• Info Terkini

    Thursday, February 7, 2013

    Ulasan Cerpen “Sang Budayawan Jawa” Karya Bayu Rizky Pratama (FAMili Brebes)

    Anak lelaki bermata sipit dan berkulit putih itu bernama Chinmi. Chinmi berasal dari etnis Tionghoa yang mengalami diskriminasi pada masa pemerintahan Orde Baru. Masyarakat sekitar tempat tinggal, teman sekolah, semua menyudutkan Chinmi sebagai orang Cina yang tidak layak diperlakukan sama dengan masyarakat pribumi lainnya. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa Chinmi adalah sosok yang sangat mencintai budaya Jawa. Jangan heran jika Chinmi begitu lihai memainkan gamelan.

    Ketika ingin mengikuti lomba gamelan di sekolah, Chinmi harus berjuang. Berjuang harus keluar dari kerumunan orang-orang yang penuh sesak di depan rumahnya karena terjadi demonstrasi. Masyarakat mencaci maki keluarganya, mendeskriditksn etnisnya. Syukurlah, Pak Kades mampu meredam amarah warga. Chinmi hanya punya seorang sahabat “aku” yang sangat menghargai dirinya, tanpa memandang berasal dari etnis mana dirinya berasal. Dan, ketika Chinmi harus berhadapan dengan Yugas yang berbadan besar, “aku” menolongnya sehingga dia dapat mengikuti lomba gamelan dan hampir terkualifikasi karena terlambat.

    Kerja keras, dan kecintaan Chinmi pada gamelan membuat ia dapat bermain dengan sempurna. Banyak yang tidak menduga hal ini, dan semua terpaku pada permainannya yang sanggup menghipnotis penonton. Penonton sangat terharu pada permainan dan sikap Chinmi yang rendah hati. Terlebih ketika dia berdiri dan mengatakan “Maaf, saya hanya bisa memainkannya secara sederhana.” Suasana mendadak hening, “aku” berdiri dan memberikan tepuk tangan diikuti oleh penonton yang lain.

    Kini, pandangan terhadap etnis Tionghoa sudah berubah. Bahkan, masyarakat pribumi merasa malu bahwa Chinmi yang dianggap asing justru lebih menguasai budaya Jawa dari pada Jawa itu sendiri. Dan, Chinmi meraih juara pada lomba itu. Hidup damai dan toleransi itu indah, saling menghargai satu sama lain.

    Itulah inti cerita yang berjudul “Sang Budayawan Jawa” ini. Cerita tentang salah seorang anak Tionghoa yang sangat mencintai budaya Jawa. Anak yang selalu dideskreditkan hanya karena ia keturunan etnis Tionghoa. Ide cerita sangat menarik, menyadarkan para pembaca bahwa jangan pernah memandang diri kita seorang yang sangat baik sementara orang lain buruk. Padahal, itu sama sekali tidak terbukti. Diceritakan bahwa Chinmi adalah orang Jawa lebih dari orang Jawa itu sendiri. Keragaman itu adalah kekayaan, bukan justru keragaman membuat kita saling terpecah belah. Tapi, keragaman membuat kita saling menghargai dan hidup damai.

    Kelemahan pada tulisan ini masih didapati, terutama dalam penulisan huruf kapital. Penulisan “tionghoa” sebaiknya “Tionghoa.” Penulisan spasi cerpen sebaiknya mengikuti kaidah yang biasa diterapkan, yaitu 1,5 atau 2 spasi. Jangan lupakan juga paragraf . Ada juga didapati kerancuan pada kalimat: “Hei kalian…apa sebenarnya masalah kalian? Sehingga membuat kalian sebegitu benci padanya, apa kalian pintar dengan mengatakannya bodoh? Apa kalian memang lebih baik dari anak ini? Menujukkan jari telunjuk,” Dan kau Yugas..jika berani, kau lawan aku dulu!.”

    Tidak ada pemisahan kalimat di atas, sebaiknya ditulis:

    “Hei kalian… apa sebenarnya masalah kalian, sehingga membuat kalian begitu benci padanya? Apa kalian pintar dengan mengatakannya bodoh? Apa kalian memang lebih baik dari anak ini?” kemudian dengan berani aku mengarahkan jari telunjuk ke depan hidung Yugas.

    ” Dan kau Yugas..jika berani, kau lawan aku dulu!.”

    Kalimat di atas sebaiknya ditulis: “Dan kau Yugas, jika berani lawan aku dulu!”

    Kerancuan lain terdapat pada kalimat: Berdiri, “Ma’af…saya hanya bisa memainkannya secara sederhana,” ujar Chinmi.

    Seharusnya ditulis dengan keterangan yang lengkap: Lalu Chinmi berdiri, “Maaf… saya hanya bisa memainkannya secara sederhana,” ujar Chinmi.

    Selebihnya, ini adalah cerita yang menarik dan enak dibaca. Untuk penulis, teruslah menulis dan asah pena agar lebih tajam. Gali terus ide-ide Nasionalisme yang ada di sekitar kita.

    Salam santun, salam karya, salam semangat!

    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    SANG BUDAYAWAN JAWA


    Oleh: Bayu Rizky Pratama (FAMili Brebes)

    Sekilas kisah perjalanan hidup seorang tionghoa. Hidup dalam tekanan besar pada masa pemerintahan orde baru, di mana terdapat dikriminasi dan kesenjangan sosial bagi para etnis tionghoa. Namun, ia tak pernah menyerah akan keadaannya. Semua beban diskriminasi itu ia tangguhkan menjadi gelora semangat mempelajari dan membangun nilai budaya Jawa. Hingga akhirnya sampai pada suatu titik di mana usahanya itu berhasil.
    - Sang Budayawan Jawa dari Etnis Tionghoa-

    Malam semakin larut dengan desiran angin malam yang melambai-lambaikan dahan-dahan kelapa nan tinggi. Dingin sekali rasanya malam ini, terlebih bagiku. Aku harus segera tidur karena esok hari harus berangkat sekolah. Namun, malam ini nampak sulit sekali untuk memejamkan mata. Terpaksa aku keluar untuk sekedar berjalan-jalan tentunya dengan berbekal sarung yang menghangatkan tubuhku. Sayup-sayup terdengar suara gamelan. Aku kenal betul suara ini, suara yang datangnya dari arah rumah Chinmi, teman akrabku. Segeralah aku bergegas menuju sumber suara. Benar, itu adalah suara gamelan yang sedang dimainkan Chinmi. Sepertinya Chinmi  sedang berlatih keras demi kompetisi esok hari. Bagiku ia adalah seorang pahlawan bangsa. Ia lah yang terus memperjuangkan budaya Jawa di tengah arus modernisasi awal abad 21. Padahal sebenarnya ia adalah etnis tionghoa yang sedang menghadapi tekanan pemerintah akan diskriminasi. Ia pula lah yang menyadarkanku yang notabene adalah orang Jawa tulen, menyadarkan akan pentingnya melestarikan budaya Jawa ini.

    “Chim..sedang berlatih sendirian nih.”

    “Oh iya nih Dan, harus lembur menyelesaikan intro baru untuk lomba gamelan besok,”

    Yah..begitulah Chimni. Selalu menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya telah selesai, seperti layaknya para kaum tionghoa yang terkenal ulet dan pekerja keras. Ia selalu menempatkan dirinya sebagai pribadi yang bodoh, sehingga ia senantiasa berlatih dan terus mengulang-ulang hasil latihannya itu, hingga batinnya merasa puas akan kesempurnaan latihannya.

    Esoknya, lomba gamelan pun dimulai. Aku melihat kesana kemari mencari Chimni. Namun tak terlihat batang hidungnya. Ia belum menampakkan dirinya sedari tadi. Tidak mungkin bila ia takut dan batal mengikuti perlombaan ini. Atau mungin ada masalah sehingga ia tak datang jua. Lalu kuputuskan untuk pergi kerumahnya.

    Belum sampai dirumah merah miliknya, suara gadung sudah terdengar. Amat gaduh dengan berbagai teriakan yang mengelilinginya. Melihat bagian depan rumahnya, penuh sesak orang-orang. Bukan untuk mengantri sembako ataupun BBM, mereka sibuk mencaci dan memaki keluarga Chimni. Bahkan ada beberapa dari mereka yang membawa poster bertuliskan “ANTI TIONGHOA”. Kecaman yang amat pedih bagi orang-orang dalam rumah merah itu. Tak terbayang pula hancurnya hati Chinmi kecil melihat keluarganya digempur diskriminasi hanya karena mereka berasal dari etnis tionghoa. Beruntung kepala desa dan perangakat pembantunya datang dan menenangkan para warga itu. Terlihat pak kepala desa sedang bergelut dengan debatan-debatan para warga. Ia berusaha keras menenangkan warganya. Dan untungnya...warga berhasil ditenangkan, meskipun ada sebagian yang masih menggerutu.

    Chimni yang harus mengikuti lomba segera bergegas menuju sekolah tempat di mana lomba diselenggarakan. Aku berjalan beriringan dengannya sekaligus berusaha menenangkan dan menyemangatinya kembali. Belum sampai di sekolah, sejumlah anak-anak SD - lebih tepatnya mereka adalah teman kami – bergerombol mendekati kami. Salah satunya yang bertubuh paling besar, yakni Yugas langsung mendorong tubuh kecil Chimni.

    Mangepalkan tangan,“Hei orang cina sialan, pergi saja kamu ke tanah asalmu (baca: Cina) dasar orang idiot!” ujarnya.

    Sontak aku langsung mendorong balik Yugas. Aku sungguh tak terima Chimni sahabatku diperlakukan bak binatang oleh semua orang.
        “Hei kalian...apa sebenarnya masalah kalian? Sehingga membuat kalian sebegitu bencinya padanya, apa kalian pintar dengan mengatakannya bodoh? Apa kalian memang lebih baik dari anak ini? Menujukkan jari telunjuk,“ Dan kau Yugas..jika berani, kau lawan aku dulu!”

    Hening.

    Mereka semua hanya terdiam lalu pergi meninggalkan kami. Tanpa pikir panjang kami langsung melanjutkan perjalanan. Hingga sampailah di sekolah dan Chimni berhasil mengikuti lomba itu meskipun hampir saja di diskualifikasi karena keterlambatannya.

    Suasana sepi dan tenang ketika Chimni memainkan lantunan gamelan Jawa. Tangannya benar-benar terampil seperti mesin ketik yang seakan tahu letak posisi objeknya – dalam hal ini gamelan. Merdu sekali alunan gamelan yang dimainkan anak ini. Jiwanya dan gamelan itu seolah menyatu dalam bait-bait merdu akustik gamelan. Hingga ia mengakhiri lantunan itu dengan ketuka lembut nan panjang yang membuat pendengarnya seakan-akan terjun ke air terjun namun dengan kecepatan perlahan.

    Hening masih terasa. Tanpa ada seorang pun berkata, mungkin mereka terkagum-kagum akan permainan gamelan dari anak tionghoa ini yang sebelumnya selalu mereka cela. Aku tak sungkan langsung menyambut usainya permainan gamelan itu dengan tepukan kedua tangan ini. Hingga disusul puluhan dan terus bertambah menjadi ratusan tepukan tangan para pemirsanya.

    Berdiri,“Maaf.. saya hanya bisa memainkannya secara sederhana,” ujar Chimni.

    Ibu-ibu yang duduk dibarisan paling depan sontak menangis mendengar kerendahan hati anak itu. Mereka sedih, malu, sekaligus merasa bersalah telah memperlakukan Chimni tidak manusiawi. Semua yang ada di latar sekolah merasakan haru, sekarang bukan lagi karena dentuman gamelan yang dibawakan Chimni, namun karena kesalahan mereka yang mendiskrtiminasikan seorang tionghoa yang bahkan lebih mengenal budaya Jawa dibandingkan mereka sendiri. Mereka benar-benar menyesal telah melakukan itu pada anak kecil bernama Chimni itu.

    Pada ahkhirnya Chimni yang memenangkan kejuaraan gamelan itu. Kemenangan yang sungguh luar biasa. Lebih dari sekedar piala dan uang pembinaan, melainkan kemenangan harkat dan martabat seorang tionghoa yang sebelumnya terdiskriminasikan. Mulai saat itu, seluruh komponen masyrakat menghargai setiap kaum tionghoa. Mereka beranggapan bahwa untuk apa saling bermusuhan jika damai itu menyenangkan. Etnis tionghoa mulai dihargai dan dijunjung tinggi martabatnya. Mereka mulai dimasukan dalam aktivitas kemasyarakatan. Masyarakat pun sekarang tak sungkan memuji hasil kerja mereka yang ulet dan sangat telaten tanpa adanya rasa putus asa dalam melakukan pekerjaannya. Tionghoa adalah bagian mereka sekarang dan mereka bangga akan itu.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Sang Budayawan Jawa” Karya Bayu Rizky Pratama (FAMili Brebes) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top