Skip to main content

Profil Anggota FAM Indonesia: Riezky Vieramadhani P (FAMili Malang)

Riezky Vieramadhani Poetry adalah sulung dari 5 bersaudara. Lahir di Pasuruan pada tanggal 3 Maret 1990. Memiliki banyak nama panggilan, seperti Dictha, Kiky, Riezky, Viera, dan Poetry. Kondisi keluarga yang berbeda dengan kebanyakan orang membuatnya begitu tangguh dan bertekad menjadi perempuan mandiri demi mengayomi keempat adiknya. Suka mengikuti berbagai macam kegiatan dan tidak suka duduk diam.

Menempuh pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) Darma Wanita Sukorejo Pasuruan (1994), SDN Glagahsari Sukorejo (1996), memilih SMPN 1 Pandaan (2002) dan SMAN 1 Lawang (2005) sebagai tempat melanjutkan pendidikan.

Hobi membaca membuatnya berkeinginan menjadi seorang penulis yang karyanya bisa dibaca banyak orang. Menggeluti bidang menulis sejak sekolah dasar, pernah mengirimkan karya pada majalah Mentari dan berhasil dimuat. Sewaktu SMP mengikuti 6 ekstrakulikuler sekaligus seperti PMR, Pramuka, Seni Tari, Seni Musik, Tartil Qur’an, dan Jurnalistik, akan tetapi hanya Tartil Qur’an dan Jurnalistik yang bertahan hingga akhir. Belajar dari pengalamannya di SMP, di SMA dia memutuskan untuk mengikuti ekskul jurnalistik dan memfokuskan diri dalam bidang menulis. Jabatan yang pernah diduduki sebagai anggota (2005-2006), koordinator berita (2006-2007), dan bendahara (2007-2008).

Kini perempuan berkacamata ini menjadi mahasiswa tingkat akhir Program Studi Psikologi yang sedang menyusun skripsi di Universitas Brawijaya Malang. Kesibukan lain selain kuliah adalah menjadi guru les. Pernah bekerja di Yayasan Terapi Anak Autis Insan Mandiri Malang dan berhenti karena dikejar deadline skripsi. Aktif di Unit Aktifitas Pers Kampus Mahasiswa Universitas Brawijaya (UAPKM UB) dan pernah menjabat sebagai anggota (2008-2009), sebagai bendahara organisasi (2009-2010), serta sebagai koordinator internal (2010-2011).

Tulisannya dimuat di majalah sekolah dan kampus, baik media cetak maupun online. Namun di luar media-media itu dia tidak memiliki keberanian untuk mengirimkan karyanya. Ketidakberaniannya mengirimkan tulisan-tulisannya baik berupa puisi, cerpen, maupun artikel pada majalah atau koran umum membuat tulisannya hanya tersimpan rapi dalam disket-disket warna-warni sejak zaman SMP. Hingga suatu saat disket-disket itu hilang karena rumah yang direnovasi. Hal ini membuatnya shock dan memutuskan untuk mulai memberanikan diri mengirimkan karyanya ke media.

FAM adalah media pertama yang memuat karyanya. Dia mengenal FAM dari kawan lama yang berasal dari SMA yang sama, yaitu Anisa Swedia. Sejak karyanya diterbitkan, dia mulai percaya diri dan aktif menulis dan mencoba-coba mengirimkan naskahnya. Naskah yang berhasil lolos adalah “Air Mata Mbak Alia” yang tergabung dalam Antologi Cerpen “Untuk Sumarni dari Suparman”. Cerpen kedua masuk 100 besar dalam lomba cipta cerpen yang diadakan oleh FAM berjudul “Nyanyian Pria Kecil di Rumah Singgah”. Saat ini perempuan pecinta Detective Conan, One Piece, Bleach, Naruto dan drama Jepang ini telah mengantongi IDFAM1023M sebagai nomor keanggotaan.

Motto yang terus dipegang adalah “Hidup terus berjalan dan mengalir seperti air sungai, kita tak bisa menyentuh air yang sama untuk kedua kalinya, seperti itu pula kita tak bisa mengulangi apa yang telah terjadi dalam hidup kita”. Jadi, perhitungkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya, jangan sampai menyesal di kemudian hari. Bagi Famili yang ingin bersilaturahim bisa melalui email di vieramadhani@yahoo.com atau vieramadhanipoetry@gmail.com, via FB di Vieramadhani Poetry, via Twitter @vieramadhani, sms atau whatsapp 085755708265.

[www.famindonesia.com]

Comments

  1. Wah, ternyata kak Riezky alumni SPANDA ya... berarti ada juga anggota FAM yg sekolah di SPANDA selain aku. halo kakak alumnus :)

    ReplyDelete
  2. Halo Liliiii...
    Maaf ya baru sempat bales komen kamu,
    Soalnya bales lewat HP nggak bisa, ini baru sempet onlen,
    hehehe...
    Kamu sudah lulus dek?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…