• Info Terkini

    Sunday, February 24, 2013

    Ulasan Cerpen “Senyuman Ibunda” Karya Rendra Pirani (FAMili Tangerang)

    Narto, kehilangan ayah ketika ia berusia lima tahun. Sejak itu, ibu membesarkannya sendiriran. Ibu menjelma menjadi seorang ayah yang kuat sekaligus ibu yang lemah lembut. Tapi kini Narto dihadapkan pada satu kenyataan bahwa ibunya sakit keras. Ibu yang batuknya mengeluarkan darah sementara mereka tidak punya uang untuk berobat. Untuk kehidupan sehari-hari Narto harus menjadi tukang semir sepatu yang setiap hari ke luar rumah dengan kotak kayu yang melingkar di lehernya. Kotak kayu yang berisi semir, kain halus dan sikat putih. Narto dengan berat hati meninggalkan ibu yang sakit sendirian di rumah. Pada akhirnya, ia mendapati rumahnya telah ramai dengan tetangga dan bendera kuning terikat di pangkal tiang listrik. Ibu meninggal dunia.

    Cerpen “Senyuman Ibunda” menggambarkan kepedihan dan perjuangan hidup Narto, seorang bocah penyemir sepatu. Cerita yang sangat menyentuh nurani, memberi pelajaran bagi pembaca bahwa banyak Narto-Narto lain yang ada di sekeliling kita. Alur cerita dan konflik cukup bagus dengan ending yang sangat menyentuh. Penulis berhasil menyajikan kehidupan Narto dalam bentuk tulisan dengan baik.

    Namun kesalahan penulisan masih ditemukan dalam hal penulisan kata penghubung. Penulisan “mobil – mobil” seharusnya “mobil-mobil” (tidak menggunakan spasi). Hal ini ditemukan setiap penulisan kata penghubung. Begitu juga dengan penulisan kata sapaan pada kalimat langsung, seharusnya menggunakan huruf kapital. Seperti “Aku berangkat bu, Assalamu’alaikum…” seharusnya ditulis “Aku berangkat, Bu. Assalamu’alaikum…” perhatikan tulisan yang bercetak miring. Cetak miring digunakan untuk penulisan kata asing.

    Untuk penulis, teruslah menulis dan jangan lupa untuk mengirimkan tulisanmu ke media, ya! Teruslah menulis, dengan terus menulis maka tulisan akan semakin baik dan pena semakin tajam untuk menghasilkan karya. Salam santun, salam karya, salam semangat!

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Senyuman Ibunda

    Oleh: Rendra Pirani

    Siang ini, entah mengapa terik matahari terasa begitu panas membakar tubuhku. Aku yang begitu lelah bermandikan peluh hanya bisa duduk terkulai di kursi pinggiran jalan. Kaus lusuh bermandikan keringat yang kukenakan, kini telah mengering diterpa sinar mentari bersama aku di dalamnya. Sesaat kemudian kudongakkan kepalaku. Hah, mobil – mobil mewah masih berseliweran di hadapanku. Dengan suara klakson yang menambah bisingnya kota ini. Aku tak bisa menyalahkan mereka atas keegoisannya, mereka tak pernah tahu apa yang kualami. Bagaimana kehidupanku dengan Ibuku yang sedang sakit keras di rumah. Tapi, untuk apalah aku pikirkan ini. Kalaupun aku teriakkan kisahku pada mereka, belum tentu mereka mau membantuku. Kini, aku telah bosan menatap jalanan. Kembali kutundukkan wajahku. Tiba – tiba sebuah pertanyaan terlintas dibenakku. Apakah aku seorang pecundang ? Ibuku sedang sakit keras, Ia sedang menungguku di rumah. Aku harus membawanya ke rumah sakit. Tapi apakah aku bisa ? Rumah sakit di negeri ini hanya untuk orang kaya saja. Bukan untuk kami orang miskin di pinggir kota.

    Kotak kayu ini, masih kukalungkan di leherku. Tak akan kulepas, hingga aku bisa mengobati sakit ibuku.
    Walau isinya tak seberapa, hanya sekotak kaleng cat pengilap sepatu, secarik kain halus, dan sebuah sikat putih. Tapi hanya dengan benda – benda inilah aku bisa mendapatkan uang.

    ***

    “Bu, Narto berangkat dulu ya.” Ucapku halus kepada ibuku.

    Aku pun memegang tangannya, kuciumi tangan halus yang selama ini telah membesarkanku. Yah, sejak ayahku meninggal ketika aku berumur 5 tahun, ibuku menjelma menjadi seorang ayah yang kuat dan juga ibu yang lemah lembut.

    “Hati – hati ya Nak. Kau jangan terlalu memaksakan diri mencari uang untuk ibu. Pikirkan juga kesehatanmu.” Ucapnya dengan suara lirih.

    Aku sangat terharu. Aliran air mata membasahi pipiku. Walau ibuku sedang sakit keras, ia tetap peduli padaku. Oh ibuku, andaikan nyawaku ini bisa ditukar dengan kesehatanmu, pasti akan kutukar bu.
    Tiba – tiba saja, ibuku batuk. Ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Aku yang berdiri di sebelah ranjang tempatnya berbaring, melihat dengan jelas cairan merah melekat pada telapak tangan kanan ibuku, ketika ia menurunkan tangannya.

    “Ibu, itu darah. Ayo kita ke rumah sakit bu !” Pintaku, seraya mengelap tangannya dengan selimut.

    “Narto, apa kamu bergurau ? Bagaimana mungkin rumah sakit mau mengobati ibu. Wong kita nggak punya uang kok.”

    Ia masih mampu tersenyum dengan kondisi yang seperti ini.

    “Tapi bu, Narto nggak tega ngeliat ibu kayak gini.”

    “Kamu nggak usah nangis gitu lah nduk. Kamu kan laki – laki, sudah remaja pula. Masa melihat ibumu batuk – batuk saja sudah nangis begitu. Jadilah pemuda yang tegar Nak. Kelak jikalau ibumu ini menemui tuhan, kau harus mampu menghidupi dirimu sendiri.”

    Aku tersentak mendengar pernyataan ibuku.

    “Ibu ini ngomong apa sih. Ibu pasti sembuh bu, ibu pasti sembuh ! Dokter bilang, selama ibu minum obat, harapan ibu untuk hidup itu masih ada !”

    Air mataku semakin deras mengalir. Berbeda sekali dengan ibuku, ia tetap terlihat tegar menerima keadaan. Walau untuk membalikkan tubuhnya saja sesungguhnya ia tak mampu. Ia kemudian meraih kain yang ada didekatnya.

    “Usaplah air matamu. Jangan kau tangisi keadaan ibu Nak. Mungkin sudah takdir ibu begini.” Ucapnya sambil menggenggam kain dan mengulurkannya padaku.

    Aku pun meraih kain itu. Kuusap air mataku yang kini sudah berhenti mengalir.

    “Sekarang, pergilah. Kau cari uang untuk memenuhi biaya hidup kita.” Perintah ibuku.

    “Ibu, nggak apa – apa Narto tinggalin sendirian ?” Tanyaku.

    “Nggak, pergilah.”

    Aku pun beranjak pergi meninggalkan ibuku. Kuambil kotak berisi seperangkat alat semir sepatu milikku yang tergeletak tak jauh dari ranjangnya. Aku mulai keluar dari kamar ini. Ketika kakiku melewati pintu ini, itu berarti aku telah keluar dari rumahku. Sepintas aku menoleh ke belakang. Aku ingin memastikan keadaannya. Syukurlah, ia masih tetap tersenyum memandangiku.

    “Aku berangkat bu, Assalamualaikum…”

    ***

    Aku masih teringat kata – kata “angker” ibuku tadi pagi. Apa maksud dari perkataannya. Ah sudahlah, aku tak mau berpikiran yang aneh – aneh. Aku harus semangat untuk mencari uang. Walau hanya dengan kotak semir ini. Aku kembali mendongakkan kepalaku. Kali ini dengan senyum semangat tentunya. Kuterawang segala keadaan yang ada di sekitarku. Aha ! ada seorang bapak – bapak berjas hitam rapi sedang berjalan ke arahku. Aku langsung beranjak dari kursi ini, dan berlari kecil mendekatinya.

    “Pak, mau saya bersihkan sepatunya ?” Tanyaku halus.

    Dengan tatapan jijik ia memandangiku.

    “Tidak – tidak, minggir kamu. Jangan menghalangi jalan saya.” Bentaknya padaku.

    Aku pun segera menjauh sebelum ia menjatuhkan pukulan padaku. Tunggu, aku tak perlu takut dipukul. Ia kan jijik padaku. Bagaimana mungkin ia menyentuhku. Oh, bodohnya aku.

    Sekarang, aku melanjutkan jejak langkahku. Menelusuri jalanan yang kadang tak bersahabat. Mencari nafkah dibalik asap kendaraan yang selalu menemaniku. Kali ini, sampailah aku di sebuah halte bus. Kembali kutelusuri raut wajah orang – orang di sekelilingku. Tiba – tiba saja, seorang bapak paruh baya memanggilku.

    “Dek, kemarilah. Semir sepatu saya !”

    Alhamdulillah, masih ada orang baik di kota ini ternyata. Aku pun segera mengeluarkan perlengkapan semirku. Ia kemudian meletakkan kakinya di atas kotak yang kubawa. Pekerjaanku dimulai.

    “Tot tooot !!! “ Suara mobil angkutan begitu mengagetkanku. Sejurus kemudian, bapak yang kusemir sepatunya segera mengangkat kakinya.

    “De, ini uangnya !” Ia melemparkan selembar uang berlogo pattimura padaku, dan berlari menaiki mobil angkutan.

    Aku masih memasang senyum aneh sambil memandangi mobil itu pergi

    “Alhamdulillah, dapat tambahan seribu rupiah.”Gumamku.

    Hari ini, aku merasa puas. Kurasa uang yang kudapat sudah lumayan banyak. Baiknya kuhitung uangku sekarang. Aku pun menyandarkan tubuhku di kursi yang ada di halte bus ini. Ku keluarkan uang yang ada di dompetku.

    “Dapet dua puluh ribu. Cukup buat beli nasi bungkus untuk bekal makan malam.” Ujarku penuh rasa bahagia.

    Tapi entah mengapa, perasaanku tiba- tiba saja tak enak. Aku ingin segera pulang. Aku takut terjadi apa – apa pada ibuku. Peristiwa batuk berdarah yang dialaminya tadi pagi, kembali membayangiku. Tanpa berpikir panjang, segera kumasukkan kembali uangku. Kemudian, aku langsung beranjak pergi meninggalkan tempat ini. Aku berlari sekuat tenaga, menuju rumahku. Oh, degup jantung ini semakin cepat saja. Perasaan yang kurasakan semakin tak karuan.

    ***

    Langit cerah di sore hari, kini telah ditutupi awan gelap berisikan butir – butir hujan. Aku memasuki gang rumahku secara perlahan. Lelah, itu yang kurasakan setelah aku berlari tadi. Nafasku masih terengah – engah. Sampai – sampai aku kesulitan bernafas. Tiba – tiba saja langkahku terhenti, mataku terbelalak. Ada bendera yang terbuat dari kertas berwarna kuning terikat di pangkal tiang listrik. Saat ini, yang terlintas di benakku hanyalah ibu. Apa maksud dari bendera kuning ini. Jangan – jangan ibuku ? Ah tidak mungkin !! Aku kembali berlari. Kudapati di halaman rumahku kini telah sesak dipenuhi tetanggaku. Ketika aku datang, tatapan mereka langsung tertuju ke arahku. Aku memasuki rumahku dengan perlahan. Orang- orang yang ada di dalam rumahku segera memandangiku dan memberi jalan padaku. Langkahku menjadi gontai, tubuhku lemas serasa tak memiliki tulang. Aku kehilangan tenaga. Aku terseok dan terjatuh tepat disebelah ranjang ibuku. Tetanggaku memapah tubuhku. Kini air mataku kembali bercucuran. Kini tak ada lagi yang memintaku mengusap air mata ini. Kini sosok orang yang paling kucintai benar – benar telah menemui tuhan. Senyuman yang melekat diwajahnya tadi pagi, adalah senyuman terakhir yang ia berikan untukku. Hingga saat ini aku hanya bisa terpaku menatap jasadnya yang terbujur kaku. Selamat jalan ibuku, semoga engkau mendapat tempat yang terbaik di sisiNya, amin…

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Senyuman Ibunda” Karya Rendra Pirani (FAMili Tangerang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top