Skip to main content

Kantor FAM Pindah ke Jalan Mayor Bismo Nomor 28 Pare

Alhamdulillah, tasyakuran 1 tahun FAM Indonesia sudah berakhir. Namun demikian, rasa syukur kepada Allah SWT akan selalu ada di hati pengurus FAM Indonesia yang berkantor di Pare, Kediri, Jawa Timur. Konsep sederhana FAM, “syukur ketika ada, sabar ketika tak ada”.

Acara Milad ke-1 FAM Indonesia juga dimanfaatkan pengurus FAM untuk “pindahan” kantor—semula berkantor di Jalan Mayor Bismo No. 22, Pare, sekarang di Jalan Mayor Bismo No. 28 Pare. Hanya sekitar 15 meter lokasinya dari kantor sebelumnya—Bagi FAMili yang pernah datang ke kantor FAM dan melihat suasana kantor yang baru, pasti kaget karena di kantor baru ini ruangannya lebih luas dari kantor sebelumnya.

Bersama pengurus FAM lainnya, Ketum FAM Muhammad Subhan didampingi Pak M. Jujur (seniman Padangpanjang yang menjadi tamu FAM Indonesia) tak sungkan “turun tangan” menyapu lantai dan membersihkan kaca jendela. “Ini rumah kita bersama, ayuk kita bersihkan sampai super berkilat,” ujar “Pak Ketum” penuh canda. Maka, semuanya ikut bergotong royong membersihkan kantor baru dari tempelan debu.

Bukan hanya pengurus FAM yang bekerja di hari itu, tetapi beberapa orang warga sekitar ikut peduli membantu memindahkan aset-aset FAM dari kantor sebelumnya. Tiga buah etalase kaca tempat memajang buku yang cukup berat dibantu warga mengangkutnya ke kantor baru. Sekjen FAM Aliya Nurlela yang kreatif tak tinggal diam, segala keperluan makan-minum tersedia, enak-enak dan lezat rasanya. Kopi hangat dan nasi kuning yang mak nyus aromanya dibeli, begitu juga es cendol bermacam warna melegakan tenggorokan “para pekerja” di kantor baru FAM Indonesia.

Siapa sangka, beres-beres kantor FAM berakhir hingga pukul 12 malam. Di tengah malam, ketika para tetangga terlelap dalam tidur mereka, “Pak Ketum” malah asyik menyusun buku di etalase dan menempeli dinding ruang kantor dengan berbagai gambar yang telah dipigura. Sejumlah ekspose FAM di media dan sample penghargaan-penghargaan FAM kepada FAMili ikut dipajang sehingga ruangan kantor benar-benar “tercelak” dan “rancak”.

“Nanti, siapa pun yang datang ke kantor FAM, mereka merasa nyaman sebab ruangan tertata dengan rapi,” kata “Pak Ketum” lagi.

Diharapkan, dengan ditempatinya kantor baru FAM Indonesia, suasana kerja akan semakin asyik dan menyenangkan. “Berat meninggalkan kantor FAM. Saya ingin berlama-lama di sini,” ujar Mas Yudha Prima, FAMili Surabaya yang ikut menghadiri Milad FAM dan sempat bermalam di kantor baru FAM Indonesia.

Ayo, FAMili. Siapa yang mau datang lagi ke kantor FAM Indonesia? Ditunggu dengan senang hati dan wajah ceria.

Salam santun, salam karya.

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Foto: Ketum FAM Muhammad Subhan di ruang perpustakaan kantor baru FAM Indonesia di Jalan Mayor Bismo, No. 28 Pare, Kediri, Jawa Timur

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…