• Info Terkini

    Friday, February 15, 2013

    Ulasan Cerpen “Mereka Sebut Itu Jilbab” Karya Puteri Anggraeni (FAMili Surabaya)

    Surabaya dihunjam cuaca panas membara. Fara gelisah, gerah. Keringat sudah membasahi kaos dan celana jeans yang dikenakannya. Ingin saja Fara melepas pakaiannya, tapi syukurlah ia masih ingat aturan Tuhan.

    Di musala kampus, Fara bertemu Nene. Penampilan Nene membuat Fara bingung. Bagaimana jubah dan kerudung besar itu tidak membuatnya gerah dan panas? Fara yang memakai kaos dan jeans saja merasa kepanasan, apalagi ditambah kerudung yang membuatnya semakin pengap. Pada kesempatan itu, Nene mengundang Fara untuk mengikuti diskusi tentang jilbab. Diskusi yang benar-benar membuka mata sadar Fara, bahwa bagaimana jilbab sebenarnya dalam Islam, jilbab dan kerudung yang selama ini masih samar dalam pikirannya. Dan, Fara mengubah penampilannya. Tampil dengan anggun layaknya perempuan yang hidup pada masa Nabi. Fara bangga dengan penampilan barunya.

    Cerpen “Mereka Sebut Itu Jilbab”, ditulis dengan cukup apik. Tulisan yang mengandung nasehat tapi tidak terkesan menggurui. Penulis juga menguatkan argumen dengan dalil-dalil naqli (Al Qur’an). Pembaca dapat banyak belajar melalui tulisan ini, tentang jilbab yang sebenarnya dalam Islam.

    Namun, kelemahan dalam penulisan cerpen ini masih ditemukan, seperti penulisan kata sapaan langsung yang seharusnya menggunakan huruf kapital. Tulisan “Iya, mbak.” Seharusnya ditulis “Iya, Mbak.” Selain kata sapaan pada kalimat langsung, tulisan “mbak” menggunakan huruf kecil, seperti “mbak Nene.” Untuk penulisan kata asing jangan lupa dicetak miring, seperti assalamu’alaikum, insya Allah, Allahu Akbar, update.

    Untuk penulis, teruslah menulis dan mengasah pena agar semakin tajam. Jangan lupa mengirim tulisanmu ke media, ya! Tapi jangan lupa untuk melakukan editing terlebih dahulu sebelum tulisanmu dikirim. Redaksi tidak ingin repot-repot memperbaiki tulisan kita, karena kita adalah pemula.

    Oke, tetap semangat, ya! Salam santun, salam karya, salam semangat.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]


    Mereka Sebut Itu Jilbab

    Oleh: Ayla Putri (Puteri Anggraeni)

    Tengah hari ini, matahari bersemangat sekali membakar kota Surabaya. Aku tidak tahan lagi. Padahal aku sudah mengenakan kaos, tapi tetap saja terasa gerah. “Apa perlu aku lepas semua pakaianku ini?” pikirku.

    Meskipun aku tidak ada lagi jam kuliah, tapi sepertinya aku tidak akan kuat jika harus menyusuri jalan untuk pulang. Sepertinya aku perlu bersembunyi ditempat yang tidak akan terjangkau oleh teriknya matahari. Ah, sepertinya berada di mushola cukum nyaman. Kebetulan aku juga belum melaksanakan sholat dhuhur. Aku berlari kecil menuju mushola yang ada di bagian utara kampus. Sudah banyak orang disana. Entah untuk sholat atau sekedar berteduh.

    Aku melangkahkan kaki di pelataran mushola. Tak sengaja aku berpapasan dengan seseorang. Aku pernah melihatnya sebelumnya. Kalau tidak salah namanya Nene. Dia pernah memberiku sebuah buletin tentang umat Islam. Pertama kali melihatnya aku sangat heran, bukan karena bulletin yang diberikannya, tapi terlebih lagi dengan jubah dan kerudungnya yang sangat besar. Terkadang aku berfikir mungkin ia tidak memiliki kelenjar keringat atau saraf perangsang panas. Bagaimana ia bisa tahan dengan pakaian yang sedemikian rupa? Aku saja yang mengenakan kaos dan celana jeans sudah cukup gerah, terlebih lagi ditambah kerudungku yang semakin membuatku terasa pengap. Jika tidak ingat aturan Tuhan, mungkin aku sudah melepasnya sedari dulu.

    “Assalamu’alaikum,” sapa Mbak Nene. Aku memanggilnya mbak karena dia lebih tua dariku.

    “Wa’alaikumsalam,” jawabku.

    “Anti mau sholat?”

    “Iya, mbak.”

    “Setelah sholat anti ada waktu tidak? Saya ingin berbincang-bincang sedikit dengan anti.” Tutur katanya begitu sopan, membuatku merasa ewuh  sendiri jika berbicara seenaknya.

    “Ada, mbak. Kebetulan saya sudah tidak ada jam kuliah.”


    “Kalau begitu saya tunggu anti disana,” ditunjuknya sisi masjid bagian utara.

    “Iya, mbak. Tunggu sebentar, ya?”

    Aku hanya membutuhkan sepuluh menit untuk berwudlu, sholat, dan berdoa. Segera mungkin aku menemui Mbak Nene yang sedari tadi menungguku. Dia langsung melemparkan senyum saat melihatku datang. Benar-benar terlihat anggun.

    Aku duduk tepat dihadapannya. Mbak Nene menanyakan kabarku dan keluargaku. Kebetulan mbak Nene juga pernah bertemu kedua orang tuaku saat mereka mengantarku untuk registrasi pertama kali di Universitas. Selain itu mbak Nene juga menanyakan aktifitasku dan apakah aku ada waktu luang Rabu sore besok. Sepertinya ia ingin mengajakku. “Insya Allah besok sore saya kosong, mbak,”

    “Ini ada acara kajian rutin, tempatnya di kontrakan saya. Temanya tentang jilbab,” Mbak Nene memberiku sebuah selebaran. “Anti mau ikut?”

    Sepertinya acara itu cukup bagus. Sapa tahu aku bisa mendapat sedikit pengetahuan baru, “boleh deh.”

    “Kalau begitu besok anti ke kontrakan saya jam 3.”

    “Oke, mbak.”

    ***

    Tepat pukul 14.30 aku sudah selesai kuliah. Aku hanya perlu menunggu 30 menit sebelum datang ke kontrakan Mbak Nene. “Lebih baik aku menunggu di mushola, sebentar lagi juga Ashar,” pikirku.

    Sore itu matahari tak begitu panas. Hanya saja sinarnya yang masih terpancar kuat. Kalau sudah sore begini tidak banyak orang di mushola karena rata-rata mereka sudah selesai kuliah dan langsung kembali pulang.

    “Allahu Akbar Allahu Akbar,…” terdengar salah seorang mahasiswa mengumandangkan adzan. Tapi tak seorang pun datang untuk melaksanakan sholat, hanya ada beberapa petugas kebersihan yang datang untuk sholat berjamaah, yang lain? Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Jangankan mahasiswanya, dosen pun yang menjadi contoh tak seorang pun tampak. Memang hal ini sangat miris sekali. Entah sampai kapan kondisi demikian dapat berubah.

    Setelah sholat berjamaah, aku langsung mengambil motor di parkiran. Dengan kecematan 40 km/jam aku menuju kontrakan Mbak Nene yang berjarak 800 meter dari kampus.

    Di depan kontrakan berpagar hitam motorku berhenti. Rupanya sudah banyak yang datang. Terlihat dari beberapa motor yang berjajar. Ku parkirkan motorku dibagian belakang agar aku lebih mudah untuk mengeluarkannya.

    “Assalamu’alaikum,” aku mengucap salam sesaat setelah melangkahkan kakiku kedalam.

    “Wa’alaikumsalam,” beberapa orang didalam kontrakan itu menjawab serentak.

    “Eh, dik Fara. Masuk, dik,” Mbak Nene mempersilahkanku masuk.

    Ruangan ini disetting sederhana. Ada sebuah papan yang digunakan sebagai baground bertuliskan “Berjilbab itu Cantik”. Di depannya ada sebuah meja panjang kecil yang akan dijadikan sebagai meja moderator dan pembicara. Disebelah kanan meja panjang ada sebuah meja kecil dan di atasnya terdapat sebuah laptop untuk presentasi.

    Kajian itu diperuntukkan untuk muslimah, jadi pastinya yang datang hanyalah kaum hawa. Salah seorang panitia memberi komando agar audience merapatkan shaf duduknya.

    “Assalamua’laikum,” moderator mulai membuka acara. Dibuka dengan sedikit yell dan kemudian penyaji mulai mengambil alih. Penyaji pertama-tama menjelaskan bagaimana hukum menutup aurat, yaitu wajib. Dilanjutnya dengan penjelasan tentang perintah mengenakan jilbab dan kerudung. Mendengar kata jilbab dan kerudung, seakan-akan ke dua hal itu berbeda, padahal yang aku ketahui keduanya sama. “Pada Q.S An-Nuur ayat 31 Allah memerintahkan kita untuk mengenakan khimar, yaitu  kerudung untuk menutup kepala hingga dada. Jadi, syarat ukuran kerudung adalah menutup dada. Lalu bagaimana dengan jilbab?”

    “Pada Q.S Al Ahzab ayat 59 Allah memerintahkan kita untuk mengulurkan jilbab keseluruh tubuh. Jadi, jilbab adalah pakaian yang kita kenakan ini,” penyaji memegang baju gamis yang dikenakannya.

    “Dan menurut kamus-kamus bahasa Arab, salah satunya adalah kamus Al-Munawir , jilbab diartikan sebagai baju kurung panjang, sejenis jubah. Selain itu ada juga pada kamus Al-Muhith yang mengartikan jilbab adalah pakaian yang lebar seperti terowongan, gamis atau jubah yang longgar untuk wanita serta dapat menutup pakaian sehari-hari. Pakaian sehari-hari disini adalah pakaian yang biasa dipakai di rumah saja dan hanya boleh dikenakan ditengah-tengah mahrom,” penyaji memperkuat argumennya.

    Jika dicermati memang benar kedua kata tersebut memiliki berbeda arti. Toh aku juga seorang mahasiswi dari jurusan bahasa, jadi sedikit banyak aku dapat merasakan perbedaan kedua kata tersebut.

    “Tapi apa tidak panas mengenakan pakean seperti itu?” celetuk seseorang yang duduk dipaling ujug barisan pertama.

    “Lebih panas mana terik matahari di dunia atau api neraka?” sebuah pertanyaan yang tak dapat dibantah. “Segala sesuatu yang dilakukan dengan iklas akan terasa ringan.”

    Aku merenungkan apa yang dikatakan penyaji.“Bagaimana bisa jilbab berubah menjadi kerudung? Padahal jelas-jelas kedua kata tersebut memiliki arti yang berbeda. Apa itu hanya sebuah perbedaan khilafiyah?” otakku terus memunculkan berbagai pertanyaan. Tapi aku tidak memungkiri untuk membenarkan hal tersebut.

    ***

    “Assalamu’alaikum,” aku melangkah mantap kedalam kelas. Aku tahu semua teman-teman heran melihatku mengenakan pakaian seperti ini.

    “Ada apa denganmu? Apa kamu demam pagi ini? Kamu kemanakan jeans dan kaosmu? Ini baju ibumu yang kamu kenakan?” pelbagai pertanyaan terlontar dari teman-teman. Aku merasa bak seorang artis saja yang ditimpali pertanyaan dari pers. Tapi sebenarnya dengan pakaian ini aku merasa seperti para istri dan putri Nabi, atau muslimah-muslimah yang hidup dijaman itu. menanggapi teman-teman aku tidak mau banyak ucap. Cukup ku jawab dengan senyuman paling manis teman-teman tidak akan banyak tanya lagi. Lalu tak lupa kuupdate status di beranda facebook “Aku bangga dengan jilbab dan kerudungku.” Sengaja kutulis demikian agar teman-teman bertanya tentang perbedaan kerudung dan jilbab sehingga aku bisa berbagi dengan mereka. Apa salahnya untuk berbagi?

    BIODATA:
    Ayla Putri adalah nama pena dari Putri Anggraeni. Seorang gadis yang lahir di Surabaya, 17 November 1993. Sejak tahun 2011 dia adalah mahasiswi Universitas Negeri Surabaya di jurusan Sastra Inggris. Sebagai seoarang muslimah Ayla juga ingin berpartisipasi untuk berdakwah, akhirnya Ayla memilih dakwah bil kolam agar kedua impiannya terwujud, yaitu dakwah dan menulis. Ayla Putri dapat dihubungi melalui e-mail putri_alish@yahoo.com dan akun FB “Putri Anggraeni (Ayla Putri)”. Selain itu Ayla juga dapat dihubungi langsung di nomor 085706391693.


    Gambar sekadar ilustrasi, bersumber  dari google.


    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Mereka Sebut Itu Jilbab” Karya Puteri Anggraeni (FAMili Surabaya) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top