Skip to main content

Buku Puisi Penyair D. Zawawi Imron Diluncurkan di Rumah Budaya Fadli Zon

PADANGPANJANG – Buku puisi terbaru karya penyair Indonesia D. Zawawi Imron berjudul “Mengaji Bukit Mengeja Danau” yang diterbitkan Fadli Zon Library Jakarta diluncurkan Senin, 25 Maret 2013, pukul 14.00 WIB di Ball Room Rumah Budaya Fadli Zon.

Sejumlah sastrawan Indonesia dari berbagai kota direncanakan menghadiri peluncuran buku penyair Madura ini. Di antara sastrawan itu adalah: Sastrawan Taufiq Ismail, Jamal D. Rahman, Joni Ariadinata, Dinullah Rayes, Radhar Panca Dahana, Korrie Layun Rampan, Gol A Gong, Soni F. Maulana, Ratmana, Damiri Mahmud, LK Ara, Rida K Liamsi, Budi Darma, Saini KM, Ahmad Tohari, Helvy Tiana Rosa, Dorothea Rosa Herliany, Aspar Paturusi, Fakhrunnas MA Djabar, Taufik Ikram Jamil, K.H. Mustofa Bisri, Purnama Soewardi, Isbedi Setiawan, dan sejumlah sastrawan lainnya. Pada kesempatan tersebut juga hadir Fadli Zon, pendiri Rumah Budaya, serta Direktur Rumah Budaya Fadli Zon, Elvia Desita B.Hum.Sc.(Hons).

Para sastrawan Indonesia itu, selain menghadiri peluncuran buku puisi D. Zawawi Imron dan menjadi Tamu Rumah Puisi Taufiq Ismail, sehari sebelumnya dijadwalkan menghadiri Maklumat Hari Sastra Indonesia yang dipusatkan di SMA Negeri 2 Bukittinggi, Minggu, 24 Maret 2013. Direncanakan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti serta mantan Presiden RI BJ Habibie akan hadir di Bukittinggi.

Penyair Taufiq Ismail dalam pengantarnya di buku “Mengaji Bukit Mengeja Danau” menyebutkan, puisi-puisi D. Zawawi Imron dalam buku ini ditulis penyairnya selama sebulan bermukim di Aie Angek ketika menjadi Tamu Rumah Puisi.

“Penyair ini produktif sekali, 110 puisi ditulisnya dalam 30 hari,” ujar Taufiq Ismail.

Disebutkan, kumpulan puisi “Mengaji Bukit Mengeja Danau” ini juga merupakan buku kumpulan puisi pertama karya sastrawan tamu Rumah Puisi yang dapat diterbitkan. Sejak 2008-2013, Rumah Puisi telah mengundang sebanyak 25 sastrawan dari 11 kota di Indonesia (termasuk Singapura dan Kualalumpur).

Sementara itu, Fadli Zon, pendiri Rumah Budaya Fadli Zon di Aie Angek, Sumatera Barat dan Fadli Zon Library di Jakarta dalam pengantarnya menyebutkan, kali pertama membaca buku puisi “Mengaji Bukit Mengeja Danau” ini, terasa kesejukan, kedamaian, dan keselarasan yang meliputi kehidupan alam.

“Irama yang mengalir dalam setiap bait memaksa kita ingin terus melanjutkan membuka halaman demi halaman puisi Zawawi,” ujar Fadli Zon.

Sebagai kyai penyair, sebut Fadli Zon, ada refleksi kemahaagungan Sang Maha Kuasa dalam puisi-puisi yang ditulisnya. “Kita dapat merasakan suasana jiwa penyair yang ingin menyampaikan bahwa alam menghidupkan nurani kemanusiaan kita,” tambahnya.

D. Zawawi Imron lahir di Desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura. Ia menempuh pendidikan di Pesantren Lambicabbi, Gapura Sumenep. Ia seorang penyair dan kyai. Selain melakukan kegiatan dakwah, Zawawi yang mulai terkenal dalam percaturan sastra Indonesia sejak Temu Penyair 10 Kota di taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 1982 ini, juga aktif membacakan sajaknya di berbagai tempat, antara lain Yogyakarta, ITS Surakarta, UNHAS Makasar, IKIP Malang dan Balai Sidang Senayan Jakarta serta di berbagai tempat lainnya.

Buku kumpulan puisinya antara lain: Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Dusun Siwalan (1979), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982), Derap-Derap Tasbih (1993), Berlayar di Pamor Badik (1994), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura Akulah Darahmu (1999), Kujilat Manis Empedu (2003), Refrein di Sudut Dam (2003), Zamrud Serambi Madinah (2004), dan Mata Badik Mata Puisi (2012). [Muhammad Subhan]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…