• Info Terkini

    Thursday, February 7, 2013

    Air Mata Emak Menumbuhkan Semangat Baruku



    Kemarin, di antara penatnya kesibukan di kampus yang kebetulan hari itu sedang berlangsung UAS, aku dikagetkan dengan datangnya pesan yang masuk di handphone jadulku. Sesaat ketika aku keluar dari ruangan aku mencoba membukanya. Rupanya pesan itu dari tetehku—panggilan untuk kakak perempuan—di rumah.

    “De, bukunya udah dateng nih. Baru aja sehabis zuhur tadi...”

    “Buku apa?” tanyaku bingung, maklum karena ada beberapa pesanan buku yang sedang aku nantikan.

    “Buku Kejora yang Setia Berpijar itu. Aku buka yah!” pintanya. Aku kaget bukan main. Setelah penantian yang cukup lama akhirnya datang juga. Aku bingung harus menjawab seperti apa karena memang aku ingin menjadi orang pertama yang membacanya.

    “Dih, nanti aja sih, Ade dulu. Tunggu pulang dari kampus!” aku menolak.

    “Udah sih, nanti juga bakalan dibuka kan. Penasaran nih mau baca.” Dia memaksa. Sudahlah aku pikir, bukankah memang itu yang diharapkan setiap penulis? Karyanya dibaca orang lain. Aku teringat dengan ucapan Bunda Aliya yang aku simpulkan seperti ini, “bahwa akan merasa sangat menyedihkan bila suatu hasil karya tulis tidak ada yang mau membaca bahkan menjamahnya. Tak masalah jika kritikan yang masuk, kita harus berbesar hati, karena dengan adanya itu kita tahu bagus atau tidaknya suatu karya.”

    Akhirnya aku membolehkan tetehku untuk membukanya. Pukul tiga sore aku selesai dengan segala aktivitas di kampus. Aku bergegas untuk segera pulang dan membaca semua hasil karya penulis yang ada di dalam buku ‘Kejora yang Setia Berpijar’ itu. Setibanya aku di rumah, sambutan hangat menyapa keletihanku. Emak—panggilanku kepada Ibu—tersenyum begitu indah menatapku. Wah hati ini begitu sangat senang dibuatnya. Setelah aku mengucap salam, saat aku cium tangannya, Ibu berkata:

    “Emak bangga sama kamu, De. Benar-benar gak disangka. Kamu selalu memberi kejutan,” senyum Emak yang terus melingkar. Aku memang selalu mendapatkan sesuatu melalui pos dan tidak pernah menceritakannya sebelum semua ada di tanganku. Entah itu paket buku, kaos, makanan ringan, topi, dll dan semua itu selalu aau dapatkan dengan percuma. Maksudnya karena menang dalam mengikuti kompetisi yang ada di fesbuk. Dan yang benar-benar istimewa ada pada kiriman kali ini. Karena di dalamnya memuat hasil karya tulisku. Dan ini perdana. Emak berkata terharu saat membaca biodataku. Karena di sana tertera namanya dan nama bapak.

    “De, belum sempat Emak baca sampai tuntas, Emak menangis. Terharu karena ulahmu. Emak bangga punya anak sepertimu,” ucapnya pelan dengan mata yang berkaca-kaca.

    “Nanti kalau kamu sudah jadi penulis terkenal, berangkatkan Emak haji yah!” Emak yang mulai berandai-andai. Aku hanya menjawab dengan senyum dan mengaminkan doanya. “Memang itu yang ingin aku lakukan Mak...” ucapku dalam hati, dan sungguh aku serasa terpukul saat mendengar ucapan Emak itu. Aku berjanji permintaan Emak itu akan secepatnya aku wujudkan, Insya Allah.

    Namun, layaknya Ibu-ibu pada umumnya, Emak langsung menceritakan kepada saudara dan bibiku yang memang sedang ada di rumah. Mereka segera disuruhnya untuk membaca puisiku yang hanya sedikit itu.

    “Kamunya dapet dari mana De puisi ini?” tanya Bibiku dengan sangat polosnya.

    “Dari mana? Atuh dapet nulis sendiri geh. Masa nulis punya orang, bisa-bisa kena denda dan hukuman undang-undang yang ada di buku itu.” Aku tertawa geli.

    “Gak tahu, sejak kapan dia bisa menulis puisi seperti itu. Memang gak pernah cerita Ade mah orangnya. Tahu-tahu ada saja hasilnya,” sahut Ibuku. “Tidak seperti kakak-kakaknya, yang pada gak suka bikin kejutan,” sambung Ibuku. Teteh yang ada di sampingku memasang paras yang cemberut.

    “Weh Mak, jangan salah, justru teteh inilah jurinya, sebelum semua karya aku ikut sertakan dalam setiap ajang lomba.” Aku mencoba membangkitkan semangatnya.

    “Iya dong, weh saya juga ikut andil berarti...” Dia mulai membanggakan dirinya disertai senyum kecutnya. Aku memang pribadi yang dikenal sangat tidak terlalu suka membaca bahkan menulis. Ibuku tahu aku suka menggambar dan menyanyi tidak jelas, itu yang sering didendangkan dalam bibirnya. Namun dengan karya tulis pertamaku yang dibukukan ini, setidaknya tujuanku sedikit terwujud. Aku memang ingin melihat Ibu tersenyum bangga karena tingkah lakuku. Bahkan hingga meneteskan bulir air mata harunya. Dan itu akan aku jadikan sebagai semangat baru yang akan aku tanamkan dalam diri sebagai sebuah motivasi. Aku tidak ingin ada air mata karena tingkah ‘nakal’ku. Sudah saatnya aku membuat mereka bangga.

    Alhamdulillah aku haturkan. Dan untukmu FAM terima kasih atas ‘bantuan’mu sejauh ini. Mungkin tanpa aku menemukanmu takkan ada air mata bahagia itu. Dan FAMili semua terima kasih aku sampaikan. Aku bangga dapat disandingkan dengan karya-karya terhebat kalian. Semoga kita dapat segera berjumpa. Buku ini aku persembahkan untuk Emak, Bapak, Kakak, dan semua keluarga terkasihku.

    Sudah dulu yah, aku ingin melanjutkan membaca buku ini lagi. Karena belum semuanya aku hayati dan resapi he-he-he.

    Salam santun, salam karya.

    ADE UBAIDIL
    FAM1198M,Cilegon-Banten
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Air Mata Emak Menumbuhkan Semangat Baruku Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top