Skip to main content

Profil Anggota FAM Indonesia: Muhammad Sofyan Arif (FAMili Yogyakarta)

Muhammad Sofyan Arif, lahir di sebuah desa kecil tepatnya Desa Pauh Menang, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi, 25 tahun lalu. Ia anak bungsu dari 2 bersaudara. Orangnya sederhana dan sekarang berdomisili di Yogyakarta mengambil kuliah Magister Manajemen. 

Besar harapannya setelah selesai kuliah kembali ke kampung halaman mengamalkan apa yang telah didapatkan. Motto hidupnya “sukses hanya milik mereka yang mau berjuang”. Pernah menjadi juara 1 MTQ Cabang Fahmil Qur’an tingkat kecamatan dan kabupaten di Provinsi Jambi dan peserta MTQ tingkat Provinsi Jambi 2002.

Menulis merupakan bagian dari menghargai diri sendiri dan mencoba meninggalkan jejak ketika tulisan kita berguna buat orang lain saat kita telah tiada nantinya. Hobinya berolahraga dan membaca. Aktivitas sehari-harinya selain ngeblog adalah mengurus kolam ikan lele dan nila, selain itu juga mengisi materi pada kegiatan keorganisasian atau pelatihan-pelatihan soft skill di kampus dan tujuan hidupnya adalah “Khoirunnasi Anfa’uhum Linnas”.

Setelah bergabung di FAM Indonesia, ia sudah mengukir prestasi dalam menulis. Naskah suratnya yang diikutkan dalam iven menulis surat terbuka FAM Indonesia bertema “Di Negara Itu Impianku Akan Berlabuh,” terpilih sebagai naskah terbaik pertama dan diterbitkan menjadi buku berjudul “Membungkus Mimpi.”

Melalui FAM pula, naskah cerpennya terpilih menjadi salah satu dari 80 naskah pilihan yang akan dibukukan. Sebuah cerpennya tentang perjuangan hidup juga lolos seleksi dalam Proyek Antologi Cerpen “Jembatan Merah” dan akan diterbitkan oleh FAM Publishing.

Ia mengantongi nomor IDFAM 1270U-Yogyakarta. FAMili bisa berkomunikasi dengannya lewat email: emsofyan.arif@gmail.com, Hp: 081366456995.

[www.famindonesia.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…