• Info Terkini

    Saturday, February 9, 2013

    Ulasan Cerpen “Terselip Cinta di Balik Persahabatan” Karya Arif Hifzul (FAMili Medan)

    Cerpen ini bercerita tentang persahabatan Arif dan teman-temannya. Cerita hanya berkisar tentang aktivitas tokoh dengan teman-temannya. Arif yang menemani Arman dan Fan berbelanja. Acara belanja ditutup dengan makan.

    Cerpen ini memiliki alur yang datar serta judul yang jauh dari isi tulisan. Cerita tidak diikuti konflik dan hanya berupa dialog-dialog ringan beberapa orang sahabat. Menjadi pertanyaan, di mana letak cinta yang katanya terselip di balik persahabatan? Yang dimaksud cinta di sini sangat samar dan tidak kuat.

    Penulis juga harus memerhatikan EYD. Letakkan huruf kapital pada tempatnya, seperti penggunaan nama orang dan yang mengacu pada kata sapaan. Tulisan “Oh, untuk siapa itu man?”, seharusnya ditulis “Oh, untuk siapa itu, Man?” dan itu terjadi pada sepanjang tulisan. Seperti penggunaan kata “kuliat” seharusnya ditulis “kulihat.” Penggunaan tanda titik atau koma seharusnya ditulis sebelum tanda kutip. Penulis juga harus memerhatikan penggunaan paragraf. Pada judul, kata “dibalik” juga seharusnya ditulis “di balik” karena menyatakan tempat. Kesalahan penulisan ditemukan di banyak tempat sepanjang cerita.

    Untuk penulis, banyaklah membaca. Dengan banyak membaca kita dapat mempelajari tulisan-tulisan yang bagus. Kita dapat belajar tentang ide tulisan, bagaimana munculnya konflik dan bagaimana pula kita membuat ending. Selain itu, kita juga dapat mempelajari kaidah EYD melalui tulisan-tulisan tersebut.

    Walau demikian, Arif Hifzul telah berusaha menulis hingga selesai dan dia berhasil. Itu sudah sesuatu yang luar biasa. Teruslah menulis, jangan pernah menyerah untuk menghasilkan tulisan yang bagus. Untuk menghasilkan tulisan yang bagus, perlu banyak latihan. Tidak ada tulisan yang berkualitas dihasilkan dengan cara instan. Tapi, tulisan yang bagus hanya dihasilkan oleh penulis-penulis yang pantang menyerah dan selalu belajar dari kesalahan. Teruslah menulis, tetap semangat karena kamu pasti bisa!

    Salam santun, salam karya dan salam semangat!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    TERSELIP SEJUTA CINTA DIBALIK PERSAHABATAN


    Oleh: Arif hifzul (FAMili Medan)

    Jam 8 pagi aku bergegas mandi. Sebelumnya aku menyetrika pakaianku yang terlantar diatas ranjang tempat tidurku. Segera aku mengenakan pakaianku. Karena begitu niatnya aku ingin bertemu dengan seorang Dosen yang telah kubuat janji sebelumnya dengan beliau, tak sempat aku menyapu rumah dan membereskan kamarku yang berantakan itu. Aku pun segera menuju ke kampus untuk menemui janji dengan beliau.

    Jam 9 aku tiba dikampus. Dan langsung menuju tempat pertemuan yang sebelumnya sudah kami janjikan. Aku mengirim sms kepadanya tanda tibanya aku di lokasi. Suara Handphoneku berdering pertanda masuknya sms. Balasan  sms dari beliau yang mengatakan bahwa beliau agak telat. Aku menunggunya. Disela-sela waktu tungguku aku sibukkan dengan mengotak-ngatik laptopku. Menemukan sebuah film yang ku copy dari flasdisk temanku semalam. Ku  liat video itu yang berdurasi sekitar satu jam setengah. Sejenak kuliat disekeliling penjuru sudut lokasi itu, kutemukan banyak orang yang berseragam sedang keluar masuk ruangan. “megerjakan tugas mereka yang belum selesai, pikirku”.

    Sedang asyik-asyiknya menonton film, Handphoneku berdering. Kuliat ada sms masuk. Ternyata dari temanku.

    “Assalamu’alaikum rif, lagi dimana?, Jadi kan temani kami ke pusat Perbelanjaan”, tanyanya melalui sms.

    Aku lupa, ternyata aku ada janji juga dengan kedua temanku untuk menemani mereka membeli sesuatu barang untuk dibawa ke kampung mereka. Smsnya pun kubalas dan kukatakan tuk bertemu dikampus saja, pikirku.

    “Wa’alaikum Salam fan, aku lagi di Kampus ni, sedang nunggu Dosen. Jadi, ntar ketemuan di Kampus aja ya jam 10.”, balasku kepadanya.

    “Ok rif,”, dan dia langsung mengatakan sepakat kepadaku. Tak berapa lama keheningan lokasi itupun berubah jadi tempat pusat pasar. Kuliat orang-orang yang berseragam keluar berbondong-bondong dari ruangan pengap yang seakan mencekik mereka itu. Mereka yang sedang berjuang tuk dinobatkan sebagai “The Professional Teachers” itu kembali menghirup udara segar di luar ruangan. Mencari ssesuatu yang dapat mengganjal perut dan menghilangkan dahaga. Tapi sayang, kembali kuperhatikan mereka sepertinya tak jauh beda dengan diriku, dirimu, dan dirinya. Kulihat saja puntungan rokok dan sampah makanan yang mereka buang secara “ngasal” di sudut-sudut tiang bangunan itu. Tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang asyik mengulum permen, kemudian membuang sampahnya kesembarang tempat. Aku heran, ketika sewaktu dulu aku ditegur membuang sampah sembarangan oleh orang-orang yang berseragam itu. Namun, kali ini kuliat dengan mata kepalaku sendiri, belasan dari mereka membuangnya secara sengaja. Atau karena mereka lupa atau tak tahu dimana tong sampah. Sejenak aku berkata dalam hati, “Mungkin mereka juga manusia biasa” sama sepertiku, pikirku dalam senyum. Namun aku malu, aku yang juga sebagai calon guru, “Apakah harus mencontoh seperti mereka?”, pikirku dalam hati sambil menghelakan nafas.

    Sejampun berlalu, namun tak kutemukan sosok yang akan kutemui. Tepat jam 10 kembali ku sms kepada  beliau. Smspun masuk, dan kubaca ternyata beliau segera sampai. Lima belas menit kemudian beliau datang. Dengan mobil berplat merah memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. “Wow Amazing” senyumku dalam hati. Setelah setengah jam kami melakukan kopi darat, akhirnya urusanku pun selesai. Sempat juga aku berdiam diri didalam mobil keren beliau itu selama tiga menit untuk menyelesaikan urusanku di ruangan yang sedikit jauh dari lokasi yang kami janjikan. Ku merasa berada diposisi kedua setelah Pakcik Obama, senyum geliku dalam khayal. “Handphonku berdering” dibalik khayalku disiang bolong, mengganggu saja pikirku sambil membuka sms. Dan ternyata dari temanku yang mengatakan dia sudah sampai kampus. Segera kudapati dia sedang melonjorkan kakinya disebuah penyanggah bangunan itu.

    “Assalamu’alaikum fan” tegurku kepadanya

    “Wa’alaikum Salam”, sapanya datar.

    “Darimana rif?”, lanjutnya

    “Biasa meneyelesaikan urusan semalam” balasku

    “Jadi kita langsung gerak ni?”, lanjutku lagi

    “Boleh, tapi Arman gimana”, tanyanya

    “Oh iya, tadi udah ku sms, tapi tidak ada jawaban fan”, balasku kembali.

    “Tapi bentar ya fan, biar aku hubungi”, usulku kepadanya.

    Dan ku hubungi temanku yang satu lagi, diangkatnya dan dia mengatakan bahawa dia menunggu di Masjid Kampus.

    “Ayo fan, kita gerak ke masjid Kampus, si Arman nunggu disana katanya.” Ajakku kepadanya.

    “Ok rif, kita singgah ke Kantin Audit dulu ya, ada yang mau ku beli”, pintanya kepadaku.

    “Ok fan, yok gerak” lanjutku.

    Setelah melihat-lihat suatu barang di Audit dan telah dibeli temanku, dan kamipun segera menjumpai Arman di masjid kampus.

    “Assalamu’alaikum man, udah lama menunggu???”, sapa kami kepada Arman.

    “Wa’alaikum Salam, lumayan man”, jawabnya dengan senyuman khasnya.

    “Kita gerak aja ya, ada lagi yang mau diurus?”,tanyaku kepada mereka

    “Tidak rif, yok kita langsung gerak”, jawab mereka.

    Dengan menaiki mobil yang tak kalah keren dengan mobil yang kunaiki setengah jam yang lalu, hanya saja mobil yang kami naiki ini berplat hitam dan menggunakan nomor urut seperti peserta lari maraton, satu lagi bedanya mobil ini menggunakan AC alami dengan kecepatan lajunya yang tak teratur, sehingga bisa saja kami yang didalamnya seperti menaiki odong-odong atau kuda-kudaan, dapat dibayangkan betapa kurang nyamannya kami berada di mobil ini.

    Setengah jam berlalu, tepatnya jam 11 kami tiba disebuah tempat pembelanjaan. Identik dengan keramaian dan jual beli barang. Kami langsung menuju suatu tempat toko barang yang mau kami beli. Sekarang aku menjadi pengawal Pangeran Willian dan Harry sehari tuk menemani mereka. Karena hanya mereka yang belanja karena telah cair beasiswa dari kampus kami. Sedang aku harus bersabar untuk priode mendatang.

    Setelah dua jam setengah berkelana mengitari pusat perbelanjaan itu. Disudahi dengan sholat zuhur, kami pun mencari sebuah mall untuk mencari barang yang belum dapat.

    Kembali kami naiki mobil yang beda dari sebelumnya, dan berbalik arah ke mall dekat kos kami berada. Lima belas menit kemudian, kami tiba ditempat lokasi.

    “Apalagi yang belum dibeli?”, tanyaku kepada mereka.

    “Itu rif”, sambil menunjukkan ke arah barang tersebut. Ternyata Arman ingin membeli baju koko.

    “Oh, untuk siapa itu man?”, tanyaku lagi.

    “Untuk Keluargaku rif”, jawabnya.

    “Subhanallah sekali man, kamu masih ingat sama keluargamu”, candaku kepadanya.

    “Kamu ini, ingatlah aku rif, ni kan beasiswa jadi harus dipegunakan sebaik-baiknya” balasnya menjeskan.

    “Oh gitu, iyalah man benar itu. Apalagi kalau kamu belikan untukku juga.” Candaku kembali.

    “Kamu ini”, senyumnya.

    Jam 3 sore kami selesai berbelanja. Namun sebelum kami kembali ke kos masing-masing, aku di ajak mereka untuk makan sebentar. “Alhamdulillah”, ucapku dalam hati. Ternyata keikhlasan dalam persahabatan itu akan dibayar lebih oleh Allah SWT.

    Ending...

    [www.famindonesia.com]

    Sumber foto: Google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Terselip Cinta di Balik Persahabatan” Karya Arif Hifzul (FAMili Medan) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top