• Info Terkini

    Thursday, January 24, 2013

    Ya Rasulullah, Kami Juga Mencintaimu

    Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

    "Bolehkah saya masuk?" tanyanya.

    Tapi Fatimah, putri Rasulullah SAW tidak mengizinkannya masuk. "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

    Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"

    "Saya tak tahu ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

    Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang.

    "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah.

    Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai.

    Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

    "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

    "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,"kata jibril.

    Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

    "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.

    "Wahai Jibril, kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

    "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril.

    Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh. Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

    "Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.

    "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu, Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

    "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal...," kata Jibril.

    Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bisshalati, wa maa malakat aimanukum, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."

    Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

    "Ummatii..., ummatii..., ummatiii... (Umatku..., umatku..., umatku...)?"

    Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun...

    FAMili, sungguh, betapa cintanya Rasulullah Muhammad SAW kepada kita umatnya. Menjelang ajal pun beliau masih mengingat kita, umatnya. Sungguh, makhluk suci yang luar biasa kecintaannya kepada umat. Adakah kita juga mencintainya?

    Hari ini, 24 Januari 2013 – 12 Rabiul Awal 1434 Hijriah, Umat Islam se Dunia memperingati Hari Lahir (Maulid) beliau. Marilah kita kirimkan shalawat dan salam kepada junjungan kita tercinta Nabi Muhammad SAW, semoga kelak di Yaumil Akhir kita mendapat naungan di bawah naungan beliau. Allahumma shalli 'ala Muhammad wa Alaa aali Muhammad.

    Atas Nama,
    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    Sumber kisah Nabi dari berbagai sumber. Sumber gambar Google.com.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ya Rasulullah, Kami Juga Mencintaimu Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top