• Info Terkini

    Friday, February 1, 2013

    Ulasan Puisi “Kau, Aku dan Indonesia” Karya Atik Mar’atusholihah (FAMili Tuban)

    Kecintaan kepada Tanah Air, bangsa dan bahasa adalah kesatuan yang tak bisa lepas sebagai anak negeri yang terlahir dan dibesarkan di bumi Nusantara ini. Dalam berbagai liku kehidupan dan roda pembangunan ada banyak corak memang yang mewarnai juga memaknai arti sebuah cinta akan negeri.

    Indonesia adalah sehamparan puisi yang dianugerahkan Tuhan pada kita, keindahan alam, sumber alami, cuaca tropis yang memikat dan kesuburan bumi yang mampu menumbuhkan berbagai tumbuhan dan hasil bumi. Tak pernah habis memang kata-kata untuk menggambarkan kesuburan, keindahan dan keharmonisan paduan alam , seperti selembar sorga yang dibentangkan di muka bumi.

    Mungkin atas kecintaan penulis akan tanah airnya hingga ia selalu melukiskan dan memaparkan ke dalam puisi ini.

    Sederet kisah tertuang dalam indahnya puisi..
    Indonesia berkisah puisi dimatamu..
    Kekayaan bahasamu mempertajam kami mengkhayati penuh inspirasi..
    Engkau kaya akan rangkaian kata indah menyeimbangkan suasana..
    Penuh kreatif mengolah barisan kalimat yang membuka mata kami..
    Merenungi semua makna puisimu


    Lima baris pertama puisi ini, mungkin dalam satu renungan ternyata penulis sempat tergugah dengan bahasa pengantar kita, yaitu Bahasa Indonesia. Jelas sekali penekanan akan kecintaan pada Bahasa Indonsia ini yang ternyata puisi telah mampu digali oleh penulis dan penyair lainnya dalam puisi-puisi indah yang tak kan pernah habisnya tergores oleh mata pena dan hati.
    Ya, pada sebuah kedalaman puisi yang digali, ternyata mampu menghadirkan sebuah rasa kagum dan pesona hati dari kata-kata yang dirangkai.

    Ada banyak yang disampaikan penulis sebagi bentuk kecintaan terhadap Tanah Airnya. Kita akan merasakan bila menyimak hingga baris terakhirnya. Kalimat demi kalimat, baris demi baris, kita merasa diombang mengikuti denyut cinta itu sendiri.

    Tapi kenapa kita serasa harus berulang-ulang kali membacanya untuk bisa memahami dan merasakan keindahan yang terlukis?

    Ya, nampaknya penulis cukup mampu merangkai diksi-diksinya hingga menjadi barisan kalimat-kalimat dalam sebuah puisi. Benar memang, sering penyair “menyembunyikan” makna yang tersirat dalam puisinya dengan gaya bahasa dan kedalaman menggali kata-kata.

    Tapi unsur yang melibatkan keutuhan sebuah puisi tidak berarti kita selalu diabaikan, seperti rima, persajakan, dan pesan yang coba disampikan. Mungkin di sanalah juga ada kekuatan sebuah puisi.

    Secara umum penulis telah mampu menggambarkan perasaan dan imajinasinya ke dalam puisi, dengan terus berlatih dan membaca karya-karya penulis lainnya akan membuat penulis semakin mantap menata kata-kata untuk sebuah puisi. Teruslah menulis, ditunggu karya selanjutnya.

    Salam santun, salam karya.

    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Kau, Aku dan Indonesia

    Karya: Atik Mar’atusholihah

    Sederet  kisah tertuang dalam indahnya puisi..
    Indonesia berkisah puisi dimatamu..
    Kekayaan bahasamu mempertajam kami mengkhayati penuh inspirasi..
    Engkau kaya akan rangkaian kata indah menyeimbangkan suasana..
    Penuh kreatif mengolah barisan kalimat yang membuka mata kami..
    Merenungi semua makna puisimu..
    Tetesan berpeluh taubat menjadi aura kami..
    Keheningan berimajinasi membangun kekuatan makna puisimu..
    Engkau tonggak bagi Bangsa Indonesia..
    Menghipnotis kalbu menyadari bumi pertiwi yang menangis..
    Inginkan semangat jiwa pengorbanan pemuda-pemudi berikrar semangat Indonesia..
    Petuah bijak yang engkau tuliskan didalam puisi cinta bangsa..
    Selalu mengalir dalam darah..
    Berpacu, membuka Indonesia baru penuh realita bahagia..
    Engkau anak bangsa berhati puitis..
    Engkau berjiwa kata romantis..
    Romantis dalam detak jantung Bangsa..
    Membujuk dalam sekejap pikiran membaca..
    Meskipun kita terpisah oleh batu nisan..
    Setumpuk perjuanganmu selalu diabadikan..
    Nan setia membangun jiwa raga anak cucu Indonesia..
    Tetesan air mata menuntut kau kembali di tengahnya..
    Sungguh sialah bertindak..
    Dia hanya bisa merealisasikan..
    tapi..
    Namamu dalam hati kami..
    Tekadmu dalam tekad kami..
    Terekam memory perjuangan untuk Indonesiaku..
    Heningkan cipta..
    Untuk pahlawan tercinta..

    [www.famindonesia.com]

    Gambar sekadar ilustrasi, diambil dari google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Kau, Aku dan Indonesia” Karya Atik Mar’atusholihah (FAMili Tuban) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top