• Info Terkini

    Sunday, February 10, 2013

    Ulasan Cerpen “Jawaban Abu-Abu” Karya Muhammad Arsyad Fuadi (FAMili Agam)

    Cerpen ini bercerita tentang tiga orang siswa SMA di sebuah pesantren. Remaja yang duduk di kelas unggulan tapi bersikap bengal. Karena merekalah kelas ‘super’ menjadi ternoda. Ibarat kata pepatah gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga.

    Mereka bukan saja nakal untuk diri sendiri, tetapi juga sangat cerdas untuk memengaruhi orang lain, terutama teman sekelas. Sehingga terciptalah kelas yang acuh tak acuh terhadap pelajaran, pembangkang dan malas. Kejadian yang membuat mereka berubah justru karena Ryal yang ditinggal pacar ketika menjelang UN dan Rajer yang sakit parah karena terlalu terporsir belajar (diceritakan Rajer terkena stroke). Sementara Adi juga ikut ‘sakit’ melihat kenyataan hidup dua temannya. Adi mencari jawaban atas ‘nasib’nya dan menemukannya dari seorang sufi misterius. Akhirnya mereka sukses dan Adi telah menemukan jawaban atas tanda tanya selama ini tentang keadilan Tuhan, namun masih dengan ‘jawaban abu-abu’.

    Kelemahan pada cerpen ini ada pada tulisan yang tidak memenuhi syarat EYD, tidak menggunakan paragraf dan penggunaan huruf kapital tidak pada tempatnya. Selain itu sebaiknya penulis berhati-hati menuangkan ide tulisan seperti kalimat: “mereka adalah tukang buat onar, brutal, pecandu zat adiktif bukan aditif……”. Harus diperhatikan benar pengertian adiktif (psikotropika, narkoba) atau aditif (zat tambahan makanan agar tampilan dan rasa berbeda). Jika Adi, Ryal dan Rajel pengguna zat adiktif, tentu cerita akan lain lagi. Pecandu tidak dapat berubah dengan begitu saja, hanya dengan ‘cobaan’ cengeng seperti yang dialami Ryal. Selain itu ada juga kontradiksi dalam cerita, Adi (the second man) yang digambarkan tampang mumpuni, atletis dengan dandanan elegan tiba-tiba pada paragraf berikutnya dikatakan ‘perawakan yang berantakan’. Nah, ini sangat membingungkan pembaca tentu saja.

    Tapi, penulis sudah cukup cerdas mengungkap kata-kata dengan istilah ilmiah. Namun demikian itu saja belumlah cukup. Masih harus sering menulis dan berhati-hati dengan isi tulisan karena harus dipertanggungjawabkan kepada pembaca dan kepada Allah. Jika tulisan berdasarkan pengetahuan umum, cari dulu referensi sehingga tulisan kita ‘benar’. Penulis harus tetap semangat ya? Terus gali potensi diri dengan menulis, banyak membaca dan mencari referensi agar tulisan berkualitas.

    Salam santun, salam karya, salam semangat.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Jawaban Abu-abu


    Oleh Muhammad Arsyad Fuadi (FAMili Agam, Sumatera Barat)

    Adi duduk setengah berbaring di kasur yang tipis di makan zaman, ia teringat di sekolah tadi ketika wali kelasnya menegur semua penghuni kelas, untuk bersungguh-sungguh dalam belajar pada rentang waktu kurang dari 2 bulan lagi. Memang teguran itu umum untuk seluruh isi kelas, tapi baginya, ia tahu bahwa teguran itu hanya untuknya, hatinya sangat peka, ia dapat menerka wali kelas hanya memanfaatkan orang lain untuk menyindirnya.
    Tak tega ia menyakiti perasaan seorang itu, seorang wanita jangkung untuk ukuran Indonesia, tidak terlalu kurus. Tatapan matanya mengisyaratkan penuh harapan kepada Adi. Wanita itu sungguh mulia, dalam usia yang muda ia rela mengabdi ke Pondok Pesantren swasta ini, selain usia yang masih sangat  muda, ia merupakan lulusan teknik kimia di PTN negeri terbaik di luar jawa. Cum laude, begitu predikat kelulusannya, hanya ia satu-satunya mahasiswa jurusan teknik kimia yang bisa meraihnya di PTN itu, jurusan yang lumayan sulit. Buk Hati namanya.
    “udahlah, kalian harus serius sekarang. Tinggal 2 bulan lagi waktu untuk belajar, kalian harus sadar, berapa uang Orang tua yang kalian habiskan, apakah kalian akan membalasnya dengan hasil yang mengecewakan nantinya ” ujar ibu Hati dengan sedikit marah karena banyak murid tidak acuh ketika ia menerangkan pelajaran.
    Semua murid hanya diam. tak biasanya, ketika ada guru yang menasihati mereka selalu menjawab sambil nge-guyon, kelakukan ini membuat sebagian guru enggan berbicara lebih di kelas ini.
    “Ibuk sudah capek menasehati kalian (sambil menghela nafas), sudah dari semester satu ibu peringatkan untuk belajar dan tidak bermalas-malas lagi, tapi semuanya kalian anggap sepele” sambiung ibu Hati.
    Bukan cuma ibu, hampir semua guru juga sudah selalu menasihat kalian, tapi kenapa tidak mempan?, tidak ada hasilnya?”
    Sekarang terserah kalian yang akan bisa mengubah kalian cuma diri kalian sendiri, ibu berlepas tangan pada kalian dan tidak akan mengurusi kalian lagi. Belum selesai kata terakhir, ibu itu sudah berlari kecil meninggalkan kelas.
    Sebuah shocking therapy yang membuat seisi kelas terpaku dan merenung, entah apa yang direnungkan oleh para murid itu.
    ***
    Dalam kelas yang lumayan lebar, ukuran  6 x 10 meter terdapat makhluk-makhluk yang beragam, kebanyakan adalah kutu buku pelajaran yang tiap waktu kosong melototi buku, mengerjakan soal fisika, kalau ada waktu senggang bahan-bahan di labor ipa mereka campur-campur sekenanya, membuat campuran larutan tanpa konsep.
    Tapi, mereka adalah anak dengan kemampuan IQ tinggi, nilai tinggi, prestasi tinggi, integritas tinggi, meja dan kursi tinggi, bahkan sepatu merekapun harus punya “hak” tinggi. The great class, begitu julukannya, bagaimana tidak, selain berisi siswa pintar, beberapa siswa pernah juara ini-itu, mulai dari MTQ, pidato, cerdas cermat, olimpiade sains, hingga olahraga. a complete class.
    Sayang, dalam untaian berlian putih itu terdapat bintik-bintik hitam, apa itu? Entahlah, yang jelas ibarat pepatah, rusak susu se-baskom karena nilam setitik, bintik-bintik itu membuat kredibilitas kelas itu ternodai, semua reputasi kelas ini yang dibangun melalui pencitraan warganya, kecemerlangan, prestasi tingkat sekolah, kabupaten, provinsi, nasional namun belum internasional akan hancur ketika bintik-bintik ini berada.
    Mereka adalah tukang buat onar, brutal, pecandu zat adiktif bukan aditif, selalu menindas yang lemah, bagi mereka siapa yang kuat ia yang menang, persis seperti zaman tanpa peradaban dulu.
    Memang hal ini cukup dimaklumi seisi sekolah itu, yang membuat geger ialah mereka memilki kemampuan yang tidak dimilki orang lain. Memengaruhi. Ketika mereka bicara orang lain akan percaya dengan mereka begitu saja, tanpa pikir panjang.
    Pernah suatu ketika seorang murid yang sedang demam mereka suruh untuk berlari mengelilingi lapangan sepak bola, argumennya sederhana, ketika berlari tubuh akan mengeluarkan glikogen dan memompa denyut jantung lebih cepat, sehingga tubuh akan panas, berdasarkan hukum kausalitas minus, ketika minus ditambah minus maka hasilnya akan berubah menjadi plus, ketika panas karena demam lalu dimunculkan panas karena aktifitas badan maka hasilnya akan ?
    Ajaib. Seorang yang melakukan percobaan di atas langsung sembuh setelah menjalankan prosedur itu, hal ini mrembuat hampir semua penduduk asrama percaya akan hal itu, wajar jika tiap murid sakit, mereka tidak ke UKS, melainkan melakukan ritual konvensional yang belum di ketahui kebenarannya, tapi satu hal, secara psikologis seluruh penghuni asrama dan sekolah percaya akan hal itu.
    Bintik itu cuma tiga butir diantara 27 berlian. Mereka bersahabat tidak telalu dekat, tidak terlalu jauh. Saling berempati dan kompak, jika satu orang punya masalah mereka kan hadapi bertiga.
    Ryal namanya, penganut mazhab lateralal (red: otak kiri), selalu melakukan hal dengan perhitungan yang pas, tidak mempunyai impian karena hidupnya harus pasti dan cendrung kurang percaya diri, kehidupannya statis tidak berubah, tulisan sangat bagus dan indah. jangan tanya hafalannya, seluruh isi bukupun bisa ia hafal ketika belajar. Sebenarnya dia masuk ipa karena ingin belajar biologi, (pelajaran hafalan bagi anak ipa) nilai biologinya dari Tsanawiyah sampai Aliyah selalu 9, haram baginya melihat nilai 8 pada biologi. Namun ia sangat tidak bisa untuk berhitung, tanyakan saja 6 x 3/2, otaknya akan bekerja keras dan hanya 2 kemungkinan jawaban yang ia lontarkan, yaitu salah atau diam dalam beberapa detik untuk menghitungnya walaupun hal jawabannya benar. Sebuah aib bagi anak ipa.
    The second. Dengan tampang yang mumpuni, bodi atletis, dandanan yang elegan dan berwibawa tapi tidak mewah. Begitu orang menyebut kelebihannya, ketika berjalan semua orang tunduk padanya. Ia seorang diplomat ulung, orator dan juga pemberontak yang ditakuti. Baik bahasa verbal maupun bahasa tulisan sama-sama rancak, oratornya tiada tandingan, tulisannya entah berapa kali termuat di media massa, entah berapa sertifikat pelatihan dan  piala yang ia bawa pulang.
    Amat tergila gila dengan kimia, tujuannya bukan untuk belajar, tapi untuk membuat bom, ia terinspirasi dari teroris yang membom gedung-gedung. Betapa tinggi ilmu mereka gumamnya dalam hati. Sejak saat itulah ia berminat pada jurusan ipa.
    Ia bertekad membuat bom untuk menghancurkan pihak yang memusuhi Islam. Setelah belajar banyak akhirnya ia memfokuskan untuk membuat bom, mulai dari yang kecil, menengah, dan ledakan yang besar, ia letuskan di ngarai sianok, membuat tahah itu hancur dan terkikis seperti erosi. Adi namanya. Peneliti masa depan.
    Sayang beribu sayang, apa yang ia inginkan dalam belajar kimia tidak ia dapati. Kurikulum pembelajran kimia di SMA hanya menitikberatkan pada teori, ya teori. Tanpa ada praktek yang berarti. Hal ini membuat ia bosan, karena matematikanya tidak begitu menonjol. Selain itu perawakan yang berantakan, tidak mau ambil pusing sesuatu dan tidak disiplin menyulitkannya dalam belajar.
    Terakhir ialah Rajer, sosok yang mirip pegawai pemerintah, berjalan bebas tanpa beban, badan sedikit gemuk, makan 2 piring kali 3 perhari. Ia mungkin satu-satunya diantara gerombolan ini yang paling pintar, matematikanya sangat tidak tertandingi, ia mampu menganalisi dan mengolah soal matematika kedalam bentuk lain dan menjabarkannya.
    Awalnya ia ingin masuk jurusan sosial, karena ia ingin menjadi enterpeneur dan ekonom sejati. Tujuannya untuk memperbaiki akhlak dan martabat bangsa ini.  Namun ia tidak tahan melihat anak sosial yang berandalan, di tambah lagi dari balita ia sudah diajari elektronik dan mesin oleh ayahnya, seorang pengusaha yang memiliki puluhan bengkel. Ia bisa mempreteli habis isi sepeda motor, menyusunnya kembali, menyebutkan bagian-bagiannya dan menjelaskan fungsinya tanpa pernah belajar di sekolah.
    Lantas, jika hanya tiga anak ini yang nakal, kenapa wali kelas menegur seluruh isi kelas?. Mereka selalu menghasut teman-temannya yang rajin untuk bermalas-malasan, mengajak cabut, alfa, dan mengajari bagaimana cara memberontak kepada guru. Dengan keluwesan pengetahuan mereka akan filosofi hidup membuat mereka begitu disegani dan di”amini” seisi kelas.
    Alhasil, layaknya setan yang tidak mau masuk neraka sendiri dan selalu mengajak keturunan Adam. Ada saja cara mereka untuk mempengaruhi teman-teman dengan IQ tinggi namun rendah dalam mental. Akhirnya, banyak yang bisa mereka pengaruhi untuk jadi pembangkan, para murid dikelas ini menjadi pemalas dan menjadi nakal, ketika guru menerangkan mereka tidak acuhkan. Itu masalahnya.
    ***
    Semula, semuanya berjalan lancar seperti hari biasa. Tiga anak manusia ini selalu membuat kerusuhan, hingga suatu ketika beberapa kejadian merubah kehidupan mereka.
    Dengan kepala pusing, Adi keluar dari kelas setelah mati-matian belajar matematika. Kali ini ia terpaksa harus mengikuti belajar tambahan karena kepergok oleh kepala sekolah ketika hendak cabut. Kawannya, Rajer dan Ryal tidak ikut belajar, mereka sudah terlebih dahulu cabut ke asrama.
    Pada pukul 2 malam Adi dan Rajer baru pulang dari warnet setelah main point blank sepuasnya. Walaupun tinggal di asrama mereka bisa berbuat sewenang-wenang disana, status sebagai senior tertinggi sehingga mereka menjadi kebal hukum.
    Entah kenapa dari tadi mereka tidak melihat Ryal, mereka pun mencari Ryal ke kamarnya. Melalui celah-celah jendela mata-mata mereka mengintip, tampak Ryal masih terjaga.
    “Ngapain tu si Ryal masih bangun”, Rajer berkata layaknya berbisik
    “Ngak tahu juga, tapi liat dia bengong, kayaknya ada yang gak beres ni, atau jangan-jangan ia kemasukan?” Adi mambalas.
    “Udah jangan ngaco deh, dia anak yang soleh mana bisa setan dekatin dia, liat dia nangis tu”. Rajer menimpali ucapan Adi.
    “Aduh, samperin aja yuk, dari pada tambah parah dia”. Adi mengajak Ryal.
    Duk..duk..duk Bunyi pintu terketuk keras, Ryal tersentak dari lamunannya, ia lap air mata yang membasahi pipi cekungnya, dengan mengubah ekspresi mukanya seperti bangun tidur ia membuka pintu.
    “Eh, baru pulang ya, aku gak diajak, kemana aja tadi?”  Ryal membuka pintu sambil berpura-pura bangun tidur.
    “Kamunya aja yang gak keliatan, kami dah cari sampai magrib, karena gak kelihatan kami tinggal deh, lagian handphone kamu juga gak aktif” Rajer menjawab.
    “Aku tadi….” Ryal mau membalas, namun Belum sempat ia berbicara banyak Adi memotong perkataannya.
    “Kamu kenapa? Mata kamu merah, kamu habis nangis ya?” kata Adi Sambil memegang pipi Ryal yang lembab.
    Ryal pucat, ia gelagapan mencari jawaban
    “Sudahlah, jika kamu ada masalah ceritakan kepada kami, kita kan  teman, siapa tahu aku bisa membantu” sambung Adi
    “Memangnya kamu kenapa (sambil ketiganya bergerak masuk kamar), ada masalah dengan orang tua mu, ada pelajaran yang gak bisa atau kamu kelahi tadi? Ceritakan, ayolah !” paksa Rajer.
    Ryal tak kuasa menahan air mata, ia peluk kedua sahabatnya. Akhirnya ia mulai bercerita, ternyata ia ditinggal oleh teman dekat wanitanya (pacar). Sudah 2 tahun setengah ia membina hubungan dengan pacarnya, ketika ia masuk aliyah. Ialah sumber motivasi Ryal untuk belajar walaupun Ryal belajar sangat lambat, tapi ia terus berusaha demi pacarnya ini.
    Segalanya telah Ryal berikan untuk pacarnya, perhatian lebih, kadang ia belikan sesuatu, ia rela berhujan, berpanas demi pacarnya. Bahkan ia sudah bilang pada kelurganya bahwa ia telah memiliki calon istri. Entah apa yang terjadi, tiada angin, tiada badai. Pacarnya bilang bahwa hubungan mereka cukup sampai disini. Hati lelaki mana yang tidak tersakiti mendapati kenyataan seperti ini setelah segala sesuatu ia korbankan untuk pacarnya.
    Belum lagi pacarnya memutuskan hal ini 2 bulan sebelum Ujian Nasional, apa salahnya ia mengatakan ini sesudah UN, dan ia memutuskan hubungan ini tanpa alasan yang jelas, saat Ryal tanya ia tidak memberi jawaban.
    Mendengar cerita Ryal, Adi dan Rajer hanya diam sesekali menggeleng-gelengkan kepala, tanda iba pada Ryal, sambil mengucapkan satu-dua patah kata, agar Ryal sabar dan tidak terlalu dipikirkan, siapa tahu ada ganti yang lebih baik nantinya.
    Seminggu telah berlalu, keadaan Ryal jadi semakin memburuk dan tidak berubah, ia tampak masih shock dan frustasi.
    Rajer berjalan menyusuri halaman sekolah dengan amat santai, hari ini ia bertekad untuk belajar serius. Memang kali ini Rajer belajar dengan sangat serius, semua soal SKL (Standar Kompetensi Lulusan) yang di berikan guru ia kerjakan nyaris tanpa cacat. Tiba-tiba kepalanya pusing, ia seperti binatang kurban yang di sembelih, meracau-racau kesakitan. Semua orang panik, mobil sekolah pun mengantarkan ia kerumah sakit.
    Orang tua Rajer pun datang, Rajer dibawa ke luar kota, tempat orang tuanya tinggal. Sehari sesudahnya ia menelpon Ryal bahwa ia baik-baik saja dan hanya kecapean.
    Tiga hari berlalu, Rajer kembali ke asrama dan masuk sekolah. Kali ini ada perubahan aneh dalam diri Rajer, hampir sebesar kotak korek api kayu rambut sebelah kanannya rontok, dalam kulitnya tak tampak akar-akar rambut lagi.
    Ternyata Rajer mengalami stroke, mungkin saja karena badannya kurang ia gerakkan untuk sekedar olahraga ditambah pemakaian otaknya yang terlalu diforsir. Rajer pun terpaksa istirahat sampai batas yang belum diketahui. Orang tuanya sudah pasrah akan nasib pendidikan Rajer yang hanya menunggu Ujian Akhir, yang penting Rajer sembuh.
    Dengan ini Ryal mulai melupakan gadis yang memutuskannya,ia mulai memikirkan keadaan Rajer walaupun dalam hati Ryal masih digerogoti putus asa yang mendalam.
    Adi adalah orang yamg paling pilu, dalam dinginya udara malam ia berdoa kepada Tuhan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi kedua temannya, bahkan ia sempat berprasangka Tuhan tidak adil, kenapa kedua temannya mengalami cobaan ketika mereka akan mengikuti Ujian Nasional kenapa tidak setelah UN selesai.
    Adi pun makin stress melihat Ryal yang masih seperti itu, pandangannya kosong, tidak mengikuti pelajaran, sabang malam ia membuat puisi dengan sajak indah untuk mengungkapkan isi hatinya yang galau tak tentu arah.
    Rajer menjadi pikiran Adi karena tak kunjung sembuh, Adi pun mulai tak tentu arah, ia selalu bertanya untuk apa sih hidup? Kenapa harus ada kemiskinan, kenapa harus ada cobaan?. Dimana Tuhan?. bukankah Tuhan itu Maha Adil, sekarang mana keadilan Tuhan.
    Begitu pertanyaan Adi, layaknya orang yang meragukan keadaan Tuhan. Ia mulai mencari jawaban itu kepada guru-gurunya, mendengarkan ceramah keagamaan yang ia anggap hambar.
    Belum ada  yang bisa menjawab pertanyaannya, hingga suatu ketika ia bertemu dengan seorang sufi yang misterius, lantas ia pun mengajukan pertanyaan akan tujuan hidup.
    Sang sufi menjawab, bahwa dulu pada zaman nabi Daud ada dua orang bertanya kepada nabi akan tujuan hidup. Nabi memerintahkan masing-masing dari mereka berjalan berlawanan arah, dan mengumpulkan setiap batu yang ia temukan dijalan serta memasukkannya ke dalam karung, ketika petang tiba kembalilah ketempat ini.
    Kala hari petang, kembalilah dua orang ini, salah seorang mengumpulkan batu sedikit yang satu lagi mengumpulkan batu banyak, maka nabi menyuruh kedua orang tadi membuka karungnya.
    Keajaiban terjadi, batu itu berubah menjadi berlian, orang yang mengumpulkan batu sedikit menyesal, kenapa ia tidak mengambil banyak batu, kenapa ia hanya sedikit. Orang yang mengumpulkan batu banyak juga menyesal, kenapa ia tidak mengumpulkan lebih banyak batu lagi, jika akan berubah menjadi berlian.
    “itulah hidup, semua penuh dengan penyesalan” sufi mengakhiri ceritanya.
    Adi hanya diam, ia tidak mau bertanya kepada sufi kenapa Allah menciptakan cobaan?, dimana letak tuhan?, apakah tuhan adil?. Tapi dari jawaban sufi tadi Adi mendapat suatu hidayah dan pencerahan yang luar biasa, walaupun jawaban sufi tadi byukanlah jawaban yang Adi inginkan
    ***
    20 Maret 2017
    Hari ini adalah reuni akbar pondok pesantren, seluruh angkatan hadir, suasana gedung amat ramai oleh hiruk pikuk mantan siswanya yang kembali bertemu setelah lama tidak bersua.
    Mobil Mersedes Benz melaju dengan kencang, mobil itu amat memikat hati yang melihat, bodi yang kinclong, plat nomor polisi yang masih merah menandakan barang baru. Mobil itu berhenti di sudut gedung, sesosok pria berkacamata hitam dengan tubuh bongsor muncul. Rajer.
    Ia baru saja pulang dari Jerman, ia kuliah di sana, ajaibnya tak secuil uang pun ia keluarkan untuk biaya kuliah. Berkat nilai UN nya tertinggi se provinsi, Rajer mendapat beasiswa, rupanya ketika sakit Rajer tetap membahas soal, ia merasa lebih efektif belajarnya ketika ia sakit ketimbang waktu belajar biasa.
    Tak lama, tampak sepasang muda-mudi berjalan memasuki gerbang, wajah mereka amat cerah menawan. Berjalan beriringan, mengumbar kemesraan disana-sini. perempuannya sungguh sempurna, dengan balutan pakaian muslimah yang dalam namun kesannya tampak anggun. Salah seorang alumni berujar pada temannya, walaupun wanita itu sudah beranak tiga, ia rela menikahinya. Menandakan kecantikannya yang memikat hati. Sang laki-laki itu ialah Ryal, sungguh beruntung ia menikahi gadis tamatan Al-azhar di mesir, hafizh Quran, shalehah dan sangat cantik.
    Dengan motor  RX KING, Adi sampai di sekolahnya dulu, walaupun kini ia memiliki pabrik “kimia” mulai dari sepatu, sabun, serta usaha bisnisnya yang banyak ia tetap memakai motor lawas untuk pergi, dalam hatinya ia tidak ingin sombong.
    Menyadari dua teman akrabnya hadir dengan rasa bahagia, Adi jadi teringat ketika waktu sekolah dalam keadaan susah. Kini segala kesusahan telah diganti oleh Allah dengan sesuatu yang luar biasa tak terduga. Bertambahlah kepercayaannya pada Tuhan semesta alam yang Maha Adil.
    Mereka bertiga pun naik keatas panggung untuk menyanyikan lagu yang mereka ciptakan sendiri sebelum tamat. SKL judulnya (Selembar kertas lama), judul ini terinspirasi dari Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi patokan dalam soal UN.
    Ketika mereka berada di atas panggung, tampaklah dalam kerumunan masa senyum terbaik seorang wanita yang berdiri disamping seorang anak laki-laki berumur 3 tahun. Mata wanita itu berkaca-kaca, ia masih tak percaya semua ini terjadi. Ialah buk Hati.
    3 sahabat itu pun menyumbang dana paling besar untuk pembangunan Pondok Pesantren almamater mereka. Dan Adi menemukan jawaban atas pertanyaanya, jawaban itu tak jelas, ia tidak bisa dijawab, apakah hitam atau putih, jawaban itu ABU-ABU.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Jawaban Abu-Abu” Karya Muhammad Arsyad Fuadi (FAMili Agam) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top