• Info Terkini

    Saturday, February 16, 2013

    Ulasan Cerpen “Teguran dari Tuhan” Karya Ade Ubaidil (FAMili Banten)

    Cerpen ini bercerita tentang tokoh utama yang mengalami mimpi buruk. Dalam mimpi tersebut ia melihat dua orang lelaki misterius masuk ke dalam rumahnya dengan tujuan mencuri. Tokoh utama pun membangunkan kedua orangtuanya. Namun, mereka dikagetkan oleh teriakan keras kedua lelaki misterius itu. Badannya melepuh dan merasakan panas yang luar biasa. Menurutnya, hal itu disebabkan kesialan memasuki rumah nomor 13 di blok 13. Mereka menganggap terkena kutukan. Saat melihat tokoh utama yang disebut “aku,” mereka berkata seolah melihat cahaya memancar dari tubuhnya disertai tiga rombongan pasukan perang.

    Membaca cerpen ini di awal, seolah pembaca akan diajak pada suatu konflik hebat yang terjadi antara tokoh utama dan dua orang lelaki misterius, namun hal itu harus terpatahkan ketika membaca ending cerita ini. Kejadian tersebut hanyalah mimpi dari tokoh utama.

    Sebenarnya, sudah banyak penulis yang mengangkat tema seperti ini. Tentang kejadian-kejadian luar biasa yang sulit dinalar, namun kemudian di akhir cerita si tokoh utama terbangun dari tidurnya. Itu artinya, apa yang dipaparkan di awal cerita hanyalah mimpi belaka.

    Mimpi memang enak. Kita bisa pergi ke mana saja dan berbuat apa saja. Termasuk berbuat hal-hal yang tidak pernah kita lakukan di dunia nyata. Sah-sah saja mengangkat tema cerita seperti ini. Meskipun telah banyak cerita hampir sama ditulis, namun tetap tidak akan ada cerita yang sama persis. Tiap penulis memiliki gaya dan pemaparan yang berbeda. Akan tetapi, sebenarnya tanpa dibuat kejadian tersebut sebagai mimpi tokoh utama, tak masalah. Bukankah ini sebuah karya fiksi, yang tidak memerlukan pembuktian?

    Karya fiksi seperti cerpen memang tidak harus hal-hal yang terjadi di alam nyata. Imajinasi penulis bebas bergerak, lalu menuliskannya menjadi sebuah cerita yang menarik. Meski kadangkala kejadian dalam cerita itu tidak masuk akal, tak masalah. Memang demikianlah karya fiksi.

    Dari segi penulisan, masih banyak kelemahan di beberapa bagian. Seperti penulisan “ke.” Seharusnya ketika diikuti kata yang menunjukkan tempat, maka penulisannya dipisah. Contoh:  ketoilet, kedalam, kearah. Seharusnya ditulis: ke toilet, ke dalam, ke arah. Lalu penulisan koma dalam kalimat, seharusnya setelah koma diberi spasi sebelum dilanjutkan kalimat berikutnya. Contoh: Kami berniat untuk mencuri di rumah ini, banyak yang bicara rumah ini angker.

    Penulisan kata “fikir” dan “nafas” yang benar adalah “pikir” dan “napas.” Demikian pula, “kebesaran-Nya” seharusnya ditulis “kebesaranNya,” tanpa tanda strip. Ade Ubaidil juga harus hati-hati ketika menulis dialog seperti ini, “Bicara apa kalian, kutukan apa? Aku tidak mengerti maksud ucapan itu.” Tanya Ayah kebingungan. Seharusnya ditulis, “Bicara apa kalian? Kutukan apa? Aku tidak mengerti maksud ucapan itu,” tanya ayah kebingungan.

    Secara keseluruhan, isi cerpen ini menarik. Ada pesan yang disampaikan oleh penulis. Penulis ingin mengajak pembaca untuk tidak mengamini perbuatan yang dilarang agama, seperti mencuri, jika tidak ingin mendapatkan teguran keras dariNya. Memang demikianlah seharusnya sebuah karya, bukan hanya bagus dari segi teknik penulisan saja, namun harus ada pesan yang disampaikan. Sehebat apa pun penulisan sebuah cerita, tanpa pesan yang jelas, akan terasa hambar. Tidak menyisakan kesan bagi pembaca.

    Selamat kepada Ade ubaidil, teruslah berkarya.

    TIM FAM INDONESIA

    www.famindonesia

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING]

    Teguran Dari Tuhan


    Oleh: Ade ubaidil

    Dalam mimpiku,aku terbangun untuk pergi ketoilet karena tak tahan ingin buang air kecil,malam itu tak seperti biasanya terasa dingin gelap serta suasana yang mencekam. Semua aku hiraukan karena aku tidak ingin berfikiran yang tidak-tidak,sebab aku takut itu akan membuatku semakin was-was. Setelah selesai dari toilet aku bergegas untuk beranjak tidur lagi,namun sesuatu yang janggal aku dapatkan. Didekat pintu ruang tamu ada dua sosok bayangan laki-laki sedang jalan perlahan menuju ruang keluarga ---sebutanku untuk ruangan menonton televisi. Tapi tidak seperti biasanya aku yang penakut ini,mendekat untuk mendatangi dua sosok misterius itu,lalu matanya menyorot serta menoleh kearahku. Bibirku rasanya kelu untuk mengucapkan kata-kata. Aku coba mengindahkan dan beranjak untuk tidur kembali,yang memang aku lihat jam masih pukul 01.30. karena hal tadi aku tidak dapat melanjutkan tidurku. Lalu akhirnya kucoba membangunkan Ibu yang kamarnya bersebelahan denganku.
    “Kamu lihat yang tadi itu?”Ujar seorang pria yang ada diruang tamu tadi kepada temannya.

    “Iya Sam aku melihatnya,sangat mengerikan!” sahut temannya yang badannya mulai gemetar.

    “mungkinkah ini yang banyak orang katakan tentang rumah Nomor  13 di blok 13. Aku tadinya tidak percaya,tetapi mengalami kejadian ini semua Aku jadi merasa  takut Jon!” menarik baju temannya.

    “Iya Aku juga,apa kamu mau melanjutkan ini,atau pergi sekarang juga. Kakiku tak berhenti gemetar.”

    “Jangan,ini rumah besar,pasti menyimpan uang yang banyak dan barang-barang berharga. Sudah terlanjur kita sampai disini,aku tidak mau pulang dengan tangan kosong.” Ucapnya yang berniat ingin mencuri dirumah itu.
    Mereka setiap melangkahkan kaki terasa berat,wajahpun terlihat sama pucat. Suasana dalam rumah itu terasa seperti ada angin badai yang menerpa tubuh mereka bertubi-tubi,tetapi kegigihan mereka tetap tidak pupus.

    “Bu,bangun Bu.Aku melihat ada dua bayangan yang misterius diruang tamu kita. Saat aku lihat,mereka membalas tatapanku,tapi entahlah mereka terlihat diam saja,seperti ketakutan.” Ucapku tergesa-gesa  setelah sampai dikamar Ibu.

    “Kamu bicara apa sih,jangan berisik ah. Ayahmu nanti terbangun. Bilang saja kamu mau tidur dengan Ibu,kamu takut kan?” ejeknya  yang tidak meladeni  ucapanku.

    “Apa sih Ibu ini,gak percaya sama Rasyid. Aku sudah 18 tahun Bu,aku bukan anak kecil lagi. Aku berkata sebenarnya,percayalah.” Aku yang mencoba meyakinkan Ibu.

    “Aaarrghh,panasss...tolong,tolong!!!” terdengar seruan orang minta bantuan diruang tamu. Sontak Aku dan Ibupun kaget,begitu pula dengan Ayah. Dengan muka yang cemas dan ketakutan Aku,Ayah dan Ibu menuju sumber suara. Aku tersentak dan kaget bukan kepalang,kami menyaksikan dua orang ---yang sepertinya dua sosok misterius  yang aku lihat didekat pintu ruang tamu tadi--- sedang mengerang kesakitan karena disekujur tubuhnya terlihat melepuh seperti terbakar api yang panas. Wajah mereka memerah dengan lingkar hitam dimata yang terlihat semakin dalam.
    “Ada apa ini,siapa kalian?” bentak Ayah.

    “Ampuuunn,maafkan kami tolong jangan apa-apakan kami. Hilangkan kutukan ini..!!!”Ucap kedua pria itu memohon.

    “Bicara apa kalian,kutukan apa? Aku tidak mengerti maksud ucapan itu.” Tanya Ayah kebingungan.

    “Maafkan kami Pak. Kami berniat untuk mencuri dirumah ini,banyak yang bicara rumah ini angker  karena bertempat di blok 13 dan no.13.kami tidak percaya sebelum akhirnya semua ini terjadi. Dibanyak rumah yang sudah kami curi tak pernah terjadi kesialan seperti ini.” Ujar salah seorang pencuri itu sembari teriak kesakitan.

    “Anak itu,dia...” sambil menunjuk kearahku dengan muka yang ketakutan,dan melanjutkan ucapannya. “Dia Berjalan didepan kami,tubuhnya memancarkan cahaya hingga terlihat tiga rombongan pasukan perang berlari kearah kami.” Terang pencuri itu dengan tubuhyang terus mengeluarkan asap,padahal tidak ada api ditubuhnya. Kontan aku terhentak dengan apa yang diucapkannya.Mendengar itu aku teringat,pantas saja mereka memandangku seperti orang ketakutan saat itu.

    “Aku tekankan,ini bukanlah sebuah kutukan atau mitos yang kalian ucapkan sedari tadi. Ini jelas ‘adzab dari Allah untuk kalian yang senang mencuri. Dengan kebesaran-Nya Dia tunjukan ‘adzab itu dirumah kami sekarang,untuk kalian berdua.” Ayah yang menjelaskan persepsi menyimpang mereka. Tiba-tiba salah seorang dari mereka menghilang dari pandangan mata,belakang leherku terasa panas,saat aku menoleh terlihat seorang pencuri tadi siap mencengkram leherku,Aku ketakutan saat jari melepuhnya melingkar dileherku,ketika dia mau mencekikku lalu,seketika aku terbangun dari tidurku. Nafasku tak karuan,terasa cepat dan jantungku berdegup keras sekali.

    “Astagfirullah,syukurlah semua itu hanya mimpi.” Aku mengusap keringat yang deras di keningku. Istighfarterusku tasbihkan. Terdengar adzan shubuh telah sampai ditelinga. Kurasa mimpi tadi adalah sebuah teguran dari Allah. Aku yang jarang mengingatnya saja digambarkan seorang yang bercahaya dengan rombongan perang yang dapat melindungi keluarga dari pencuri itu,begitu Maha Pengasihnya Dia. Aku sungguh sangat malu dengan diri ini,mulai pagi itu juga,Aku berjanji akan selalu beribadah kepada Allah SWT.

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Teguran dari Tuhan” Karya Ade Ubaidil (FAMili Banten) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top