• Info Terkini

    Monday, February 11, 2013

    Resep Menulis Ala FAM Indonesia

    FAMili. Bagi seorang koki hebat, tentu dia mempunya resep yang hebat pula. Nah, bagi seorang penulis yang hebat, tentu dia punya kiat-kiat yang membuat tulisannya menjadi hebat. Tentu sebelum itu, semangatnya harus betul-betul hebat juga. Agar semuanya serba hebat, mari kita “kunyah-kunyah lagi “Resep Menulis Ala FAM Indonesia" berikut ini:

    Resep #1:

    Bagi pemula, tulislah apa saja: cerpen, puisi, novel, artikel, resensi, dll. Dalam proses menulis, jangan perhatikan tanda baca. Menulis saja terus hingga titik paling akhir. Sesudah tulisan Anda selesai, lakukan editing sebaik mungkin.

    Resep #2:

    Arsipkan tulisan Anda. Buat file di komputer, misal “Naskah Belum Selesai” dan “Naskah Sudah Selesai”. Ketika menulis lalu tiba-tiba tulisan itu mandeg di tengah jalan, tidak tahu apalagi yang harus ditulis, jangan buang naskah itu. Simpan di file “Naskah Belum Selesai”. Buat tulisan baru. Mandeg lagi, simpan juga di file “Naskah Belum Selesai”. Begitu seterusnya. Suatu hari nanti, ketika pikiran sudah tenang, silakan membaca lagi naskah-naskah yang belum selesai tadi, dan pasti akan mengalir lanjutan tulisannya. Silakan mencoba.

    Resep #3:

    Ide itu bertebaran di mana-mana. Ia berkelebatan setiap saat. Bagaimana agar ide itu tidak hilang begitu saja? Tangkap dia! Caranya, setiap kali ide datang, tuliskan ide itu ke dalam buku catatan. Bila malas membawa buku catatan ke mana pergi, gunakan handphone, ketik dalam bentuk sms saja, lalu simpan. Setiba di rumah, “kunyah-kunyah” ide itu, lalu kembangkan menjadi tulisan. Mana tahu, ide yang menurut Anda biasa, ketika ia telah menjadi tulisan akan menjadi karya luar biasa.

    Resep #4:

    Tidak semua orang punya selera yang sama ketika mencicipi sebuah hidangan makanan. Begitu pun dalam menulis, masing-masing penulis punya “selera” sendiri ketika menulis suatu tulisan. Maka, jadilah diri Anda sendiri. Jangan jadi orang lain. Tulislah apa yang Anda suka. Takut dikatakan tidak bagus atau tidak bermutu? Jangan pusingkan soal bagus-tidaknya, atau soal bermutu-tidaknya. Tugas pertama Anda adalah menulis, dan terus menulis. Sebab, bagaimana mau bicara mutu bila karya itu tidak pernah dituliskan?

    Resep #5:

    Fokus dan seriuslah. Di awal menulis, Anda boleh menulis tentang apa saja (puisi, cerpen, novel, kolom, dll). Tetapi kelak, ketika Anda telah menemukan gaya Anda sendiri, serta telah mendapatkan keasyikan menulis genre tertentu, maka fokuslah pada salah satu tulisan itu. Sejak kecil, Penyair Taufiq Ismail fokus menulis puisi hingga di usia senja. Lewat puisi ia berkeliling dunia, dan menjadi sastrawan besar Indonesia. Padahal, latar akademis beliau seorang dokter hewan. Mengamalkan dua kata ini—fokus dan serius—Anda akan sukses menjadi penulis hebat.

    Resep #6:

    Editing itu penting. FAM Indonesia menemukan banyak sekali karya anggota yang diposting ke dinding group FAM tanpa editing. Padahal dari segi isi tulisan itu bagus. Penulis terkesan terburu-buru menerbitkan tulisannya. Berkarya jangan instan. Bersungguh-sungguhlah.

    Resep #7:


    Biasakan menulis sehari minimal 1 lembar tulisan (cerpen, puisi, novel, esail, dll). Jadikan kebutuhan sepertinya makan dan minum. Bila itu dapat dilakukan, sekurang-kurangnya 1 tahun Anda akan memiliki 1-2 naskah buku. Hitung-hitungannya begini: 1 hari = 1 lembar tulisan. 1 minggu 7 hari = 7 lembar tulisan. 1 bulan 30 hari = 30 lembar tulisan. 1 tahun 365 hari = 365 lembar tulisan = 1 naskah buku tebal. Silakan dibuktikan sendiri.

    Resep #8:

    Perhatikan kerapian naskah karyamu. Sebagus apa pun karya Anda tetapi bila pengetikannya asal-asalan, jangan harap akan dapat ‘mencuri hati’ redaktur media massa atau penerbit. Bisa-bisa naskah Anda akan masuk ke tong sampah atau di delete dari peredaran. Agar naskah Anda rapi, ketik menggunakan komputer, ukuran kertas A4, jenis huruf Times New Roman, ukuran huruf 12, spasi berjarak 1½, margin kiri 4, margin atas 3, margin kanan 3, margin bawah 3. Bubuhkan nomor halaman. Di bawah judul tulisan bubuhkan nama penulis, dan di akhir tulisan sertakan biodata penulis.

    Resep #9:

    Amalkan rumus ini: ABG. A (Aktif), B (Baca), G (Gaul). Seorang calon penulis hebat ia harus seorang ABG. Ia AKTIF bertanya, memerhatikan, mengamati, merefleksi terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Dia juga banyak BACA buku, koran, majalah, info-info berguna di internet, bahkan tulisan-tulisan di baliho/reklame di jalanan sekalipun tak luput dari bacaannya. Yang terpenting, dia juga seorang yang GAUL dengan cara mengikuti dan menghadiri peristiwa-peristiwa seni, sastra, pementasan teater, diskusi, peluncuran buku, dan lain-lain. Jangan jadi penulis yang kuper, atau cuek-bebek!

    Resep #10:

    Jadikan menulis sebagai investasi masa depan bisnis Anda. Awalnya mungkin ia tidak menghasilkan apa-apa secara materi. Tetapi kelak, ketika tulisan-tulisan Anda telah banyak, telah mampu dipilah dan dipilih mana tulisan yang berkualitas lalu menjadi buku, terbit, dan beredar luas, menempati posisi mega best seller bahkan international best seller, Anda tinggal memetik hasilnya. Uang akan mengalir deras mengisi pundi-pundi kekayaan Anda. Pengarang-pengarang sukses dunia, hari ini, telah membuktikan dahsyatnya hasil investasi mereka lewat karya tulis.

    Resep #11:

    Menulis karya sastra bukan semata tugas anak sastra yang kuliah di Fakultas Sastra. Siapa pun boleh menulis karya sastra (cerpen, puisi, novel). Anda tidak perlu minder menulis karya sastra walau latar belakang pendidikan Anda bukan lulusan sarjana sastra. Santai saja. Asalkan Anda segera menulis lalu karya itu terbit, maka kelak pantaslah Anda disebut sebagai seorang sastrawan. Jadi, segeralah menulis.

    Resep #12:

    Catatlah setiap kalimat yang penting dalam buku yang dibaca. Tulis tangan dengan rapi—bila diketik juga penuh kerapian. Jaga jarak alineanya, jangan berserakan, rapat-renggangnya apik. Ketika menulis kembali kutipan-kutipan itu untuk memperkaya tulisan Anda, jangan lupa disebutkan sumber di mana kutipan itu diambil. Jadilah penulis yang jujur. Jangan jadi plagiator.

    Resep #13:

    Sebelum menulis tentang orang lain, tulislah tentang diri Anda sendiri. Sebab, menulis tentang orang lain, belum tentu Anda tahu sedalam-dalamnya seluk beluk orang itu. Tetapi bila ide tulisan bersumber dari diri Anda, tidak ada orang lain yang lebih tahu tentang Anda selain diri Anda sendiri. Tentu, Anda punya segudang pengalaman suka duka selama hidup, punya cita-cita atau mimpi yang belum tergapai, dan lain sebagainya. Nah, jadikan itu modal awal Anda untuk menulis cerpen, puisi bahkan novel. Andrea Hirata, Ahmad Fuadi, Habiburrahman El Shirazy, Gol A Gong, Helvy Tiana Rossa, Asma Nadia, Pipiet Senja, dan sederet nama penulis best seller lainnya telah membuktikan bahwa sejumlah karya hebat mereka lahir dari pengalaman pribadi.

    Resep #14:

    Sudah kuno bila ibu rumah tangga setiap hari urusannya hanya dapur, sumur, dan kasur. Seorang ibu rumah tangga, berapa pun kesibukannya, berapa pun jumlah anaknya, di zaman modern hari ini memiliki banyak kesempatan jadi penulis, dan lahan itu bisa menambah penghasilan keluarga. Artinya, menej waktu sebaik mungkin. Buat jadwal kerja harian Anda. Mustahil rasanya bila sehari tidak dapat menyisakan waktu 30 menit – 1 jam saja untuk menulis. Sebab, dalam sehari Tuhan hanya menyediakan waktu 24 jam. Penulis sukses maupun yang masih bermimpi jadi penulis sama-sama dimodali waktu 24 jam. Jadi, silakan mengatur waktu itu sebaik mungkin.

    Resep #15:

    Bergaullah. Miliki banyak kawan. Jangan ‘kuper’ (kurang pergaulan). Semakin banyak kawan, semakin banyak pula kesempatan bagi Anda untuk mempelajari karakter manusia. Tentu saja, ketika Anda menulis cerpen atau novel, misalnya, Anda dengan mudah dapat membayangkan karakter tokoh-tokoh ciptaan Anda layaknya seperti siapa. Tokoh berkarakter baik atau buruk, bisa Anda tulis setelah membandingkannya dengan karakter kawan-kawan Anda. Hanya yang perlu diingat, bila Anda menulis karakter seseorang yang sangat Anda kenal, demikian pula sebaliknya, jangan sekali-sekali menulis nama aslinya. Buatlah nama tokoh lain, dramatisir jalan ceritanya, sehingga orang yang Anda ceritakan tidak tahu bila cerita itu tentang dia. Jadi, berhati-hatilah menulis nama tokoh, bila tidak ingin ‘berabe’ karier kepenulisan Anda. Sebab bila tahu, dan si pemilik nama tidak setuju dirinya dijadikan objek, yang bersangkutan akan tersinggung. Bisa-bisa Anda berurusan dengan polisi lantaran dituduh melakukan pencemaran baik.

    Resep #16:


    Membuat kerangka karangan (outline) itu penting. Tujuannya agar tulisan Anda terarah. Bagi penulis pemula dianjurkan untuk membuat outline, tetapi itu tidak berlaku bagi penulis-penulis yang sudah mapan, sebab outline itu sudah ada dalam benak mereka. Ketika ia menulis, tulisan itu akan mengalir deras begitu saja. Ketika Anda sudah mencapai titik kemapanan (mahir) itu, Anda juga akan menemukan indahnya menulis tanpa outline. Berproseslah.

    Resep #17:

    Teori itu penting. Tetapi praktik jauh lebih penting. Seorang calon penulis membutuhkan banyak teori-teori kepenulisan, dan di jaman sekarang itu sangat mudah didapat, terutama lewat internet. Mesin pencari Google memudahkan bagi siapa saja untuk menemukan apa yang ia inginkan, termasuk teori-teori kepenulisan. Jadi tidak ada alasan sulit mencari sumber teori. Walau demikian, sebanyak apapun teori yang dibaca tetapi tidak juga menulis, sama saja bohong. Dengan segera menulis, apapun jenis tulisan itu, membuktikan calon penulis serius mewujudkan mimpinya jadi penulis.

    Resep #18:


    Hari paling buruk bagi seorang penulis adalah ketika tulisannya ditolak redaktur. Penulis-penulis pemula yang tidak siap menerima penolakan itu, banyak yang memutuskan tidak lagi menulis. Alasannya tidak berbakat. Buktinya karyanya selalu ditolak. Penulis seperti ini, mentalnya tidak siap tempur. Mudah menyerah. Cengeng. Padahal, banyak alasan bagi redaktur menolak tulisannya itu. Bisa saja, tulisan tersebut bagus tetapi terlalu panjang (over) halamannya sehingga tidak mencukupi ruang yang dimiliki media dimaksud. Jadi, sebelum mengirim tulisan ke penerbit atau media massa, pelajari dulu syarat dan ketentuan pemuatan tulisan. Ikuti aturan itu. Jangan dilanggar. Bila sekali ditolak, besok kirim tulisan lainnya. Terus menerus. Hingga suatu hari nanti, tulisan Anda akan dimuat atau diterbitkan menjadi buku.

    Resep #19:


    Disiplinlah. Itu kunci utama menjadi penulis sukses. Sesibuk apapun pekerjaan Anda, sisakan sedikit waktu untuk membaca buku dan melanjutkan tulisan Anda yang tertunda. Bagi penulis-penulis sukses hari ini, tidak heran lagi kalau buku-bukunya yang best seller itu dibeli produser untuk dibuat film atau siaran radio dan televisi. Pada waktu orang banyak mengeluh kesulitan mencari nafkah, ia malah mendirikan rumah. Subhanallah. Inna ma’al ‘usri yusron. Jadi, tak perlu kita iri hati melihat kesuksesan mereka.

    Resep #20:

    Jangan cepat puas dengan karya yang sudah jadi. Bacalah lagi berulang kali. Bila terdapat kejanggalan dan kekurangan di sana-sini, jangan sungkan melakukan revisi. Revisi itu sangat penting dan menggairahkan, kata seorang penulis Amerika. Seringkali, ketika melakukan revisi, kita menemukan sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya dan menambah kekuatan baru naskah yang ditulis itu. Mana tahu, setelah melakukan revisi itu, tulisan Anda benar-benar menjadi karya yang sangat hebat dan disukai pembaca.

    Resep #21:

    Bagaimana agar dapat menghasilkan ide cerita yang baru, asli dan menarik? Lakukan perjalanan. Semakin jauh berjalan semakin banyak yang dilihat. Catatlah apa yang Anda lihat dan itu menarik menurut Anda. Artinya, kemana pun Anda pergi, bawalah selalu buku catatan. Perhatikan dengan penuh keingintahuan apa yang dikerjakan orang-orang di sekitar Anda. Belajarlah dari alam. Alam terkembang jadi guru.


    Resep #22:

    Sebuah cerita yang menarik adalah adanya tokoh yang unik. Tokoh-tokoh yang umum, yang disembarang tempat mudah ditemukan, memang tidak perlu diceritakan. Singkatnya kurang menarik. Ciptakanlah tokoh cerita yang mengejutkan. Misal ada seorang kakek yang sepanjang hidupnya tidak pernah sakit—lumrahnya manusia pasti mengalami sehat dan sakit. Tapi kakek ini tidak. Dia sehat selamanya sehingga ia merindukan bagaimana rasanya sakit. Di dalam cerita, cerpen atau novel, itu sah-sah saja. Kakek itu tentu seorang yang unik.

    Resep #23:

    Ide cerita itu ada dalam halaman-halaman buku dan dalam kehidupan. Maka bacalah buku lalu kenalilah manusia dan bersimpatilah pada nasibnya. Ketika ada teman Anda yang hidupnya prihatin lantaran miskin, sekali-sekali datangi rumahnya. Bayangkan seandainya Anda adalah bagian dari keluarga teman Anda itu. Sebab bagaimana Anda bisa menulis cerita tentang pahitnya hidup orang miskin bila keseharian Anda bergelimang harta dan kesenangan?

    Resep #24:

    Konflik adalah bumbu cerita. Richard Stren menyebutkan, tokoh cerita pada dasarnya ialah manusia. Berapa jumlah manusia yang pernah hidup di dunia ini? Dan berapa banyak konflik yang bisa ditemukan dalam kehidupan ini? Jumlah manusia dikalikan jumlah konflik, sama dengan jumlah bahan cerita. Lihat dan kupinglah seberapa banyak konflik yang terjadi di sekitar Anda, atau dalam diri Anda sendiri, lalu pungut, dan tulislah menjadi cerita yang menarik.

    Resep #25:


    Dompet dan buku corat-coret keduanya sama penting. Dompet untuk menyimpan uang, buku corat-coret (diary, buku harian, dll) untuk menyimpan ide atau gagasan tulisan Anda. Biasakan setiap hari menulis catatan separagraf dua paragraf. Itu akan melatih kebiasaan menulis Anda. Apa isi buku catatan (diary) Anda? Dua hal harus Anda tulis, pertama peristiwa, dan kedua perasaan hati Anda. Catatlah peristiwa yang terjadi setiap hari, runtut dengan tanggal dan jam kejadian. Misal pada hari ini jam 1 siang Anda resmi menjadi anggota FAM Indonesia. Catatan kedua, tentang perasaan hati, ungkapkan dalam catatan apa yang Anda rasakan hari ini; senang, gembira, sedih, kecewa, sakit hati, dan lain sebagainya. Dengan mencatat dua hal penting itu setiap hari, Anda akan terbiasa menulis.

    [sumber: www.famindonesia.com]

    Gambar sekadar ilustrasi, bersumber dari Google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Resep Menulis Ala FAM Indonesia Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top