Skip to main content

[Resensi Buku] Cahaya Allah Tak Akan Pernah Padam

Judul Buku: Cermin Cahaya
Jenis Buku: Kumpulan Cerpen
Penulis: Nur Syamsudin
Penerbit: FAM Publishing
Cetakan: Pertama, 2012
Tebal: 164 halaman
Harga Buku: Rp 39.400,00-


Berdakwah yaitu suatu kegiatan menyampaikan pengetahuan, pemahaman atau sebuah pesan yang dianugerahkan kepada seseorang untuk disampaikan kepada orang banyak, masyarakat secara umum melalui jalan yang diridhai Allah. Seperti masa dahulunya bahwa dakwah dilakukan oleh manusia pilihan Allah SWT yaitu para Nabi dan Rasul yang telah diutusNya untuk menyampaikan petunjuk dan pedoman kepada umat manusia atas keesaan Allah SWT melalui Alquran dan Hadist. Alquran adalah kemuliaan yang paling tinggi, kalam Allah, kitab yang diturunkan dengan penuh berkah, yang akan mengajarkan kepada manusia mengenai petunjuk yang lurus. Alquran adalah cahaya Allah yang akan selalu berbinar dengan ketaqwaan yang selalu ditanamkan oleh umatNya.

Sesungguhnya Allah mengajarkan manusia melalui kalamNya. Tak lain dan tak bukannya terwahyukan dalam Alquranul Karim. Suatu waktu, Allah akan memberi kabar gembira. Di waktu yang lain, Allah memberi peringatan. Di lain waktu, Allah juga akan mengenalkan kisah sejarah, ilmu pengetahuan, dan keindahan nama-namaNya di seantero alam semesta, membuat manusia membuncahkan kebesaranNya. Pemikiran model Alquran akan menarik jika diekspansifkan ke luar ranah Alquran, seperti yang diungkapkan langsung oleh penulis yaitu Nur Syamsudin—out of the box. Walaupun dasar pemikiran ini adalah dari Quran, ada banyak hikmah diiringi cahaya hidayah yang bisa ditransfer melalui pemikiran serupa ini di luar Quran itu sendiri. Sementara itu banyak hal modus hikmah bertebaran di seantero alam. Dan pemikiran inilah yang sejatinya dijadikan poros benang-benang merah atas semua kisah yang tercermin rapi dalam buku ini. Dengan bantuan cahaya Allah maka muncullah sebuah ide dari seorang pengarang yang bernama Nur Syamsudin yang terangkum dan tertata rapi dalam kumpulan cerpen “Cermin Cahaya”. Kisah atau cerita adalah metode terbaik untuk menyampaikan sesuatu. Melalui kisah manusia bisa mencerna hikmah yang terkandung di dalamnya, kadang tanpa menyadarinya.   

Berdakwah melalui tulisan, inilah makna dan nilai besar dalam kumpulan cerpen “Cermin Cahaya”. Terdapat empat prinsip yang digunakan penulis yang sekaligus tercermin dalam karyanya ini yaitu ketersebaran; bahwasanya karya-karya yang ada dalam kumpulan cerpen ini dicurahkan si penulis melalui tulisannya dan tersebar kepada masyarakat secara umum untuk dinikmati dan dicerna serta diambil manfaat dan hikmahnya oleh si pembaca nantinya, bahwa cahaya Allah itu tidak akan pernah padam, kreativitas: sebuah kegiatan kreatif, keaktifan, dan skill yang dimiliki oleh seorang pengarang dalam memadukan kata membentuk bahasa yang indah dan menarik dalam karya, prioritas dan ketertutupan; terhimpun dalam sebuah wadah kegiatan kepenulisan yang berlangsung dalam proses di dunia maya.

Buku kumpulan cerpen “Cermin Cahaya” memuat berbagai kisah dari pengalaman hidup, baik yang dialami oleh penulis sendiri maupun kisah-kisah orang lain yang ia temui. Misalnya “Tak Semudah Mengkhitbah” salah satu judul cerpen yang terdapat dalam kumpulan cerita ini menceritakan bagaimana seorang pria mencari dan menemukan pendamping hidupnya. Dalam cerpen ini ada sebuah hikmah yang dapat kita ambil yaitu jangan terburu-buru dalam mengambil sebuah keputusan untuk suatu kepentingan, jangan berlaku tergesa-gesa karena sesungguhnya semua sudah ada ketetapan dari Allah SWT. Ada lagi pelajaran dan hikmah yang dapat ditemukan dalam kisah “Menguak Hikmah Semesta” dalam kisah ini diceritakan bahwa begitu besarnya kekuasaan Allah yang ada di seluruh jagat raya, yang patut disyukuri oleh umat manusia. Dengan memaknai alam serta isi sejagat raya ini, kita manusia belum ada apa-apanya jadi patutlah kita hendaknya selalu bersujud atas keesaan Allah SWT. Memaknai segala rahmat dan nikmat yang dilimpahkan Allah kepada umat manusia, melalui kumpulan cerita pendek ini digambarkan seumpama cermin yang jika disinari matahari maka cahayanya akan memantul ke segala arah. Penulis adalah salah seorang yang berusaha untuk berdakwah memantulkan cahaya Allah melalui cerpen “Cermin Cahaya”, dengan membaca cerpen “Cermin Cahaya” maka cahaya atau hikmah yang terkandug di dalamnya akan memantul dan menyebar kepada seluruh pembaca.

Kisah-kisah yang terangkum dalam buku ini sangat menarik dan dapat dinikmati oleh semua kalangan karena dalam kumpulan cerpen ini cukup banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil, salah satunya adalah hikmah dari cahaya Allah yang tidak akan pernah padam sampai kapan pun. Semua kisah yang terangkum di dalamnya menguak hikmah yang telah diberikan Allah kepada manusia, berjejer dari kisah hidup dan makna akan hidup itu sendiri. Seperti petuah orang tua-tua masa lalu yang seringkali mengatakan bahwa; “hendaklah mengambil tuah kepada yang menang, mengambil pelajaran kepada yang sudah”. Maksudnya bahwa segala sesuatu itu tidak bisa dibiarkan berlalu begitu saja, tapi ambillah hikmah di dalamnya sebagai pelajaran untuk hidup ke depannya. Semua pengalaman di masa lalu, baik yang dirasakan sendiri maupun melihat pengalaman dari orang lain, yang lain dan tak bukan itu adalah suatu pelajaran dan peringatan. Dalam buku kumpulan cerpen ini, penulis mengajak si pembaca untuk memaknai arti sebuah kehidupan dengan diselingi dasar pemikiran dari Alquran, yang di dalamnya menjelaskan segala keesaan, kekuasaan dan kebesaran Allah SWT.

Peresensi:
EKA SUSANTI
FAM 685U-Padang Panjang
Email: ekasusanti07184017@yahoo.co.id

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…