Skip to main content

Profil Anggota FAM: Eka Susanti (Rengat, Riau)

Eka Lafra Kardia atau Eka Susanti, putri asli Nagari Sabu, Batipuah, Tanah Datar, Sumatra Barat. Lahir di Padangpanjang pada 13 Oktober dari seorang ibu yang berprofesi sebagai petani yang pintar memasak dan melindungi serta menenteramkan jiwa putra-putrinya--sungguh nyaman jika di samping ibu, katanya—dan seorang ayah yang juga berprofesi sebagai seorang petani/kuli tanah yang gemar bergurau demi melihat derai tawa lepas anak-anaknya tanpa harus menyandang luka seperti dirinya sewaktu kecil yang harus rela ditinggal pergi keduaorang tua untuk memenuhi panggilan Ilahi.

Pada tahun 2001-2002 ia menamatkan tingkat pendidikan Sekolah Dasar di Kenagarian Sabu, kampung halaman tercinta, lalu membawa ijazah SD untuk melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Subang Anak yang terletak di Batipuh, Sumatra Barat. Ketika itu, tahun 2004 Sumatra Barat sempat diguncang gempa hebat dan meniggalkan kenangan ketika kucar-kacir berlari menyelamatkan diri, tapi alhamdulillah semua terlindungi. Hanya saja gempa yang terjadi pada tahun 2007 telah melucuti nyawa beberapa peserta didik di sekolah itu. Sungguh ironis. Pada tahun 2004-2005 ia melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padangpanjang dan menyelesaikannya pada tahun 2007, dan di sekolah ini pun sempat dikunjungi oleh gempa bumi hebat pada tahun 2007.

Pada tahun 2007 ia melanjutkan studi ke perguruan tinggi, Universitas Andalas (Unand) dengan tiga pilihan paket IPC yaitu Matematika, Ekonomi, dan Sastra Indonesia yang akhirnya terbentur/nyangkutnya di Fakultas Sastra dengan jurusan Sastra Indonesia yang terletak di bukik karamuntiang, Padang, Sumatra Barat. Di sinilah dia mulai mengenal seni tulis menulis, mengenal dan dikenalkan dengan dunia sastra, dunia karya, dan dunia baca. Sehingga pada tahun 2009 hingga sekarang tulisannya masih nongol di media cetak seperti Koran Singgalang, Haluan, Padang Ekspress dan Posmetro Indragiri Hulu (Riau). Tulisannya  berupa puisi, esay, opini, cerpen, dan cerita anak. 

Di masa kuliah pada tahun 2007 ia ikut bergabung dengan senior kampus dalam pementasan teater “Pesta Maling” dalam rangka perlombaan yang diadakan di kantor TVRI Padang pada awal tahun 2008. Lalu pada tahun 2010 bergabung dengan Komunitas Tubuh Jendela bersama teman-teman kampusnya, sebuah komunitas kampus yang bergerak di bidang dokumentasi, karya tulis, dan pementasan/teater. Pada tahun 2012 ikut terlibat sebagai keanggotaan di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia hingga sekarang. Selama  bergabung dengan FAM Indonesia beberapa karyanya sudah diterbitkan dalam antalogi bersama, seperti: Antalogi Puisi Kota Jam Gadang “Bukittinggi Ambo Di Siko” dengan 39 penyair nusantara (Januari 2013), Antalogi cerpen “Lerak” yaitu kumpulan cerpen dalam lomba cerpen yang diadakan FAM Indonesia pada tahun 2012 bersama penyair nusantara lainnya, dan buku surat bulanan “Di Negara Itu Impianku Berlabuh” bersama penulis nusantara lainnya.   

Pada 10 September 2011 ia menyelesaikan studi perkuliahan Strata 1 dengan predikat memuaskan dan mendapat sebuah piagam penghargaan sebagai aktivis kampus di antara 10 orang aktivis lainnya yang juga ikut terpilih, sebuah penghargaan yang menyertai kebahagiaan saat itu. Sekarang dia tengah berbagi ilmu dengan peserta didik SMK Negeri 1 Rengat, Riau. Komunikasi selanjutnya dapat melalui email: ekasusanti07184017@yahoo.co.id, facebook: eka lafra kardia dan nomor Hp: 087895754117.

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…