• Info Terkini

    Monday, February 4, 2013

    50 Penyair Muda Meneropong Realitas Indonesia

    Judul Buku: Kejora yang Setia Berpijar
    Penulis: 50 Penyair Muda Indonesia
    Penerbit: FAM Publishing
    Tebal: 280 halaman
    Cetakan: I, Januari 2013
    ISBN: 978-602-17404-0-8


    Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno (alm) dalam sebuah pidatonya pernah mengatakan, “Berikanlah kepada saya seribu orang tua, maka saya akan memindahkan Gunung Simeru dari akarnya; tapi berikan kepada saya 10 pemuda yang berbakti kepada Tanah Air, maka saya akan mengguncang dunia”. Inilah ungkapan puji dan puja bagi semangat juang para pemuda dan pemudi di masanya. Soekarno menggunakan ungkapan ini untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air para pemuda-pemudi untuk bangkit melawan penjajah. Kemerdekan menjadi tujuan mutlak yang tak bisa ditawar.

    Ungkapan Soekarno ini sangat kontekstual pada masa itu. Namun, bagi kaum muda masa kini, apa implikasi dari ungkapan itu? Sebagai kaum muda yang melek sejarah, sudah sepantasnya ungkapan itu menyisir hati dan jiwa kita untuk melihat laku mana yang harus kita wujudkan dalam keseharian kita. Sekecil apapun itu, pasti memberi efek yang sangat besar di kemudian hari. Sudahkah kaum muda masa kini memikirkan hal ini?

    Pada zaman yang dihiasi hiruk pikuk dan “budaya bunglon” (suka berubah sesuai tuntutan zaman) ini, beberapa kaum muda secara eksplisit ingin mengatualisasikan sari dari pesan Soekarno. Dengan polos, lugu, dan niat suci mereka mengambil jarak dengan realitas, lalu meneropongnya dalam-dalam. Hasil peneropongan mereka itu dituangkan dalam puisi-puisi yang syarat makna.

    Mereka bukan penyair ternama yang telah mencatatkan namanya di ranah kesusasteraan Indonesia. Mereka bukan politisi yang membicarakan penderitaan rakyat sekaligus mengeruk uang rakyat untuk pesta pora dan biaya kehidupan partai. Mereka hanyalah insan yang lahir ke dunia untuk membawa perubahan-perubahan demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik.

    Dalam buku “Kejora yang Setia Berpijar”, ke-50 penyair muda tampil dengan satu fokus sorotan mata pada makna “Pahlawan di Mataku”. Sembari mengusung semangat warisan Soekarno, mereka memberi warna kepada sejarah Indonesia masa kini. Bagi ke-50 penyair ini, seorang Pahlawan bukan hanya mereka yang mengacungkan bambu runcing di masa Soekarno, bukan juga mereka (menteri) yang berhasil menjalankan amanah Presiden dalam Reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu I & II, tapi termasuk pula tukang sapu jalan.

    Jasa para petani yang menyuplai beras bagi kehidupan penduduk Indonesia dan dunia, mendapat porsi perhatian yang sangat besar dalam perspektif para penyair muda ini. //di sisi tebing.// kedua kaki keriput, kedua tangan lemah bertarung dengan ilalang lebat//tulang yang tak kuat bergetar berpegangan pada akar belukar// (Karya Novita Suchi). Atau, //rembulan ini masih sama//purnama ini masih sama//seperti duapuluh tahun lalu//saat pacul tuaku membelah tanah ini//peluh mencair di bidang-bidang pematang// (Karya Steve Agusta). Atau //benih-benih padi terhampar di sawah//sosok pak tua menggarap tanah//peluhnya beradu dengan pasrah//menatap sang surya yang enggan mengalah// (Karya Melati Pertiwi Puteri).

    Selain itu, masih ada sejuta pandang dari sisi lain yang mengangkat jasa orang-orang yang selama ini kita anggap biasa saja. Para guru, ibu rumah tangga, sahabat adalah objek yang disasar ke-50 penyair ini. Mereka menghadirkan perspektif baru. Dengan rangkaian kata, mereka berusaha menerjemahkan seruan Soekarono tadi dalam buku “Kejora yang Setia Berpijar” yang sarat makna ini.

    Mata dan hati tak akan lelah berdecak kagum pada tarian pena para penyair muda ini. Mereka, dengan segala kemampuan yang dimiliki, menyematkan semangat saling menghargai, apapun profesi yang kita miliki. Lebih dari itu semua, mereka telah mengabadikan setiap momen penglihatan mereka akan realitas yang ada di sekitar mereka. Mata pembaca dijamin tak akan lelah untuk menyisir halaman demi halaman dari “Kejora yang Setia Berpijar”, terbitan FAM Publishing ini. Selamat memasuki pertapaan penuh makna dalam tuntunan ke-50 penyair muda, harapan masa depan Indonesia.

    STEVE AGUSTA
    Jakarta

    [Info pemesanan dan penerbitan buku di FAM Publishing hubungi Call Centre 0812 5982 1511, atau via email forumaktifmenulis@yahoo.com, dan kunjungi web di www.famindonesia.com].
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: 50 Penyair Muda Meneropong Realitas Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top