Skip to main content

Kita Dikecilkan, Lakukan Hal Besar

Seekor anak kucing yang baru beberapa bulan saja dilahirkan oleh induknya mempunyai kebiasaan yang berbeda dengan induknya. Kalau sang induk, terbiasa minum pada sebuah mangkok yang sengaja disediakan untuk minum kucing, maka anak kucing kecil ini malah minum dari sebuah ember yang penuh berisi air. Kucing kecil itu pun seperti enggan minum dari mangkok dan selalu menuju kamar mandi untuk minum dari ember.

Padahal, yang diminum anak kucing hanya sebatas yang didapat dari hasil jilatan lidahnya saja, sama seperti kalau dia minum dari mangkok. Resiko yang dihadapi kucing kecil itu pun cukup besar, bisa saja kebiasaannya itu membahayakan dirinya kalau dia terpeleset dan kecebur ke dalam ember tempat dia minum.

Karena kebiasaannya itulah maka kucing kecil itu mendapat perhatian lebih, di samping tingkah laku lucunya sebagai ciri khas anak kucing, karena kebiasaannya itulah kucing itu mempunyai nilai plus dibanding kucing lain yang mempunyai kebiasaan yang standar.

Manusia diciptakan Allah dibekali kemampuan standar yang sama, seperti kemampuan mendengar, melihat, berbicara, berpikir, merasakan, dan lain-lain walaupun ada sebagian manusia yang mengalami gangguan kemampuan standarnya baik karena bawaan atau karena sesuatu hal yang menyebabkan hilang kemampuannya.

FAM Indonesia dibangun karena ketiadaan dari dua orang penulis muda yang mempunyai gagasan besar sehingga menjadilah seperti sekarang ini. Ribuan anggota tergabung dalam Forum Kepenulisan ini, berbagai judul buku telah berhasil diterbitkan, baik perorangan maupun kolaborasi atau antologi. Berbagai kalangan pun mulai melirik potensi besar yang dimiliki FAM Indonesia ini.

Oleh sebab itu, tidak ada alasan kita ini siapa, punya apa, tetapi berbuatlah sesuatu yang menurut orang luar biasa dan berupaya dengan sepenuh hati untuk mewujudkannya, maka orang akan melihat bahwa kita bukan orang biasa tetapi orang yang pantas mendapat appresiasi berbeda dari kebanyakan orang.

Tidak berlebihan rasanya bila di tahun kedua FAM ini setiap anggotanya berusaha menerbitkan minimal dua buah buku, sehingga muncul ratusan bahkan ribuan buku baru karya anggota FAM Indonesia dalam berbagai bentuk, baik fiksi maupun nonfiksi. Selain itu, secara rutin setiap minggu atau setiap bulan mengirim karya tulis ke media massa cetak maupun online, sehingga lembaran-lembaran media dihiasi oleh hasil karya calon-calon penulis Islami anggota FAM Indonesia.

Semangat berkarya! Salam.

NURYAMAN EMIL HAMZAH
FAM255U Pandeglang
www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…