• Info Terkini

    Monday, February 4, 2013

    Ulasan Cerpen “Bintang Cikgu” Karya Sukamto (FAMili Malaysia)

    Cerpen ini bercerita tentang seorang anak usia 14 tahun yang lahir di barak para pekerja Indonesia, di ladang perkebunan sawit. Anak lelaki tersebut bernama Bintang Pratama, yang tidak berjari telunjuk dan tengah. Satu cita-citanya Bintang adalah melihat tanah kelahiran nenek moyangnya yaitu, Indonesia. Di saat teman-teman lainnya memiliki cita-cita menjadi tentara, sopir dan pengangkut buah sawit, Bintang mengutarakan cita-citanya untuk melihat tanah kelahiran nenek moyangnya.

    Hal tersebut membuat Cikgu (guru)nya tergerak bertanya lebih jauh tentang jari Bintang yang putus dan cita-citanya. Mengalirlah cerita dari mulut Bintang, jarinya putus saat harus mengejar lori dalam sweeping malam. Bintang bertanya tentang kondisi Indonesia, perkebunan sawitnya dan pemimpinnya. Cikgu memberikan petuah-petuah berupa pesan motivasi pada Bintang agar menjalankan tugasnya untuk belajar. Agar berhasil dan sukses menghasilkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Cikgu memberi contoh beberapa keberhasilan yang ditorehkan pemimpin di Indonesia.

    Cerpen ini cukup ringan untuk dibaca. Ada beberapa koreksi dari FAM setelah membaca cerpen karya Sukamto. Pertama, cerpen ini dari segi judul terasa kurang tepat. Bintang dan Cikgu adalah dua tokoh berbeda dalam cerita tersebut. Sementara dalam cerita pendek di atas mengetengahkan keinginan seorang anak bernama Bintang yang ingin melihat tanah kelahiran nenek moyangnya. Alangkah lebih tepat, apabila judul ada korelasi dengan isi utama dalam cerita. Misalnya, “Impian Bintang.”

    Kedua, kelemahan membangun konflik. Cerpen ini ketika dibaca terasa datar dari awal hingga akhir. Tanpa ada ketegangan atau terbangkitnya emosi pembaca karena hadirnya kejadian-kejadian dalam cerita. Di awal cerita penulis telah berhasil membuat sebuah kejutan tentang tokoh Bintang yang tak memiliki jari tengah dan jari telunjuk. Namun sayang sekali, penulis tidak mempertajam konflik atau membahas lebih jauh soal ini.

    Teknik yang baik dalam membuka cerita pendek, bukan berarti menjamin keberhasilan secara keseluruhan isi cerpen. Secara penulisan, sudah cukup baik. Penulis telah melakukan editing, sehingga minim kesalahan tanda baca. Penggunaan kosa kata asing juga sudah disertai catatan kaki dan penulisan dibuat miring.

    Salah satu unsur yang harus terdapat dalam cerpen adalah pesan atau makna yang hendak disampaikan. Dalam cerpen ini penulis telah berhasil menyelipkan pesan dalam cerita. Menularkan semangat dan keberanian bertindak meskipun dalam keterbatasan. Seperti kutipan dialog di bawah ini.

    “Perlu kamu tahu, Bintang, bahwa Thomas Alva Edison sang penemu bola lampu listrik dulunya adalah anak yang dianggap paling bodoh dan idiot, bahkan dia anak yang tuli. Dia dianggap gila oleh orang-orang di sekitar tentang angannya membuat api di dalam bola. Tapi sekarang dunia mengakui kehebatannya. Bahkan berutang jasa padanya. Edison hanya memiliki semangat besar dalam hidupnya yang terus ia pelihara dan gali segala kemampuannya. Akhirnya seorang anak idiot, bodoh dan tuli di sekolahnya bisa berjasa pada dunia.”

    Selamat kepada penulis yang telah berupaya menuliskan cerita yang membangun semangat dan motivasi. Teruslah berkarya.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    BINTANG CIKGU

    Oleh Sukamto (FAMili Malaysia)

    Langkah telanjang kaki kecil di sepanjang jalan setapak tampak tergesa-gesa. Berayun menyibak rumput yang masih malu-malu untuk menyapa pagi. Ujung-ujung daun itu masih basah oleh embun sisa subuh. Lengan kirinya mengapit sebuah tas usang yang penuh dengan modul paket B. Sementara lengan kananya yang sudah tidak berjari telunjuk dan tengah itu menyentuh pucuk-pucuk ilalang setinggi dada, yang juga masih berembun. Wajahnya berseri menatap mentari pagi yang baru beranjak tinggi. Bibir mungilnya bersiul tidak kalah merdu dengan nyanyian si murai yang berbulu hitam dengan garis putih di sayapnya.Sesekali wajahnya menengadah ke atas, pikiranya terbang dan mengembara di angkasa seperti cita-citanya. Cita-cita seorang anak Indonesia di pedalaman negeri jiran[1].

    ~o~

    Bintang Pratama namanya. Seorang anak yang lahir di sebuah barak para pekerja Indonesia, di ladang perkebunan kelapa sawit.Bintang juga seorang pekerja sebagai pemungut biji. Dia selalu berangan-angan untuk bisa melihat tanah kelahiran moyangnya.Di usianya menginjak angka empat belas tahun, ia belum sekalipun mencium aroma tanah kampung halaman orangtuanya.Untuk melintasi tapal batas dibutuhkan perjuangan yang tidak kecil resikonya. Checking dimana-mana. Di negara tetangga, orangtuanya tidak berbekal dokumen resmi, karena disita sang majikan yang mempekerjakannya pertama kali, itu semua terjadi sebelum Bintang dilahirkan ke bumi. Dan mereka akhirnya harus mendampar di ladang sawit karena tidak ada pilihan. Orang akan mengatakan bahwa hidup itu pilihan. Namun bagi pekerja illegal seperti ia dan bapaknya, hidup itu adalah perjuangan. Menentukan pilihan saja perlu perjuangan. Tetapi bagaimana pilihan itu tidak kemudian menjadi sebuah kesalahan.

    Suatu malam, saat kesendiriannya di padang sawit depan rumah panggungnya, Bintang bertanya pada angkasa tentang cita-citanya. Saat  itu langit begitu cerah, tanpa kehadiran sang rembulan. Bintang-gemintang yang gemerlapan, menghiasi angkasa malam. Sambil berbaring menatap malam, Bintang memilih yang salah satu benda langit yang bercahaya paling terang. Itulah bintangnya.

    “Hai angkasa, aku menemuimu kembali di sini,” gumam Bintang. Seolah ada lawan bicara.

    “Maukah engkau menemaniku sampai nanti, sampai tercapai apa yang kuinginkan selama ini?” masih bercakap sendiri, bibir mungilnya memainkan bunga muda rumput ilalang yang dipetik di samping kirinya. Dan seolah angkasa pun menjawabnya.

    “Ya, Bintang. Kejarlah terus sampai kau dapat meraihnya. Aku akan selalu menemanimu setiap waktu.”

    Bintang tersenyum. Tangannya melambai ke atas, hanya ada tiga jari yang terlihat. Sejenak ditatapnya jari-jari buntung itu. Telunjuk dan jari tengah tidak bisa lagi membentuk gaya peace seperti teman-temannya ketika berbuat salah atau sekedar bersapa dengan sesama teman lainnya. Kalau dipaksakan lebih terkesan sebuah kepalan. Sebuah incident berebut naik lori[2]telah membuatnya harus kehilangan jari vitalnya. Sekarang memungut biji sawit pun Bintang kepayahan. Karung-karungnya tidak lagi banyak yang terpenuhi biji sawit. Karena biji-biji buah sawit itu selalu lepas dari genggamannya lewat celah jari yang terpotong. Pun demikian dengan menulis, susah payah ia harus membiasakan menulis dengan menggunakan tangan kiri. Tulisannya akan lebih mirip bentuk hiroglif daripada alphabet. Tapi bukan Bintang namanya, hanya dengan ketidak sempurnaanya lantas menyerah begitu saja. Ada seseorang dibalik itu yang selalu memompa semangatnya. Seorang cikgu[3]baru dari Indonesia. Bernama Cikgu Prast.

    Pernah ia menanyakan pada Cikgu Prast tentang metode selain jarimatika. Sebuah metode yang mudah dan cepat dalam berhitung. Karena bila menghitung dengan jari, tentunya tidak lengkap jawaban yang dibuatnya. Selalu kurang dengan lipatan ruas jari-jari yang dimilikinya. Metode jarimatika menggunakan jari tangan yang akan menggantikan angka-angka ratusan, puluhan dan satuan. Ia selalu kesusahan.

    “Cikgu, ada nggak metode selain jarimatika?”

    “Ada, tapi itu akan mulai dari awal lagi.”

    “Apa namanya, Cikgu?”

    “Metode Trachtrenberg.”

    “Susah benar mengejanya, Cikgu.”

    “Itu sesuai nama penemu metodenya. Memang asing kedengarannya. Tapi kalau sudah bisa menguasai metode itu kamu tidak lagi susah-susah menggunakan jari, cukup langsung menuliskan jawabannya di lembar jawaban.”

    “Kelihatannya menarik, Cikgu.”

    “Tetapi awal-awal mempelajarinya agak susah lho.”

    “Nggak apa-apa, Cikgu, yang penting Bintang bisa mempelajarinya.”

    “Baiklah, kalau begitu kapan kamu akan mulai belajar?”

    Dan kesepakatan telah dibuat. Bintang harus menempuh jarak dua kilo meter pulang pergi. Setiap hari ia pergi ke rumah Cikgu Prast selepas bekerja memungut biji sawit. Pulangnya sebelum maghrib. Karena harus cepat-cepat bergabung dengan pekerja lain yang akan diangkut dengan lori untuk mengungsi. Akhir-akhir ini memang polisi kerajaan sedang gencar-gencarnya melakukan sweeping malam. Karena berebut tempat di lori inilah jari tangannya terjepit engsel ketika itu.

    ~o~

    “Apa cita-cita kalian?” tanya Cikgu Prast waktu baru pertama kali datang ke sekolah.

    Dituliskan cita-citanya disana, sebuah keinginan yang sederhana mungkin. Keinginan seorang anak yang bertahun-tahun hidup dalam suatu ketidakpastian. Hidup seorang anak pelarian, yang mereka menyebutnya pendatang haram. Sebutan yang tidak layak untuk martabat seorang manusia.

    “Askar[4].”

    “Penyabit.”

    “Dreba[5].”

    “Loding[6].”

    “Oksop[7].”

    Mereka saling mengangkat jari telunjukknya. Alis Cikgu Prast berkerut mendengar kata-kata asing tersebut terlontar dari mulut anak-anak itu. Dan yang membuat Cikgu Prast heran, tak seorang pun diantara mereka yang ingin menjadi guru. Namun ada seorang anak yang membuat menarik perhatiannya.

    “Ku ingin melihat tanah moyangku.” Anak bernama Bintang itu mengangkat jari manis kanannya. Sedetik Cikgu Prast sempat kaget melihat tangan Bintang. Lebih mirip dengan tanda fuck you yang biasa preman pasar acungkan. Lalu Cikgu Prast berusaha mencari tahu penyebabnya. Akhirnya pada sebuah kesempatan Cikgu Prast bisa mengobrol dengan Bintang.

    “Bintang, sebuah nama yang bagus,” Cikgu Prast mencoba membuka dialog.

    “Bintang Pratama lengkapnya, Cikgu,” anak itu melengkapi.

    Ditatapnya wajah Bintang yang coklat gelap. Rambutnya kusam kemerahan. Baju penuh belang keringat dengan tas lelong[8]yang kumal. Terakhir tatapannya berhenti pada jari-jari Bintang yang hilang.

    “Berapa lama kamu tinggal di Malaysia, Bintang?”

     “Semenjak lahir, Cikgu,” Bintang menunduk, berusaha santun pada cikgunya.

    Pantas ketika ditanya soal cita-cita ia hanya memiliki keinginan untuk pulang ke Indonesia. Tidak seperti teman-teman yang lain. Cita-cita begitu sederhana, tetapi tentu saja membutuhkan sebuah usaha dan perjuangan yang tidak mudah.

    “Tentu Cikgu heran dengan jari saya yang putus ini.” Bintang menunjukkan telapak tangan ke hadapan Cikgu Prast. Sementara ia belum mengajukan pertanyaan. Lalu mengalirlah cerita ketika Bintang harus mengejar lori saat sweeping malam itu. Kepedihan kembali menghampiri hidupnya..

    “Cikgu!”

    “Ya.”

    “Di Indonesia ada nggak kelapa sawit?” Tanya Bintang polos.

    “Banyak. Di Sumatera dan Kalimantan merupakan tempat kebun kelapa sawit. Minyak kelapa sawit Indonesia kualitasnya justru nomor satu di dunia. Seharusnya kita bangga dengan itu.”

    “Tapi kenapa banyak orang Indonesia yang datang kemari, Cikgu?”

    Sebuah pertanyaan yang perlu waktu untuk menjawabnya. Karena jawabannya pasti merembet kemana-mana. Dari segi pendidikan, sosial juga kebijakan-kebijakan pemerintah terkait ketenagakerjaan.

    “Suatu waktu kamu akan tahu sendiri.”

    “Kenapa tidak sekarang Cikgu memberi tahu Bintang?”

    “Karena untuk sekarang tugas kamu adalah belajar yang rajin. Oh, ya. Mengenai cita-citamu, kamu harus berusaha untuk menggapainya. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, dan tidak mungkin itu tidak ada.[9]”

    Sejenak Bintang menatap wajah Cikgu Prast. Mencoba menelaah kata-katanya. Itu adalah suatu yang mungkin. Sebuah kalimat yang tidak terbantahkan.

    “Perlu kamu tahu, Bintang, bahwa Thomas Alva Edison sang penemu bola lampu listrik dulunya adalah anak yang dianggap paling bodoh dan idiot, bahkan dia anak yang tuli. Dia dianggap gila oleh orang-orang di sekitar tentang angannya membuat api di dalam bola. Tapi sekarang dunia mengakui kehebatannya. Bahkan berhutang jasa padanya. Edison hanya memiliki semangat besar dalam hidupnnya yang terus ia pelihara dan gali segala kemampuannya. Akhirnya seorang anak idiot, bodoh dan tuli di sekolahnya bisa berjasa pada dunia.”

    Bintang tertegun dengan cerita Cikgu Prast. Terasa ada gejolak dari dalam dadanya. Mereka bisa, kenapa aku tidak bisa.Gumannya.

    “Masih ada Albert Enstein yang terlambat bicara dan Autis mempunyai teori relativitas dan di pakai para ilmuwan dunia sekarang. Ludwig Van Beetoven yang tuli seorang komponis dunia, juga Louis Braille dengan mata yang cacat dan buta pada akhirnya bisa berjasa kepada seluruh manusia yang buta sampai sekarang dengan huruf Braille ciptaannya.”

    “Luar biasa ya, mereka, Cikgu!”

    “Begitulah mereka. Orang-orang yang mempunyai kekurangan dan cacat mampu menyumbangkan sesuatu yang besar.”

    “Hmm…” Bintang berguman.

    “Lalu apakah kamu akan berkecil hati dengan kekuranganmu?”

    “Aku cukup bersyukur, Cikgu. Masih bisa menggunakan kedua tanganku. Walaupun hasil kerjaku tidak sebanyak dulu.”

    “Begitulah, jadi manusia harus tetap optimis.”

    “Adakah di Indonesia orang yang hebat seperti mereka, Cikgu?” tanyanya.

    “Ada. Bahkan banyak, Bintang.” jawabnya sambil melirik Bintang. Melihat reaksinya. Dilihatnya Bintang masih semangat menyimak. Lalu Cikgu Prast melanjutkan ceritanya.

    “Para pemimpin kita adalah orang-orang hebat, Bintang. Ir. Soekarno, Bapak Presiden pertama kita dijuluki ‘Singa Asia’. Dia seorang politik dunia. Soeharto, presiden kedua,  anak seorang kampung yang bisa menjadi pemimpin negara. Begitu juga dengan presiden-presiden selanjutnya. Dibidang keilmuan ada March Budihardjo anak muda yang berprestasi gemilang pada ilmu matematika dan menjadi mahasiswa termuda. Professor Nelson Tansu seorang pakar teknologi nano, serta Muhammad Arif Budiman adalah ahli genetika. Semua itu orang-orang hebat, Bintang.” Bintang menatap gambar para presiden Indonesia yang terpampang di dinding kayu sekolah. Pikirannya melayang-layang mencari sesuatu dalam cerita cikgunya. Sesekali kepalannya manggut-manggut. Seolah baru saja ia menemukan sebuah ide habat.

    “Kenapa aku tidak bercita-cita yang tinggi saja ya, Cikgu. Agar bisa menjadi seperti mereka.”

    “Harus, Bintang. Kamu harus punya cita-cita yang tinggi. Kalau ada yang tinggi kenapa kita ambil yang rendah. Merubah sesuatu yang besar bisa dimulai dari diri sendiri, Bintang. Ingat, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Kamu pasti bisa.”


    ~o~

    Gambar bintang dipenuhi tulisan itu tergantung di kamar kecil yang sumpek, yang terbuat dari kepingan papan. Namun semangat pemiliknya tidak serapuh mahoni coklat kekuningan di kamarnya. Matanya menatap peta Indonesia, dan terfokus pada nama di sebuah gambar pulau yang berbentuk mirip huruf K. Pikirannya melayang pada tanah-tanah yang penuh dengan padi menguning dengan aroma lumpurnya, dan berharap pada malamnya akan diselimuti serta diterangi oleh bintang-bintang gemerlapan dari angkasa.

    “Aku bisa, Cikgu.”

    Bintang Angkasa hanya bagian dari sepenggal cerita ana-anak negeri yang bermimpi untuk bisa melihat tanah air moyangnya. Sekarang mereka bergelut dengan teriknya mentari demi sekarung butir biji sawit yang gugur dari tandan, bahkan malamnya harus mengungsi ke dalam hutan untuk menghindari adanya razia polisi gabungan. Dan akan kembali esoknya dengan mata yang bengkak dan kulit kemerahan karena bergadang semalaman. Lalu bagaimana dengan pihak pemilik ladang yang memperkerjakan mereka? Mereka tidak berharap banyak jawaban yang memuaskan. Para tuan tanah lebih suka dengan pendatang illegal. Tidak perlu keluar uang banyak untuk mengurusinya. Karena setiap pekerja harus mempunyai jaminan pada pihak kerajaan Malaysia, dan itu tidak sedikit yang harus dibayarkan.

    ~o0o~

    [1] Tetangga
    [2] Truk pengangkut pekerja ladang
    [3] Guru
    [4] Tentara
    [5] Sopir
    [6] Pengangkut buah sawit
    [7] Workshop
    [8] Barang bekas
    [9] Kutipan kata-kata Ipo Santoso. Penulis buku-buku otak kanan yang best seller
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Bintang Cikgu” Karya Sukamto (FAMili Malaysia) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top