• Info Terkini

    Wednesday, January 23, 2013

    Ulasan Puisi “Ceritaku Semalam” Karya Elvi Murdanis (FAMili Deli Serdang)

    Ada banyak yang kita baca
    juga rasa
    ketika bening nurani hati harus bicara


    Begitulah sebenar jujur hati harus bicara saat melihat dan menjadi penyaksi dari apa yang kita temukan dalam realitas kehidupan sehari-hari. Warna kehidupan memang tidak selalu sama, keberuntungan dan guliran roda kehidupan selalu berbeda, tapi begitulah sebuah kebersamaan dalam panggung dunia ini terlakoni. Tidak ada yang sempurna, tidak pernah ada yang merasa terlengkapi dengan kesendiriannya.

    Sedikit renungan begitu saja muncul bila kita menyelami puisi ini. Tidak akan terasa mungkin suasana yang digambarkan dalam puisi ini bila kita tidak membacanya dengan “mata hati”. Ya, sebuah puisi juga adalah sebuah peristiwa di dalamnya. Mungkin jelas, samar, atau tersembunyi.

    Namun kedalaman dan kekuatan puisi ternyata mampu menghantarkan pembacanya merasakan pesan yang ada di dalamnya.

    Semalam lentera itu kuletakkan di sudut peron
    Agar anak yang meringkuk disana
    tak tenggelam dalam kelam
    Kuberi sedikit kehangatan agar ia tak menggigil kedinginan
    Kubagi separuh bekalku agar ia kenyang
    Kubagi selapis selimutku agar ia terlelap tenang


    Sebuah penggambaran suasana yang dialami penulis dalam sebuah rasa simpati dan kepedulian yang cukup tinggi. Kita akan terbayang seorang anak gelandangan yang terlunta-lunta menyisiri jalan, tanpa rumah persinggahan, tanpa dekap kehangatan dan kepastian rezeki yang harus dimakan.

    Sepertinya sebuah kondisi yang cukup parah dialami oleh anak/seseorang itu tanda ada daya untuk melawan dan bertahan. Sebuah kenyataan yang banyak kita saksikan dalam kehidupan. Adakah kepedulian kita atas nama sesama manusia? Penulis termasuk orang yang tidak mengabaikan rasa kemanusiaan itu, tergambar dengan usaha yang dia berikan membantu dan mencoba menyelamatkan.

    Puisi ini berhasil menyentuh kita sekaligus menghantarkan kita dengan suasana yang miris.

    Ini terbaca di akhir bait dengan diksi-diksi yang cukup bagus. Hanya ada kesalahan dalam penulisan, “disana” seharusnya dipisah menjadi “di sana.”

    Tuhan
    izinkan aku membuatnya berarti walau sesaat
    Lantas, kemana perginya ia sekarang?
    Ia sudah dikuburkan tadi pagi,
    bisik angin sedih di telingaku


    Sepertinya ketika pagi yang dibuka, penulis mencoba melihat kembali situasi anak yang ditolongnya semalam. Namun tak ditemui, dan terdengar kabar bila ia telah pergi menuju tempat yang abadi.

    Puisi yang menyentuh dan bagus. Ditunggu karya selanjutnya.

    Salam santun, salam karya!

    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Ceritaku Semalam


    Oleh: Elvis Murdanis

    Semalam lentera itu kuletakkan di sudut peron
    Agar anak yang meringkuk disana
    tak tenggelam dalam kelam
    Kuberi sedikit kehangatan agar ia tak menggigil kedinginan
    Kubagi separuh bekalku agar ia kenyang
    Kubagi selapis selimutku agar ia terlelap tenang

    Tuhan
    izinkan aku membuatnya berarti walau sesaat
    Lantas, kemana perginya ia sekarang?
    Ia sudah dikuburkan tadi pagi,
    bisik angin sedih di telingaku

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Ceritaku Semalam” Karya Elvi Murdanis (FAMili Deli Serdang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top