• Info Terkini

    Saturday, January 19, 2013

    Ulasan Puisi “Tunggu Aku Teman (Diary Seumileuk Expedition)” Karya Maulidin Akbar (FAMili Sigli Aceh)

    Dan pada alam adalah puisi saat kau salami
    kejujuran dan ketabahan  perguliran  musim
    Keseimbangan pada nafas menapak kaki
    berdiri, membagi, seperti rindang pohon bumi
    Dan kita teranugerah selalu, tak berpaling


    Begitu sebait kata yang kami ungkap sebagai refleksi membaca puisi ini. Suasana alam, petualangan dalam sebuah ekspedisi, kesetiaan, dan ketabahan memang satu yang diuji.

    Banyak memang orang mampu menulis beratus puisi saat asmara merangkup dada, saat cinta menghias hari-hari terlalui, tapi orang yang mampu menulis puisi saat menyatu dengan alam adalah satu yang patut dipuji.

    Sebab alam adalah anugerah Tuhan yang diperuntukkan bagi umat manusia di muka bumi, keseimbangan, kelestarian patut dijaga demi kelangsungan hidup dan generasi mendatang.

    Padang sempit menepi langkahku
    Mengarungi alam dalam semak belukar
    Menuntun dalam dekapan tali derasnya sungai
    Tunggu
    Tunggu aku teman


    Membaca bait puisi di atas, kita seolah dibawa dalam sebuah petualangan arung jeram menyusuri sungai dalam sebuah hutan yang masih perawan, saat menyelami lima baris pertama puisi ini. Isi puisi cukup kuat dan penyair pandai merangkai diksi untuk menggambarkan suasana seperti ini.

    Kesetiakawanan sepertinya turut mewarnai di sini untuk dapat terus bertahan dalam petualangan ini. Ya, tantangan yang dihadapi adalah sebuah ujian untuk mencapai sebuah arti dan kepuasan hati.

    Alam juga adalah puisi, dan puisi adalah alam yang menurani. Ada beberapa isyarat alam yang ditemui dalam puisi ini seperti “semak belukar, sungai, tanah, angin, dan  bukit” dalam majas-majas harfiah, penyair mencoba hadir di sana, menyatu dan melukiskan  keadaan yang mungkin sebenarnya dialami.

    Mungkin akan lebih dalam bila saja penyair mampu menyatu dengan alam itu dengan majas-majas yang lain. Seperti metafora, hiperbola, dan lain sebagainya.

    Yang jelas penulis cukup mampu membawa kita pada pengalaman yang pernah dialaminya dan kesetiakawanan yang patut diteladani.

    Berbagai tantangan dicoba lalui bersama teman seperjuangan hingga sebuah tujuan tercapai dengan kelegaan hati. Ini kita baca di baris terakhir puisi ini.

    Teman
    Hingga akhirnya lampu itu hadir
    Dalam senyum kubergumam
    Kita telah sampai teman


    Mungkin akan semakin mantap bila peristiwa yang berkesan itu makin sering dituangkan dalam bait-bait puisi ditambah dengan bumbu-bumbu imajinasi.

    Kita tunggu puisi penyair ini yang lainnya. Terus berkarya.

    Salam santun,

    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Tunggu Aku Teman (Diary Seumileuk Expedition)


    Padang sempit menepi langkahku
    Mengarungi alam dalam semak belukar
    Menuntun dalam dekapan tali derasnya sungai
    Tunggu
    Tunggu aku teman
    Tak sanggup ku tuk melangkah
    Berat langkah menginjak tanah
    Hanya padamu kumeminta
    Tahukah teman
    Dalam malam kuberjalan
    Melewati hening dan dinginnya angin
    Derasnya sungai tetap kulewati
    Tingginya bukit tetap kudaki
    Tetap kulangkahi
    Itu karenamu
    Teman
    Hingga akhirnya lampu itu hadir
    Dalam senyum kubergumam
    Kita telah sampai teman

    Seumileuk 20 Februari 2012
    Maulidin Akbar
    Mahasiswa FIA UNIGHA
    FAMili Sigli, Aceh.

    [Gambar sekadar ilustrasi, sumber Google.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Tunggu Aku Teman (Diary Seumileuk Expedition)” Karya Maulidin Akbar (FAMili Sigli Aceh) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top