Skip to main content

Penerbitan Antologi Puisi “Semanggi Surabaya” Dalam Rangka HUT Surabaya ke-720

TUGU SURABAYA
Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya yang ke-720, Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia Cabang Surabaya dan Sekitarnya menyelenggarakan Program Penerbitan Antologi Puisi “Semanggi Surabaya”.

Program ini terbuka untuk umum, baik anggota FAM Indonesia maupun nonanggota FAM Indonesia.

Tema yang kami tetapkan dalam Program Penerbitan Antologi Puisi “Semanggi Surabaya” ini adalah “Surabaya Oh Surabaya”. Jadi, kami mengundang Anda untuk mengekspresikan pengetahuan, wawasan, dan segala perasaan tentang Surabaya yang pada bulan Mei mendatang akan berusia 720 tahun.

Kami berharap segala bentuk apresiasi Anda terhadap Surabaya melalui media Antologi Puisi “Semanggi Suroboya” ini dapat menjadi inspirasi dan memberi motivasi untuk anak-anak bangsa yang akan mewarisi tongkat estafet kepemimpinan negeri ini.

Lalu, apa syarat mengikuti proyek antologi puisi ini? Ada pun ketentuan/kriteria naskah yang diterima adalah sebagai berikut:

1. Penulis adalah anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia yang mengantongi Nomor ID keanggotan FAM Indonesia, maupun nonanggota.

2. Naskah puisi harus asli karya sendiri, bukan jiplakan atau terjemahan dan sedang tidak diikutsertakan pada event lomba menulis di mana pun.

3. Puisi bertema: “Surabaya Oh Surabaya”.

4. Bentuk puisi bebas, panjang maksimal 1 halaman.

5. Puisi ditulis/diketik dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

6. Puisi diketik rapi di kertas HVS A4/kuarto.

7. Menuliskan Biodata (ditulis dalam bentuk narasi) disertai foto diri di lembar terakhir puisi.

8. Setiap penulis mengirimkan 5 judul puisi. Akan dipilih 3 puisi terbaik dari masing-masing penulis.

9. Naskah dikirim via email: yudha_tentorprima@yahoo.com, selambat-lambatnya tanggal 13 April 2013.

10. Naskah puisi yang diikutsertakan dalam antologi ini menjadi milik panitia (hak cipta tetap pada penulis).

11. Insya Allah buku akan terbit pada pertengahan/akhir bulan Mei 2013 (50 penulis).

Keterangan tambahan:
a. Penerbitan buku Antologi Puisi ini dibiayai oleh masing-masing penulis yang karyanya dinyatakan lolos seleksi (yang tidak lolos seleksi naskah dikembalikan dan tidak dikenai biaya apa pun). Masing-masing penulis yang karyanya lolos mengirimkan investasi Rp85 ribu (khusus anggota FAM Indonesia) atau Rp100 ribu (nonanggota FAM Indonesia). Biaya tersebut akan digunakan untuk proses cetak buku, meliputi pembuatan kover, layout halaman isi, pengurusan ISBN, dan biaya kirim buku ke alamat masing-masing penulis.

b. Masing-masing penulis akan mendapat 1 (satu) buku antologi sebagai tanda penerbitan. Bila penulis ingin memiliki buku dalam jumlah lebih, maka dapat membelinya kepada FAM Indonesia.

c. Buku dicetak dalam jumlah terbatas yang diniatkan untuk memotivasi anggota FAM Indonesia, agar semakin aktif menulis dan berkarya.

Demikian informasi ini kami sampaikan, hal-hal yang kurang jelas dapat ditanyakan kepada panitia penerbitan lewat email: yudha_tentorprima@yahoo.com.

Salam santun, salam karya.

YUDHA PRIMA
FAM Cabang Surabaya
www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…