• Info Terkini

    Thursday, February 14, 2013

    Ulasan Puisi “Matahariku Mati” Karya Nazlah Hanifah (FAMili Sumut)

    Banyak di antara kita yang mampu menulis sebagai ungkapan perasaan yang dialami nyata, sebagai pencurahan hati dari berbagai suasana yang kita rasakan. Hal yang sangat positif memang bila kegalauan, kesedihan, harapan dan apa saja yang kita rasakan mampu tertuang dalam deretan kata-kata yang mengalir, sebab tulisan ternyata juga teman curhat yang selalu mengerti dan memahami perasaan kita. Kenapa tidak? Pasti ada suatu kelegaan tersendiri dengan mengalirkan uneg-uneg dalam sebuah tulisan, seakan plong, seperti pipa aliran air yang baru saja lepas dari sebuah yang membuatnya mandek.

    Lalu, apakah selamanya kita menulis sebagai ungkapan dari apa yang sebenarnya kita alami dalam sebuah kenyataan? Kita akan menjadi penulis yang kering, yang hanya menunggu sebuah peristiwa berkesan baru bisa menulis.

    Nah, ternyata Tuhan telah memberkati kita otak kiri dan otak kanan yang mempunyai fungsi sedikit berbeda. Segala realitas, bersifat angka-angka dan semacamnya otak kiri kita mengambil fungsi untuk itu, sedang hal-halyang bersifat seni, imajinasi, maka otak kanan kita selalu pas membawa kita ke sana. Lihatlah bagaimana anak kecil yang sedang bermain, ia mampu membayangkan berbagi imajinasinya dari apa ia mainkan.

    Ternyata, ketika dihadapi dengan menulis kita juga mampu megikuti apa pun yang terbayang dan dirasakan, kenapa tidak kita tuangkan ke dalam tulisan itu sendiri? Begitulah sekilas peristiwa menulis yang mungkin banyak dialami oleh kita.

    Puisi “Matahariku Mati” ini jelas sebagi bentuk penulisan imajinasi yang rapi.
    Dari awal tulisan dapat nyaman kita ikuti alur rasa yang dituangkan di dalamnya.

    Pagi ini ramai orang-orang mencari matahari
    Karena matahari tak berada ditempatnya lagi
    Sesungguhnya akulah yang mencuri matahari
    Kuletakkan di sakuku agar tak ada yang tahu
    Dan kubawa lari

    Walau suatu hal yang tak mungkin tapi perasaan kita mampu terbawa seolah peristiwa itu benar adanya. Karena secara tidak langsung pembaca ikut terseret arus imajinasi penyair di sini.

    Dari awal kalimat yang ditulis hingga akhir puisi ini jelas tertata kesinambungan yang cukup rapi melukiskan pertiwa yang diimajinasikan. Apa jadinya bila matahari tak nampak lagi, dan orang-orang panik mencari ke mana perginya. Dan sebenarnya penulislah yang telah mencurinya, bahkan disembunyikan dalam saku baju.

    Wah, pandai sekali bermain kata dengan bahasa yang hiperbola, tapi justru keindahan dan kekuatannya ada di sini.

    Tapi percayalah sampai kapan pun mereka tak kan menemukan matahari
    Sebab aku telah membunuh matahari
    Sebagian kutenggelamkan di lautan
    Sebagian kukuburkan di daratan
    Agar adil kiranya
    Kita sama-sama tak memilikinya
    Agar tak ada lagi yang memperebutkan matahari
    Agar tak ada lagi perseteruan di muka bumi

    Itulah bait terakhir yang menyudahi sebuah kepanikan dengan hilangnya matahari. Dengan lantang penyair katakan bila matahari telah mati sebab dibunuh olehnya. Hmm… sangat manis dalam permainan imajinasi ini.

    Tapi ada pesan moral yang terselip dalam puisi ini? Begitulah hendaknya tiap karya yang kita gores. Sebuah damai, sebuah harmoni kehidupan dalam kebersamaan di muka bumi, tak ada perseteruan, pertengkaran dan peperangan, apalagi bila disebabkan memperebutkan sesuatu yang sebenarnya hanya sementara saja dalam hidup ini. Seperti matahari?

    Dari segi penulisan puisi ini sudah bagus. Semoga penulis terus aktif berkarya.

    Salam santun,

    FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT KUTIPAN PUISI PENULIS YANG DIULAS TIM FAM INDONESIA]

    Matahariku Mati

    Karya Nazlah Hanifah (FAMili Sumut)

    Pagi ini ramai orang-orang mencari matahari
    Karena matahari tak berada di tempatnya lagi
    Sesungguhnya akulah yang mencuri matahari
    Kuletakkan di sakuku agar tak ada yang tahu
    Dan kubawa lari

    Semua sibuk mencari dayaguna
    Berlagak dan berjanji akan menemukan matahari

    Semua sibuk mencari muka
    Melantunkan elegi karena kehilangan matahari

    Tapi percayalah sampai kapan pun mereka tak kan menemukan matahari
    Sebab aku telah membunuh matahari
    Sebagian kutenggelamkan di lautan
    Sebagian kukuburkan di daratan
    Agar adil kiranya
    Kita sama-sama tak memilikinya
    Agar tak ada lagi yang memperebutkan matahari
    Agar tak ada lagi perseteruan di muka bumi

    [www.famindonesia.com]

    Gambar hanya sekadar ilustrasi, diambil dari google.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Matahariku Mati” Karya Nazlah Hanifah (FAMili Sumut) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top