• Info Terkini

    Saturday, February 9, 2013

    Tidak Ada Karya yang Sempurna

    Oleh: Aliya Nurlela*)

    Seorang motivator pernah berpesan padaku, “Jika ada orang yang datang kepadamu, menyodorkan karyanya, lalu minta dikritik, jangan terburu-buru mengkritik karya tersebut. Sebab, sesungguhnya tak sepenuhnya ia minta dikritik. Justru harapan terbesarnya adalah kamu memberikan penilaian baik terhadap karyanya. Itu hal yang manusiawi. Tak ada orang yang suka dikritik habis-habisan, apalagi di depan publik. Dan memang, tak ada hasil karya yang sempurna sehingga bebas dari kesalahan. Ketika kamu menulis satu karya, mungkin semua orang akan memberikan pujian. Tetapi ketika menulis karya yang lain, justru menuai kritikan. Itu manusiawi. Baik-buruk dalam berkarya itu akan terjadi. Kesempurnaan hanya pada karya Tuhan.

    Meskipun posisimu, misalnya sebagai seorang manajer penerbitan, editor, redaktur, tapi bukan berarti menjadikan posisimu itu merasa berada di puncak yang ingin dianggap mahir lalu menilai karya orang lain dengan semena-mena. Berikan penilaian yang santun dan berimbang dalam ranah pribadi. Buatlah ruang konsultasi untuk saling bertukar pendapat mengenai hasil karya. Lebih baik kamu dianggap kurang kritis dan menguasai ilmu kepenulisan daripada menciptakan permusuhan. Jadilah seorang motivator, penuntun orang-orang yang sedang belajar dan penyebar nilai-nilai kebaikan. Ingat, kritikan itu lebih tajam dari pedang. Jika kau sibuk mengkritik karya orang lain, maka karyamu akan selalu dinilai negatif. Akan banyak orang, membaca karyamu dengan tujuan mencari kelemahannya. Karena kau telah merasa lebih baik dari orang-orang yang pernah dikritik, sehingga orang akan menilai karyamu dan berujar, “oh, hanya seperti ini hasil karya orang yang tajam lidah dan penanya?”

    Jika sikap itu kamu  hindari, maka kamu akan terfokus menghasilkan karya yang lebih baik dari hari ke hari, menumbuhkan semangat pada setiap jiwa, menghapus keraguan orang-orang yang tidak percaya diri dalam mempublikasikan karya dan akan tercipta persaudaraan yang kuat dengan para penulis. Jangan membuat “menara gading sendiri” atau membesarkan nama sendiri, tapi sebarkan manfaat. Ilmu akan menjadi bermanfaat jika kau bagikan.

    Jauhkan kesombongan diri. Sehebat apa pun posisimu, semua adalah titipan yang suatu saat akan diambil kembali. Tetap semangat!

    Salam santun, salam karya!

    *) Pengurus FAM Indonesia, tinggal di Malang, Jawa Timur

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Tidak Ada Karya yang Sempurna Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top