorena bercerita padaku, bahwa ia menemukan sunyi yang sangat manis tadi malam.

    Dengan wajah yang memperlihatkan rasa penasaran, aku bertanya padanya, seperti apa sunyi yang sangat manis itu.

    Ia menjawab, saat engkau bangun di sepetiga malam lalu mengambil air wudhu dan menggelar sajadah. Setelah itu engkau mencurahkan seluruh isi hatimu kepada Allah. Engkau menangis sepuasnya, dan tak kan ada yang marah, tak ada yang protes, tak ada yang menertawakanmu. Lalu dalam doamu, engkau memohon agar Tuhan mengembalikan Papa dan Mamamu, mengembalikan mereka ke sampingmu, bahkan untuk sekedar pergi bersama di hari Minggu. Engkau juga menangis, mengadu, bahwa engkau teramat rindu pada pelukan Mama, engkau sangat rindu pada dekapan Papa. Engkau sangat rindu semuanya.

    Itulah sunyi yang teramat manis. Engkau berkencan dengan Yang Maha Kuasa. Segala penderitaanmu engkau adukan pada-Nya, termasuk pahitnya tinggal sendirian di sebuah rumah yang besar.

    Setelah itu engkau akan merasakan hatimu sangat tenang, sangat bahagia. Hatimu begitu damai dan tentram, apalagi setelah semua kegelisahan itu tumpah dalam bentuk air mata.

    Ketenangan itu sangat indah. Engkau akan merasakan tangan Tuhan memelukmu dengan sangat lembut.

    Di malam saat semuanya terbaring lelap dan suara menguap ke langit membekaskan sunyi, itulah sunyi yang paling manis.

    Engkau boleh membuktikannya kalau engkau tidak percaya.

    Begitu katanya padaku.

    Aku tahu selama ini dia selalu kesepian di rumah yang besar itu. Namun sekarang aku bersyukur karena ia telah menemukan tempat yang tepat untuk mencurahkan segala kegalauannya.

    Dia paham, bahwa dia tak pernah sendiri di dunia ini. Meskipun Papa dan Mamanya selalu sibuk,dia percaya Allah selalu ada untuknya.

    Begitulah, ia bercerita tentang sunyi yang manis sekali. Ia juga mengatakan padaku bahwa dia akan rajin bangun malam untuk merasakan kebahagiaan dan ketentraman dalam balutan sunyi yang paling manis. (*)

    [www.famindonesia.com]

    Gambar sekadar ilustrasi dan bersumber dari google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Sunyi yang Manis Sekali” Karya Ridha Sriwahyuni (FAMili Padang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top