Skip to main content

[Resensi Buku] Butiran Cinta dalam Genggaman Dakwah

Judul Buku: Pesona Odapus
Jenis Buku: Antologi Cerpen
Pengarang: 25 Cerpenis Indonesia
Penerbit: FAM Publishing, Kediri (Jawa Timur)
Cetakan: Pertama, Oktober 2012
Tebal Buku: 221 halaman
ISBN: 978-602-18971-4-0
Harga Buku: Rp. 43.400,-


Judul buku “Pesona Odapus” diambil dari salah satu judul 25 cerpen yang tergabung dalam proyek Antologi Cerpen dengan tema Cinta Bernilai Dakwah. Berawal dari kisah masa lalu yang tak terlalu mempermasalahkan Tuhan, namun kembali terusik di benaknya untuk menyelidiki siapa Tuhan. Seluruh cerpen-cerpen itu memiliki kevariasian sendiri dalam menyampaikan makna cinta yang berlandaskan agama (Ke-Tuhanan). Diawali dengan cerpen pertama dengan judul “Memori Sore Terindah” karangan Ken Hanggara ini berupaya melihatkan ketulusan cinta (kasih sayang) seorang Ibu kepada Anaknya.

Di waktu sore, anaknya agak merasa kecewa karena keinginannya untuk mendapatkan sebuah buku impian sudah habis terjual. Lalu sang Ibu pun pergi ke toko buku lain malahan Ia membelikan anaknya buku dambaan si Anak tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Ibu yang penuh pengertian sangat tahu akan tingkah anaknya yang telah berupaya menabung berminggu-minggu untuk mendapatkan buku impian si Anak. Si Anak dipersilakan untuk menyimpan uang yang hendak dikeluarkannya itu. Di sore nan penuh cinta itu si Ibu juga mengajak anaknya makan di sebuah tempat makan. Perilaku inilah yang membuat si Anak merasakan ketulusan cinta Ibu kepadanya.

Seni tidak ada, bila cinta tidak ada. Demikian yag disampaikan seorang sosok penyair legendaris Buya Hamka. Tersebab cinta, sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Sedemikian besar kekuatan cinta. Penulis buku terbitan FAM Publishing yang terdiri atas 25 cerpenis Indonesia ini mengolah cinta lewat kata dan membumbuinya dengan nilai-nilai Illahiah sehingga cerita-cerita di dalamnya tanpa disadari menjadi media dakwah.

Cinta yang diceritakan dalam cerpen-cerpen ini bukan cinta picisan, cinta pesona bahkan cinta asal-asalan. Mereka menyuguhkan cinta bernilai dakwah (menyebar kebaikan). Sesuai dengan temanya Cinta Bernilai Dakwah agak kelupaan memajangkan unsur-unsur religi di halaman pertama setelah cover, tak terlihat tulisan Basmallah sebagai ucapan awal pembuka seperti buku-buku bertemakan religi lainnya. Namun, buku Antologi Cerpen Perdana yang diterbitkan oleh FAM Publishing ini cukup sukses dalam mengayomi dua puluh lima cerpenis pemula dalam menebarkan setiap gores buah pikirannya sehingga secara tak langsung juga akan menjadi motivasi bagi penulis-penulis lainnya. Bagi yang Ingin Tahu Makna Cinta Sesungguhnya, Buruan Baca Buku ini!.

Peresensi:
HASAN ASYHARI
FAM 944M – Padangpanjang
Email: asyhari_hasan@yahoo.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…